The Heiress'S Love

The Heiress'S Love
Bab 18. Love Me Like You Do



James menyandarkan bahunya di kusen pintu dapur, terdiam memperhatikan Natasha yang sibuk menyiapkan sarapan sembari menyenandungkan sebuah lagu. Rasa bahagia menyeruak dalam dadanya beberapa hari terakhir ini mengingat hubungannya dengan Natasha mengalami kemajuan pesat.


Dengan langkah pelan ia menghampiri Natasha yang masih sibuk dengan adonan Pancake untuk sarapan mereka. Begitulah Natasha. Sekalipun terlahir di dalam keluarga kaya raya, gadis itu tetap mau belajar memasak dan mungkin itu juga salah satu pelarian Natasha saat merasa kesepian.


“Butuh bantuan?” Sapa James yang langsung memeluk Natasha dari belakang hingga gadis itu terjengit kaget.


“Tidak usah. Aku biasa melakukannya sendiri.” Kata Natasha menoleh sekilas untuk melihat senyum kakaknya itu.


“Kau yakin?” Ucap James lirih di telinga Natasha.


Hangat nafas James yang menyentuh kulit membuat bulu kuduk Natasha meremang. Tidak cukup sampai di situ, James justru semakin memperparah keadaan dengan mengecup cuping telinganya. Mengulum dan memainkan lidahnya di sana.


“James.” Gumam Natasha gusar.


“Aku mencintaimu Natasha hingga membuatku gila harus menahan ini.” Bisik James parau. Ditelusurinya permukaan kulit leher Natasha yang terasa halus dengan pucuk hidung dan memberikan kecupan-kecupan hangat di sana.


“James.” Erangan lirih kembali meluncur dari bibir Natasha seolah meminta kakaknya itu untuk tersadar dari apa yang dilakukan James. Namun pria itu justru membalikkan tubuh Natasha, memagut bibir mungil yang setengah terbuka itu dan mencumbunya tanpa ampun. Ia bahkan tidak sadar saat James sudah memangkunya di kursi makan. Pria itu tidak memberinya kesempatan untuk lepas dari gairah yang semakin mencengkeram tubuh.


“I love you Natasha.” Gumam James tidak berhenti mencumbu Natasha hingga gadis itu bergelenyar hebat dalam rengkuhannya. Ia membiarkan Natasha bersandar pada dadanya dengan nafas tersengal. Ia bisa merasakan dentaman di dada natasha sama keras dengan jantungnya.


“A… apa daddy akan marah kalau mengetahui ini semua James?” Tanya Natasha dengan nada ketakutan, mengusik James yang tengah berjuang meredakan hasratnya.


Sesaat James tercenung mendengar pertanyaan Natasha. Itulah yang selama ini mengganggu pikirannya. Ia tahu Romanov akan merasa sangat kecewa terhadapnya, tetapi rasa sayang dan cinta yang berada dalam hatinya selama ini sangat sulit untuk ia enyahkan.


“Jangan cemas. Aku akan bicara dengan daddy nanti.” Ucap James lembut mencium dahi Natasha.


Akhirnya setelah hampir setengah jam tertunda, mereka pun melanjutkan memasak dan sarapan bersama layaknya seorang kekasih yang tengah dilanda mabuk cinta. James berubah menjadi pria yang sangat penyayang dan perhatian terhadap Natasha. Sedangkan Natasha yang mendapatkan perlakuan istimewa dari James merasakan hatinya berbunga-bunga hingga wajahnya tidak bisa menyembunyikan rona hampir disetiap waktu.


Tidak hanya pagi di hari yang cerah itu James memperlakukan Natasha sebagai kekasih. Hari-hari selanjutnya pun ia masih bersikap sama. Bahkan sekarang pria itu rela menunggu hingga jam kuliah Natasha selesai untuk bisa pulang bersama.


Hubungan mereka yang semakin dekat itu ternyata tidak semua orang menyukainya terutama para gadis yang sekampus dengan mereka. James merupakan salah satu pria idola di kampus. Mengetahui pria pujaan menggandeng gadis yang jauh sangat muda dari pria itu atau sebagian besar mahasiswi di sana jelas menimbulkan rasa iri dan dengki. Tidak hanya sekali, dua kali Natasha mendapat perlakuan tidak menyenangkan tetapi semua itu ia simpan rapat-rapat agar kakaknya tidak ada yang mengetahui.


