The Heiress'S Love

The Heiress'S Love
Bab 24. She is?



Malam kian larut saat sebuah mobil hitam melintasi jalan raya yang lengang. Hanya kelebat bayang-bayang pepohonan dan bangunan yang menemani dari balik keremangan lampu sepanjang perjalanan menuju manor Marquizze. Dua orang pria paruh baya di dalam mobil itu sama-sama membisu, sesekali sang pengemudi terlihat menguap diserang rasa kantuk dan lelah. Sedangkan pria yang duduk di kursi penumpang, sibuk dengan tab di tangan. Memeriksa satu persatu laporan yang baru saja masuk dari anak buahnya di lapangan.


“Jalankan mobilnya dengan benar,” gerutu pria yang duduk di kursi penumpang.


Orlando yang berada di balik kemudi, menguap lebar. “Hari ini melelahkan. Kenapa kita tidak menginap di Madrid saja tadi.”


“Aku tidak suka melihat gadis-gadis milik Thomas.” Phillip mematikan tab-nya, diedarkan pandangannya ke luar jendela.


“Kau berlagak seperti tidak pernah muda saja,” kata Orlando terkekeh.


“Aku hanya berpikir, mengapa sifat Thomas tidak menurun pada Robert. Sampai sekarang tidak ada satupun gadis yang berhasil meluluhkannya.”


Tidak ada sahutan dari Orlando, pria itu terlihat mengusap dagunya dengan kening berkerut. “Apakah kau merasa Robert belum bisa melupakan Tasha?”


“Ya… ku rasa.” Phillip menghela napas panjang, “sudah saatnya dia melupakan Tasha bukan?”


“Entahlah. Mungkin Robert masih mengharapkan Tasha hidup lagi.”


“Orang mati tidak akan hidup lagi.”


“Tasha pernah mati, tapi nyatanya dia masih hidup.”


“Tidak untuk kedua kalinya.”


Phillip melipat kedua tangannya di depan dada, pikirannya menerawang jauh mengingat berita penyerangan sebuah kastil di Rusia lebih dari 10 tahun silam. Di kastil itulah Romanov tinggal bersama istri dan kedua anaknya. Ada rasa lega karena mengetahui Romanov, sahabat lamanya itu masih hidup. Namun duka ikut menyelimuti hatinya mengetahui Bella dan Tasha tewas dalam penyerangan itu. Ia juga melihat betapa terpukulnya Robert saat mengetahui berita itu.


Bertahun-tahun kemudian ia berusaha menggali informasi lagi tentang Romanov, termasuk berupaya untuk mendekati pria itu lagi. Hanya saja semua tidak semudah yang diharapkan Phillip. Upayanya mendekati Romanov ditolak mentah-mentah, mata-mata yang ia kirim selalu pulang dengan tangan kosong. Sampai saat ini semua diplomasi yang ia kerahkan terhadap Klan D’yavol masih mengalami kebuntuan. Romanov telah menutup pintu untuk dirinya.


Keheningan yang menyelimuti mobil, kembali membuat Orlando diserang rasa kantuk. Ia benar-benar membutuhkan istirahat secepat mungkin. Sudah seharian ia habiskan di atas jalanan bersama Phillip mengurus beberapa transaksi narkotika. Orlando nyaris memejamkan mata saat mendadak sekelebat bayangan orang muncul dari dalam gang, berlari cepat ke tengah jalan. Dengan terkejut ia membanting stir untuk menghindari tabrakan. Decitan roda mobil memekakkan telinga saat ia menghentikan mobil di pinggir jalan. Baik Orlando maupun Phillip sama-sama terkejut, mereka saling berpandangan sebelum melihat keluar.


“Perhatikan jalanmu bodoh!” omel Phillip saat keluar dari mobil.


“Orang itu tiba-tiba saja muncul,” kata Orlando tidak terima.


