
Kehidupan keluarga Romanov mulai membaik sejak berada di Rusia. Mereka sangat beruntung bertemu dengan Vladimir Nikolaev, seorang Mafioso yang juga menjabat sebagai anggota parlemen di Moskow. Dari Vladimir pula Romanov mulai belajar di bidang politik disamping usaha membangun kembali kerajaan kartelnya yang runtuh saat pelariannya dari Italia.
Vladimir yang sudah berusia senja sangat senang saat Romanov dan keluarganya sampai di Moskow. Pria itu juga yang menawarkan tempat tinggal untuk Romanov. Baginya Romanov seperti pengganti anaknya yang sudah hidup berpencar di beberapa tempat. Tentu saja kedatangan mereka seakan menjadi pengganti anak-anaknya yang jarang tinggal di kastil. Sejak itu pula kastil Vladimir menjadi ramai dipenuhi keceriaan anak-anak Romanov.
Satu anak kandung dan dua anak angkat Romanov sering menghabiskan waktu bermain di dalam kastil sepulang sekolah maupun setelah menjalani latihan bela diri. Terkadang Vladimir juga menyempatkan untuk berkumpul bersama ketiga bocah yang sudah seperti cucunya sendiri itu.
Hanya satu anggota keluarga lagi yang masih mereka nantikan hari kelahirannya. Kehamilan Bella yang sudah menginjak usia delapan bulan membuat siapa saja yang ada di sana memberikan perhatian lebih terutama soal keamanan. Kastil itu kini memiliki dua kali lipat penjagaan yang super ketat untuk menjaga Bella. Hal yang tidak pernah terbayang oleh Romanov sebelumnya, karena itulah pria itu benar-benar mengabdikan hidup pada Vladimir yang telah sudi membantu melebihi apa yang pernah diharapkan.
Pagi itu Bella keluar keliling kastil seperti yang biasa ia lakukan semenjak kandungannya semakin membesar. Berjalan santai membantu untuk menyiapkan tenaga saat putri kecilnya lahir. Dengan dua orang pelayan yang senantiasa mendampingi Bella, membuat Romanov bisa mengenyahkan sedikit kekhawatiran.
Bella berhenti di taman dekat halaman depan, memperhatikan anak-anaknya yang tengah belajar bela diri. Musim dingin yang sudah mulai meninggalkan Rusia sama sekali tidak menyurutkan ketiganya berlatih. Daniel yang paling besar tampak serius melakukan setiap gerakan yang diajarkan guru, sedangkan Nathan dan James masih kesulitan mengikuti pelatihan itu. Bella terkekeh geli saat Nathan yang usil dengan sengaja menendang James yang berada di depannya, membuat anak blonde itu menggerutu kesal.
Saat latihan sudah selesai, ketiga anak itu langsung berhamburan mendekati Bella. Daniel yang paling cepat disusul Nathan yang mencurangi James. Bella merasa sangat terhibur dengan ke tiga putranya itu, mengaburkan rasa rindunya pada putra kecil Phillip yang sudah lama tidak bertemu.
“Kalian sudah selesai berlatih?” tanya Bella memandangi satu persatu putranya.
“Sudah, Ma,” jawab Daniel yang langsung duduk di samping Bella dan membelai perut mamanya itu. “Kapan adik kecilku lahir, Ma?”
“Sebentar lagi,” kata Bella.
“Lama sekali. Aku sudah tidak tahan dengan ke dua bocah itu, mereka membuatku pusing,” gerutu Daniel. “Terutama dengan bocah tengil itu,” Lanjutnya menunjuk Nathan.
Bella tergelak mendengar gerutuan Daniel. Ia sudah biasa mendengar rajukan Daniel seperti itu, tetapi ia tahu putranya itu sangat menyayangi ke dua bocah itu terbukti saat Nathan dan James di ganggu teman-temannya saat di sekolah, Daniel lah yang maju membela mereka.
“Daniel tidak asik,” cibir Nathan.
“Katakan lagi bocah tengil,” kata Daniel penuh ancaman.
“Daniel tidak asik… Daniel tidak asik… Daniel tidak asik,” ejek Nathan sambil menjulurkan lidahnya.
Daniel yang terlihat geram langsung mengejar anak itu hingga mereka berguling di rerumputan. Nathan yang kalah besar dibandingkan Daniel dengan mudah di dekap kakaknya itu, dan harus pasrah menerima hukuman gelitikan.
Bella hanya bisa menggeleng dengan senyum tersungging di bibirnya melihat tingkah ke dua anak itu. Pandangannya kini beralih pada James yang memilih diam melihat ke dua saudaranya bercanda. Ia tahu kalau sampai sekarang James masih memendam kesedihannya karena kehilangan keluarga. Bella sering memergoki James menangis saat malam datang.
“James…” Panggil Bella membuyarkan lamunan anak itu.
“Ya, Ma.”
“Kemarilah sayang.” Bella mengulurkan tangan meraih James agar duduk disampingnya.
James mengikuti perintah mama angkatnya itu untuk duduk.
“Bagaimana sekolahmu, Sayang?” tanya Bella.
