
James memandang bayi mungil yang tidur didalam sebuah box bayi itu penuh kekaguman. Satu bulan yang lalu bayi perempuan itu lahir melengkapi kebahagiaan keluarga Romanov. Selama itu pula James tidak pernah absen untuk menunggui adik angkatnya.
Senyum James berkembang sempurna setiap melihat bayi mungil itu bangun dari tidur, mengerjapkan mata dan tersenyum ke arahnya. Natasha kecil begitu lucu dan menggemaskan, mencoba meraih tangan James dengan tangannya yang kecil.
“Kamu lucu sekali.” Gumam James gemas memberikan kecupan di pipi Natasha.
“Ah… James menyebalkan mencuri ciuman pertama Tasya.” Pekik Nathan yang mendadak masuk ke kamar Natasha dengan wajah kesal.
James yang mendengarnya hanya bisa mendelik. Dijitaknya kepala Nathan hingga anak itu mengaduh kesakitan.
“Sakit tau!” Erang Nathan. Didekatinya Natasha yang memperhatikan tingkah kakak-kakak mereka dengan kening berkerut. “Tasya, jangan suka sama James ya. Dia jahat. Sama Nathan saja yang tampan.” Kata Nathan dengan muka memelas.
“Mukamu jelek.” Sahut James sambil menjulurkan lidah.
“Kamu lebih jelek dari aku.” Kata Nathan tidak mau kalah.
Keduanya langsung terlibat adu mulut meributkan siapa yang paling tampan diantara mereka. Daniel yang melihat tingkah kedua anak itu langsung melerai, menjauhkan dari adiknya yang asyik memandangi mainan gantung di bagian atas box bayi.
“Kalian keluar sana. Ribut saja dari tadi.” Gerutu Daniel.
“Aku mau bermain dengan Tasya.” Rengek Nathan.
“Aku juga mau disini bersama Natasha.” Kata James tidak mau kalah.
“Berisik! Kalian membangunkan Natasha.” Geram Daniel.
James dan Nathan hanya bisa mencembik melihat Daniel memarahi mereka. Sedangkan diambang pintu, Bella melihat anak-anaknya dengan senyum geli. Sejak Natasha lahir suasana kastil semakin ramai dengan perdebatan ketiga putranya yang tidak mau kalah menjaga Natasha. Putri kecilnya telah membawa kebahagiaan bagi siapa saja di keluarga Romanov dan Vladimir.
***
Umur 8 bulan.
Bella tersenyum senang melihat putri kecilnya tengah sibuk bermain diatas meja, menghambur-hamburkan tepung terigu yang sekiranya akan dijadikan adonan roti selagi ia memasak didapur. Natasha terlihat girang bermain dengan tepung itu tidak peduli wajahnya yang kini putih terkena tepung. Natasha menepuk-nepuk tangannya yang terkena tepung, terkekeh ketika tepung itu bertebaran kemana-mana.
“Ma..ma…ma…” Gumaman Natasha yang sibuk memainkan jemarinya di atas meja.
Bella yang sudah tidak tahan ingin menyentuh putrinya, meminta para pelayan meneruskan pekerjaan sedangkan dia memutuskan menghampiri Natasha. Ia terkekeh melihat putrinya yang belepotan tepung disekujur tubuhnya.
“Ma…ma…ma…” Gumam Natasha mencoba meraih ibunya terjingkrak-jingkrak.
“Iya sayang.” Kata Bella mendekati putrinya.
“Ma…ma…” Natasha menarik-narik baju Bella mencoba menarik perhatian ibunya dengan tangan bergantian menunjuk keatas meja.
Bella yang penasaran dengan apa yang diinginkan putrinya mengalihkan perhatian pada tempat yang ditunjuk Natasha. Ia langsung terpaku melihat apa yang ditemukan diatas meja. Putrinya baru saja membuat tulisan, ‘ Natasha Arabella Romanov’ diatas ceceran tepung. Bella mengucek mata untuk memastikan ia tidak salah lihat namun tulisan itu masih terlihat jelas disana.
“Grey… Grey…” Bella mencoba memanggil Romanov.
Tergesa-gesa Bella berjalan menuju pintu dapur dan memanggil suaminya sekali lagi. Dengan langkah tergopoh-gopoh dan wajah cemas, Romanov berjalan menghampiri Bella takut terjadi sesuatu disana.
“Ada apa?” Tanya Romanov bingung menelisik sekitarnya.
“Kemarilah, lihat ini.” Kata Bella menarik tangan Romanov agar mendekat ketempat Natasha berada.
