
Tiga setengah tahun pasca pernikahannya, Romanov dikaruniai seorang anak laki-laki yang diberi nama Daniel Alexander Romanov. Ia benar-benar bahagia dan tidak sabar untuk segera memiliki anak lagi apalagi melihat anak Phillip yang terlahir laki-laki hanya selang sehari setelah istrinya melahirkan putranya. Niatnya untuk menyatukan keluarganya dengan keluarga Phillip memang sangat menggebu-gebu. Ia ingin benar-benar terjalin kekeluargaan yang sesungguhnya dengan sahabat sejak kecilnya itu.
"Apa kabar jagoan Daddy hari ini?" sapa Romanov pada Daniel kecil yang tengah bermain bersama Thomas, putra Phillip.
"Daddy, Aniel main ama Thomas," kata Daniel yang menunjuk Thomas yang tengah asik bermain di tepi kolam.
"Main apa sayang?" tanya Romanov sambil melirik Thomas.
"Ikan, lucu kecil-kecil Daddy. Ayo,"jawab Daniel menyeret Romanov ke tepian kolam.
Kolam dangkal itu sengaja Romanov bangun untuk buah hatinya yang merengek meminta ikan setelah pulang dari berlibur di L’Oceanografic, Valencia, Spanyol satu bulan yang lalu. Daniel begitu senang saat mereka memasuki wahana aquarium itu dan tak henti-hentinya tertawa gembira setiap melihat ikan yang berwarna-warni itu mendekatinya.
Dengan senang hati Romanov mengikuti putranya mendekati kolam ikan. Thomas yang sedang bermain air menoleh ke arahnya seraya memberikan senyum menggemaskannya. Coba anaknya perempuan, dia pasti sangat senang menjodohkannya, tapi tidak masalah Danielnya lebih tampan dari anak Phillip.
"Daddy...Daddy, ikan Daniel lucu-lucu," kata Thomas kegirangan.
Ya, Romanov memang membiasakan Thomas memanggilnya Daddy sama seperti Daniel anaknya, begitu pun juga dengan Bella, Thomas memanggilnya dengan sebutan mama Bella. Tak jauh beda saat Daniel memanggil Phillip dan Julia, Daniel memanggilnya papa dan mama Julia. Hal itu membuat ikatan mereka semakin erat.
"Thomas suka?" tanya Romanov.
"Suka Daddy." Thomas mengangguk-angguk semangat.
"Minta papamu membuatkan kolam di rumah nanti," kata Romanov yang langsung mendapat jitakan di kepala oleh Phillip yang baru datang.
"Kau mengajari yang tidak baik," gerutu Phillip.
"Tidak baik bagaimana?" protes Romanov.
"Jangan terlalu memanjakan anak tahu!" sembur Phillip.
"Ah itu kau saja yang pelit," cibir Romanov.
"Mereka juga perlu diajarkan susahnya mencari uang," dengus Phillip.
"Jangan samakan mereka dengan masa kecil kita, Phill" kata Romanov mengingatkan. "Kita sudah kaya sekarang, sudah sepatutnya kita memberikan apa yang diinginkan anak-anak kita."
Phillip hanya menghela napas pasrah. Sebenarnya ada benarnya juga perkataan Romanov. Kehidupan masa kecil mereka memang jauh dari kata cukup. Orang tua mereka merupakan keluarga miskin, kaum buruh serabutan yang sering tidak memegang uang. Makan pun mereka harus rela berbagi dengan saudara-saudara yang lain, sekalipun makanan yang tersedia hanya sepotong roti. Sekarang berkat kerja keras, kehidupan mereka naik drastis menjadi kalangan setara bangsawan. Perusahaan yang mereka kelola terus berkembang pesat, belum ditambah sampingan pekerjaan haram dibidang obat terlarang mereka yang mampu meraup pundi-pundi uang banyak dalam sekejap. Sudah sewajarnya dia memberikan segala kebutuhan anak mereka agar tidak merasakan apa yang pernah mereka rasakan dulu. Hidup dalam kekurangan.
"Besok akan kubangun waterpark di belakang rumah," cetus Phillip.
"Sial, tadi seharusnya aku diam saja!" dengus Romanov geram.
Phillip tertawa puas, satu hal yang mampu melukai ego Romanov. Saat dia lebih unggul dari yang diraih pria itu dan mereka biasa untuk bersaing satu sama lain.
Disaat suami-suami mereka berdebat ditepi kolam menemani Daniel dan Thomas. Arabella dan Julia duduk di teras mengawasi mereka dari sana. Keduanya tampak tersenyum melihat tingkah suami-suami mereka yang tidak bisa berhenti meributkan hal-hal yang kecil. Dan sepertinya kebiasaan itu menurun pada anak-anak mereka. Thomas dan Daniel meniru dengan baik kebiasaan ayah mereka bertengkar tapi hal itu tidak membuat keduanya bermusuhan, justru mereka terlihat sangat dekat.
"Sudah, biarkan saja. Mereka tidak akan berhenti berdebat sebelum dunia kiamat," sahut Bella terkekeh.
Dialihkan perhatiannya pada Julia yang sedang menikmati salad buah. Akhir-akhir ini Bella sering melihat Julia memangku salad buah jika sedang bersantai, membuatnya sedikit curiga.
