The Holy Spirit Lord Adonai

The Holy Spirit Lord Adonai
Pertarungan Antara Dewa-dewa dan Manusia



Hasil akhir dari hubungan seksual antara Malaikat Pengawas dan anak-anak perempuan manusia, adalah lahirnya ras monster-monster yang gemar berperang, raksasa kanibal peminum darah yang disebut Nephilim. Mereka membantai binatang-binatang untuk dimakan, dan kemudian mulai memburu dan memakan manusia.


Penulis dan penyair Pindor (518-438 SM) menggambarkan kaum perkasa purbakala sebagai “ras manusia dewa.” Dalam Gulungan Kitab Laut Mati, Nephilim kanibal pemakan manusia ini digambarkan sebagai pemelihara pengetahuan rahasia, yang “mengetahui misteri alam dan ilmu pengetahuan.” Ada juga catatan teknik peternakan yang mereka ajarkan, yang menunjukkan bahwa mereka mengajar manusia mula-mulai cara memelihara dan membesarkan binatang-binatang.


Terdapat juga catatan-catatan mengenai eksperimen-eksperimen yang menghasilkan terciptanya “monster-monter” dengan perkawinan campuran antara binatang-binatang dari jenis dan spesies yang berbeda dan tidak berhubungan.


Kitab Yashar 4:18 Dan para hakim dan penguasa mereka pergi kepada anak-anak perempuan manusia dan mengambil istri-istri mereka dengan kekerasan dari suami mereka sesuai pilihan mereka. Anak-anak manusia pada waktu itu mengambil kawanan ternak di bumi, binatang-binatang di padang dan burung-burung di udara, dan mengajarkan mencampur hewan antara satu jenis dengan jenis lainnya, dengan maksud untuk memancing murka Yahweh. Elohim melihat seluruh bumi dan semuanya rusak, karena semua makhluk telah rusak jalan hidupnya di bumi, semua manusia maupun semua hewan.


Dalam okultisme theosofi modern, terdapat legenda mengenai benua Atlantis yang hilang, yang menyebutkan bahwa para ilmuwan mereka mengembangbiakkan hybrid separuh manusia, separuh binatang sebagai ras budak. Pada masa kini, para ilmuwan melakukan hal yang serupa, melakukan eksperimen genetika dan melakukan kloning. Baru-baru ini tersebar rumor bahwa China mengembangkan usaha menciptakan spesies hybrid setengah manusia – setengah binatang. Eksperimen melawan hukum alam ini berujung malapetaka dahsyat yang menghancurkan Atlantis.


Bahkan, pencampuran genetika seperti ini terjadi juga pada zaman Nuh, yang menyebabkan seluruh bumi menjadi rusak, dan menjadi alasan Elohim menghukum bumi dengan menghancurkan Nephilim dan ras manusia mula-mula oleh Air Bah. Catatan-catatan peristiwa semacam itu juga ditemukan dalam mitologi bangsa-bangsa kuno di seluruh dunia, khususnya di Sumeria, Timur Tengah.


10.000 SM dan Berakhirnya Zaman Es


Di kalangan para ahli arkeologi berkembang teori bahwa sekitar 10.000 SM nampaknya terjadi ledakan budaya yang mentransformasi manusia mula-mula. Pada akhir Zaman Es terakhir, tanda-tanda awal pertanian muncul di Timur Tengah, dengan pergeseran gaya hidup dari perburuan yang berpindah-pindah menjadi pertanian yang menetap, dan menandai permulaan peradaban di area tersebut. Sejak 9500 SM, gandum dikembangbiakkan dan ditumbuhkan oleh ras Neolithik [Nephilim?] yang tinggal di Kurdistan modern, antara Turki dan Iraq. Anjing, kambing dan domba juga dipelihara. Pengecoran tembaga dan timah dipraktekkan di Anatolia (Turki modern) dan arkeolog percaya hal ini pertama kali ditemukan di Kurdistan, bersamaan dengan pembuatan anyaman dan tembikar. Budaya Kurdi purba juga termasuk yang pertama mengembangkan tulisan dan salah satu komunitas terpelajar di Timur Tengah.


