
Buku Kedua dari Henokh, biasanya disingkat 2 Henokh, atau juga dinamai Slavonic Enoch atau Rahasia Henokh, merupakan bagian dari literatur Apokaliptik. Kitab ini berbeda dari Kitab Henokh, yang juga dinamai 1 Henokh.
Teks kitab 2 Henokh yang masih tersisa secara utuh ditemukan hanya dalam bahasa Slavonic, namun tahun 2009 dipublikasikan bahwa fragmen-fragmen Kitab 2 Henokh dalam bahasa Koptik juga ditemukan. Versi teks Slavonic ini diperkirakan merupakan terjemahan dari bahasa aslinya, Yunani.
2 Henokh menyebutkan sekelompok malaikat yang disebut Grigori, yang sama dengan Malaikat Pengawas. Pemimpin mereka bernama Satanail. Perbedaan kitab ini dengan Kitab 1 Henokh adalah hanya 3 malaikat yang turun ke bumi untuk mengambil istri-istri dan memperanakkan raksasa.
2 Henokh 18:3-4 Mereka inilah Grigori, yang bersama pemimpin mereka Satanail menolak Tuhan penguasa terang, dan sesudah mereka adalah mereka yang ditahan di dalam kegelapan besar di surga kedua, dan tiga dari mereka turun ke bumi ke tempat Ermon, dan melanggar sumpah mereka di bahu bukit Ermon dan melihat anak-anak perempuan manusia, betapa cantiknya mereka, dan mengambil bagi diri mereka sendiri istri-istri, dan mengotori bumi dengan perbuatan-perbuatan mereka, yang di seluruh waktu mereka melakukan kefasikan dan pencampuran, dan raksasa-raksasa dilahirkan dan orang-orang yang sangat besar dan sangat bermusuhan. Dan karena itu Elohim menghakimi mereka dengan penghakiman besar, dan mereka meratapi saudara-saudara mereka dan mereka akan dihukum pada Hari Besar Tuhan.”
Malaikat Pengawas dalam Kitab Kesaksian Dua Belas Bapa Leluhur
Dalam Kesaksian Dua Belas Bapa Leluhur, kejatuhan para malaikat disebutkan dua kali. Salah satu hanya sepintas saja menyebutkan bahwa Malaikat Pengawas “mengubah tatanan sifat mereka” (Naphtali 3:5). Yang kedua dalam Ruben, dimana dia menuduh bahwa kaum perempuan berusaha menjerat laki-laki.
Ruben 5 “Demikianlah mereka memikat Malaikat Pengawas sebelum Air Bah, karena sementara mereka terus-menerus memandangi mereka, mereka bergairah kepada mereka dan membayangkan perbuatan dalam pikiran mereka; karena mereka mengubah diri mereka menjadi berwujud laki-laki dan menampakkan diri kepada mereka ketika mereka ada bersama suami-suami mereka; dan perempuan, bergairah dalam pikiran mereka karena wujud mereka, melahirkan raksasa-raksasa, karena Malaikat Pengawas muncul kepada mereka sementara mencapai ke surga.”
Flavius Josephus, Antiquities of the Jews (Kepurbakalaan Yahudi)
Flavius Josephus, sejarawan Yahudi, menulis dalam bukunya Antiquities of the Jews untuk mengajar orang-orang Romawi-Helenistik mengenai Yudaisme dan Yahudi. Di dalamnya, dia menuliskan kisah tentang Malaikat Pengawas,
Karena banyak malaikat Elohim bersekutu dengan perempuan, dan memperanakkan anak-anak yang terbukti fasik, dan menghinakan segala sesuatu yang baik, karena mempercayai kekuatan mereka sendiri; karena sesuai tradisi, orang-orang ini melakukan apa yang menyerupai perbuatan-perbuatan mereka yang oleh orang Yunani disebut para raksasa. Tapi Nuh sangat khawatir atas apa yang mereka perbuat; dan karena tidak berkenan atas tingkah laku mereka, menasihati mereka untuk mengubah watak mereka dan perbuatan-perbuatan mereka menjadi lebih baik: namun karena mereka tidak memperdulikan dia, namun menjadi budak dari kesenangan-kesenangan jahat mereka, dia takut bahwa mereka akan membunuhnya, bersama istri dan anak-anaknya, dan yang mereka nikahi; sehingga dia pergi dari negeri itu. Antiquity of the Jews 1.72-75
Menurut Josephus, penyatuan antara Malaikat yang Jatuh dengan manusia perempuan menghasilkan ras para raksasa, yang pada zaman purbakala disebut Nephilim.
Penjelasan Philo mengenai Kejadian pasal 6
Philo dari Alexandria (20 SM-50 M) menulis penjelasan Kejadian 6 berjudul “Mengenai Para Raksasa.” Dalam tulisan ini, dia menegaskan bahwa kisah itu bukan mitos.
