
Phillip tampak termenung didepan brangkar putra ke duanya. Ia terlambat datang menyelamatkan putranya juga istri temannya. Saat ia menemukan mobil Bella, keadaan sudah sangat kacau. Anak buah Romanov sudah menjadi mayat, Bella hilang dan putra kecilnya dalam keadaan sekarat. Saat ini Robert masih dalam kondisi koma setelah menjalani operasi enam jam akibat gegar otak parah. Betapa sangat hancur hatinya saat menemukan putranya tergeletak di atas aspal dalam kondisi luka parah, ingin rasanya ia meledakkan kepala orang yang telah berani mencelakai putra tercintanya itu.
Usapan pelan pada bahu Phillip membuatnya tersadar dari lamunannya. Julia tampak pucat dengan mata yang membengkak, setelah menangis hampir seharian melihat keadaan putranya. Phillip menarik Julia dan menenggelamkannya dalam pelukan hangatnya. Diusapnya bahu istrinya untuk menenangkan kegelisahan Julia.
“Dia akan baik-baik saja. Robert anak yang kuat,” bisik Phillip mengecup puncak kepala Julia.
“Seharusnya aku tidak meninggalkan mereka terlalu jauh,” ucap Julia lirih, air matanya mulai menggenangi pelupuk matanya.
“Ini bukan salahmu. Seharusnya aku menjaga kalian dengan baik,” kata Phillip.
Phillip memeluk erat Julia, memberikan kekuatan istrinya agar lebih tegar menghadapi musibah ini. dari ekor matanya, Phillip melihat Romanov berdiri di luar ruangan VVIP tempat di mana Robert dirawat. Setelah berpamitan dengan Julia, Phillip menghampiri Romanov.
Mereka kini berada di basement, Jason tampak menunggu di depan salah satu mobil. Beberapa anak buah Romanov juga telah berkumpul disana. Kini hanya menunggu keputusan Phillip.
“Aku telah menemukan kemana Braga membawa Bella pergi. Dia ada di Tuscany sekarang,” beritahu Romanov.
Phillip masih terdiam mendengar perkataan Romanov, hatinya masih bimbang apalagi ditambah dengan keadaan Robert yang belum menunjukkan perubahan apa-apa.
“Kami akan berangkat pagi ini sebelum terlambat,” lanjut Romanov melihat sahabatnya itu hanya diam.
Helaan nafas berat keluar dari bibir Phillip. “Aku tidak bisa pergi,” ucapnya. Ada raut sesal tercetak jelas di wajahnya.
Romanov tertawa sumbang mendengarnya. Ada rasa kecewa yang menyusup dihatinya.
“Maaf, aku tidak bisa membantumu kali ini. Keluargaku membutuhkanku saat ini,” kata Phillip berharap Romanov mengerti. “Kekuatan kita juga tidak sebanding dengannya Romanov.”
“Dan kau ingin aku merelakan istriku menderita dan mati di sana!” bentak Romanov meraup kerah Phillip.
“Kau tahu persis seperti apa Braga. Dia akan membunuh siapa saja yang berani mengkhianatinya, aku tidak yakin Bella masih hidup saat ini!” kata Phillip membela diri.
“Dasar keparat!,” Romanov melayangkan pukulan pada Phillip membuat pria itu terhuyung-huyung. “Kau menyebutku keluarga, tapi kau tidak peduli sama sekali dengan keselamatan istriku!”
“Aku hanya mencoba berpikir realistis,” Phillip mengusap pipinya yang berdarah.
“Persetan dengan pemikiranmu. Aku tidak peduli lagi sikap egois dan kepengecutanmu. Aku akan menjemput Bella ku apa pun yang terjadi.” Romanov langsung beranjak pergi dari hadapan Phillip.
“Pikirkan apa yang kukatakan brother,” kata Phillip mencoba menahan Romanov.
Romanov berhenti dan membalikkan badannya. “Jangan panggil aku saudaramu lagi, kau tak pantas menjadi saudaraku,” decihnya langsung meninggalkan Phillip tanpa mempedulikan teriakan putus asa pria itu.