Bangsa Kurdi mengaku sebagai keturunan dari “Anak-anak Djinn”, anak-anak keturunan dari perkawinan antara djinn dan perempuan mortal. Di sebagian Kurdistan, khususnya di antara sekte Yazidi, yang menyembah Malaikat Merak (Azazel), dijumpai orang-orang yang berperawakan tinggi, berambut pirang atau kuning langsat, dan bermata biru. Meskipun ahli anthropologi percaya mereka berasal dari nenek moyang Eropa kuno, kepercayaan tradisional orang-orang Kurdi mengatakan bahwa mereka adalah keturunan “Anak-anak Djinn”, yang pada zaman purbakala membawa peradaban kepada umat manusia mula-mula.


Dalam Kitab Henokh disebutkan bahwa ketika Elohim melihat kerusakan, kekacauan, imoralitas seksual yang disebabkan hubungan antara Malaikat Pengawas dan manusia, Dia memutuskan bertindak melalui penghulu malaikat Michael, Raphael, Gabriel dan Uriel. Dia memerintahkan Raphael mengikat tangan dan kaki Azazel seperti kambing korban, dan mencampakkan dia ke dalam jurang yang dalam di padang gurun. Gabriel diutus untuk menghancurkan “anak-anak haram dan cabul” dan “anak-anak Malaikat Pengawas yang ada diantara manusia.” Penghulu malaikat Michael, pemimpin pasukan Elohim, diutus untuk menangkap Semjaza dan mengikatnya di bawah bumi sampai Hari Penghakiman Terakhir.


Kitab Yobel menuliskan bahwa penghulu malaikat mengikat para Malaikat Pengawas “di dalam kedalaman-kedalaman bumi”,


Kitab Yobel 5:6,10 Dan terhadap para malaikat yang telah Dia utus ke bumi, Dia amat sangat murka, dan Dia memberi perintah untuk mencabut mereka dari semua wilayah kekuasaan mereka. Dan Dia memerintahkan kami mengikat mereka di dalam kedalaman-kedalaman bumi. Dan lihatlah, mereka diikat di tengah-tengahnya, dan dipisahkan. Dan ayah-ayah mereka menyaksikan (kehancuran mereka/Nephilim), dan sesudah itu mereka diikat di dalam kedalaman-kedalaman bumi untuk selamanya, sampai hari penghukuman besar, ketika penghakiman dilaksanakan terhadap mereka semua yang rusak jalan-jalannya dan perbuatan-perbuatannya di hadapan Yahweh.


Dan dalam cerita tradisional Yahudi (Kitab 2Henokh) dikatakan mereka dipenjarakan di dalam “surga kedua” yang misterius.


Namun juga dikatakan bahwa beberapa “pejuang perkasa” ini memiliki tempat khusus yang disediakan bagi mereka di dalam Sheol, dunia orang mati. Di sana dikatakan mereka berbaring “bersama perisai dan tombaknya.”


Yehezkiel 32:27 (TB) Mereka tidak dibaringkan bersama pahlawan-pahlawan yang mati rebah pada zaman dahulu, yang turun ke dunia orang mati bersama segala senjata perangnya dan yang pedang-pedangnya ditaruh orang di bawah kepalanya serta perisai-perisainya terletak di atas tulang-tulangnya; sebab ketakutan terhadap pahlawan-pahlawan itu meliputi dunia orang-orang hidup.


Christian O’Brien dalam bukunya The Genius of the Few, Daintus, UK, 1985, berpendapat ada hubungan antara Malaikat Pengawas dengan figur semi-mitos semi ilahi Tuatha De Danann (anak-anak dewi Dana). Ras penyihir purbakala ini turun ke bumi ke bukit keramat Tara di Irlandia purbakala. Dengan kedatangan Kekristenan, Tuatha De Danann dibuang ke dalam “bukit-bukit berongga” dan menjadi Sidhe (Banshee) atau “Yang Bersinar”, elves dan peri-peri dalam kisah tradisional Irlandia. Ada kepercayaan kuat di antara petani pedesaan Irlandia bahwa Orang Baik atau peri berasal dari malaikat yang jatuh yang berpihak kepada Lucifer dalam Peperangan di Surga.