Mereka menghampiri seorang gadis yang tergeletak di bahu jalan. Mereka bisa memastikan gadis itu masih setengah sadar dan tidak ada luka karena tabrakan. Mungkin gadis itu hanya terkejut hingga jatuh tadi.


“Hai nak? Kau baik-baik saja?” tanya Phillip dengan wajah gusar.


“Tolong… mereka mau membunuhku,” rintih gadis itu memegangi perutnya.


Phillip mengedarkan mata ke sekujur tubuh gadis di depannya itu, ada darah yang merembes dari pinggang. “Dia terluka,” gumam Phillip meraih tubuh gadis mungil itu dan membopongnya.


Orlando yang sejak tadi diam dan memperhatikan, mengedarkan pandangan ke sekeliling mereka saat mengikuti Phillip yang membawa gadis itu masuk ke mobil. Ia langsung melajukan mobil kembali ke apartemen Robert sesuai perintah Phillip begitu berada di balik kemudi. Dari kaca spion, ia melihat Phillip berusaha menutup luka di pinggang gadis itu.


“Apa lukanya parah? Kita bisa membawanya ke rumah sakit?” usul Orlando.


“Tidak, tidak begitu parah. Hanya goresan…” Phillip memeriksa pakaian gadis yang kini telah pingsan itu, “peluru?”


“Peluru?” Orlando menoleh ke belakang memastikan telinganya tidak salah mendengar.


“Aku rasa seseorang berusaha mencelakainya,” gumam Phillip.


“Jadi bukan karena salahku kan?”


Dengusan panjang lolos dari hidung Phillip. Ia menyuruh Orlando untuk lebih mempercepat laju mobil. Gadis itu harus secepatnya mendapatkan pertolongan, beruntung di apartemen Robert ada pelayan yang telah terlatih untuk hal-hal yang darurat seperti ini.


Tidak sampai lima belas menit, Phillip telah membawa gadis itu naik ke ranjang kamar Robert. Semoga saja anaknya itu tidak mengetahui perbuatannya dengan membawa gadis itu ke sana terutama saat Robert sedang berada di luar negeri. Ia segera menyuruh pelayan untuk mengurus gadis itu selagi ia menunggu di luar kamar.


“Aku rasa kau salah dengan orang mati tidak akan hidup untuk ke dua kali,” kata Orlando yang tampak tegang. Di tangannya terdapat sebuah dompet yang jatuh saat Phillip membawa masuk gadis itu.


“Apa yang kau bicarakan?” kening Phillip berkerut bingung.


“Gadis itu… dia Natasha Romanov.” Orlando menunjukkan kartu identitas yang berada di dompet itu pada Phillip.


“Kau yakin?” Phillip membaca secara seksama kartu identitas itu, “maksudku. Apa dia benar-benar Tasha, anak Bella?”


“Astaga…” Phillip mengusap wajahnya kasar, “apa dia benar-benar Tasha? Apa yang dilakukannya di sini?” gumamnya seraya mondar-mandir.


Phillip berpikir keras setelahnya, apa yang harus dilakukannya sekarang? Ia masih tidak percaya gadis itu benar-benar Natasha, orang yang baru saja mereka bicarakan. Banyak pertanyaan yang berputar di kepalanya sekarang, tentang bagaimana Tasha masih hidup, apa yang dilakukan gadis itu di sini dan mengapa tidak ada seorang pun anak buah Romanov yang terlihat mendampingi gadis belia itu. Sialnya, ia teringat apa yang diucapkan Natasha sebelum pingsan tadi. Ada yang ingin mencelakai gadis itu, tapi siapa?


“Apa kita akan menghubungi Romanov untuk memastikannya?” tanya Orlando menyentak alam sadar Phillip.


“Tidak. Jangan menghubungi Romanov, dia pasti akan langsung membawa Natasha pergi dan harapan kita menjalin kerja sama akan hilang. Sebaiknya aku menghubungi Robert.”


