
LONDON, INGGRIS
Mansion bernuansa putih berlantai dua yang terdapat di salah satu sudut London, hari ini kedatangan seorang penghuni baru dari Rusia. Seorang gadis belia resmi menjadi salah penghuni mansion mewah itu. Sang kakak memboyong adiknya itu ke mansionnya karena sebentar lagi masa kuliah akan segera dimulai. Natasha resmi menjadi mahasiswa di London Imperial Collage sekarang. Kuliah di tempat yang sama dengan Daniel dulu dan juga James yang masih menyandang status mahasiswa tingkat akhir di sana.
Natasha merebahkan tubuhnya di atas kasur bersprei putih gading dengan senyum mengembang di bibir. Akhirnya ia bisa merasakan hidup jauh dari kastil yang membosankan karena tidak ada teman di sana, apalagi beberapa tahun belakangan ini Daniel lebih sering berada di London dari pada di Rusia. Sekarang ia bisa berdekatan lagi dengan kakaknya tersayang itu.
Suara pintu yang terbuka membuat Natasha terusi dari khayalannya. Ia mendapati Daniel tengah menghampirinya. Tanpa permisi kakak laki-lakinya itu langsung merebahkan tubuh di samping Natasha. Daniel juga langsung memerangkap tubuh Natasha yang kecil dalam rengkuhan.
“Kau merindukanku gadis kecil, kau merindukanku?” Tanya Daniel mengusap-ngusapkan bakal jenggotnya ke pundak Natasha yang terekspos.
“Hentikan Daniel, kau membuatku geli!” Kata Natasha meronta-ronta agar terhindar dari gelitikan kakaknya itu.
“Bagaimana dengan yang ini?” Daniel memindahkan wajahnya ke tengkuk adiknya itu membuat Natasha semakin meronta sambil tertawa terbahak-bahak.
Setelah puas mengerjai Natasha, Daniel melepaskan adiknya yang terengah-engah di sampingnya. Ia memandangi Natasha yang sedang mengatur napas.
“Daniel jahat.” Rajuk Natasha setelah berhasil mengatur napasnya.
“Kakakmu ini tampan, bukan jahat.” Goda Daniel.
“Jelek.” Cibir Natasha.
“Apa perlu aku tambahin lagi?” Kata Daniel memajukan wajahnya.
“Hentikan.” Sergah Natasha menahan dada Daniel agar kakaknya itu tidak mendekat.
Daniel terkekeh melihat kelakuan Natasha, “apa kau merindukanku?”
Tidak ada jawaban dari Natasha tetapi gadis itu mengangguk pelan.
“Bagian mana yang merindukanku?” Tanya Daniel mencondongkan tubuhnya ke arah Natasha, “di sini?” Daniel mengecup kening Natasha, “atau di sini?” sekarang Daniel berpindah ke kedua pipi Natasha mengecupi bergantian.
Natasha tampak terkekeh mendapat serangan kecupan dari kakaknya itu.
“Ah sepertinya di sini yang paling merindukanku.” Kata Daniel mencium bibir Natasha. Tentu saja adiknya itu tidak menolak karena ia telah terbiasa melakukannya sejak kecil. Sebuah ciuman kasih sayang tanpa ada napsu di dalamnya.
Suara deheman dari ambang pintu membuat Daniel melepaskan ciuman pada Natasha dan menoleh ke sumber suara. James tengah menatap mereka dengan tatapan yang tidak terbaca sama sekali.
“Makan malam sudah siap.” Kata James dingin.
Daniel mengangguk, mengalihkan perhatian pada Natasha. “Kau lapar adik kecilku?” tanyanya seraya mengusap-usapkan hidungnya ke hidung Natasha.
“Iya, ayo makan.” Rengek Natasha.
“Oke.”
Daniel segera beranjak dari tempat tidur, membantu Natasha untuk berdiri barulah mereka berjalan keluar. Natasha dengan cepat berlari ke ruang makan lebih dulu meninggalkan kakak-kakaknya yang berjalan santai di belakang.
“Bukankah terlihat aneh kalau kau terus mencium Natasha?” Kata James memecah keheningan saat mereka berjalan di lorong mansion.
“Apanya yang aneh?” Sahut Daniel.
“Kau ini kakaknya dan ciumanmu pada Natasha terlihat… intim.” Ucap James pelan.
“Kenapa, kau cemburu?” Tanya Daniel terkekeh geli.
***
London Imperial Collage terlihat ramai di hari pertama masuk. Banyak mahasiswa baru terlihat berbondong-bondong memasuki gedung. Salah satunya adalah Natasha yang sedang kebingungan mencari ruang kelasnya. Beberapa mahasiswa lain terlihat menatapnya heran. Tentu saja. Dari sekian banyak mahasiswa di sana, Natasha terbilang paling muda. Ia belum genap 17 tahun saat ini.
