
Daniel sedang memperhatikan adik perempuannya yang bermain piano. Sudah satu bulan adiknya tinggal disana dan selama itu pula Daniel selalu mengawasi Natasha dari jauh tanpa sepengetahuan adiknya itu. Ia bersyukur karena Natasha bisa menyesuaikan dengan baik. Regina McSwiney yang merupakan teman terdekat Natasha juga ikut berpengaruh dalam keseharian adiknya di kampus. Mereka akrab dengan cepat.
Satu orang lagi yang masih dalam pengawasan Daniel yaitu Ivan Ed Squires. Pria yang sering terlihat mendekati Natasha dengan terang-terangan. Ia masih menunggu hasil penyelidikan Dmitry, tangan kanannya.
“Daniel.” Suara lembut Natasha membuyarkan lamunan Daniel.
“Yes dear.” Sahut Daniel mendekati Natasha.
“Kapan aku boleh membawa mobil sendiri?” Tanya Natasha menatap kakaknya lekat-lekat.
“Nanti kalau kau sudah berumur 18 tahun.” Jawab Daniel.
Natasha mencembikkan bibirnya kesal mendengar jawaban Daniel, butuh dua tahun lagi baginya untuk bisa membawa mobil sendiri, “kenapa aku tidak boleh membawa mobil sendiri?”
“Kau belum cukup umur Sayang, lagi pula ada sopir yang bisa mengantarmu kemana saja kau mau pergi.” Terang Daniel.
“Kalau pacaran?”
Suara tersedak seseorang membuat Natasha dan Daniel menoleh ke arah sumber suara. James yang kebetulan melintasi ruang tengah sambil minum, langsung menyemburkan kembali air yang baru saja membasahi kerongkongannya yang kering. Daniel tidak bisa menyembunyikan tawanya melihat wajah James yang memerah. Adik angkatnya itu langsung angkat kaki tanpa mengatakan apa-apa.
“Ada apa dengan James?” Tanya Natasha bingung.
Daniel mengalihkan perhatian kembali pada Natasha, “kakakmu itu terkejut mendengar pertanyaanmu.” Terangnya sambil terkekeh.
“Memangnya ada yang salah dengan pertanyaanku?” Tanya Natasha lagi.
“Tidak, tapi kamu masih belum cukup umur untuk pacaran.” Jawab Daniel.
“Jadi kapan aku cukup umurnya?” Rengek Natasha.
“Katakan padaku siapa pria yang membuat Tasyaku menanyakan hal itu?” Selidik Daniel.
Natasha hanya bisa tersenyum malu mendengar pertanyaan Daniel, ia langsung membenamkan diri dalam pelukan kakaknya itu. Sedangkan Daniel terkekeh melihat kelakuan adiknya itu.
***
Di balkon sisi timur mansion, terlihat James sedang duduk melamun menikmati udara malam kota London. Pikirannya menerawang jauh ke masa ia masih kecil, masa yang kelam, masa yang menyenangkan, masa di mana dia masih begitu dekat dengan Natasha. Namun dari semua masa itu hanya satu masa yang membuatnya merasa hampa hingga sekarang. Sebuah masa di mana ia sadar di rumah sakit menyadari mama Bella telah dimakamkan, jauh sebelum ia sadar dan Natasha menghilang dalam waktu yang begitu lama.
Tidak ada yang memberitahu padanya ke mana Romanov membawa Tasya pergi. Tidak ada yang mengatakan secuil apa pun informasi apa yang Tasya lakukan di tempat asing. Yang ia tahu hanya Romannov sengaja menyembunyikan Tasya, agar tidak ada lagi yang berusaha mencelakai adiknya itu.
Saat itu ia dengan sabar menanti hari yang di janjikan Romanov padanya. Hari di mana ia bisa melihat Tasya lagi setelah sekian banyak waktu yang dia habiskan hanya mendengarkan cerita dari sang ayah. Namun saat hari yang dinantikan tiba, sebuah kenyataan pahit harus ia rasakan. Kenyataan yang sampai saat ini masih membayanginya, membuat separuh hatinya terluka.
“Di sini rupanya.” Desah Daniel.
James menoleh ke arah Daniel dengan wajah penuh tanda tanya, “ada apa?”
“Tidak ada, hanya mengkhawatirkan ke dua adikku yang sampai sekarang belum juga bisa dekat seperti dulu.” Kata Daniel.
“Kami baik-baik saja.” Sanggah James.
“Yah, kalian memang baik-baik saja.” Gumam Daniel, “sebentar lagi aku akan pindah ke New Castle. Pembangunan perusahaan di sana hampir selesai. Kau tahu aku tidak mungkin membawa Natasha kan?”
“Jadi?” James menatap Daniel lekat-lekat.
“Natasha membutuhkan perhatian yang banyak James, aku harap kau bisa kuandalkan untuk menjaganya.” Kata Daniel.
“Aku akan menjaganya dengan baik.” Ucap James.
“Tasya mengharapkan dirimu yang dulu, James.” Kata Daniel penuh penekanan.
Daniel menghela napas panjang, “sudah kuduga. Aku tidak akan memaksamu untuk bersamanya. Aku telah memikirkan cara lainnya.” Katanya sambil beranjak pergi.
