The Heiress'S Love

The Heiress'S Love
Bab 20. Color in My Life



Synesthesia searc…


Synesthesia adalah fenomena neurologis di mana otak menimbulkan beberapa persepsi berupa penglihatan, suara, ataupun rasa dari respon indera. Misalnya, ia akan melihat warna merah saat ia mendengar atau membaca kata “senin”, sedangkan setiap mendengar atau melihat kata “selasa” ia akan langsung melihat warna biru.


Natasha membaca setiap keterangan yang ia dapat dari mesin pencari di laptopnya dengan teliti. Sudah beberapa hari sejak kejadian di taman itu terjadi, ia semakin bisa melihat warna-warna setiap mendengar bunyi suatu benda. Tidak puas dengan yang ia dapat, Natasha terus mencari sesuatu yang aneh dalam dirinya hingga larut malam.


Chromesthesia


Bentuk umum lain dari synesthesia adalah asosiasi suara dengan warna. Beberapa orang mendengar suara sehari-hari seperti pintu terbuka, mobil membunyikan klakson atau orang-orang berbicara dapat memicu melihat warna. Bagi yang lain warna dipicu saat mendengar not musik dimainkan.


Detak jam dinding di kamar, menarik perhatian Natasha. Ia bisa melihat warna kelabu yang meredup setiap detakan yang terdengar. Jadi namanya Chromesthesia. Batin Natasha.


Derit pintu kembali menarik perhatian Natasha, perlahan pintu kamarnya terbuka. Ia memang jarang mengunci pintu saat malam karena biasanya James masuk mengucapkan selamat malam. Seperti malam ini, setelah pintu sedikit terbuka pria itu muncul.


“Kau belum tidur?” Tanya James heran.


“Aku baru mau tidur.” Jawab Natasha menutup laptopnya lalu beranjak ke kasur. “Kau baru pulang?” Tanyanya pada James.


“Iya. Ada pekerjaan yang harus ku kerjakan.” Jawab James merebahkan diri di samping Natasha.


“Tugas kuliah?” Tanya Natasha mengerutkan kening.


“Tentu saja.” Jawab James menarik tangan Natasha, membimbingnya agar menyandarkan kepala di dada.


Natasha menyandarkan kepalanya, mendengarkan detak jantung James yang berwarna-warni begitu menentramkan hingga membuat matanya terasa berat untuk dibuka.


“Tidurlah sayang.” Bisik James mengecup puncak kepala Natasha.


Tatapan James menerawang ke langit-langit kamar. Berpikir akankah selamanya membohongi Natasha dengan apa yang selama ini ia kerjakan. Hidupnya selalu dikelilingi bahaya, tangannya selalu berlumuran darah sejak bergabung menjadi anggota Dark Devil, sindikat pembunuh bayaran yang dipimpin Jason paman Natasha. Dan ia tidak bisa keluar begitu saja dari sindikat itu. Kini ia menyesali keputusan yang diambil tanpa berpikir panjang itu.


***


Pagi harinya terdengar keributan di dalam dapur. Grace yang memerintah Natasha untuk membuat sarapan, terlihat marah-marah karena apa yang dimasak Natasha tidak sesuai dengan keinginannya. Merasa kesal karena jerih payahnya tidak dihargai, Natasha menyambar tas dan pergi begitu saja mengabaikan Grace yang semakin marah melihatnya pergi. Diacuhkannya James yang turun dari lantai atas dengan wajah penasaran. Lebih baik ia berangkat ke kampus secepatnya untuk menghindari wanita ular itu.


James yang merasa diacuhkan, langsung melangkahkan kaki menuju dapur untuk mengetahui apa yang baru saja terjadi di sana. Terlihat di sana Grace sedang duduk dengan wajah kesal dengan sebuah piring berisi makanan penuh di depannya.


“Ada apa?” Tanya James.


“Adikmu benar-benar tidak tahu diuntung. Aku sudah susah payah memasakkan sarapan, dengan seenaknya dia mengatakan masakanku tidak enak. Lihat dia meninggalkannya begitu saja.” Kata Grace bersungut-sungut.


“Biarkan saja. Sini, aku saja yang memakannya.” Sahut James merah piring di depan Grace.


“Sudah, tidak usah dimakan.” Sergah Grace.


“Aku lapar.” Kata James singkat, mengabaikan larangan Grace. Dalam sekejap makanan itu sudah habis dilahapnya, mengabaikan tatapan kesal gadis di depannya itu. “Ngomong-ngomong, apa kau sudah mendapatkan apartemen yang baru?”


“Belum. Apa kau pikir semudah itu mendapatkan apartemen baru. Lagi pula aku ingin memperbaiki hubungan kita James. Apa kau benar-benar tidak memaafkanku?” Ujar Grace.


“Aku sudah memaafkanmu Grace, tapi hubungan kita sudah berlalu. Mengertilah.”


“Apa kau sudah memiliki kekasih baru?” Tanya Grace curiga.


“Ada atau tidak, itu sama sekali tidak ada kaitannya.” Jawab James.


“Aku rasa ini berkaitan dengan Natasha. Dia itu adikmu James, sekalipun kau kakak angkatnya, kau tidak bisa bersamanya.” Kata Grace mengingatkan.


“Cukup Grace. Kita sudah membahas ini berulang kali. Dalam seminggu ini cepatlah pindah dari sini.” Putus James langsung beranjak pergi.


