
Suasana di kampus kembali normal setelah beberapa waktu yang lalu sempat dihebohkan kabar adanya seorang mahasiswi yang hilang. Meski di luar sana kepolisian masih disibukkan dengan pencarian mahasiswi yang hilang itu, setidaknya sudah tidak ada lagi petugas kepolisian yang terlihat berseliweran untuk menggali informasi di lingkungan kampus. Ini bukan kasus pertama seorang mahasiswi Imperial College London menghilang secara misterius. Sebelumnya sudah ada tiga orang mahasiswi yang menghilang dan hingga kini belum ada titik terang di mana keberadan mereka. Bahkan dalam bentuk mayat pun belum berhasil ditemukan.
Sean yang saat ini tengah bersantai di taman kampus bersama Natasha, tampak awas memperhatikan sekelilingnya. Ia sebenarnya tidak merasa cemas dengan kehadiran polisi-polisi itu di kampus, karena ia tidak akan pernah dicurigai di lingkungan kampus. Sifat penyendiri dan dinginnya menutupi perbuatannya dengan baik. Di kampus, ia bukanlah termasuk pria idola. Tapi di luar kampus ia dengan mudah menjerat korban-korbannya dengan pesona penggoda. Lagi pula setiap korbannya hanya bertemu dengan Sean satu kali tepat disaat ajal akan menjemput mereka. Jadi itu membuat Sean merasa aman hingga sekarang, bahkan tersenyum senang dengan kesibukan polisi-polisi itu.
“Kau masih tinggal bersama kakak laki-lakimu itu, Nat?” tanya Sean yang bersandar di punggung Natasha, pandangannya tak lepas pada James yang berjalan memasuki kampus bersama seorang gadis.
“Ya, aku masih tinggal bersamanya,” jawab Natasha masih tetap fokus dengan buku di tangannya.
“Apa ada orang lain selain kalian?”
“Kenapa kau bertanya seperti itu?” Kali ini Natasha menoleh ke arah Sean dengan tatapan bingung.
“Dia terlihat bertindak seperti bukan kakakmu, apa dia pernah melukaimu?”
“James kakak angkatku. Sikap dia memang seperti itu sejak dulu.”
“Aku mengerti.”
Tatapan Sean yang beradu pandang dengan James, terlihat sama dinginnya dengan pria blonde itu. Ia tahu James tidak senang melihatnya bersama Natasha. Sebagai seorang pria, Sean bisa menilai sikap protektif James bukanlah sikap protektif yang ditunjukkan seorang kakak pada adiknya. Namun sikap seorang kekasih posesif yang ingin memperlihatkan kekuasaannya, dan itu membuat Sean muak dengan James.
“Sean, aku tidak sabar ke Spanyol.” Natasha yang teringat dengan tiket yang diberikan James terlihat senang.
“Apa?” Sean yang masih beradu pandang dengan James kini menoleh ke arah Natasha bingung.
“Beberapa hari lagi aku akan berlibur ke Valencia dengan James. Di sana akan ada festival La Tomatina. Aku tidak sabar menantikannya.”
“Lupakan saja,” dengus Sean tidak senang.
Wajah Natasha yang tadinya berseri, kini memudar digantikan rasa heran. “Kenapa?”
“Dia tidak akan menepatinya.”
“James sudah berjanji akan menemaniku,” kata Natasha keras kepala.
“Percayalah padaku Natasha, dia mungkin sudah lupa dengan janjinya itu sekarang,” erang Sean.
“Aku tahu kau tidak begitu menyukai James, tapi bisakah kau berhenti meragukannya!” pekik Natasha kesal. Ia langsung memberesi buku-bukunya dan beranjak pergi, mengabaikan Sean yang memanggilnya.
Umpatan pelan lolos dari mulut Sean. Inilah salah satu kesulitan yang harus dihadapi Sean saat bersama Natasha, gadis itu mudah sekali merajuk. Dengan langkah tergesa, Sean menyusul langkah Natasha untuk membujuknya kembali. Butuh waktu lama dan kesabaran ekstra saat menghadapi rajukan Natasha, tapi Sean mulai mengerti kenapa gadis itu terlihat kekanak-kanakan. Dari hasil penyelidikannya, Sean menemukan fakta bahwa Natasha nyaris tidak pernah dibesarkan seorang ibu. Lingkungan keluarga Romanov sebagian besar adalah pria. Mereka selalu mengawasi dan menuruti semua keinginan Natasha alih-alih membuat gadis itu belajar mandiri, serta usia Natasha yang masih labil membuat gadis itu lebih manja dari gadis seumurannya. Akhirnya hari itu mereka membolos kuliah. Sean mengajak Natasha berkeliling kota untuk membuat gadis itu tersenyum lagi.
