
Sean tampak gelisah memandangi ufuk timur yang mulai merekahkan cahaya jingga. Sejak menginjakkan kaki di Bunol, Sean menerima serentetan informasi yang tidak diharapkannya. Natasha tidak terlihat kembali ke hotel tempat di mana gadis itu menginap. Belum lagi informasi dari orang-orang yang kebetulan sempat bersama Natasha mengatakan gadis itu di bawa ambulance karena pingsan saat festival tengah berlangsung. Namun sampai detik ini, Sean tidak menemukan di mana Natasha berada meski sudah menyisir setiap rumah sakit dan posko kesehatan di kota itu. Sesuatu terasa salah dalam hal ini.
Ketukan pelan dari arah pintu, mengalihkan Sean dari pikirannya yang mulai kacau. Ia melihat Mark datang diikuti seorang pria seumurannya di belakang. Sean memicingkan mata, menatap tajam pria itu dengan wajah tidak senang. Yang dibutuhkannya adalah seorang yang ahli dalam IT, bukan pria yang terlihat seperti gelandangan.
“Siapa dia?” tanya Sean tajam.
“Seseorang yang anda butuhkan, Tuan Muda.” Mark menunduk penuh hormat.
“Yang aku butuhkan adalah orang yang bisa melacak keberadaan Natasha. Bukan seorang gelandangan!” ucap Sean ketus.
“Sebenarnya aku seorang pesulap jalanan,” sela pria itu sebelum Mark bersuara.
“Mark…”
Mark menghela napas panjang, sudah cukup lama ia bekerja untuk keluarga Van de Ryn. Temperamental seorang Sean sudah dihafalnya di luar kepala, terutama saat sedang gelisah seperti ini. “Dia sangat bisa diandalkan, Tuan Muda,” katanya menyakinkan Sean.
“Apa kau bisa menjaminnya?” tanya Sean tajam.
“Tentu saja, Tuan.”
“Kalau begitu tunggu apa lagi. Segera temukan Natasha!”
Tanpa menunggu perintah untuk kedua kalinya, Mark langsung memberi isyarat pada pria yang dibawanya untuk segera bekerja. Pria itu tampak sigap mengeluarkan peralatannya dan menatanya di atas meja di tengah ruangan itu. Ia mulai menyalakan laptop dan ponsel. Dua perangkat yang menjadi andalan utama untuk meraup uang besar.
“Tunggu apa lagi?” Sean yang ikut memperhatikan mulai merasa kesal karena pria itu tidak segera bekerja.
“Ya, mungkin aku memang pesulap handal. Hanya saja, aku tidak bisa melacak orang tanpa tahu sedikitpun identitas orang yang akan kulacak.”
Sean benar-benar merasa kesabarannya telah diuji habis-habisan dalam sekejap. Ia langsung meraih kerah pria itu dengan berang, “temukan dia dalam satu jam. Jika kau…”
“Dustin… namaku Dustin,” sela pria itu.
“Aku tidak peduli dengan namamu, tapi jika kau gagal menemukan Natasha dalam satu jam. Aku akan memenggal kepalamu!” kata Sean penuh ancaman. Ia mendorong tubuh Dustin hingga duduk kembali, kemudian keluar untuk mendinginkan kepala. Meninggalkan Dustin yang terlihat biasa saja setelah mendengar ancamannya.
Acuh tak acuh Dustin mengedikkan bahunya. Ini bukan pertama kalinya ia mendapatkan sebuah ancaman. Sebagai seorang peretas, Dustin memang sering terlibat masalah dengan orang-orang berbahaya. Bahkan ada yang tidak segan-segan memburunya. Baginya ancaman Sean bukan apa-apa lagi. Ia langsung melacak keberadaan Natasha setelah mendapatkan beberapa petunjuk yang diberikan Mark padanya.
Tepat saat Dustin sedang membicarakan hasil kerjanya pada Mark, pintu terbuka. Sean yang tadi keluar, sekarang telah kembali. Wajahnya yang tadi kusut terlihat lebih segar, walaupun tatapan dingin Sean tidak hilang dari sana. Pria itu berjalan mendekat untuk mengetahui hasil pekerjaan Dustin.
“Kau menemukannya?” tanya Sean.
“Ya… hanya saja. Dia sudah tidak berada di kota ini. Ambulance yang membawanya mengarah keluar kota Bunol,” jawab Dustin.
“Di rumah sakit mana?” lanjut Sean.