Jason yang hanya menjadi penonton sejak tadi melangkah kedalam mobilnya. “Aku akan menjaga Romanov,”
Hanya itu satu-satunya kalimat terakhir Jason sebelum meninggalkan Phillip yang masih termangu. Rasa sesal melingkupi hati Phillip. Hampir seumur hidupnya, ia tidak pernah berpisah dengan Romanov maupun Jason. Sekarang kedua temannya itu pergi begitu saja. Teriakan Phillip terdengar menggema di dalam basement, meluapkan rasa frustasinya.
***
Dengan langkah lebar, Thomas melintasi teras bergaya colonial itu dan mengetuk pintu keras. Ia tahu Daniel masih didalam. Sejak kehilangan ibunya, Daniel lebih banyak mengurung diri dan sekarang ayahnya pun pergi menyelamatkan ibunya meninggalkan Daniel sendirian. Sebenarnya Daniel ingin sekali ikut dengan ayahnya hanya saja Romanov melarangnya karena Daniel masih kecil.
Sekali, dua kali Thomas mengetuk pintu. Tidak ada sahutan sama sekali. Thomas mencoba mengintip dari celah kaca namun rumah itu terlihat senyap seakan tidak berpenghuni. Sekali lagi Thomas mengetuk pintu sambil berteriak memanggil Daniel. Sesaat kemudian pintu terbuka. Daniel terlihat sangat berantakan.
“Untuk apa kau ke sini?” sembur Daniel melihat Thomas berdiri di depannya.
“Aku ingin menemanimu Daniel” jawab Thomas gugup. Seumur-umur baru kali ini Daniel membentaknya.
“Aku tidak butuh teman sepertimu. Pergi dari rumahku!” bentak Daniel mengusir Thomas.
“Daniel ku mohon, biarkan aku membantumu,” pinta Thomas.
Ia sudah tahu apa yang terjadi antara ayahnya dengan ayah Daniel, dalam hatinya ia juga kecewa dengan ayahnya karena itulah Thomas pergi diam-diam dari rumah sakit tempat Robert dirawat untuk menemui Daniel. Hanya ditemani sopir setianya, Thomas mencoba meluluhkan hati temannya itu.
“Aku tidak butuh bantuanmu, aku tidak peduli lagi dengan kalian. Aku tidak peduli lagi jika aku mati, aku hanya ingin bersama mam and dad!” bentak Daniel mendorong Thomas hingga terjungkal. “Pergi kau dari sini, jangan temui aku lagi!!!,”
BLAAMMM….
Thomas masih termangu, membiarkan tubuhnya di atas lantai yang keras. Ia sangat sedih melihat sikap Daniel. Di matanya Daniel lebih dari seorang teman, berat rasanya meninggalkan Daniel dalam keadaan terpuruk seperti itu. Uluran tangan sopirnya membuat Thomas tersadar. Ia berdiri dan beranjak meninggalkan rumah Daniel. Dipandanginya rumah itu sekali lagi sebelum ia masuk mobil.
Baru saja mobil yang ditumpangi Thomas melaju sejauh seratus meter, tiba-tiba terdengar ledakan dari arah belakang. Sopir Thomas langsung menghentikan mobilnya dan menoleh ke arah sumber suara begitu juga Thomas. Rumah yang baru saja mereka datangi telah hancur berkeping-keping, api berkobar di mana-mana, asap tebal langsung membumbung tinggi.
Thomas yang tersadar dari keterkejutannya keluar dari mobil berusaha kembali ke rumah Daniel. Tetapi sopirnya dengan cekatan menangkap tubuhnya dan menahan agar tidak pergi ke sana. Thomas yang begitu terguncang, berteriak-teriak memanggil Daniel. Ia meronta sekuat tenaga dari kukungan sopirnya. Tidak hanya kehilangan ayah dan ibu ke dua, Thomas juga kehilangan teman sekaligus saudara yang ia sayangi dalam sehari.
***
Hari sudah di ambang remang petang saat Romanov, Jason dan semua anak buahnya berada tidak jauh dari markas Braga. Berkat mata-mata Jason yang berhasil menyusup kedalam, ia mengetahui di mana Braga mengurung Bella. Sekarang mereka semua mempersiapkan diri untuk menghancurkan tempat itu.