Kejadian 6:2 (TB) “maka anak-anak Elohim melihat, bahwa anak-anak perempuan manusia itu cantik-cantik, lalu mereka mengambil isteri dari antara perempuan-perempuan itu, siapa saja yang disukai mereka.” Makhluk-makhluk itu, yang oleh para filsuf lain disebut iblis, Musa menyebutnya para malaikat; dan mereka adalah jiwa-jiwa yang melayang-layang di udara. Dan jangan seorang pun mengira, bahwa apa yang dinyatakan di sini adalah dongeng, karena ini sesungguhnya benar bahwa alam semesta harus terisi dengan makhluk-makhluk hidup di semua bagiannya, karena masing-masing bagian utama dan dasarnya terdiri dari binatang-binatang yang sesuai, dan seperti itu konsisten dengan sifatnya. –bumi terdiri dari binatang-binatang bumi, lautan dan sungai berisi binatang-binatang air, dan api dari yang lahir di dalam api (namun dikatakan, bahwa yang semacam ini ditemukan utamanya di Makedonia), dan langit terdiri dari bintang-bintang: karena ini semua juga adalah seluruh jiwa-jiwa yang meliputi alam semesta, murni dan ilahi, sementara mereka bergerak dalam lingkaran, yang merupakan jenis gerakan paling lazim bagi pikiran, karena masing-masing dari mereka adalah pikiran induk. Karena itu diperlukan juga bahwa udara harus penuh makhluk-makhluk hidup. Dan makhluk-makhluk ini tidak kelihatan bagi kita, seperti udara itu sendiri tidak kelihatan dari pandangan mortal. (Namun itu tidak seperti bahwa karena pandangan kita tidak mampu melihat bentuk jiwa-jiwa, maka tidak ada jiwa-jiwa di dalam udara; namun itu sesuai kebutuhan bahwa mereka harus dipahami oleh pikiran, supaya yang seperti itu dapat direnungkan dengan yang seperti itu. Philo, Mengenai Para Raksasa II:6-9
Gunung Hermon, Sesar Syria – Afrika, dan Matrix
Israel tidak hanya merupakan tempat dimana terletak kota Yerusalem, situs suci tiga agama besar di dunia – Yahudi, Kristen, dan Islam. Ia terletak pada titik pusat geografis. Tanah Israel sendiri menyimpan rahasia mendalam sejarah umat manusia, dan peranan khusus bangsa Yahudi. Ia terletak di bagian barat wilayah berbentuk bulan sabit yang subur, mulai dari Teluk Persia, melalui Iraq selatan, Syria, Lebanon, Yordania, Israel dan utara Mesir. Israel berada di tengah-tengah tiga benua – Eropa, Asia, dan Afrika. Dan sebelah utara sesar Syria – Afrika, patahan tektonik yang rapuh yang terbentang dari Lebanon sampai Mozambique.

Tanah itu sendiri merupakan lokasi terletaknya Gunung Hermon, pegunungan bersalju tempat dimana para Malaikat yang Jatuh mendarat. Ini hal yang sangat besar, karena mereka ini mengubah arah sejarah umat manusia. Jika dilihat dari letak geografis dimana mereka mendarat, itu merupakan puncak tertinggi dari patahan yang terbentang sejauh 6000 kilometer.
Gunung Hermon, tempat turunnya 200 Malaikat Pengawas pada zaman Yared. Arti nama Yared adalah “turun.” Gunung Hermon juga merupakan sumber air bagi Sungai Yordan. Arti nama Yordan adalah “tempat turun.”
Kata Ibrani untuk keturunan para Malaikat yang Jatuh ini adalah “Nephilim“, yang memiliki akar kata “naphal“, yang artinya jatuh, gagal, dicampakkan (ke bawah), dibuang, meninggalkan posisi.
Kejadian 6:4 (TB) Pada waktu itu orang-orang raksasa (Ibrani: Nephilim) ada di bumi, dan juga pada waktu sesudahnya, ketika anak-anak Elohim (Ibrani: benei ha’Elohim; para malaikat) menghampiri anak-anak perempuan manusia (Ibrani: benot ha’Adam; anak-anak perempuan Adam), dan perempuan-perempuan itu melahirkan anak bagi mereka; inilah orang-orang yang gagah perkasa (Ibrani: gibborim) di zaman purbakala, orang-orang yang kenamaan.
Pernahkah Anda membayangkan bagaimana sesungguhnya keadaan Bumi pada zaman sebelum Air Bah itu terjadi?
Dan mereka semuanya ada dua ratus; yang turun pada zaman Yared di puncak Gunung Hermon… Dan mereka semuanya bersama-sama mengambil bagi diri mereka sendiri istri-istri… Dan mereka mengandung, dan mereka melahirkan raksasa-raksasa besar. (Kitab Henokh, Gulungan-gulungan Kitab Laut Mati)
Raksasa disebutkan berulang kali di dalam Torah; Goliath, Og raja Bashan, dan Anakim (bangsa Enak) yang dimusnahkan Yosua dan bangsa Israel di tanah Kanaan.