Dustin memutar laptop miliknya agar Sean bisa melihat hasil kerjanya, “itu titik terakhir aktifitas ponsel yang digunakan kekasihmu. Tempat itu terlihat bukan sebuah rumah sakit, tapi rumah biasa.”
******
Setelah lelah menangis dan menceritakan apa yang baru saja dialaminya, Natasha akhirnya tertidur pulas. Ivan yang sejak tadi berada disisi Natasha, tidak beranjak dari sana. Ia sangat merindukan Natasha, keberadaan gadis itu di sini sedikit bisa mengobati rasa rindunya. Meski begitu pikirannya berkecamuk tentang banyak hal. Tentang bagaimana gadis itu bisa terlibat masalah dengan Don Mafioso dari Italia. Mungkinkah salah satu anggota keluarga Natasha terlibat dengan Braga dan menjadikan Natasha sebagai umpan?
Setelah memikirkannya masak-masak, Ivan memutuskan untuk segera mengantar pulang Natasha. Selama masih berada di Spanyol, keselamatan Natasha akan terancam. Sebagai anggota Klan kelas menengah, Ivan tidak berarti apa-apa dibandingkan dengan Klan milik Braga. Pria itu bisa dengan mudah menghancurkan tempatnya dan mendapatkan Natasha. Membawa Natasha kembali ke Rusia adalah hal yang terbaik.
Saat senja tiba Natasha terbangun. Keadaannya jauh lebih baik sekarang. Ivan membawanya berbicara tentang rencananya mengantar pulang Natasha setelah mereka makan malam. Natasha tidak keberatan dengan rencana Ivan, tetapi ia sedang tidak ingin kembali ke Moscow. Ia meminta Ivan untuk mengantarnya pulang ke Siberia. Tempat ia dibesarkan Suster Veronica.
“Aku minta maaf karena tidak menahanmu di sini lebih lama. Sebenarnya aku sangat merindukanmu, hanya saja saat ini keselamatanmu lebih penting,” ucap Ivan saat mereka berdua menatap nyalang langit-langit kamar.
“Kau tidak perlu minta maaf, justru akulah yang berterima kasih. Kalau aku tidak bertemu denganmu, aku tidak tahu akan seperti apa keadaanku sekarang.”
“Kau akan aman di sini malam ini. Aku akan menghubungi kakakmu besok pagi dan mengatakan semuanya.”
Perlahan Natasha menghembuskan napas panjang, “kakakku tidak tahu aku pergi ke Spanyol. Kami bertengkar,” katanya lirih.
“Dia tidak tahu kau pergi ke sini?” tanya Ivan terkejut. Ia tahu betul bagaimana sifat posesif James pada Natasha. Ia tidak habis pikir bagaimana pria itu tidak tahu Natasha pergi sejauh ini. “Bagaimana dengan Daniel?”
“Daniel juga tidak tahu. Aku melarikan diri dari rumah, aku tidak menghubungi siapapun.”
“Aku rasa kita perlu menghubungi kakakmu,” kata Ivan.
“Bisakah kita menghubungi Daniel saja?” pinta Natasha.
“Aku akan menghubunginya besok sebelum kita berangkat.” Ivan merengkuh Natasha, membawa gadis itu dalam pelukannya.
Keduanya terlihat diam membisu. Hanya detak jam dinding yang terdengar mengisi ruangan itu. Natasha tidak bisa tidur karena masih memikirkan perkataan Braga tentang dirinya. Sedangkan Ivan, pikirannya melayang jauh ke masa lalu.
“Nat… aku minta maaf tentang apa yang kulakukan malam itu,” ucap Ivan lirih, memecah kebisuan.
Natasha menegakkan kepalanya, menatap Ivan tidak mengerti.
“Malam saat kau ulang tahun. Aku nyaris memperkosamu,” lanjut Ivan dengan tatapan bersalah.
“Aku sudah melupakan kejadian itu.”
“Tapi aku merasa bersalah tentang hal itu. Aku tidak bisa mengendalikan diriku sendiri karena obat perangsang,” terang Ivan.
“Aku sudah memaafkanmu.” Senyum Natasha mengembang, meyakinkan Ivan bahwa malam itu bukan masalah besar untuknya.
“Terima kasih.” Ivan semakin mempererat rengkuhannya pada Natasha. Satu bebannya terangkat sudah sekarang. Mereka pun akhirnya tertidur setelah waktu melewati dini hari.
Bersambung...