Memang benar apa kata Phillip, kekuatan mereka tidak sebanding dengan Braga. Namun ia percaya dengan taktik Jason, mereka bisa mengeluarkan Bella dari sana dan keluar secepat mungkin. Dan mereka harus melakukannya sebelum malam, karena menurut kabar dari mata-mata mereka, Braga akan mengadakan pesta hari ini dan itu berarti akan banyak aliansi pria itu yang datang.
Setelah siap, mereka mulai memasuki kawasan Braga dengan mengendap-endap. Satu persatu anak buah Braga dihabisi tanpa banyak suara. Tak butuh waktu lama, Romanov menemukan sel tahanan tempat Bella terkurung. Dia datang tepat saat anak buah Braga menyeret Bella keluar dari sel untuk dijadikan pelacur pesta malam nanti.
“Lepaskan dia brengsek!” teriak Romanov langsung menerjang ke dua pria yang berusaha menarik Bella.
Pria-pria itu tampak terkejut melihat kedatangan Romanov. Keduanya langsung terjatuh karena tidak siap menghadapi serangan. Namun tak lama mereka terlibat perkelahian sengit. Setelah berjibaku cukup lama, akhirnya Romanov berhasih menghabisi kedua pria itu meski ia juga terluka cukup parah.
“Maaf, aku terlalu lama menjemputmu,” kata Romanov mendekap Bella.
“Aku senang kau datang,” isak Bella.
“Kita harus cepat keluar dari sini,” Romanov melerai pelukannya, tangannya beralih menggenggam tangan istrinya.
“Tunggu… biarkan mereka ikut bersama kita,” pinta Bella menoleh ke dua bocah yang sejak tadi meringkuk ketakutan disudut sel tahanan.
Melihat Bella yang kesulitan menggendong salah satu bocah itu, Romanov mengambil alihnya. Dengan hati-hati mereka keluar dari ruang bawah tanah. Bella menggenggam erat tangan Nathan agar tidak terlepas.
Suara tembakan mulai terdengar memenuhi udara. Mereka telah ketahuan, secepatnya Romanov membawa Bella dan anak-anak itu keluar. Jason berteriak memanggil mereka begitu melihat Romanov dan Bella telah keluar. Anak buah mereka telah membukakan jalan untuk mereka. Sekarang di bawah hujan peluru mereka berlari keluar dari markas itu secepat mungkin.
Di dalam gedung utama, Braga tampak berang mendapat serangan mendadak dari Romanov. Ia sama sekali tidak menyangka pria itu akan menampakkan diri di depannya. Ia berlari keluar untuk menyusul Romanov. Amarahnya semakin memuncak melihat pria itu berhasil merebut kembali Bella darinya. Dengan tembakan membabi, ia mencoba menghentikan Romanov hingga tidak waspada keberadaan Jason yang melindungi Romanov. Dua tembakan Jason berhasil mengenai bahu dan kakinya. Braga semakin gencar menembak mereka tanpa mempedulikan arah tembakannya. Kali ini dengan cara yang sangat menyakitkan, Braga harus mengakui kekalahannya.
“Aku akan membuatmu sengsara seumur hidupmu keparat!” teriak Braga frustasi.
Romanov melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, tak ia pedulikan bahunya yang tergores akibat tembakan Braga. Yang ia pikirkan hanya membawa Bella jauh dari tempat terkutuk itu. Di belakang mereka, iring-iringan anak buahnya dan Jason telah menyusul. Mereka menuju tempat persembunyian sebelum melanjutkan ke tempat lain.
***
Di daerah pinggiran kota Tuscany.
Romanov memasuki rumah sederhana itu sedikit tergesa. Ia mengkhawatirkan Bella yang pingsan dalam bopongannya. Dari dalam rumah, seorang pria menyambut kedatangan tamu di tengah malam itu.
“Masuklah, aku sudah menyiapkan dokter untuk kalian,” Ucap pria itu membuka pintu rumahnya lebar-lebar.
“Terima kasih Quentine,” Romanov membawa masuk Bella dan merebahkannya disalah satu kamar.