Natasha mendengus kesal, lelah mencari kelasnya yang belum juga ketemu setelah berkeliling di gedung itu. Kakaknya James langsung menghilang begitu mereka keluar dari dalam mobil tadi. Ingin rasanya ia menelepon James untuk menolongnya, tetapi pemikiran itu langsung ia tepis jauh-jauh. Sudah pasti James hanya akan memberi arahan secara singkat dan itu tidak akan membantunya sama sekali.
“Hai, kau Natasha Romanov bukan. Mahasiswa baru?” Sapa seorang gadis yang tiba-tiba menyapa Natasha. “Aku Regina, by the way.” Lanjut gadis itu memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangan.
“Yah, aku Natasha.” Natasha menyambut uluran tangan gadis itu untuk bersalaman.
“Aku tahu segalanya di tempat ini. Apapun yang kau butuhkan. Pemandu, tempat curhat atau mencari teman kencan mungkin…” Cerocos Regina.
“Terima kasih. Aku hanya sedang mencari kelasku sekarang.” Kata Natasha memperlihatkan jadwal kelas yang ia pegang dari tadi.
“Tenang, kita sekelas. Yuk.” Ucap Regina mengajak Natasha berjalan ke arah yang ia tunjukkan.
Mereka berdua pun berjalan menyusuri lorong kampus yang masih ramai oleh mahasiswa sambil berbincang mengenalkan diri masing-masing. Beruntunglah Natasha bertemu Regina yang cerewet tetapi baik hati. Mereka masuk ke kelas tepat sebelum pelajaran di mulai. Dan itu membuat Natasha sangat berterima kasih dengan teman barunya.
***
(Natasha Romanov)
Saat istirahat, Regina mengajak Natasha menuju kantin untuk mengisi perut. Belum banyak mahasiswa lain yang mereka kenal saat ini. Dan baru saja Natasha mengetahui kenapa Regina bisa mengenalinya tadi. Regina merupakan salah satu anak kolega ayahnya. Meski mereka belum pernah bertemu, Regina sudah mengetahui banyak hal dari ayahnya yang sering mendengar Romanov menceritakan putri satu-satunya itu.
“Jadi kau baru kali ini meninggalkan Rusia?” Tanya Regina penuh rasa ingin tahu.
“Ya, baru kali ini daddy mengijinkanku pergi jauh.” Jawab Natasha.
“Ayahmu benar-benar menyayangimu ternyata.” Kekeh Regina.
Natasha hanya bisa tersenyum tipis. Rasanya tidak ada yang tidak menyayanginya selama ini kecuali James. Mengingat hal itu, mood Natasha kembali memburuk. Bahkan sampai sekarang kakaknya itu tidak menanyakan kabar sama sekali. Berbeda dengan Daniel yang telah mengiriminya puluhan pesan singkat menanyakan keadaannya hampir setiap lima menit, hingga Natasha harus mematikan ponselnya saat di kelas tadi.
Selagi ia mendengarkan dan sesekali menjawab pertanyaan Regina, diam-diam Natasha mengedarkan pandangan ke sekeliling kantin untuk mencari keberadaan James, tapi lagi-lagi rasa kecewa menyusup hati Natasha. Pria yang dicarinya tidak terlihat sedikit pun di sana.
“Hai, boleh aku duduk di sini?” Sapa seorang pria berambut hitam dengan potongan panjang mengalihkan perhatian Natasha dan Regina.
Ke dua gadis itu tampak terdiam, terpesona melihat pria tampan di depan mereka.
“Bolehkah?” Tanya pria itu sekali lagi melihat tidak ada tanggapan dari ke duanya.
“Ah, tentu saja.” Sahut Regina yang berhasil sadar dari keterpukauannya.
Pria itu tersenyum senang saat menduduki kursi di depan Natasha. “Kenalkan aku Ivan. Kita sekelas.” Katanya memperkenalkan diri mengulurkan tangan ke arah Regina baru kemudian Natasha.
Pria yang mengaku bernama Ivan itu menggenggam tangan Natasha cukup lama, membuat pipi gadis itu bersemu merah. Ini kali pertamanya Natasha berkenalan langsung dengan seorang pria di luar lingkup lingkungannya.
Ivan yang ramah dan hangat dalam sekejap mampu menarik perhatian Natasha hingga melupakan kejengkelannya pada kakak ke duanya, James. Mereka bertiga pun terlibat dalam percakapan yang seru, bahkan Natasha bisa tertawa lepas saat Ivan menceritakan pengalaman yang lucu kepada mereka.
Sedangkan disudut lain di kantin. James yang sejak tadi duduk berkumpul dengan teman-temannya sekaligus mengawasi adiknya dari kejauhan. Tampak mengepalkan tangannya erat melihat Natasha bisa dekat dengan seorang pria. Bahkan adiknya itu terlihat tertawa lepas tanpa beban. Tawa yang hanya bisa ia lihat saat bercanda dengan Daniel kini terlihat pula saat bersama pria lain.