"Apa kau hamil lagi?" tanya Bella tidak bisa lagi membendung rasa penasarannya.
Julia menatapnya sambil tersipu malu. "Baru satu bulan," akunya.
Bella membelalakkan matanya tidak percaya. Cepat sekali Julia hamil yang kedua. Berbeda dengannya yang harus menunggu lebih lama mengingat saat melahirkan Daniel ia menjalani operasi caesar, sehingga ia harus menunggu rahimnya pulih kembali. Ada rasa iri yang menyusup di dada Bella, tapi ia mesti bersabar. Suaminya juga tidak menuntut untuk cepat-cepat hamil lagi karena mengingat kondisinya.
"Semoga anakmu nanti perempuan," harap Bella.
"Ya, aku juga berharap begitu. Akan sangat menyenangkan bisa memiliki menantu seperti Daniel," kata Julia sambil terkekeh.
"Kau sama aja dengan Phillip!" decak Bella.
"Tapi sepertinya laki-laki lagi, melihat kebiasaanku sekarang," ucap Julia sedikit kecewa.
Saat hamil Thomas, setiap hari Julia tidak jauh dari salad buah bahkan Phillip pernah dibuat pusing harus mencari buah malam-malam karena mereka kehabisan stok di rumah. Sekarang Julia juga tidak bisa lepas dari makanan satu itu.
"Mungkin saja itu kebiasan dirimu saat hamil," hibur Bella.
"Semoga saja," kata Julia. "Bagaimana denganmu, apa dokter sudah membolehkanmu hamil lagi?"
"Entahlah, aku belum memeriksanya lagi," jawab Bella.
"Tenanglah, rahimmu sebentar lagi akan pulih. Kau bisa hamil lagi," kini Julia yang menghibur Bella.
Bella mengangguk seraya tersenyum. Dia memang harus bersabar agar bisa menimang buah hati keduanya. Setidaknya menunggu beberapa tahun lagi tidak akan masalah. Kehidupan mereka sudah bahagia dengan adanya Daniel, dia memang tidak perlu terburu-buru.
Dilayangkannya tatapan pada suaminya. Bella sangat bersyukur keputusannya menerima Romanov adalah hal yang benar. Kebahagiaan yang selalu ia impikan terwujud. Jauh berbeda saat ia dalam kungkungan Braga, mantan teman Romanov. Pria itu memperlakukannya tidak lebih dari sekedar pelacur. Dia memang bukan berasal dari keluarga yang berada. Pertemuannya dengan Braga berawal disebuah club malam, saat dia menjalani hari pertamanya menjadi pelacur. Tapi malam itu Braga membawanya pergi dan menjadikannya kekasih pria itu. Ia tidak pernah tahu ada hal lain dari seorang Braga yang terlihat seperti malaikat namun memiliki hati iblis di dalamnya.
Selama hidup dengan Braga, ia tidak lebih dari seorang tawanan dirumah mewah itu. Bella tidak bisa menghirup udara luar kecuali pria itu yang membawanya keluar. Setiap hari ia habisnya berdiam diri di dalam mansion.
Hingga suatu malam, Bella melihat Braga tengah bercinta dengan seorang wanita disalah satu kamar tamu. Ia yang merasa dikhianati justru mendapat perlakuan kasar Braga karena telah mengganggu aktifitasnya. Tak hanya tamparan dan pukulan yang ia terima tapi juga luka sayatan di punggung akibat pecahan kaca. Malam itu mengabaikan rasa sakit di punggungnya, Bella melarikan diri dari mansion. Anak buah Braga memburunya hampir sepanjang malam. Beruntung saat ia sudah tidak sanggup lagi berlari, tubuhnya yang lelah bersandar diemperan toko ditemukan Romanov.
Romanov yang diam-diam jatuh cinta dengan Bella begitu terpukul menemukan pujaan hatinya dalam keadaan mengenaskan. Ia langsung membawa Bella ke manor miliknya yang berada ditempat terpencil, menyembunyikan gadis itu hingga kondisinya pulih. Namun kebersamaannya dengan Bella tidak berlangsung lama karena Braga mengetahuinya, hingga suatu hari Braga datang membawa anak buahnya berusaha menyeret Bella pulang. Romanov yang tidak tahan dengan perlakuan Braga terhadap Bella, melawan anak buah pria itu hingga terjadi kekacauan di manornya. Namun perjuangannya tidak sia-sia karena ia berhasil kabur membawa Bella ke tempat yang lebih aman. Sejak kejadian itu, Braga memutuskan pertemanan mereka dan bersumpah akan merebut kembali Bella dari Romanov.
Hingga detik ini, ancaman-ancaman dari Braga tidak pernah berhenti meneror Romanov, tetapi dengan keahliannya Romanov bisa menyembunyikan itu dari Bella dan tetap menjaga istri dan anaknya dalam perlindungan semaksimal mungkin. Romanov juga selalu siap jika suatu hari nanti berhadapan langsung dengan Braga. Ia tidak akan segan-segan membunuh pria itu jika berani menyentuh keluarganya yang sangat ia cintai.
Bersambung…