
Natasha membenamkan kepalanya lebih dalam ke bantalnya, mencoba menyingkirkan suara-suara yang terdengar menjijikkan baginya. Tidak ada yang lebih memuakkan di dunia ini mendengar pria yang mengatakan cinta, tetapi menghabiskan hampir sepanjang malam selama beberapa hari berturut-turut bercinta dengan gadis lain. Mereka seakan melupakan kehadiran Natasha meski saling bertatap muka saat siang hari. Natasha seakan hanya angin lalu meskipun tetap berusaha bersikap baik.
Malam ini seakan menjadi puncak ketidak berdayaan Natasha menghadapi tekanan dari semua ini. Ia lelah terus menerus menghadapi sikap protektif James yang membuatnya seperti tahanan rumah. Namun dilain sisi, pria itu juga menganggapnya tidak pernah bisa bersikap dewasa. Sekali saja ia ingin James bisa melihatnya sebagai gadis dewasa yang bisa mandiri, seperti yang dilakukan Daniel.
Di tengah rasa hampa yang mendera Natasha, tiba-tiba ia teringat tiket perjalanan wisata yang pernah diberikan James padanya. Bergegas ia mengambil dua tiket perjalanan itu dan memeriksanya. Ia beruntung karena tiket itu belum terlewat tanggal penerbangan, tetapi ia harus cepat berkemas karena tiket pesawat yang akan membawanya ke Spanyol di jadwalkan berangkat besok pagi.
Tanpa mempertimbangkan terlalu lama, Natasha langsung mengambil koper dan memasukkan pakaian serta perlengkapan lainnya. Ia harus pergi ke Spanyol sendirian, ia ingin membuktikan pada James bahwa ia mampu melakukan perjalanan jauh seorang sendiri. Ia sudah dewasa dan bisa mengurus dirinya sendiri. Selesai berkemas, Natasha menutup telinganya dengan heatset untuk mendengarkan lagu setelah memasang alarm. Besok pagi-pagi buta ia akan keluar dari rumah agar James tidak mengetahui kepergiannya. Setidaknya dengan memikirkan perjalanan ke Spanyol bisa mengalihkan pikiran Natasha dari apa yang dilakukan James bersama Grace malam ini.
***
Kota Bunol, Valencia, Spanyol sudah dibanjiri para turis wisatawan baik dari dalam maupun luar negeri. Semua hotel telah terisi penuh. Beruntung Natasha sudah mengantongi tiket perjalanan yang sudah mengakomodasi semua keperluannya di kota itu, sehingga ia tidak perlu bingung mencari hotel lagi. Festival La Tomatina baru akan diadakan esok hari, Natasha masih punya cukup waktu untuk beristirahat dan berjalan-jalan sebentar di sekitar hotel.
Natasha sempat merasa iri pada turis-turis lain yang kebanyakan datang bersama keluarga atau teman, sedangkan ia datang seorang diri. Beruntung ada turis yang berasal dari Inggris yang memintanya untuk bergabung dengan mereka, sehingga Natasha tidak merasakan kesepian. Dengan cepat mereka menjadi sangat akrab, hingga memutuskan untuk pergi ke acara festival La Tomatina esok pagi bersama-sama.
Jalanan kota Bunol dihari rabu terakhir bulan Agustus disesaki orang-orang yang ikut merayakan festival La Tomatina sejak matahari mulai menampakkan diri. Orang-orang berjajar di pinggiran jalan menanti truk-truk yang berisi tomat untuk memulai perang. Hiruk pikuk teriakan kegembiraan para pengunjung langsung membahana begitu truk yang membawa tomat mulai berjalan, memuntahkan berton-ton tomat di atas jalanan. Tanpa menunggu lama, para pengunjung langsung memunguti tomat-tomat itu dan memulai perang. Mereka saling melempar tomat-tomat itu pada pengunjung lain, tidak peduli apakah mereka saling mengenal satu sama lain atau tidak. Acara hari itu benar-benar sangat meriah seperti tahun-tahun yang lalu. Tidak ada yang mempedulikan pakaian mereka yang telah berubah warna, tidak ada satu pun yang memprotes badan mereka berbau seperti tomat. Keantusiasan para pengunjung telah mengaburkan segalanya demi mengikuti festival yang hanya dilaksanakan setahun sekali itu.
