The Heiress'S Love

The Heiress'S Love
Bab 16. Disaster Birthday



Dua minggu berlalu sejak Natasha berada di New Castle, James belum bertemu dengan gadis itu lagi. Ia bahkan tidak bisa menemui Natasha di apartemen Daniel, mau tidak mau James hanya bisa menunggu adiknya itu pulang ke London. Selama itu pula James hanya mendapatkan kabar dari Quentin untuk mengetahui keadaan Natasha.


Hari ini James berangkat ke kampus dengan sangat tidak bersemangat, bahkan ia hanya mengacuhkan teman-temannya yang sibuk bersendau gurau. Ia terus tenggelam dalam pikirannya sendiri sambil memandangi para mahasiswa yang berkeliaran di taman kampus. Mengabaikan temannya yang kebingungan dengan sikapnya, James langsung berlari menyusul Natasha yang terlihat berjalan dengan Ivan. Ia sangat senang bisa melihat Natasha lagi di sana.


“Natasha, kau sudah kembali ke London.” Kata James dengan wajah cerah begitu berhasil menyusul gadis itu.


Natasha yang terkejut tampak menganggukkan kepala. Ia menatap James heran karena kakaknya itu sama sekali tidak pernah menyapanya saat berada di kampus.


“Kita pulang bersama nanti, okay.” Pinta James.


“Aku… pulang bersama Ivan.” Jawab Natasha ragu menoleh pada Ivan yang sejak tadi teracuhkan.


“Kau bisa pulang dengannya lain kali. Hari ini pulanglah bersamaku, ada yang ingin kubicarakan.” Kata James menatap Ivan tidak senang.


“Aku tidak pulang ke mansion James.”


“Apa?”


“Daniel tidak mengijinkanku pulang kesana.”


“Kenapa?” Tanya James kecewa.


Natasha diam membisu, bingung bagaimana menjelaskan pada James sedangkan Daniel sudah mengatakan padanya James telah mengetahui rencana ini.


“Please, pulang bersamaku ke mansion. Maafkan sikapku malam itu, aku tidak akan mengulanginya lagi.” Kata James memohon.


“Maaf James, aku harus ke kelas pelajaran hampir dimulai.” Pamit Natasha menghindar. Ia langsung menggandeng tangan Ivan dan beranjak pergi.


“Tasya.” Gumam James lirih melihat adiknya menghindar. Tidak ia pedulikan sorak sorai teman-temannya yang tengah mengejek karena ditolak seorang gadis. Ia sama sekali tidak menyangka Daniel akan melakukan rencana yang dulu. Menempatkan Natasha di apartemen dibandingkan hidup berdua dengannya. Menyadari hal itu James merasa menyesal sekarang.


***


Setelah satu minggu tidak berhasil membujuk Natasha, James yang sudah hampir putus asa memilih mengikuti gadis itu secara diam-diam seusai pulang kuliah. Ia menunggu kesempatan hingga Natasha mau berbicara dengannya lagi.


Malam ini dengan terburu-buru James melajukan mobilnya ke apartemen tempat Natasha tinggal. Ia tidak sabar untuk bertemu dengan gadis itu karena hari ini adalah hari penting. Ulang tahun Natasha, dan James sempat menggerutu seharian karena ada pekerjaan penting yang harus ia selesaikan dihari ini juga.


Sesampainya di apartemen waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam, James berharap Natasha belum tidur agar ia bisa mengucapkan selamat ulang tahun. Dirabanya kotak kecil di balik saku jaket, sebuah senyum terukir di wajah James. Ia yakin Natasha akan menyukai hadiahnya.


James melangkahkan kaki mendekati salah satu pintu di lantai paling atas apartemen itu. Senyumnya langsung menghilang begitu membuka pintu. Suara hingar bingar musik dan teriakan tidak jelas teman-teman Natasha memenuhi segala penjuru apartemen. Ia tidak menyangka Natasha akan mengadakan pesta karena yang James tahu, adiknya itu bukan penyuka acara seperti ini.


Susah payah James berjalan diantara para tamu yang sebagian sudah mulai mabuk untuk mencari Natasha. Ia menuju kamar Natasha setelah tidak menemukan gadis itu di mana pun. Darahnya semakin mendidih ketika membuka pintu kamar Natasha. Ia melihat Ivan berusaha memperkosa Natasha yang sudah tidak sadarkan diri di atas kasur.


Tanpa memberikan peringatan, James langsung menarik tubuh Ivan dari atas tubuh Natasha dan memukulinya membabi buta. Setelah puas menghajar, James mendorong Ivan keluar dari kamar hingga menabrak beberapa orang yang berada di depan pintu. Orang-orang yang melihat itu tampak bergidik ngeri melihat Ivan yang sudah babak belur.