Seorang dokter mengikuti mereka dari belakang. Romanov keluar meninggalkan Bella bersama dokter itu untuk memberikan ruang untuk diperiksa sekaligus ingin melihat keadaan anak semata wayangnya.
“Di mana Daniel?” Tanya Romanov.
“Dia di kamar sebelah. Aku datang tepat waktu,” jawab Quentine.
“Terima kasih Quentine, aku berhutang banyak padamu.”
“tenanglah, kita semua saudara. Itu sudah kewajibanku melindungi Daniel.”
Romanov mengangguk sekali lagi mengucapkan terima kasih sebelum memasuki kamar putranya. Daniel terlihat tidur pulas, wajah lelah dan pucat masih terlihat jelas di sana. Pelan-pelan Romanov mendekati Daniel, mengusap puncak kepala putranya dan mencium dahinya.
“Daddy?” ucap Daniel lirih merasakan kehadiran ayahnya.
“Daddy di sini sayang. Semuanya akan baik-baik saja,” bisik Romanov menenangkan Daniel.
“Mom di mana?,” Tanya Daniel.
“Mom baik-baik saja, dia sedang istirahat,” kata Romanov mendekap putranya.
Ketukan pelan terdengar dari arah pintu. Romanov menoleh cepat dan mendapati Jason ada di ambang pintu.
“Dokter ingin bicara denganmu,” kata Jason.
Romanov mengangguk, ditolehnya Daniel. “Dad kembali lagi nanti,” pamitnya meninggalkan kecupan di kening Daniel.
Dengan langkah tergesa Romanov menghampiri dokter yang berdiri diluar kamar Bella. “Bagaimana keadaan Bella, dokter?”
“Nyonya Bella dalam keadaan baik-baik saja. Hanya sedikit terguncang, nyonya akan segera pulih dengan istirahat secukupnya,” jawab dokter itu.
“Apa ada hal lainnya?,” desak Romanov.
“Nyonya Bella mengalami kekerasan seksual dan itu sedikit mengganggu kesehatan janinnya.”
“Janin? Maksud dokter?” Tanya Romanov bingung.
Dokter itu menaikkan alisnya terkejut mendengar pertanyaan pria didepannya itu. “Istri anda tengah mengandung dua bulan,” jelasnya.
“A…apa?,” Romanov tampak linglung mendengar penuturan dokter itu. Bella hamil dan dia tidak mengetahuinya. Ia mengusap wajahnya kasar.
“Tenang tuan, saya telah memberikan obat agar ibu dan janinnya kembali sehat,” hibur dokter itu.
“Terima kasih dokter,” ucap Romanov terbata-bata.
Dengan langkah limbung, terlalu terguncang dengan berita bahagia yang didapatnya barusan, Romanov menghampiri Bella yang sudah siuman. Senyum lebarnya terukir diwajahnya. Dihampirinya Bella dan memeluknya erat. “Maafkan aku Bella, seharusnya aku menjaga kalian dengan baik,” gumamnya.
“Romanov…,” kata Bella kelu.
“Aku mencintaimu Bella, aku akan menjagamu dengan baik kali ini. aku akan menjaga putra kita dan juga bayi kita,” cerocos Romanov.
“Bayi?” Bella terlihat bingung.
“Kau hamil sayang,” kata Romanov dengan wajah berbinar.
Tapi berbeda dengan Bella, wajahnya memucat seketika. “Bayi? Romanov, aku… Braga telah…”
Romanov langsung membungkam bibir Bella dengan ciuman singkatnya. “Itu bayi kita sayang. Dia sudah ada di sana dua bulan ini.”
“Apa?” tangan Bella meluncur ke perutnya dan mengusapnya pelan. “Aku hamil lagi, anak kita,” gumamnya.
“Iya sayang, anak kita,” kata Romanov meyakinkan Bella.
Bella tersenyum bahagia, tak henti-hentinya dia mengusap perutnya sambil bergumam meluapkan kebahagiannya. Romanov mendekap erat istrinya. Kali ini dia akan membawa keluarganya jauh dari Italia, jauh dari Braga. Dengan bantuan Jason, besok mereka akan terbang ke Rusia.
Bersambung…