The Heiress'S Love

The Heiress'S Love
Bab 11. Prom Night



10 Tahun Kemudian


Suara denting sendok beradu dengan piring terdengar nyaring di ruang makan pagi ini. Seperti biasa, Romanov bersama anak-anaknya sarapan bersama. Dengan sebuah Koran di tangan dan secangkir kopi, ia akan menunggu hingga anak-anaknya selesai sarapan sebelum berangkat ke kantor. Hal kecil yang selalu ia lakukan sejak istrinya meninggal dunia sepuluh tahun silam. Romanov tak ingin anak-anaknya kekurangan perhatian meski kini hanya memiliki dirinya.


“Dad…”


Suara putrinya menerobos ke ruang rungu Romanov yang masih sibuk membaca berita di Koran.


“Habiskan sarapanmu, sayang.” Kata Romanov tanpa mengalihkan perhatiannya.


“Dad…”


“Setelah itu minum susunya.” Lagi, Romanov menanggapi putrinya tanpa berhenti membaca Koran.


“Daddy.” Kali ini nada bicara Natasha sedikit kesal.


Belum sempat Romanov menoleh pada putrinya, Koran yang berada di tangan sudah tergusur tubuh Natasha yang mendadak merangsek dalam pangkuan. Romanov hanya bisa menghela napas panjang sambil menyingkirkan Koran itu. Dari ketiga anaknya memang hanya Natasha yang paling manja, itu karena jarak umur Natasha yang terbilang jauh dengan kakak-kakaknya dan perlakuan memanjakan dari semua orang.


“Ada apa sayang?” Tanya Romanov.


“Malam ini ada pesta Prom Night.” Kata Natasha mengerucutkan bibirnya.


“Iya, kau bisa pergi.” Ujar Romanov.


“Tasya tidak mau pergi Daddy.” Rengek Natasha.


“Kenapa? Itu kan pesta kelulusanmu sayang dan lagi kau anak penyumbang dana terbesar di sekolahmu. Jadi kau harus datang.” Kata Romanov.


“Daniel tidak mau menemani.” Gerutu Natasha melirik kakaknya yang masih asyik memakan sarapan. Daniel yang mendengar gerutuan Natasha terkikik geli.


“Pergi dengan temanmu sayang.” Usul Romanov.


“Mereka sudah punya pasangan sendiri.” Terang Natasha semakin menekuk wajahnya, “Tasya ingin pergi dengan Daniel.”


“Kakakmu akan berangkat ke London siang ini.” Kata Romanov mengingatkan.


“Daniel, besok saja ya perginya.” Rengek Natasha beralih pada Daniel.


“Aku ada rapat besok Tasya, lagi pula aku tidak mau berkencan dengan gadis kecil sepertimu.” Goda Daniel menyentil hidung Natasha.


“Daniel jahat.” Geram Natasha, “daddy…”


Romanov terdiam memutar otaknya cepat, jika tidak segera diselesaikan rengekan Natasha tidak akan berhenti hingga ia pulang kerja nanti, “pergi saja dengan James.” Usul Romanov menatap anak angkatnya yang duduk di sebelah Daniel.


Natasha mengikuti arah pandangan ayahnya. Susah payah ia menelan ludah. Ia tidak bisa membayangkan akan pergi dengan kakaknya yang super dingin nan acuh yang hanya akan menanggapi setiap perkataan dengan cara sesingkat mungkin itu.


Mendengar namanya disebut, James menoleh ke arah Romanov dan memandangi bergantian dengan Natasha.


“James, temani Natasha ke acara Prom Night malam ini.” Pinta Romanov.


“Baik dad.”


Hanya itu jawaban dari James. Natasha yang mendengarnya hanya bisa meringis dengan tangan tanpa sadar mencengkeram lengan ayahnya.


“Natasha.”


Suara Romanov menyentakkan Natasha dan melepaskan cengkeraman tangannya.