Romanov mengikuti Bella penasaran. Saat sudah didekat Natasha yang tersenyum melihatnya, Bella menunjukkan sesuatu yang membuatnya tercengang. Ia melihat putrinya sedang menulis sesuatu diatas meja itu.
“A..apa Natasha yang melakukannya?” Romanov masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
“Iya, putri kita yang menulisnya.” Kata Bella meyakinkan.
Romanov menatap putrinya bahagia. Bayangkan saja, Natasha baru beumur delapan bulan sudah bisa menulis namanya dengan benar. Saat mendengar Natasha mengucapkan kata pertamanya diumur lima bulan, ia mengira semua itu hal yang lumrah tapi kini ia yakin putrinya lebih dari itu.
Digendongnya Natasha dan menimang dengan kebahagiaan membuncah. Romanov bahkan tidak berhenti mengucapkan rasa syukurnya.
“Putri kita terlahir genius sayang.” Ucap Romanov dengan mata berbinar.
“Iya…” Mata Bella berkaca-kaca terharu.
“Sebaiknya kita konsultasi untuk memastikannya.” Ajak Romanov.
“Tapi Grey, tidakkah ini akan menjadi ancaman untuk Natasha?” Kata Bella cemas.
Romanov tampak berpikir sejenak. “Kita akan menutupi rapat-rapat hal ini. Cukup keluarga kita yang tahu keistimewaan Natasha.”
Bella mengangguk setuju dengan rencana Romanov. Bagaimana pun juga keselamatan Natasha adalah yang utama. Kebahagiaan mereka mengetahui Natasha terlahir genius tidak akan sebanding jika Natasha terenggut paksa dari dekapan mereka.
***
Umur 4 tahun.
Natasha terlihat sedang bermain dengan James ditaman kastil seperti biasa saat kakaknya itu sudah pulang dari sekolah. Keduanya terlihat sangat riang mengumpulkan bunga yang baru saja bermekaran dimusim semi. Sesekali Natasha terlihat mengejar kupu-kupu yang berkeliaran disana. James yang melihat tingkah Natasha terkekeh geli apalagi setiap Natasha mengejar kupu-kupu yang memang sulit ditangkap.
“James, kupu-kupu.” Rengek Natasha meminta James menangkapkan salah satu kupu-kupu yang terbang hilir mudik diantara bunga-bunga yang tengah mekar.
“Mereka tidak bisa ditangkap Natasha.” Kata James mencoba memberikan pengertian.
“Kalau sudah tertangkap mau diapakan kupunya?” Tanya James penasaran.
Natasha tidak langsung menjawab, gadis kecil itu tampak berpikir. Kemudian ia tersenyum mendapatkan sebuah ide. Ia menyeret kakaknya kembali kedalam kastil menuju dapur, mengabaikan para pelayan yang terkekeh melihat tingkah kedua bocah itu.
“Itu…itu…” kata Natasha menunjuk sebuah toples kaca yang berada jauh dari gapaiannya.
“Kau ingin memasukkan kupu-kupunya disini?” Tanya James mengambil toples yang diminta Natasha.
“Iya.” Natasha mengangguk cepat. “Ayo kita tangkap kupu-kupunya.” Ajaknya berlari kegirangan kembali ke taman.
“Tunggu Natasha, jangan berlari seperti itu nanti jatuh.” Tegur James yang tidak digubris oleh Natasha.
“Cepatlah James.” Kata Natasha tidak sabar.
Sesampainya ditaman, Natasha langsung mengejar kupu-kupu yang melintas didepannya. James hanya bisa menggeleng pasrah melihat Natasha yang super aktif itu. Ia mengalihkan perhatiannya pada kupu-kupu yang sibuk hinggap di bunga menghisap nectar. Dengan mengendap-endap ia mencoba mengincar salah satu kupu-kupu itu untuk ditangkap. Dan dia berhasil mendapatkan salah satu kupu-kupu setelah berkali-kali gagal mendapatkannya. Ia langsung memasukkan kupu-kupu itu ke dalam toples yang diambil dari dapur.
“Natasha, lihat. Aku mendapatkan satu.” Teriak James memanggil Natasha yang berada cukup jauh darinya.
Natasha yang melihatnya langsung berlari mendekati James dengan mata berbinar. Dipandanginya kupu-kupu berwarna jingga itu penuh kekaguman. “Ayo kita pamerkan pada Nathan.”
James mengangguk setuju dan langsung mengikuti Natasha masuk ke kastil. Biasanya saat siang seperti ini Nathan berada diruang piano untuk berlatih memainkan alat music itu, berbeda dengan James yang tidak menyukai piano dan memilih menemani Natasha bermain.