Natasha yang ikut dalam perang tomat itu bersama teman-teman barunya terlalu larut dalam keceriaan hingga tidak mempedulikan keselamatannya sendiri. Hingga sesuatu terasa menghujam menyakitkan di punggung. Belum sepenuhnya menyadari apa yang terjadi, pandangan Natasha mendadak memburam. Teriakan orang-orang di sekitarnya terasa semakin samar, hingga akhirnya semua terasa gelap. Beruntung paramedis yang mengawasi jalannya festival mengetahui keadaan Natasha yang mendadak pingsan. Mereka langsung melarikan Natasha ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.
Hari sudah gelap saat Natasha sadar dari pingsan. Ia mengedarkan pandangannya pada ruangan yang tidak pernah dikenali sebelumnya. Tidak ada siapa-siapa di rungan kamar yang tidak terlalu besar itu. Ia mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi padanya sebelum berada di tempat itu. Sedikit takut Natasha beranjak dari tempat tidur mengabaikan rasa pening di kepala. Memeriksa keadaan di luar melalui jendela kaca yang telah buram, sunyi, tidak terlihat seorang pun yang berada di luar. Mungkin semua orang masih larut dalam perayaan. Dengan berjalan tertatih-tatih, Natasha menghampiri pintu mencoba membukanya. Namun sia-sia, pintu itu terkunci dari luar.
“Halo… apa ada orang di luar?” Natasha mencoba menggedor pintu dan berteriak, meski suaranya terdengar parau.
Tak lama kemudian terdengar derap langkah di luar sana, disusul suara kunci yang diputar. Natasha mundur menjauhi pintu dengan wajah tegang.
“Putri tidur rupanya sudah bangun,” kata seorang pria paruh baya yang baru saja membuka pintu kamar itu.
Natasha semakin menjauhi pintu melihat yang datang bukan orang yang dikenalnya.
“Jangan menakutinya,” hardik seorang pria lainnya yang datang kemudian, “keluarlah. Aku ingin bicara berdua saja.”
Tanpa bantahan, pria yang datang lebih awal keluar dari kamar. Membiarkan Natasha hanya bersama pria paruh baya, mungkin umurnya hampir sama dengan ayahnya. Rambut pria itu hitam legam serasi dengan kulit kecoklatan dan wajah tegas khas orang Italia.
“Siapa anda dan di mana aku?”
“Ah tidak sopannya diriku membuat tamu istimewaku kebingungan,” kekeh pria itu. “Aku Braga, ayah kandungmu.”
“Duduklah. Butuh waktu cukup lama untuk menjelaskan semuanya,” pinta Braga.
Ketakutan dan bingung, Natasha menuruti apa yang dikatakan Braga.
“Sudah sangat lama aku menunggu kesempatan ini. Romanov benar-benar merepotkan dengan menjagamu 24 jam penuh agar aku tidak bisa mendekatimu dan mengatakan yang sebenarnya.”
“Tentang apa?”
Braga tidak langsung menjawab. Ia merogoh kantung celana untuk mengambil dompet dan mengeluarkan sebuah foto dari dalam dompet itu lalu menyerahkannya pada Natasha. “Itu adalah foto pernikahanku dengan mamamu. Seperti yang kau lihat, Romanov juga ada di sana karena dia adalah sahabatku. Tentu saja itu dulu, sebelum dia membawa lari mamamu yang waktu itu tengah hamil muda.”
“Maksud anda?” tanya Natasha dengan nada bergetar.