“Daddy berangkat dulu.” Pamit Romanov mengangkat tubuh Natasha agar berdiri.


Natasha mengangguk tanpa bisa lagi memprotes keputusan ayahnya. Ia kembali memandangi James yang tampak acuh bahkan pergi begitu saja setelah selesai dengan sarapannya, tanpa mau bersusah payah menanyakan acara pesta nanti malam padanya.


“Daniel.”


Kali ini Daniel yang menjadi sasaran rengekan Natasha.


“Heem.” Gumam Daniel yang sibuk dengan ponsel.


“Besok saja ya berangkat ke Londonnya.” Rayu Natasha.


Kali ini Daniel tergelak mendengar rengekan Natasha, “tidak bisa Tasyaku sayang. Besok ada rapat pagi-pagi setelah itu mempersiapkan berkasmu untuk masuk ke kampus.”


“Apa tidak bisa ditunda?” Tanya Natasha dengan wajah memelas.


“Tidak bisa. Bukankah James sudah mau menemani.” Kata Daniel menatap adiknya itu.


“Denganmu saja ya.” Pinta Natasha.


Daniel melebarkan bibirnya, tahu betul Natasha tidak begitu nyaman dengan James. Entah sejak kapan hubungan mereka merenggang karena seingat Daniel, James begitu dekat dengan Natasha saat kecil. “Kau harus terbiasa dengan sikap James sayang. Sebentar lagi kau akan se kampus dengannya.”


“Apa?!” Kali ini Natasha benar-benar terkejut.


“Daddy sudah memasukkanmu ke Imperial Collage London, itu artinya kau akan sekampus dengan James dan mungkin akan tinggal bersamanya nanti.” Terang Daniel.


“Aku mau tinggal bersamamu saja.” Dengus Natasha.


“Boleh, kita bisa tinggal bertiga. Pada akhirnya kau akan lebih sering tinggal dengan James karena aku akan sibuk bekerja.” Kata Daniel.


Tubuh Natasha langsung lunglai mendengar berita itu. Ia sudah berkali-kali mencoba mendekati James, tetapi sejak ia sekolah di asrama hubungan mereka menjauh dan semakin jauh setelah James kuliah di London. Mereka jarang bertegur sapa meski bertemu saat liburan dan sama-sama berada di kastil. James lebih senang berlatih beladiri bersama anak buah ayahnya ketimbang berkumpul bersama dengan ayah dan Natasha.


***


Sepulang mengantar Daniel ke bandara. James memilih kembali ke kastil, membatalkan rencana untuk berlatih menembak di tempat Jason. Ia sudah menyanggupi akan menemani Natasha ke pesta prom night, tidak mungkin dia akan membatalkan hal itu karena Romanov telah sangat baik terhadap dia selama ini. Ia tidak ingin mengecewakan ayah angkatnya itu.


Sudah hampir jam empat sore saat James memasuki kastil. Ia tidak mendengar suara Natasha di dalam. Biasanya adik kecilnya itu terdengar bernyanyi sesuka hati di mana pun berada. James melangkah ke kamar Natasha, memastikan gadis itu sudah mulai bersiap-siap. Dengan ragu James mengetuk pintu kamar Natasha sebelum membukanya perlahan. Diintipnya bagian dalam kamar bernuansa putih itu, tidak ada tanda-tanda Natasha di sana.


Dari tempatnya berdiri, James bisa melihat Natasha yang tengah tenggelam dalam lamunan disalah satu ayunan yang berada di taman itu. Tiba-tiba ia teringat masa-masa di mana mereka masih kecil. Mereka sering bermain di sana, bercanda bersama dipenuhi gelak tawa. Namun sekarang semua jauh berbeda, hubungan mereka semakin jauh. James mengakui itu. Dia lah yang memutuskan menjaga jarak dengan Natasha karena gadis itu terlalu berarti untuknya.


James menghembuskan napas panjang sebelum beranjak mendekati Natasha. Hari sudah semakin sore, mereka harus segera bersiap agar tidak terlambat ke acara pesta prom night.