***


“Hai pemalas, bangunlah. Pelajaran akan segera di mulai.” Ujar Sean sembari menendang kursi yang diduduki Natasha.


Meski merasa terusik, Natasha tetap tidak bergeming dari posisinya menumpukan kepalanya pada ke dua tangan yang terlipat di atas meja.


“Masih terlalu pagi untuk tidur di kelas.” Lanjut Sean mengambil tempat duduk di samping Natasha. Sambil menunggu gadis itu menanggapinya, Sean mengetuk-ngetukkan jemarinya di atas meja.


Natasha yang mendengar bunyi ketukan itu merubah posisinya. Dilihatnya jemari Sean yang lincah bergerak di atas meja diiringi warna-warni yang mengelilinginya.


“Apa hari ini kau berangkat sendirian lagi?” Tanya Sean menghentikan gerakan jarinya.


“Iya.” Jawab Natasha kecewa.


“Sampai sekarang aku masih tidak percaya James adalah kakakmu.” Ucap Sean.


“Kenapa?” Tanya Natasha heran.


“Dia jarang sekali berangkat dan pulang bersamamu, terlebih lagi sikapnya yang seakan tidak mengenalmu jika kalian berpapasan.” Terang Sean.


“James memang seperti itu sejak dulu.” Kata Natasha, “dia mengajakku Liburan ke Spanyol bulan Agustus ini.” Lanjutnya riang.


“Oh ya? Apa dia benar-benar akan melakukannya?” Cibir Sean.


“Kau tidak percaya?” Ucap Natasha cemberut.


“Tidak. Pria seperti dia hanya akan mengecewakanmu.” Kata Sean terus terang.


“Dia sudah memberiku tiketnya.” Ucap Natasha.


Sean menanggapinya dengan kedigan bahu acuh. Ia sudah memperhatikan James cukup lama, tidak hanya James. Bahkan teman-teman Natasha dulu yang kini sudah pindah tidak luput dari perhatiannya. Hanya saja baru kali ini ia dekat dengan Natasha setelah tidak ada lagi yang dekat dengan gadis itu.


“Perutku sakit sekali.” Keluh Natasha meremas perutnya.


“Apa kau belum makan?” Tanya Sean cemas.


“Sudah. Aku ke toilet sebentar.” Pamit Natasha langsung beranjak keluar kelas.


“Jangan lama-lama.” Pesan Sean sebelum Natasha menghilang di balik pintu.


Sepeninggal Natasha, Sean tampak duduk termenung. Dari awal melihat Natasha, ia memang sudah tertarik. Namun ia tidak berani mendekati Natasha karena takut mencelakai gadis itu. Maka diam-diam ia mulai mengikuti Natasha, mencari tahu tentang apa saja yang berada di sekeliling gadis itu. Kadang saat rasa rindu mendera tanpa ampun, Sean akan berdiri di luar rumah Natasha. Sekali pun tidak melihat gadis itu secara langsung, tapi itu cukup menjadi obat baginya.


Menit pun berlalu menjadi jam. Tanpa terasa jam pelajaran pertama sudah usai. Saat itulah Sean baru menyadari Natasha belum kembali ke kelas sejak pamit tadi pagi. Didorong rasa cemas, Sean langsung keluar mencari Natasha. Satu per satu toilet yang dekat dengan kelas mereka, ia periksa. Namun Sean belum juga menemukan Natasha. Hanya satu tempat toilet lagi yang belum diperiksanya.


Sesampainya di tempat itu, Sean melihat tanda peringatan toilet sedang dibersihkan. Tanpa mempedulikan peringatan itu, Sean membuka pintunya yang ternyata terkunci. Hanya dengan sekali dobrakan, pintu itu pun terbuka lebar. Sean melihat banyak genangan air di sana dan ceceran helaian rambut di lantai. Dengan langkah lebar, Sean menghampiri salah satu bilik yang pintunya di tahan gagang sapu. Sean membuang sapu itu geram dan membuka pintunya. Di dalam bilik itu Natasha terlihat berjongkok dengan tubuh basah kuyup.


“Siapa yang melakukan ini padamu?” Tanya Sean dingin. Dicengkeramnya bahu Natasha dan mengguncangnya. Hanya gelengan kepala yang didapatkan Sean sebagai jawaban dari gadis itu.


“Sial!” Maki Sean penuh amarah.


Dilepasnya jaket yang ia kenakan dan menyampirkan di tubuh Natasha. Hati-hati Sean membantu Natasha untuk berdiri. Bukan kali ini saja Sean melihat Natasha menjadi korban bullying dan penyebabnya hanya satu. Pria yang mengaku kakak Natasha itu lah alasan mahasiswi lain menyiksa Natasha. Ia tidak mengira masih ada yang berani melakukan ini lagi pada Natasha setelah ia membereskan orang-orang yang menyiksa Natasha dulu.


Tanpa mempedulikan tatapan heran bercampur penasaran dari teman-teman sekelasnya, Sean menyambar tas miliknya dan Natasha. Moodnya sudah terlalu buruk untuk meladeni beberapa pertanyaan yang keluar dari mulut teman-temannya yang tidak bisa membendung rasa ingin tahunya. Dengan langkah tergesa, Sean membawa Natasha keluar dari kampus hingga tidak menyadari sepasang mata yang menatapnya penuh rasa benci.


Bersambung...