
Dengan penuh kasih sayang, Daniel mengusap lembut Natasha yang masih terlelap di atas ranjangnya. Beruntung demamnya sudah turun setelah tengah malam tadi, Quentin yang ia tugaskan menjaga Natasha datang membawa adiknya yang tidak sadarkan diri dalam bopongan pria itu. Setelah mendengar apa yang terjadi pada Natasha dari Quentin, ia memutuskan tidak memberitahu James tentang keberadaan Natasha di sana.
Inilah yang ditakutkan Daniel saat meninggalkan Natasha bersama James, bukan ia tidak percaya dengan adik angkatnya itu hanya saja hubungan James dengan Natasha tidak bisa dikatakan baik-baik saja. Beberapa bulan memaksa James berada dalam satu rumah dengan Natasha sama sekali tidak membuahkan hasil. Pria itu terus saja menjaga jarak dengan Natasha yang sudah berusaha untuk mendekati James kembali.
Sekarang setelah kejadian yang menimpa Natasha, Daniel berpikir untuk menjalankan rencana yang seharusnya ia lakukan sejak meninggalkan London. Natasha lebih baik hidup sendirian di apartemen yang telah ia siapkan di jantung kota London. Mungkin memang itulah yang terbaik untuk Natasha dan James, hidup terpisah.
“Tidakkah sebaiknya kau beritahu James tentang keadaan Natasha yang sesungguhnya?” kata Quentin dari ambang pintu kamar saat melihat Daniel masih setia berada di samping adiknya itu.
Daniel melirik sekilas Quentin, ia lalu mencium pipi Natasha sebelum beranjak dari sisi Natasha. “itu tidak akan membantu sama sekali dan mungkin justru semakin memperparah keadaan.” Katanya sambil berjalan keluar kamar.
“Tapi aku rasa James berhak tahu semuanya Daniel. James harus memahami kenapa Natasha tidak bisa membedakan antara dia dengan Nathan.” Ujar Quentin yang mengikuti langkah Daniel.
“Apa dia akan bisa menerima dengan mudah Paman. Sedangkan Paman sendiri tahu bagaimana sulitnya diriku menerima kenyataan itu, bahkan setelah bertahun-tahun lamanya? Aku masih tidak menerima apa yang mereka lakukan pada Natasha.” Kata Daniel murung.
“Ayahmu menerima tawaran mereka, karena hanya merekalah yang memberikan harapan kesembuhan Natasha.”
“Dengan menjadikannya kelinci percobaan!” Kata Daniel berang, “mereka semua biadap, memperlakukan Natasha seperti… argh Fu*k!!!”
Daniel meremas rambutnya frustasi. Ia kembali diselimuti kemarahan setiap mengingat bayangan masa lalu saat Natasha menjalani terapi pemulihan akibat trauma yang diderita pasca pembantaian besar di kastil. Rasanya begitu menyakitkan melihat adik kecilnya diperlakukan tidak manusiawi, atas nama kemajuan ilmu pengetahuan dan juga pengobatan.
“Setidaknya semua itu membuahkan hasil sekarang. Natasha bisa kembali menjalani kehidupannya dengan normal.”
“Hidup normal? Natasha hidup dalam kebohongan. Dia tidak pernah mendapatkan kehidupannya sendiri, kalian sudah menghapus semua memorinya dan mengisi dengan memori orang lain!” Daniel menggebrak meja di depannya, meluapkan amarah yang dirasakan saat ini. Dihelanya napas dalam-dalam untuk bisa mengontrol emosinya kembali. Natasha membutuhkan dia dalam keadaan kepala dingin sekarang. “Apa mereka memberi jaminan tidak akan ada efek samping dari pengobatan itu atau Natasha selamanya harus ketergantungan dengan obat yang mereka suntikkan?”
“Mereka sedang mencoba untuk mengurangi pemberian obat itu pada Natasha dan melihat hasilnya.” Jawab Quentin.
Terdengar tawa hambar dari bibir Daniel, “mereka tidak akan berhenti membuat Natashaku menjadi kelinci percobaan bukan?!” Katanya miris.