“Baik Ma, tidak ada lagi yang menggangguku dan Nathan lagi,” jawab James memandangi perut Bella.
“Syukurlah. Rajinlah belajar,” nasehat Bella disusul anggukan James. “Kau senang sebentar lagi memiliki adik?” tanya Bella.
“Senang, Ma,” kata James dengan mata berbinar. “Siapa nama adik perempuanku nanti Ma?” tanyanya antusias.
“Mama belum memikirkannya. Bagaimana kalau James yang mencarikan nama untuk adik nanti?” tawar Bella.
James mengangguk setuju, ia lalu menunduk, menempelkan telinganya di perut Bella, sesekali tertawa saat bayi dalam perut mamanya itu bergerak-gerak.
Romanov berjalan menyusuri lorong kastil di bagian sayap kiri, tempat di mana dia dan keluarganya tinggal. Sengaja memilih tempat itu karena hanya di sanalah terdapat kamar di lantai dasar, sehingga ia tidak perlu mengkhawatirkan Bella yang harus naik turun tangga.
Dilihatnya Bella tengah bersantai di dekat perapian ditemani anak-anaknya dan sebuah buku di tangan. Bella tersenyum ke arah Romanov yang berjalan semakin dekat.
“Bagaimana kabar putri daddy hari ini?” sapa Romanov seraya berjongkok didepan Bella. Membelai perut istrinya yang membesar dan menciumnya. Sebuah gerakan langsung menyambut Romanov begitu pria itu menyentuh perut Bella.
“Sepertinya putri kecil kita merindukanmu,” kata Bella tersenyum.
Romanov ikut tersenyum bahagia. Ia masih saja mencium dan membelai perut Bella membuat bayi dalam kandungan Bella aktif bergerak. “Sedang main apa sayang sampai membuat mama meringis seperti itu,” kekeh Romanov melihat Bella sedikit gelisah.
“Dia aktif sekali seharian ini,” ucap Bella mengelus-elus perutnya untuk menenangkan putrinya.
“Mungkin dia iri melihat kakak-kakaknya bebas bermain ke mana-mana,” kata Romanov gemas.
“Kau ini…”
Senyum Bella mengembang sempurna. Ia sangat beruntung memiliki Romanov yang selalu mencurahkan kasih sayang dan perhatian padanya dan juga anak-anak. Bahkan suaminya itu tidak membedakan Daniel dengan Nathan dan James. Ketiganya selalu mendapat curahan perhatian yang sama.
“Apa yang kau pikirkan Bella?” tegur Romanov melihat istrinya melamun.
“Aku merindukan Robert. Aku ingat dia sangat ingin memiliki adik perempuan,” jawab Bella nanar.
“Jangan khawatir, suatu hari nanti dia akan bertemu kita lagi,” hibur Romanov.
“Bagaimana kabarnya sekarang? Apa dia baik-baik saja?” tanya Bella.
“Dia baik-baik saja. Robert juga sangat pintar di sekolah,” jawab Romanov.
“Syukurlah. Aku masih sering memikirkan peristiwa itu.”
“Lupakan saja, semua sudah berlalu.”
Bella mengangguk, disandarkan tubuhnya pada Romanov yang telah berganti posisi duduk di sampingnya. Romanov memeluk Bella dengan sesekali mengusap perut istrinya. Ia tahu Bella sangat merindukan Robert dan juga Julia namun rasa kecewanya dengan Phillip membuatnya enggan untuk memulai komunikasi lagi dengan pria itu. Belum lagi keinginan menjauhkan keluarga Phillip dari amukan Braga, membuatnya semakin kuat untuk menjauh meski sesekali dia mengawasi mereka dari jauh, memastikan Braga tidak menyentuh Valencia sama sekali.
Erangan lirih Bella membuat Romanov terhenyak, “ada apa sayang?”
“Entahlah, tiba-tiba perutku terasa sakit,” rintih Bella mengusap-usap perut agar nyerinya mereda. Romanov ikut mengusap perut istrinya itu dengan wajah gusar.
Tubuh Bella menegang merasakan sengatan yang panjang di perut bagian bawah hingga tanpa sadar mencengkeram sofa hingga buku-buku jarinya memutih.
“Apa kamu baik-baik saja?” tanya Romano semakin panic.
“Aku rasa, putri kecilmu akan lahir,” jawab Bella meringis kesakitan.
Tercengang dan takjub, membuat Romanov terdiam memandangi perut Bella. “Oh… astaga!” pekiknya begitu tersadar istrinya akan segera melahirkan.
Segera ia memerintahkan para pelayan untuk menyiapkan keperluan Bella dan bayinya. Kepanikan mendadak itu memancing Vladimir sang tuan rumah yang melintas di hall ikut panic namun kemudian pria itu tersenyum bahagia setelah mengetahui penyebab kepanikan masal itu. Anggota keluarga yang telah lama dinanti akan segera bergabung dengan mereka. Segera ia mengerahkan anak buahnya untuk mengawal dan juga menjaga Bella selama di rumah sakit.
Menjelang pagi saat udara mulai menghangat. Putri kecil keluarga Romanov lahir ke dunia. Membawa serta kebahagiaan kepada setiap orang yang menyayanginya.
Bersambung...