“Dulu aku dan mamamu saling mencintai satu sama lain, kami hidup bahagia. Namun kebahagiaan itu membuatku terlena, aku lengah tidak menjaga mamamu dengan baik hingga tidak menyadari Romanov memiliki niat busuk. Dia menyukai menginginkan mamamu. Saat aku pergi, dia menculik mamamu dan yang paling membuatku hancur adalah saat itu aku tahu Bella tengah hamil muda. Kamu. Romanov membawa dua harta paling berhargaku dan menyembunyikannya jauh dari pandanganku. Bertahun-tahun aku mencari kalian, berharap masih ada waktu untuk menyelamatkan kalian. Aku sempat menemukan kalian, tetapi aku hanya berhasil membawa mamamu. Romanov menahanmu dan mengancam akan membunuhmu jika aku tidak menyerahkan mamamu padanya. Aku berusaha meyakinkan mamamu bahwa aku bisa membawamu kembali ke sini tanpa perlu mengorbankannya. Namun mamamu bersikeras menukar nyawanya demi dirimu. Kau tahu Sweety? Romanov mengingkari kata-katanya. dia membawamu dan mamamu pergi setelah menembakiku membabi buta. Butuh waktu lama untukku pulih, tapi aku tidak menyerah untuk mencari kalian. Meski pada akhirnya aku terlambat datang.”
“Itu tidak benar,” sanggah Natasha mendengar cerita Braga. “Daddy sangat menyayangi mama, mereka saling menyayangi. Dan saya adalah anak Romanov, bukan anak anda!”
“Itulah yang kukatakan terlambat. Romanov telah mencuci otak mamamu. Percayalah Sweety, aku adalah ayah kandungmu,” pinta Braga mengiba.
Natasha menggeleng kuat, “Tidak! Saya tidak percaya dengan kata-kata anda!!!” Ia langsung beranjak dari tempat duduknya, menghindari tangan Braga yang mencoba meraihnya.
“Inilah yang kutakutkan, dia juga berhasil mencuci otakmu. Ayah sebenarnya tidak ingin melakukan ini, tetapi ayah tidak ingin kehilanganmu lagi. Ayah akan mengembalikan ingatanmu dulu.” Braga berjalan menghampiri Natasha yang terus menghindar.
“Anda tidak bisa melakukan itu pada saya.”
Dengan gerakan spontan, Natasha menyerang Braga. Ia berpikir cepat untuk melumpuhkan pria di depannya itu pada satu titik utama kelemahannya. Maka sebelum Braga menyadari apa yang akan dilakukannya, Natasha menendang sekuat tenaga titik vital pria itu. Terkejut dan tidak siap, Braga ambrug seraya mengerang keras merasakan sakit disekitar pangkal pahanya. Hal itu dimanfaatkan Natasha keluar dari kamar untuk melarikan diri.
Mendengar keributan yang dibuat Natasha. beberapa pria langsung bangkit untuk melihat situasi. Natasha yang menyadari bahaya besar di depan mata, menggunakan alat disekitarnya untuk melindungi diri dan berlari secepat mungkin, kabur dari rumah itu. Beruntung ia sempat belajar ilmu bela diri meski jarang digunakan, tapi itu cukup membantu sekarang. Ia berhasil keluar dari rumah itu walau sempat terjerembab di halaman saat seseorang berusaha menembaknya. Gerakan reflek saat mendengar letusan senjata, membuatnya selamat. Tanpa menoleh kebelakang, Natasha terus berlari menjauhi tempat itu untuk melarikan diri dari orang-orang yang tidak dikenalnya.
Setelah cukup lama berlari hingga nyaris menghabiskan napas. Natasha berhenti di dalam gang gelap untuk bersembunyi. Ia salah saat mengira orang-orang masih larut dalam festival, kenyataannya ia kini berada di tempat yang tidak dikenalinya. Ia tidak lagi berada di kota Bunol, tetapi ia juga tidak tahu di mana kini ia berada. Natasha terjengit merasakan sakit di pinggang kirinya. Ada darah yang merembes keluar dari dalam kaus yang dipakainya. Tembakan orang tadi sepertinya berhasil melukainya meski pelurunya tidak bersarang di dalam perut.
Tertatih-tatih Natasha memaksakan kakinya berjalan saat mendengar derap langkah kaki semakin mendekati persembunyiaannya. Tanpa tahu kemana ia melangkah, Natasha terus berjalan hingga tidak menyadari ia berjalan melintasi jalan raya. Cahaya lampu yang menyilaukan mata dan suara decitan ban mobil yang dipaksa berhenti adalah hal terakhir yang Natasha ingat sebelum suara benturan yang merenggut kesadarannya.
Bersambung...