“Kita menunggu hasilnya lebih dulu Daniel, mereka hanya ingin membantu jangan salahkan apa yang mereka lakukan pada Natasha.” Kata Quentin mencoba menenangkan Daniel.
“Ya… kau benar paman. Bukan mereka yang salah, tapi pria keparat itu yang harus membusuk di neraka secepatnya.”
***
Dengan kecepatan tinggi, James membelah jalanan kota di Inggris dari London menuju New Castle. Tanpa mempedulikan kesibukan jalan raya siang hari, ia semakin memperdalam pedal gasnya setelah melewati kota Sunderland. Tujuannya hanya satu, apartemen Daniel untuk menemui Natasha.
Pertengkaran semalam dengan Natasha terus membuatnya dihantui rasa bersalah ditambah pagi tadi tidak bisa menemukan gadis itu di kamar membuat James kalang kabut. Beruntung beberapa penjaga mengetahui kepergian Quentin yang membawa Natasha dengan helikopter semalam.
Kalau saja semalam ia tidak memutuskan pergi dari mansion, mungkin ia bisa mencegah Quentin membawa Natasha ke New Castle. James hanya bisa berharap Daniel mau mendengar penjelasannya nanti. Sesampainya di depan apartemen Daniel, dengan perasaan campur aduk James memantapkan langkahnya masuk.
James mendapati Daniel tengah berdiri di dekat jendela yang mengarah pada taman di belakang apartemen. Pria itu seakan tidak terusik sama sekali dengan kehadirannya. Ragu-ragu James mengikis jarak antara mereka.
“Aku ingin bertemu dengannya, Daniel.” Kata James.
“Kau tidak bisa menemuinya sekarang.” Sahut Daniel bergeming sama sekali dari posisinya.
“Kumohon, aku akan minta maaf pada Tasya.” Pinta James.
“Kau bisa melakukannya lain kali, biarkan Tasya istirahat.” Kata Daniel menoleh pada James yang terlihat kecewa.
“Akan kulakukan apa saja yang kau pinta Daniel, tapi biarkan aku bertemu dengannya.” Ucap James putus asa.
“Pulanglah, biarkan Natasha bersamaku untuk beberapa hari.” Daniel tetap pada pendiriannya meski ia melihat James yang terlihat kecewa.
James mengusap wajahnya kasar. Ia benar-benar ingin melihat Natasha, meminta maaf pada gadis itu dan membawanya kembali ke London. Tapi sikap keras Daniel menghalangi keinginannya saat ini.
“Aku marah karena mencemaskannya Daniel, aku tidak ingin terjadi sesuatu padanya saat bersama orang lain.” Terang James.
“Biarkan Natasha dekat dengan orang lain James, dia berhak mempunyai kehidupannya sendiri. Jangan melarangnya untuk bermain di luar, dia bukan tahananmu yang harus selalu di mansion setelah pulang kuliah.” Kata Daniel menasehati.
“Apa yang harus aku lakukan?” Tanya James mengiba.
“Kau tahu persis apa yang harus kau lakukan James, tapi kau tidak pernah mau melakukannya. Jadi biarkan dia merasakannya dari orang lain. Biarkan dia menjalani hidup normal.” Kata Daniel meninggi.
Saat ke dua pria itu sibuk dalam pikiran masing-masing. Quentin mendekati Daniel untuk memberitahukan hal yang penting pada pria itu.
“Mereka sudah datang Daniel.” Kata Quentin.
Berat hati Daniel mengikuti langkah Quentin untuk menyambut tamu mereka, sedangkan James yang tidak tahu apa-apa menatap Daniel dan Quentin dengan rasa heran sekaligus penasaran. Ia langsung mengikuti ke dua pria yang tengah menyambut seorang tamu berjas putih dengan beberapa asisten di belakangnya.
“Apa Natasha sakit?” Tanya James cemas.
“Itu bukan urusanmu.” Jawab Daniel ketus.
“Itu juga urusanku Daniel!” Bentak James langsung mencengkeram kemeja pria itu.
Ketegangan ke dua pria itu langsung teralihkan oleh teriakan yang terdengar dari kamar. Natasha tampak meraung kesakitan. Berbeda dengan Daniel yang hanya bisa menghela napas dalam meredam amarah, James terlihat bingung dengan apa yang tengah terjadi.