***
James mengarahkan pandangannya ke jam yang bertengger di dinding. Ini bukan pertama kalinya Natasha pulang larut malam sejak mengenal pria bernama Sean. James sudah sering meminta Natasha untuk tidak pulang larut malam, tapi gadis itu memiliki banyak alasan untuk membantahnya. Tepat pukul sepuluh malam, pintu rumah terbuka. James bisa mendengar deru mobil menjauhi rumahnya setelah Natasha menutup pintu. Tidak salah lagi, Natasha pergi bersama Sean hingga larut malam seperti ini.
“Ya, Sean mengajakku keliling kota,” jawab Natasha pelan.
“Bisakah kau berhenti berteman dengan Sean, dia hanya membawa dampak buruk untukmu.”
“Tapi Sean temanku satu-satunya.” Natasha menatap James tak percaya.
“Apa susahnya mencari teman yang lain?”
Natasha menunduk lesu. Andai saja apa yang dikatakan James itu benar. Sejak Regina dan Ivan pergi, tidak ada satupun yang mau dekat dengannya. Teman-teman sekelasnya hanya datang saat mereka membutuhkan bantuan untuk menyelesaikan tugas, selebihnya mereka lebih suka menjauh. Sebagian dari mereka menjauh karena iri dan sebagian lagi tak ingin berurusan dengan gadis-gadis pemuja James yang sering membully Natasha. Hanya Sean yang peduli terhadapnya, bahkan tidak jarang melindunginya saat ia dibully.
“Sekarang masuk ke kamarmu,” perintah James.
Tanpa berkata-kata lagi Natasha melangkah menuju kamarnya. Pikirannya berkecamuk tentang banyak hal. Ia lalu teringat kata-kata Sean tentang liburan yang dijanjikan James padanya. Ragu-ragu Natasha kembali membalikkan badan, menatap James yang masih berdiri di sana mengamatinya.
“James, apa liburan ke Spanyol besok….”
“Liburan… liburan… apa hanya itu yang kau pikirkan Natasha,” sembur James memotong ucapan Natasha.
“Tapi bukankah kau…”
“Kapan kau akan berhenti bersikap kekanak-kanakan hah! Kau sekarang sudah kuliah, harusnya kau memikirkan perkuliahanmu. Bukan terus-terusan menghabiskan waktu untuk bersenang-senang. Aku telah salah mengharapkanmu bisa bersikap dewasa setelah masuk kuliah.”
Natasha menggigit bibirnya kecewa. Benar apa yang dikatakan Sean padanya, James telah melupakan janjinya untuk mengajak Natasha liburan ke Spanyol. Tanpa berbicara apa-apa lagi, Natasha melangkah ke kamar meninggalkan James yang masih menahan amarahnya di sana.
Sepeninggal Natasha, James memilih meredakan emosinya di dapur sekaligus mencari minuman. Sesampainya di dapur, ia melihat Grace yang tengah membereskan peralatan makan. Ia bahkan melupakan Grace yang masih tinggal bersamanya, pikiran James terlalu dipenuhi rasa cemburu melihat kedekatan Natasha dan Sean.
“Kau membutuhkan sesuatu James?” tanya Grace melihat pria itu masuk.
“Aku hanya ingin mengambil minum,” jawab James singkat. Ia berjalan menuju kulkas, tapi Grace menghalanginya.
“Duduklah, biar aku ambilkan. Kau butuh menenangkan diri, aku lihat kau sedikit kuwalahan mengurus Natasha.” Grace membimbing James duduk di kursi, setelah itu ia berjalan ke pantri untuk mengambilkan minuman untuk pria itu.
“Ya, sulit sekali mengajari Natasha untuk bersikap dewasa.”
Grace mengangsurkan segelas air pada James sembari tersenyum, “bersabarlah. Dia memang masih kecil, kau ingat?”
Segelas air itu langsung tandas begitu pindah ke tangan James. Pria itu menundukkan kepala untuk menenangkan diri, membiarkan Grace memijat pundaknya. Perlahan pijatan Grace terasa melenakan hingga membuat gairah James perlahan muncul. Ia bahkan membiarkan Grace masuk ke dalam pangkuannya. Dengan sensual, Grace menekannya hingga membuat kejantanan James berdenyut merasakan gairah yang semakin meningkat. Bibir gadis itu menjelajahi bibir James tanpa penolakan, bahkan tangan James menekan tengkuk Grace agar bisa ******* bibir gadis itu lebih dalam.
Tak butuh waktu lama keduanya telah telanjang bulat. Suara ******* dan erangan mengisi kesunyian ruang dapur. James tidak lagi sanggup berpikir jernih, yang dia inginkan hanyalah menuntaskan hasratnya yang terasa tidak bertepi. Ia juga tidak mempedulikan apakah Grace akan terluka dengan permainan kasarnya nanti. Semua terasa kabur selain gairah yang mendalam, hingga tidak menyadari persetubuhannya dengan Grace tanpa sengaja dilihat Natasha yang berniat mengambil minum.
Bersambung...