Tanpa menunggu lama, Phillip langsung menghubungi Robert yang tengah berada di Italia mengurusi transaksi narkotik di sana. Memakan waktu cukup lama untuk meyakinkan Robert bahwa apa yang dikatakannya adalah benar. Sama seperti ia sebelumnya, Robert memang mengira Natasha telah mati sejak kecil. Kalau saja ia tidak menemukannya sendiri, mungkin ia juga tidak akan percaya. Namun Natasha benar-benar nyata di depannya, terbaring lemah karena kelelahan. Malam ini akan menjadi malam yang panjang untuknya, menjaga Natasha agar tetap di sana selama menunggu Robert kembali.


******


Berkas cahaya pagi yang masuk ke ruangan membuat mata Natasha terasa sakit. Ia memicingkan mata saat mengedarkan pandangannya ke kamar yang didominasi warna maskulin itu. Kepalanya masih terasa sakit ketika mencoba mengingat apa yang baru saja dialaminya. Sengatan dipinggangnya semakin memperparah keadaan, ia meringis memperhatikan pinggangnya yang telah dibalut perban. Seseorang pasti telah menolongnya semalam.


Saat mencoba bangun dari kasur, Natasha mendengar derit pintu terbuka. Seorang wanita dengan pakaian pelayan tampak masuk membawa nampan berisi makanan dan minuman. Natasha menatap wanita itu waspada dan penuh tanda tanya. Tidak ada satupun hal ditempat itu yang dikenalinya, ia bahkan tidak tahu di mana dia berada saat ini.


“Di mana aku sekarang?” tanya Natasha setengah berbisik saat pelayan itu mendekat.


“Anda berada di apartemen Tuan Marquizze, Nona. Tuan membawa anda ke sini semalam setelah mengalami kecelakaan.” Terang pelayan itu.


Kecelakaan?


Lamat-lamat Natasha ingat apa yang terjadi semalam. Ia berusaha kabur dari penjahat bernama Braga, terakhir yang diingatnya adalah suara decitan ban mobil yang melintas tepat di jalannya saat ia menyeberang jalan. Mungkin pria dalam mobil itulah yang menolongnya. Lalu di manakah para penjahat itu sekarang, apa mereka masih mencarinya.


“Apa ini masih di Valencia?” tanya Natasha lagi.


“Benar Nona, ini masih di Valencia.”


Natasha mendesah lega mengetahui dirinya masih berada di Valencia. Orang-orang yang menculiknya kemarin mungkin hanya membawa ke luar kota Bunol. Namun Natasha masih harus waspada karena ia sama sekali tidak mengenali orang yang telah menolongnya. Bisa jadi orang itu masih satu komplotan dengan penculiknya kemarin.


Setelah menghabiskan makanan yang dibawa pelayan, Natasha memutuskan untuk beranjak dari tempat tidur meski sebagian tubuhnya masih terasa sakit. Mengabaikan tatapan cemas pelayan yang mendampinginya, Natasha berkeliling di dalam apartemen itu. Tak jauh beda dengan kamar yang ditempatinya, ruangan lain tempat itu didominasi warna hitam, putih dan abu-abu. Sayangnya tak ada sebuah pun foto yang terpajang di sana, sehingga Natasha tidak tahu seperti apa wajah penolongnya.


Saat Natasha tengah tenggelam dalam lamunan sembari menatap pemandangan di luar, terdengar gedoran keras dari arah pintu. Seorang pelayan tampak tergopoh-gopoh meraih pintu untuk melihat siapa yang datang. Namun tanpa diduga seorang pun, begitu pintu terbuka pelayan itu langsung roboh dengan lubang di kepala. Beberapa pria dengan pistol di tangan merangsek masuk tempat itu. Tanpa diperintah, para pelayan yang berada di sana langsung menyerang pria-pria itu. Sedangkan pelayan yang sejak tadi mengikuti Natasha, dengan sigap melindungi gadis itu.