“Apa yang mereka lakukan pada Tasya?!” Bentak James, tetapi tidak ada jawaban sepatah kata pun dari Daniel.
Merasa terabaikan, James melepas cengkeraman pada Daniel, beralih melangkahkan kaki lebar-lebar menuju kamar yang digunakan Natasha.
“Bawa dia keluar.” Perintah Daniel pada beberapa anak buahnya yang berada dalam apartemen.
Tanpa ada bantahan apa-apa lagi, orang-orang itu langsung menghalangi langkah James sebelum mencapai kamar. Mereka langsung menyeret James keluar meski harus bergumul terlebih dahulu dengan pria itu.
“Kau tidak bisa melakukan ini padaku Daniel, biarkan aku bertemu dengannya. Apa yang mereka lakukan pada Natasha?” Serentetan teriakan James tidak digubris sama sekali oleh Daniel, hingga suara pria itu teredam pintu apartemennya.
James akhirnya menyerah untuk berusaha melepaskan diri dari anak buah Daniel. Bagaimana usahanya akan berakhir sia-sia menghadapi mereka karena pria-pria itu merupakan anak buah terlatih, yang terbaik yang dimiliki D’yavol. Dengan lesu, James menundukkan kepala di atas kemudi mobil. Kecewa karena tidak berhasil menemui Natasha.
***
“Apa kau sudah merasa lebih baik?”
Suara Daniel membuyarkan lamunan Natasha yang tengah duduk sendirian menatap hamparan rumput hijau di taman yang terlihat dari apartemen kakaknya itu.
“Iya, aku sudah sehat.” Jawab Natasha sembari tersenyum manis menyambut pelukan Daniel.
Setelah beberapa hari berada di apartemen kakaknya itu, Natasha memang merasa lebih baik. Ia juga tidak semurung seperti terakhir kali ditinggal Regina.
“Daniel, bolehkah aku bertanya sesuatu?” Tanya Natasha dengan wajah ragu.
“Apa yang ingin kau tanyakan, Dear?” Kata Daniel.
“Kenapa James selalu marah saat aku memanggilnya Nathan dan malam itu dia juga mengatakan bahwa Nathan sudah mati. Aku tidak mengerti.” Ucap Natasha lirih.
Daniel memejamkan mata sejenak, lagi-lagi ia harus mengisi hidup adiknya dengan kebohongan. “apa kau ingat saat kematian Mom?”
Natasha menggeleng lemah, “aku tidak begitu ingat.”
“Waktu itu Mom mengajakmu dan Nathan berjalan-jalan. Saat tengah dalam perjalanan pulang kau menangis karena Nathan menjahilimu. Mom yang tengah mencoba menenangkanmu tidak sadar kalau mobil yang kalian tumpangi beralih jalur. Dan saat sadar, semuanya terlambat. Sebuah truk menghantam mobil dari lain arah. Kecelakaan itu membuat mom meninggal saat perjalanan ke rumah sakit dan kau mengalami koma hingga berbulan-bulan lamanya. Hanya Nathan yang mengalami luka ringan. Sejak saat itulah Nathan terus menyalahkan dirinya sendiri, ia berharap merasakan apa yang kau rasakan. Karena itulah dia mengubah nama menjadi James dan menganggap Nathan mati saat kecelakaan itu.” Cerita Daniel.
Natasha yang masih setia mendengar perkataan kakaknya mencoba mengingat-ingat peristiwa itu namun semuanya terlihat samar, seakan memori akan peristiwa itu ikut hilang.
“Tasya, berjanjilah padaku. Jangan lagi memanggil James dengan Nathan. Okey?” Pinta Daniel menatap Natasha lekat-lekat.
“Okey.” Natasha mengangguk mantab.
Senyum Daniel merekah melihat adiknya tidak murung lagi. Ia pun mempererat pelukan terhadap Natasha. Adik satu-satunya yang paling dicintai.
“Aku menyayangimu Natasha. Aku akan selalu melindungimu.” Bisik Daniel.
Bersambung...