
Mata James nyaris tidak berkedip sejak beberapa menit yang lalu. Ia terus mengawasi titik merah pada ponselnya yang tidak bergerak sejak ia menyalakan GPS yang tersambung dengan alat pelacak di kalung Natasha. Ditemani Jason dan anak buahnya, James kini berada dalam perjalanan menuju luar kota Bunol setelah gagal menemukan keberadaan Natasha di hotel yang telah dipesannya. Pertanyaan silih ganti mengisi kepala James, menerka-nerka apa yang terjadi pada Natasha hingga memilih pergi dari kota Bunol.
Sedangkan di sisi depan, Jason terlihat mengerutkan kening begitu mendapat informasi di mana Natasha berada dari anak buahnya yang dikirim untuk menyelidiki tempat itu. Apartemen Marquizze. Sepertinya mereka menemukan Natasha dan membawanya ke sana. Ia sudah mengira akan terjadi hal ini, sebaik apapun usaha Romanov menyembunyikan Natasha, pada akhirnya mereka akan menemukannya juga. Hanya tinggal menunggu waktu saja.
Gedung apartemen Marquizze terlihat tak lama begitu mereka memasuki kota. Jason mengetuk-ngetukkan jarinya pelan, menimbang apa diperlukan konfrontasi untuk mengeluarkan Natasha dari sana. Ini pilihan yang sulit baginya, Marquizze bukan musuh. Namun ia juga harus mematuhi peraturan yang dibuat Romanov yang bertindak sebagai bosnya. Udara terasa semakin berat begitu ia turun dari mobil.
“Apapun yang terjadi, tahan emosimu,” pinta Jason begitu mereka sampai di depan pintu tempat Marquizze berada.
“Aku tidak bisa tinggal diam jika terjadi sesuatu pada Natasha.”
“Sebaiknya kita menghindari kekerasan.”
Akhirnya Jason menguatkan hati untuk mengetuk pintu itu. Beruntung bukan Robert sendiri yang membuka, tetapi anak buahnya. James yang yakin Natasha berada di dalam, merasa tidak sabar terus-terusan dihalangi. Sehingga terjadi cekcok di depan pintu.
Sementara itu di dalam apartemen, Robert masih bergeming di tempatnya duduk memperhatikan anak buahnya yang terluka tengah diobati. Beberapa anak buahnya ada yang mati saat bertarung dengan musuh tak dikenal. Namun bukan itu yang memenuhi pikiran pria itu. Natashanya ada di sana beberapa jam lalu, dan dia terlambat datang. Sekarang gadis itu sudah pergi entah ke mana.
Alan, tangan kanan Robert sedikit terusik mendengar keributan di depan pintu. Melihat bosnya tidak beranjak, ia pun memutuskan untuk melihat apa yang terjadi di sana. Anak buahnya terlihat sedang menghalangi para tamu yang berniat masuk. Dari beberapa orang pria itu, ia melihat salah satu yang terasa tidak asing. Tato yang menyembul di balik kemeja pria itu terasa sangat familiar baginya.
“Ada apa ini?” tanya Alan dengan kening berkerut.
“Orang-orang ini berkeras untuk masuk mencari seorang gadis bos.”
“Biarkan mereka masuk,” kata Alan.
Belum sempat pria yang menghalanginya menyingkir, James langsung menghambur ke dalam apartemen. Berlari mencari keberadaan Natasha.
“Maaf atas ketidak nyamanan ini Tuan, kami hanya ingin memastikan keberadaan anggota keluarga kami di sini,” ujar Jason yang memilih tetap berada di sana. Membiarkan James sendiri yang mencari Natasha.
“Saya rasa yang anda cari tidak berada di sini,” ucap Alan penuh sesal.
Keributan yang dibuat James di bagian lain dalam apartemen itu mengalihkan perhatian Alan dan Jason. Keduanya tampak memperhatikan James yang tengah mencecar seorang pelayan yang dijumpainya saat mencari Natasha di kamar. Dengan wajah frustasi, James kembali mendekati Jason dengan sebuah kalung di tangan.