Suara tembakan bercampur dengan suara pecahan kaca dan teriakan kesakitan langsung memenuhi tempat itu. Dibantu sang pelayan, Natasha bersembunyi, mencari celah untuk melarikan diri dari sana. Orang-orang itulah yang kemarin menculiknya, dan sekarang mereka masih mengejarnya.


“Jangan menembak gadis itu. Bos ingin dia dalam keadaan hidup,” teriak salah satu pria itu.


Natasha yang ketakutan menempel erat pada pelayan yang sepertinya sudah terlatih, sama halnya seperti pelayan-pelayan yang lain. Dari balik tempat persembunyiannya, Natasha bisa melihat kegigihan para pelayan itu melawan para pria itu. Bahkan beberapa diantaranya terluka parah dan meregang nyawa.


“Di sini kau rupanya.”


Natasha hampir meloncat dari tempatnya, terkejut dengan kemunculan pria yang kemarin masuk ke kamar tempat di mana dia disekap. Namun dengan sigap sang pelayan langsung menghadang dan menyerang pria itu.


“Lari Nona, selamatkan diri anda. Tuan sedang dalam perjalanan ke sini.”


Ragu-ragu Natasha beranjak dari tempatnya berdiri. Pelayan itu nyaris terjepit sekarang, jika ia tidak segera pergi mungkin pria itu akan membawanya ke tempat terkutuk itu lagi. Tanpa berkata apa-apa lagi Natasha segera berlari keluar, sesekali menghindari incaran pria-pria itu. Jumlah pelayan yang masih bertahan semakin berkurang saat Natasha keluar pintu, dan tanpa menoleh lagi ia berlari menuju lift yang berada di ujung lorong.


Saat pintu lift tertutup, Natasha bisa melihat pria yang tadi bertarung dengan pelayan di sampingnya keluar mengejarnya. Dengan panik Natasha memencet tombol di lift agar cepat menutup dan turun dari sana. Degup jantung Natasha tidak bisa berhenti berpacu cepat. Seumur hidup baru ini dia mengalami kejadian mengerikan. Ia tidak habis pikir kenapa ada orang yang ingin menculiknya. Denting lift membuat Natasha kembali waspada. Begitu pintu terbuka, ia langsung berlari tanpa melihat keadaan sekitarnya, hingga tanpa sengaja ia menabrak seseorang dengan keras sampai mereka terjatuh.


“Maaf Tuan…”


Natasha tidak begitu memperhatikan orang itu, ia buru-buru berdiri dan pergi begitu saja tanpa menoleh lagi karena mendengar denting lift lainnya berbunyi. Ia terus berlari menjauhi tempat itu. Tak dipedulikannya lagi rasa sakit yang menghujam pinggangnya sejak tadi. Ia berlari sampai kakinya terasa mati rasa. Saat merasa sudah berada sangat jauh dari apartemen tadi dan merasa aman, barulah Natasha berhenti untuk mengambil napas. Darah segar kembali terlihat menghiasi pinggangnya.


Kini Natasha hanya bisa memeluk dirinya sendiri dan menangis tanpa suara. Ia takut, ia tak tahu harus kemana lagi. Liburan yang harusnya menjadi kenangan indah justru berubah menjadi petaka. Andai saja ia masih memiliki ponsel, ia pasti sudah menghubungi Daniel agar menjemputnya. Namun ia tidak memiliki apa-apa lagi sekarang selain dompet yang hanya berisi identitasnya sedangkan uang tunai yang ada di dalamnya telah raib. Diujung rasa putus asanya, Natasha menyadari seseorang tengah berjalan mendekatinya. Sikap waspadanya langsung hilang begitu mengetahui siapa yang menemukannya.


“Natasha…”


Tangis Natasha kembali pecah. Lega, senang, terharu, sedih bercampur menjadi satu. Ia langsung menghambur ke dalam pelukan pria itu dan menangis sejadinya.


Bersambung....