James mengusap wajahnya kasar. Ia tidak ingin berpisah dengan Natasha tetapi juga ragu untuk hidup bersama dengan adik angkatnya itu. Apa dia akan sanggup menahan diri jika hidup hanya berdua dengan Natasha, sedangkan selama ini ia berusaha menahan diri untuk tidak memperlihatkan perasaan yang sesungguhnya pada Natasha?
***
Kampus sudah dipenuhi para mahasiswa saat Natasha keluar dari mobil yang khusus mengantarnya berangkat. Daniel memang menyiapkan sopir pribadi untuknya meski James kuliah di tempat yang sama, mereka tidak pernah terlihat berangkat atau pulang bersama. Tidak ada seorang pun yang tahu hubungan persaudaraan antara Natasha dan James di kampus ini.
Seperti biasa, Regina langsung menyambut kedatangan Natasha begitu mereka bertemu di koridor. Gadis itu langsung bercerita banyak hal pada Natasha. Bagi Natasha itu hal yang biasa, mereka memang cukup akrab dan mungkin satu-satunya teman Natasha yang akrab hanya gadis itu karena yang lain hanya berbicara jika ada keperluan dengannya. Berkat Regina juga, Natasha bisa menutupi umurnya yang masih belia dengan penampilan yang diajarkan temannya itu.
“Kau tahu? Ivan sering sekali menanyakanmu.” Kata Regina saat mereka sedang mengambil beberapa buku di loker.
“Memangnya apa yang ditanyakannya?” Tanya Natasha heran.
“Everything baby. Aku rasa dia menyukaimu.” Lanjut Regina antusias.
“Tapi bukankah dia dekat denganmu?” Tanya Natasha tidak mengerti.
“Iya, dia hanya ingin tahu kamu, Nat. Itulah kenapa dia mendekatiku.” Terang Regina, “jadi bagaimana menurutmu?”
Natasha tampak berpikir sejenak, ia teringat kata-kata Daniel kemarin saat melarangnya berhubungan dengan pria karena belum cukup umur. “Entahlah, aku belum yakin.”
“Kamu terlalu banyak berpikir.” Kata Regina mencembik.
Natasha hanya menanggapinya dengan kekehan, ia langsung mengambil bukunya yang sempat tertunda akibat pembicaraan tentang Ivan.
“Excuse me.” Sela seorang pria.
Natasha menggeserkan badan agar tidak menghalangi pria itu mengambil buku di loker sebelahnya. Ia terus memperhatikan gerak-gerik pria itu yang terlihat sangat acuh, bahkan saat mereka saling bertukar pandang sekalipun. Pria itu hanya memperhatikannya sekilas dengan wajah dingin sebelum meninggalkan tempat itu.
“Apa yang kau lihat?” Tanya Regina penasaran mengikuti arah pandangan Natasha yang masih terus memperhatikan pria barusan. “Lupakan, dia pria aneh. Sebaiknya jauh-jauh dari orang itu.” Kata Regina setelah mengetahui siapa yang tengah diamati Natasha.
“Siapa dia? Apa kita sekelas?” Tanya Natasha.
“Ya, dia selalu duduk di belakang. Mengucilkan diri.” Jawab Regina.
“Benarkah? Aku tidak pernah melihatnya.” Kata Natasha heran.
“Sudahlah, tidak penting. Ayo kita ke kelas.” Ajak Regina.
Mereka pun berjalan menyusuri koridor utama menuju kelas mereka. Dari kejauhan Natasha tanpa sengaja melihat James tengah berjalan bersama teman-temannya dari arah yang berlawanan dengannya. Kakaknya itu termasuk idola di kampus jadi wajar jika James memiliki banyak teman, tidak seperti dirinya yang mengalami sedikit kesulitan menyesuaikan diri dengan orang disekitarnya.
Seperti biasa, James tidak pernah menganggap Natasha ada saat mereka saling berpapasan. Pria itu memilih untuk pura-pura tidak mengenalnya apalagi dengan gadis-gadis yang berjalan di sekeliling pria itu. Natasha hanya bisa menelan kekecewaannya bulat-bulat setiap itu terjadi dan membiarkan semua itu hanya angin lalu.
Sesampainya di kelas, Natasha dan Regina duduk di bangku favorit mereka. Selagi menunggu dosen yang akan mengajar, mereka kembali bertukar cerita hingga tanpa sadar orang yang mereka bicarakan tadi berjalan mendekati mereka.
“Selamat pagi.” Sapa Ivan dengan senyum cerah menawan.
“Pagi.” Sahut Regina antusias sedangkan Natasha tersenyum ke arah pria itu.
Ivan langsung mengambil duduk di samping Natasha, sama seperti biasa yang dilakukan pria itu akhir-akhir ini. Mereka bertiga pun bercanda bersama selagi menunggu dosen.
Bagi Natasha hanya Regina dan Ivan yang membuatnya nyaman di kampus tidak ada yang lain bahkan James sekalipun. Saat mereka tengah asyik bercanda, tanpa sengaja Natasha melihat pria yang ia temui di loker duduk di barisan paling belakang. Pria itu hanya duduk menyendiri seolah enggan berinteraksi dengan yang lain. Tapi hal itu juga yang membuat Natasha tertarik dan penasaran dengan pria itu. Dan sekali waktu tatapan mereka bertemu. Natasha tersenyum kecil pada pria itu namun hal yang tidak ia duga selanjutnya adalah pria itu justru langsung beranjak dari tempat duduknya, berjalan keluar kelas dan tidak pernah kembali hingga pelajaran selesai.
Bersambung...