“Natasha. Hari sudah sore, segeralah bersiap.” Kata James tegas.


Mendengar perkataan James, Natasha yang semula menundukkan langsung menegakkan kepalanya sedikit terkejut, tetapi segera ia mengangguk untuk menutupinya. Ia pun beranjak dari ayunan. Tanpa berkata apa-apa, ia berjalan mendahului James yang membuntuti langkahnya di belakang. Mereka berpisah di persimpangan lorong kastil. Natasha sempat menoleh kembali ke arah James yang berjalan berlawanan arah dengannya. Ia menghembuskan napas panjang, kemudian kembali berjalan ke kamarnya.


***


Pukul tujuh malam, James memarkirkan mobilnya di pelataran sekolah Natasha di mana tempat prom night akan berlangsung. Ia menoleh pada adiknya yang tidak bersuara sedikit pun sejak meninggalkan kastil. Wajahnya yang sedikit masam tidak memudarkan kecantikan Natasha sama sekali.


Tanpa berkata apa-apa, James keluar dari mobil. Berputar ke arah pintu penumpang dan membukakan pintu untuk Natasha.


“Natasha.” Panggil James setelah pintu terbuka, ia menyodorkan tangan kanannya untuk membantu gadis itu keluar.


Natasha yang tengah melamun sedikit terkejut, menoleh pada James yang telah berdiri di ambang pintu. Ragu-ragu Natasha menyambut uluran tangan James. Setelah sekian lama, baru kali ini Natasha kembali merasakan hangatnya genggaman tangan James.


Tidak banyak yang mereka bicarakan sepanjang acara. Selama pembukaan, Natasha hanya berbicara seperlunya pada beberapa teman yang menyapa. Sedangkan James mengikuti di belakang. Kalau saja Natasha bukan anak donatur terbesar sekolah itu, ia memilih untuk segera pulang. Lelah dengan kebosanan, Natasha berjalan menuju deretan stan minuman dan makanan.


“Jangan minum yang itu.” Sergah James saat Natasha ingin mengambil segelas cocktail.


“Kenapa? Ini tidak beralkohol kan?” Tanya Natasha bingung.


“Cari saja yang lain.” Pinta James.


Natasha mengalihkan tangannya pada jajaran minuman lain. Saat ia sedang minum, dari ekor mata terlihat beberapa gadis mendekati James dengan gaya centil mereka. Hanya sekilas melihat saja Natasha tahu gadis-gadis itu adalah orang yang sering mengoloknya selama sekolah.


Wajah Natasha semakin masam saat seorang di antara mereka dengan terang-terangan bergelendotan di lengan James. Tak ingin melihat pemandangan memuakkan itu lebih lama, Natasha mendekati James yang sibuk meladeni gadis-gadis centil itu.


“James, aku mau pulang.” Kata Natasha.


“Acara belum selesai, Nat.” Ujar James mengamati sekitar.


“Aku tidak peduli.” Kata Natasha keras kepala.


“Daddy sudah berpesan untuk di sini hingga acara selesai.” James mengingatkan.


“Aku mau pulang!” Bentak Natasha.


Belum sempat James membuka suara, gadis yang bergelendot di bahu James menyela lebih dulu, “kalau mau pulang, sana pulang sendiri. Lagian anak kecil tidak pantas ikut pesta seperti ini.” Cibir gadis itu.


Natasha menatap sengit gadis itu, ingin rasanya ia mencakar wajah menyebalkan itu. “James, ayo pulang.” Rengeknya.


“Berhentilah bersikap ke kanak-kanakan, Nat!” Marah James.


Rasanya tidak percaya mendengar James memarahinya. Natasha memandangi James kecewa. Itulah kenapa ia tidak senang berada di samping kakak angkatnya itu. Bahkan Daniel pun tidak pernah membentaknya sekalipun ia merengek tanpa henti saat kakaknya itu sibuk. Perlahan Natasha berjalan mundur menjauhi James. Kemudian ia berbalik meninggalkan tempat itu tanpa berkata apa-apa lagi.