“Tasya, aku akhir-akhir ini berpikir untuk membawamu pindah ke rumahku. Apa kau bersedia?” Tanya James suatu hari saat mereka dalam perjalanan pulang dari kampus.


Natasha yang tengah menahan nyeri di punggung setelah terbentur salah satu meja di kampus akibat seorang gadis mendorongnya tadi, sedikit tidak memperhatikan ucapan James barusan. Karenanya ia menoleh pada pria itu dengan tatapan bingung dan bertanya-tanya.


“Hem.” Gumam Natasha.


“Mansion Daniel?” Tanya Natasha tidak mengerti.


“Bukan. Rumahku sendiri. Aku memiliki rumah sendiri di London.” Terang James.


“Apa tidak apa-apa kita tinggal bersama?” Selidik Natasha.


“Selama ini kita juga tinggal bersama Tasya.” Kekeh James geli, “aku hanya memikirkan… apartemen yang diberikan Daniel terlalu jauh dari kampus dan kebetulan rumah yang aku miliki tidak begitu jauh dari kampus jadi akan lebih mudah kita tinggal di rumahku dan tidak membuang waktu di jalan. Bagaimana?”


“Aku mengikut saja.” Jawab Natasha tidak keberatan.


“Baiklah, kita mampir ke sana sekarang.”


James langsung memacu mobil miliknya menuju rumah Compton Aveneu yang sudah lama ia tinggalkan karena memilih tinggal bersama Natasha di mansion Daniel dulu. Sesampainya di tempat yang mereka tuju, James langsung menggandeng Natasha memasuki rumahnya yang tidak sebesar mansion milik Daniel.


Diliriknya Natasha yang berjalan di sampingnya. Gadis itu tampak terlihat senang meski rumah itu kalah mewah dengan mansion bahkan apartemen yang mereka gunakan akhir-akhir ini. Tanpa disadari, James tersenyum lega. Rumah ini memang rumah hasil jerih payahnya bekerja selama ini. Memang tidak besar karena ia menyiapkan rumah lain yang akan ia hadiahkan pada Natasha suatu hari nanti yang berada di Rusia.


Sejak malam ulang tahun Natasha, James memang bertekad untuk tidak menyembunyikan lagi perasaan pada gadis itu. Melihat seorang pria lain menyentuh Natasha berhasil merajam hati James karena itulah ia berjuang untuk meraih hati Natasha dan usahanya berhasil, sekarang hanya tinggal satu masalah yang harus ia hadapi. Berterus terang pada ayah angkatnya. Romanov.


“Kau suka?” Tanya James harap-harap cemas setelah berkeliling melihat-lihat rumah.


“Ya, aku suka.”


Hanya kata-kata itu yang dibutuhkan James. Sejak itu juga mereka akhirnya pindah ke rumah itu. Menjalani hari dengan penuh kemesraan. Tidak terbantahkan kalau mereka sangat bahagia bersandingan satu sama lain. Sikap hangat James langsung meluluhkan Natasha hingga nyaris ketergantungan dengan kakaknya itu. Hingga suatu pagi yang cerah mereka bangun dengan senyum menghiasi bibir tanpa mengetahui sebuah badai sedang berjalan ke arah mereka.


Seperti biasa setiap pagi, James membantu Natasha menyiapkan sarapan saat suara bel pintu rumah terdengar nyaring mengusik kegiatan mereka.


“Biar aku yang membuka.” Sergah James melihat Natasha akan beranjak keluar dapur.


Natasha mengangguk setuju dan meneruskan pekerjaan menyiapkan sarapan untuk mereka berdua, membiarkan James yang berjalan cepat ke depan karena suara bel pintu masih terdengar berbunyi. James menggerutu dalam hati, menyumpahi siapa saja yang berada di balik pintu yang dengan seenaknya sendiri telah mengganggu paginya yang cerah.


Hanya saja, umpatan yang nyaris meloncat dari mulutnya langsung tertelan dengan cepat begitu melihat siapa yang berada di ambang pintu begitu James membuka pintu.


“Good morning James, apa kau merindukanku?”


Bersambung...