“Dia tidak di sini,” ucap James putus asa.
“Jadi kurasa kita harus mencari ke tempat lain,” ajak Jason. “Maaf telah mengganggu kenyamanan hari anda,” lanjut Jason sebelum keluar. Terselip rasa lega mengetahui bukan Robert yang berada di sana tadi. Sekarang permasalahannya mereka mengalami jalan buntu setelah hanya mendapatkan kalung yang menjadi alat pelacak Natasha. Pencarian mereka kembali ketitik awal lagi.
*****
Dari ambang pintu, Ivan memperhatikan Natasha yang tengah berbicara dengan kakaknya di telepon. Ia sudah menyiapkan perjalanan menuju Siberia, termasuk beberapa mobil yang telah berangkat bergantian dengan rute berbeda untuk mengecoh. Meski ia tidak menemukan seseorang mengintai tempat itu, tetapi Ivan tidak ingin mengambil resiko. Setidaknya sekarang ia tahu, siapa Natasha sebenarnya. Keluarganya adalah Don paling berkuasa di daratan Eropa, pantas saja gadis itu menjadi incaran musuh klan D’yavol.
Melihat Natasha sudah selesai berbicara dengan kakaknya. Ivan mendekat untuk memberitahu bahwa mereka sudah siap berangkat. “Apa Daniel setuju kau pulang ke Siberia?”
“Iya, dia akan menemuiku di sana.” Natasha mengembalikan ponsel yang dipegangnya pada Ivan. Ia tidak memiliki apa-apa sekarang, ponsel dan dompetnya hilang entah di mana. Kalau saja Ivan tidak menemukannya kemarin, ia tidak tahu harus berbuat apa.
Natasha mengangguk mantap. Disambutnya uluran tangan Ivan dan berjalan keluar menuju mobil yang telah menunggu mereka di halaman. Natasha melihat beberapa mobil bersiap untuk keluar mengiringi mereka menuju bandara. Dia tidak pernah mengira nyawanya akan berada dalam sebahaya ini hingga Ivan rela memberikan pengawalan penuh terhadapnya.
Sama halnya dengan Natasha, Ivan yang berdiri di samping Natasha terlihat sangat lega begitu mereka sampai di bandara tanpa ada halangan sedikitpun. Ia menggandeng Natasha menuju pesawat jet pribadi yang sudah siap berangkat. Tepat saat mereka lepas landas, Ivan memperoleh informasi dari salah satu anak buahnya seseorang mencoba menyerang mobil umpan yang dikirimnya menuju kota. Senyum puas terukir di wajah Ivan, rencananya berhasil. Siapapun yang mengejar Natasha, mendapatkan mobil yang salah.
“Semua akan baik-baik saja, tidak ada yang mengejar kita sekarang,” kata Ivan menenangkan Natasha yang masih terlihat tegang.
“Terima kasih Ivan, jika saja…”
Ucapan Natasha langsung dibungkam Ivan dengan telunjuk yang menempel di bibir gadis itu, “lupakan itu. Aku melakukannya karena keinginanku sendiri dan aku akan melakukannya sepanjang hidupku. Biarpun kita tidak bersama, ijinkan aku selalu mengiringi langkahmu, menjadi bayanganmu yang akan selalu melindungimu.”
Tetesan bening di pelupuk mata Natasha tidak bisa lagi dicegah untuk tidak meluncur. Hati Natasha terasa hangat mendengar kata-kata Ivan. Ia tidak menolak Ivan saat pria itu mencium dahinya dan menghapus air matanya. Rasa kesendirian yang melandanya beberapa hari terakhir ini langsung sirna seketika. Mungkin ia dan Ivan memang tidak bisa bersama menjalin hubungan seperti dulu, tapi kehadiran pria itu dalam kehidupannya kembali terasa menenangkan hati.
*****
“Kita tidak bisa masuk begitu saja Tuan Muda, di sini adalah wilayah mereka,” ucap Mark memperhatikan Sean yang masih berusaha meredam amarahnya.