“Nat… Natasha…” Panggil James merasa bersalah telah membentak gadis itu.


“Sudah abaikan saja. Dia memang harus sesekali dimarahi agar tidak bersikap manja.” Kata gadis di samping James mencegah pria itu menyusul Natasha keluar.


Natasha terus berjalan keluar meninggalkan aula tempat berlangsungnya pesta. Ia menahan sekuat tenaga agar tidak menangis saat itu juga, hingga berada di tempat sepi air mata Natasha tumpah. Ia tidak mengerti kenapa sikap James padanya berubah drastis. Tidak ada lagi kakaknya yang membuat tertawa, tidak ada lagi James yang rela melakukan apa saja agar dia tidak menangis tetapi kini, pria itu justru bersikap memusuhinya.


Ia terus berpikir mencari kesalahannya pada James hingga kakaknya itu berubah, tetapi sekeras apa pun ia mencoba mengingat. Tidak satu perbuatan Natasha yang membuat pria itu membencinya. Ia benar-benar merindukan James yang dulu.


Dengan langkah terburu-buru, James menyisir sekolah itu mencari Natasha. Meski ia mencoba mengabaikannya, pada akhirnya ia tidak bisa tenang membiarkan Natasha berada di luar sendirian. Ia merasa menyesal telah berbuat kasar gadis itu.


“Natasha.” Panggil James pelan melihat Natasha terduduk di lantai pada tempat yang sepi. Sayup-sayup ia mendengar isak tangis Natasha.


“Natasha… maaf aku memarahimu tadi.” Sesal James mengelus puncak kepala Natasha.


“Pergi sana, aku tidak butuhkanmu. Kembali saja ke pesta dengan gadis-gadis itu.” Teriak Natasha kesal.


“Nat…”


“Aku benci kamu. Memangnya kenapa kalau aku anak kecil!” Maki Natasha memukuli dada James.


James langsung menarik Natasha dan membenamkan dalam pelukannya, “maafkan aku.” Ucapnya penuh penyesalan. Ia memeluk erat Natasha hingga gadis itu tenang dan berhenti memberontak meski masih menangis sesenggukan di dadanya.


“Maafkan aku sayang, maaf.” Bisik James tiada henti.


***


Setelah Natasha tenang, James membawa Natasha pulang. Namun ia tidak langsung ke kastil. Diam-diam dia membawa Natasha ke sebuah taman kecil yang tentu sudah sepi pengunjung. Natasha yang bingung melihat James menghentikan mobil menoleh pada kakaknya itu penuh tanda tanya. Kakaknya itu melempar senyum kecil kemudian keluar dari mobil. Membuka pintu samping Natasha dan mengajaknya keluar.


“Apa yang kita lakukan di sini?” Tanya Natasha bingung mendapati James membawanya mendekat ke sebuah air mancur di dalam kolam.


“Kau belum berdansa tadi.” Jawab James mengutak atik ponselnya.


“Jadi?”


“Kita berdansa.” Kata James memutar sebuah lagu dari ponselnya. Ia lalu meraih tangan Natasha.


Meski sedikit ragu dan merasa aneh, Natasha membiarkan kakaknya membimbing untuk mulai berdansa di bawah bintang-bintang.


“Maafkan aku yang tidak bisa menjadi kakak yang baik untukmu.” Kata James disela dansa mereka, “tapi percayalah aku menyayangimu.” Lanjutnya seraya menatap ke dua bola mata Natasha. Adiknya itu mengangguk sambil tersenyum membuatnya ikut tersenyum senang.


Mereka terus berdansa di bawah langit hitam yang bertabur bintang, diiringi lantunan lagu dan simponi gemericik air.


Aku lebih dari sekedar menyayangimu Natasha Arabella Romanov.