“Keluar kalian semua!!!” Bentak James pada semua orang.


“Hei men, acara belum selesai.” Tolak salah satu diantara mereka.


“Keluar atau aku akan menembaki kalian satu persatu.” Gertak James mengeluarkan pistol dari balik jaket dan menodongkan pada orang di depannya.


Dorrr……


Letusan senjata api di tangan James langsung membubarkan semua orang yang berada di dalam apartemen. Sedangkan Ivan yang terluka parah dipapah dua orang pria yang sama takutnya melihat apa yang dilakukan James baru saja.


Setelah semua keluar James langsung bersandar pada dinding di belakangnya, menghirup udara rakus untuk mengisi paru-paru yang terasa sesak. Ia baru kembali masuk ke kamar Natasha saat dirinya telah berhasil menenangkan diri. Hatinya masih terasa panas melihat keadaan Natasha yang hampir telanjang tak sadarkan diri di atas kasurnya. Bagaimana ia bisa lengah dengan yang satu ini?


***


Hari sudah menjelang siang saat Natasha membuka mata karena terganggu silau cahaya matahari. Ia merasakan pusing luar biasa saat berusaha bangun, dengan langkah terhuyung-huyung ia berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan badannya yang terasa lengket.


Setengah jam kemudian ia baru keluar dari kamar mandi setelah dirasa cukup segar sehabis berendam air hangat. Ia tidak mengingat cukup banyak apa yang terjadi semalam, yang dia ingat hanya mengadakan pesta di apartemen bersama teman sekelasnya untuk merayakan ulang tahun ke 17-nya.


Natasha mengerang dalam hati begitu keluar dari kamar dan melihat apartemen masih dalam keadaan berantakan. Butuh waktu yang sangat lama untuk bisa membersihkan itu semua seorang diri. Mengabaikan kekacauan itu, Natasha memilih beranjak ke dapur untuk mencari sesuatu yang bisa dimakan.


“Akhirnya kau bangun juga.”


Teguran pria bersuara berat dan dingin menghentikan langkah Natasha. Tanpa membalikkan badan pun ia tahu siapa yang ada disana bersamanya sekarang dan ini bukan waktu yang tepat untuk hal itu.


“Apa yang kau lakukan disini?” Natasha berbalik menghadap James yang tengah memberikan tatapan tajam.


“Menghentikan pesta murahanmu.” Sahut James, “sangat tidak dipercaya. Kau menolak kembali ke mansion karena ingin melakukan ini, berpesta pora dengan teman-temanmu.”


“Aku di sini karena Daniel. Dan apa salahnya aku mengadakan pesta, aku bukan anak kecil yang harus mengikuti aturan. Aku juga bukan tahananmu jadi berhentilah mengikutiku dan pergilah dari sini.” Kata Natasha mulai meninggi.


“Dan membiarkanmu melakukan hal yang tidak bertanggung jawab. Kau bahkan hampir diperkosa semalam.” Ujar James naik pitam.


“Aku tidak peduli. Umurku sudah 17, teman-temanku bahkan sudah tidak perawan sebelum usia 17.”


“Jadi kau tidak peduli jika pagi ini sudah tidak perawan?!” Kata James sarat ancaman.


Natasha menggigit bibirnya mulai takut dengan James yang melangkah mendekat. Ia merutuki dirinya sendiri yang telah berani menantang pria itu.


“Baiklah, kalau tidak menyesal kehilangan keperawananmu.”


Tanpa memberikan kesempatan Natasha menghindar, James lebih dulu memerangkap gadis itu dalam dekapan dan menciumnya kasar. Tidak dipedulikannya Natasha yang terus meronta berusaha melepaskan diri, ia terus mencium gadis itu dan mengetatkan dekapan agar Natasha tidak terlepas.


“Kau menguji batas kesabaranku Natasha.” Bisik James dengan suara parau di telinga gadis itu. Tidak cukup sampai di sana, ia mencium leher Natasha dan meninggalkan jejak kemerahan selagi tangan kiri sibuk meremas buah dada adiknya yang baru mengembang.


“Lepaskan James.” Cicit Natasha berusaha mendorong tubuh James agar melepaskannya. Ia benar-benar ketakutan saat ini melihat kakaknya seperti itu.


Perlahan pria itu melepaskan Natasha dan menjauhkan diri, membiarkan gadis itu luruh ke lantai sambil menangis terisak. James tampak menggeram kesal, hampir saja ia lepas kendali.


“Ingatlah Natasha. Aku bukan Daniel.” Kata James setelah berhasil menenangkan degupan jantungnya yang berpacu cepat, “aku tidak bisa mencintaimu…”


 Bersambung...