Mereka kini berada di titik terakhir di mana jejak Natasha terlacak. Siapa yang mengira kalau Ivan Ed Squires telah menemukan Natasha terlebih dahulu. Kedatangannya terlambat beberapa menit setelah Ivan membawa Natasha melarikan diri dan itu membuat Sean terasa ingin meledak.
Ia sudah susah payah menjebak Ivan dulu agar bisa menyingkirkan jauh-jauh dari Natasha. Namun karena liburan konyol Natasha, membuat pria itu kembali bertemu dan membawa Natasha ke mansion pria itu. Rasanya ia ingin mengobrak-abrik tempat Ivan, sayangnya benar apa kata Mark. Tempat ini adalah tempat kekuasaan Squires dan dilihat dari apa yang dibawanya sekarang, sangat mustahil menyerang tempat itu.
“Kita intai tempat itu. Jika ada kesempatan, aku akan menyusup masuk dan membawa Natasha pergi,” ucap Sean kembali masuk ke dalam mobil diikuti Mark dan Dustin yang bertugas melacak.
Tidak ada bantahan dari Mark maupun Dustin sepanjang perjalanan hingga sampai di manor tempat tinggal Ivan. Sampai di sana pun Sean terpaksa mengerang keras karena penjagaan sudah ditingkatkan. Tidak ada celah untuk bisa memberikan kesempatan ia menyusup masuk. Satu-satunya cara yang terpikir oleh Sean saat ini hanyalah menyadap tempat itu. Beruntung ia menemukan Dustin, benar kata Mark. Pria itu bisa diandalkan.
Sepanjang malam, Sean nyaris tidak tidur hanya untuk mengamati pergerakan manor Ivan. Baru pagi harinya ia mendapatkan kemajuan setelah Dustin mendapat sinyal dari dalam rumah ada komunikasi keluar. Dari situlah Sean tahu Natasha baik-baik saja dan akan segera kembali ke Rusia. Kali ini ia tidak akan membiarkan Ivan yang membawa Natasha pulang. Dia akan merebutnya saat mereka dalam perjalanan ke bandara.
Seperti dugaan Sean. Ivan akan berusaha mengecoh siapa saja yang mengincar Natasha. Namun itu tidak berlaku dengannya. Ia melihat beberapa mobil keluar bergantian dengan jarak waktu tertentu dan dengan arah yang berbeda. Jika ia tidak salah menebak, Ivan tidak mungkin membiarkan mobil yang ditumpanginya hanya berjalan sendirian. Tepat saat tiga buah mobil keluar dari manor, Sean menyalakan mobil untuk mengikuti mereka.
“Apa kau yakin tentang ini?” tanya Dustin menyadari kenekatan bos barunya itu yang tidak lebih tua darinya.
Dari kaca spion mobil, Sean menatap tajam Dustin tanpa memberikan komentar.
“Ok. Untuk kau ketahui, aku tidak bisa membantumu jika ada perkelahian.” Dustin membenarkan duduknya, membuatnya nyaman setelah Sean mengacuhkannya.
Setelah menyalip dengan kecepatan tinggi, Sean membalik mobilnya hingga berhadapan dengan ketiga mobil yang dicurigai membawa Natasha. Mobil-mobil itupun berhenti begitu Sean menghadang. Sean turun diikuti Mark di belakangnya, sedangkan Dustin memilih tetap di dalam mobil. Orang-orang yang berada di dalam mobil dihadapannya terlihat tegang, tetapi juga tidak terlihat mempersiapkan senjata. Bahkan mereka tidak melawan saat Sean menyuruh untuk membuka pintu.
Alangkah terkejutnya Sean saat memeriksa satu persatu mobil itu. Tidak ada Ivan, maupun Natasha. Ketiga mobil itu hanya membawa para sopir saja. Menyadari dirinya terkecoh, Sean mengerang penuh amarah. Dia gagal mendapatkan Natashanya kembali.
Bersambung....