Baru separuh pejalanan menaiki anak tangga menuju lantai empat di mana Nathan berada, Natasha memutuskan untuk berhenti dan duduk disalah satu anak tangga.
“Capek.” Gumam Natasha dengan bibir mencembik.
“Sini aku gendong.” Kata James menyodorkan punggungnya. “Pegang erat-erat ya.” Pintanya setelah Natasha menempel di punggungnya.
“Iya.” Jawab Natasha sambil mengangguk.
Meski Natasha cukup berat, James memaksakan diri membawa adiknya menuju ruangan dimana Nathan berada. Ia tidak ingin mengecewakan adik kecilnya yang terlihat antusias ingin memperlihatkan kupu-kupu yang mereka dapatkan pada Nathan.
Dengan nafas terengah-engah, James menurunkan Natasha di ambang pintu ruang piano. Natasha yang baru saja memijakkan kakinya dilantai langsung melesat berlari menghampiri Nathan yang masih duduk didepan grand piano.
Dari ekor mata Nathan bisa melihat Natasha berlari kearahnya, namun ia mengacuhkan begitu saja. Ia tidak begitu suka melihat gadis kecilnya berdekatan dengan James yang membuatnya kesal setiap melihat mereka berdua main bersama. Dan baru saja ia melihat James menggendong Natasha tanpa terlihat merasa bersalah padanya.
“Nathan…Nathan… Lihat apa yang ku punya.” Teriak Natasha memamerkan toples dalam pegangan tangannya.
Nathan hanya melirik sekilas sebelum kembali berkutat dengan tuts piano.
“Nathan… kupu-kupunya lucu ya.” Kata Natasha tidak menyerah meletakkan toples itu didepan Nathan.
“Iya.” Sahut Nathan singkat menyingkirkan toples itu.
“Ini buat kamu.” Natasha kembali mengangsurkan toples itu kehadapan kakaknya.
“Minggirlah Tasya, aku sedang berlatih.” Ucap Nathan geram menyingkirkan toples itu kasar hingga jatuh pecah membuat kupu-kupu yang sudah susah payah ditangkap terbang bebas.
Melihat hal itu Natasha tampak terkejut sesaat. Setelah itu ia mencengkeram tangan Nathan dan menggigitnya keras.
“Nathan jahat!!!” Bentak Natasha dengan mata berkaca-kaca kemudian berlari pergi.
James yang melihatnya dari ambang pintu langsung marah. “Natasha menangkap kupu-kupu itu untuk kamu. Keterlaluan!!!” Katanya lalu pergi menyusul Natasha yang menangis histeris.
Sedangkan dilain sisi, Nathan masih meringis menahan sakit ditangannya yang digigit Natasha. Ia terlihat bersalah telah melakukan itu semua. Ditatapnya pecahan toples itu dengan nanar. Kupu-kupu yang tadi terlepas pun tampak mengepakkan sayap keluar melalui jendela yang terbuka.
***
Malam harinya, Nathan masuk ke dalam kamar Natasha. Ia membawakan kupu-kupu baru untuk mengganti yang dia pecahkan tadi siang. Sejak kejadian di ruang piano, Natasha mengacuhkannya bahkan saat ia mencoba meminta maaf, adiknya memilih pergi menjauh.
“Tasya.” Panggil Nathan lembut, ia tahu adiknya belum tidur meski Natasha telah meringkuk dikasur membelakanginya.
“Tasya, maafin Nathan ya.” Pinta Nathan disamping tempat tidur.
“Nathan jahat.” Ucap Natasha pelan.
“Nathan janji tidak akan jahat lagi dengan Tasya.” Kata Nathan penuh sesal.
Natasha berbalik memandangi Nathan dengan seksama. “Janji!”
“Janji.” Ucap Nathan menyodorkan jari kelingkingnya.
Natasha melakukan hal yang sama setelah ragu beberapa saat. Keduanya tersenyum begitu jari kelingking mereka bertautan.
“Aku membawakan sesuatu untukmu.” Kata Nathan memperlihatkan kupu-kupu didalam toples yang telah dihias cantik.
Mata Natasha berbinar-binar melihatnya, ia langsung bangun dan memeluk Nathan. “Aku sayang Nathan.”
“Nathan juga sayang Tasya.” Balas Nathan mengecup kening adiknya itu.
Natasha dan Nathan tampak senang memperhatikan kupu-kupu yang terbang didalam toples. Hingga larut malam mereka bercanda bersama hingga akhirnya mereka tertidur. Natasha tampak lelap tidur dengan berbantalkan tangan Nathan.
Bersambung...