Bilangan 13:33 (ILT) Dan di sana kami telah melihat raksasa-raksasa keturunan Enak (Ibrani: ha’Nephilim benei Anaq), yang berasal dari para raksasa (Ibrani: Nephilim). Maka di mata kami, kami menjadi seperti belalang, dan demikian pulalah kami di mata mereka.”
Jadi para raksasa ini adalah hybrid antara Malaikat yang Jatuh dengan perempuan manusia. Mungkin cukup sulit bagi kita sekarang ini untuk membayangkan bahwa ras raksasa memerintah dan menguasai Bumi pada zaman itu. Tetapi mereka ini meninggalkan bagi kita banyak monumen atau bangunan megalithik mengagumkan di seluruh dunia.
Tepat di bawah Gunung Hermon terletaklah Gilgal Rephaim, atau Roda Raksasa di Dataran Tinggi Golan. Sebuah monumen megalitik purbakala, “Stonehenge” Israel.
Kita tahu Nephilim menghasilkan raksasa-raksasa, dan merekalah arsitek monumen seberat 40.000 ton ini, meskipun para ahli arkeologi mengatakan semuanya ini masih misteri.
Kitab Henokh yang disebutkan sebagai tulisan kakek buyut Nuh, tidak dimasukkan di dalam Alkitab Ibrani maupun Kristen, memberikan informasi yang sangat limpah mengenai keadaan Bumi pada zaman Pra-Banjir Besar.
Itu memberitahukan kita bahwa para Malaikat yang Jatuh ini menyebut nama Hermon karena mereka bersumpah dan mengikatkan diri dengan kutuk di atas Gunung itu.
Dan mereka turun di Ardîs, yaitu puncak Gunung Hermon; dan mereka menyebutnya Gunung Hermon, karena mereka telah bersumpah di atasnya dan mengikatkan diri bersama-sama dengan kutukan. (Kitab Henokh 6:6, Gulungan-gulungan Kitab Laut Mati)
Tapi apa arti sebenarnya kata “Hermon“?
Kita hanya bisa memahaminya jika melihatnya dalam bahasa Ibrani, “Hermon” memiliki akar kata “Chayrem” atau “Charam” yang mempunyai 3 makna:
Dibuang atau diasingkan
Penjala ikan atau Jaring/Jala Pemburu
Mutilasi, Deformasi, atau Irisan pada Tubuh
Charam, dibuang atau diasingkan; ini benar-benar merupakan kutukan yang sesungguhnya terjadi pada para Malaikat Pemberontak ini.
Charam, Penjala ikan atau Jala Pemburu, memiliki arti alegori orang yang mengelabuhi, menipu, menyesatkan, menguasai, menangkap atau membawa orang lain kepada kesesatan.
Dalam Kitab Henokh kita membaca bahwa Azazel, sang Iblis pemimpin para Malaikat yang Jatuh ini mengajar kaum laki-laki seni berperang dan membuat macam-macam senjata. Kepada kaum perempuan dia mengajar seni memikat, dan bagaimana menggunakan kosmetik. Mereka keduanya seperti jala, yang satunya aktif dan agresif, dan yang satunya pasif namun memikat.
Kesibukan dan tujuan hidup bagi kaum pria adalah berlomba-lomba bagaimana untuk menaklukkan dengan cara apa pun. Kesibukan dan tujuan hidup bagi kaum wanita adalah berlomba-lomba bagaimana menjadi cantik dan menarik secara seksual.
Namun mungkin peperangan terbesar yang sesungguhnya terjadi di dunia zaman ini adalah perang psikologis. Pikiran adalah medan peperangan yang baru, suatu jejaring yang tidak kelihatan, atau suatu Matrix yang memerangkap umat manusia.
Jejaring lainnya adalah Internet, yang merupakan hal “terbaik”, yang tanpanya kita bahkan tidak bisa membaca isi artikel ini. Namun efek samping dari jaring-jaring Internet adalah bahwa manusia benar-benar terjerat kepadanya, dan tidak bisa hidup tanpanya. Bersama dengan komputer, ini semua merupakan suatu bentuk “kecerdasan buatan” – suatu Matrix – dan manusia terperangkap didalam simulasi realitas virtual komputer.
Ini seperti medan quantum artifisial yang menggenggam segala sesuatu secara bersamaan, dan tidak ada yang namanya pemisahan. Karena pada tingkatan quantum, partikel berhenti untuk ada. Ini juga membuktikan akan Elohim, karena Elohim adalah Satu dan segala pemisahan di alam semesta ini hanyalah ilusi didalam bidang fisik.