The Heiress'S Love

The Heiress'S Love
Bab 10. Sorrow



Kastil terlihat mencekam saat Romanov menapakkan kaki di sana tengah malam. Kelap-kelip lampu mobil polisi sudah terlihat menghiasi halaman begitu dia memasuki gerbang. Ia telah menerima pesan singkat tadi kalau kastil diserang namun posisinya yang masih berada sangat jauh dari tempat itu membuat Romanov tidak bisa berbuat apa-apa selain menghubungi anak buah yang berada di dekat sana untuk memberikan bantuan.


Para polisi sudah memindahkan beberapa mayat ke dalam kantung, sebagian besar yang berada di halaman adalah para penjaga kastil. Dengan langkah gontai, Romanov mendekati Jason yang datang lebih awal, sedang memberikan keterangan pada kepala polisi. Di belakangnya, Daniel berjalan bersama Quentin sama syoknya seperti dia.


Jason yang menyadari keberadaan Romanov meminta waktu sebentar pada kepala polisi untuk menemui si pemilik kastil. Jason sudah datang secepat yang ia bisa saat menerima pesan kastil diserang, namun serangan Braga yang cukup singkat membuatnya harus menelan ludah menyadari betapa terlambatnya dia datang.


“Romanov, maafkan aku.” Kata Jason penuh penyesalan.


“Kau sudah berusaha semaksimal mungkin J.” Ujar Romanov menepuk bahu temannya itu, “bagaimana keadaan Bella dan Tasya?” tanyanya nyaris tercekat.


“Bella masih di dalam.” Jawab Jason tanpa mau menjelaskan apa-apa.


Romanov memutuskan untuk masuk diikuti Jason, Daniel dan Quentin. Pemandangan di dalam tidak jauh berbeda dengan di luar. Ceceran darah menghiasi setiap sudut ruangan. Romanov masih bisa melihat para polisi memindahkan mayat-mayat di sana. Bahkan pelayan kastil pun tidak luput dari pembantaian pria bengis itu.


“Bella di ruang keluarga.” Kata Jason menunjukkan lorong sebelah kanan.


Ia hanya bisa mengangguk pelan. Di dalam hati, Romanov masih berharap Bella dalam keadaan baik-baik saja. Saat berjalan menuju ruang keluarga, ia melihat seorang polisi memasukkan Nathan, anak angkatnya, ke dalam kantong mayat. Daniel yang melihat itu langsung berlari menerjang ke polisi itu untuk melihat Nathan.


Entah mengapa Romanov merasa harapannya menguap begitu melihat mayat Nathan yang bersimbah darah terbujur kaku di ambang pintu. Di dalam ruangan itu ada beberapa polisi lainnya yang langsung menoleh dan menunduk hormat melihat kedatangan Romanov.


Perlahan Romanov mendekati sesosok mayat yang telah ditutupi kain. Dalam hati ia terus merapalkan harapan agar mayat itu bukan mayat istrinya. Seolah mengerti keadaan, para polisi itu memberikan ruang untuk Romanov. Dengan tangan bergetar Romanov membuka kain penutup itu. Seketika ia tertunduk lemas. Bellanya pergi dengan cara mengenaskan.


“Maafkan aku Bella, maafkan aku yang tidak bisa melindungimu.” Isak Romanov merengkuh mayat Bella dalam pelukan, “seharusnya aku tidak meninggalkanmu.”


Air mata Romanov jatuh berderai melihat belahan hatinya telah tewas. Daniel yang baru saja mendekati mamanya ikut menangis di samping Romanov. Ia terus memanggil mamanya seraya mengguncang tubuh Bella.


“Bella!!!”


Raungan Romanov menggelegar memecah keheningan malam itu. Semua orang yang mendengar hanya bisa tertunduk ikut merasakan kepedihan yang mendalam. Siapa pun orang se Moskow tahu jika calon pengganti Vladimir itu sangat mencintai istri dan anak-anaknya. Pembantaian mengerikan ini pastilah mengoyak hatinya.


Setelah keadaan mulai tenang dan Romanov mulai bisa menguasai diri, membiarkan para polisi membawa Bella untuk otopsi, Jason mendekat untuk menguatkan temannya itu sekaligus ingin menanyakan keponakan perempuannya yang belum ditemukan hingga sekarang.


“Tasya…” Gumam Romanov seakan terbangun dari tidur, “di mana Tasya, di mana anakku?” tanyanya memperhatikan orang-orang di sekitarnya.


“Kami belum menemukan Natasha dan James sampai sekarang Romanov.” Jawab Jason.


“Tidak! Aku akan membunuh bajingan itu jika membawa Tasya pergi!!!” murka Romanov.


“Tenanglah, aku sudah menyuruh anak buahku mencari Natasha dan James di sekitar kastil.” Hibur Jason.


Romanov tampak meremas rambutnya dan berjalan mondar-mandir mencoba berpikir jernih.


“Dad, James dan Tasya sering bersembunyi di taman belakang. Mungkin mereka di sana.” Sela Daniel.


Sesampainya di sebuah jembatan yang hampir roboh, Daniel menunjukkan jalan setapak untuk turun ke bawah jembatan. Dibantu Jason yang memegang senter untuk penerang, Romanov turun untuk memeriksa.


Rasa lega dan bahagia langsung menghampiri Romanov begitu melihat kedua anaknya meringkuk di sana. James mengangkat tangannya untuk menghalangi cahaya yang menyilaukan mata. Dalam dekapannya, Natasha masih tertidur pulas.


“James… Tasya….” Panggil Romanov mengulurkan tangannya.


Setelah memastikan yang datang adalah ayah mereka, James mulai beringsut maju, “daddy.” Sahutnya dengan suara serak.


“Kemarilah sayang, semua sudah aman.” Kata Romanov dengan suara tercekat, ia langsung membantu James mengangkat Tasya.


Jason yang memegangi penerang ikut mengulurkan tangannya membatu James keluar. Kedua bocah itu hampir mengalami hipotermia di sana akibat cuaca dingin dengan air yang hampir menyentuh tubuh mereka. Setelah semua berhasil naik, para polisi mengangsurkan selimut untuk menghangatkan anak-anak itu.


Air mata Romanov kembali berderai melihat Natasha dalam keadaan baik-baik saja. Ia memeluk putri kecilnya erat memasuki kastil. Dia sangat bersyukur memiliki James, berkat anak itu Natasha berhasil selamat.


Dua hari setelah kejadian mengerikan itu. Semua korban yang meninggal dunia mulai dikubur di pemakaman umum secara bersamaan. Banyak di antara korban adalah para penjaga dan pelayan kastil. Sedangkan para tamu yang kebetulan masih di sana saat kejadian, dikuburkan secara terpisah oleh keluarga masing-masing.


Cuaca mendung menutupi langit Moscow sejak pagi. Salju turun dengan perlahan meski sudah berada di awal musim semi. Para pelayat memenuhi pemakaman untuk memberikan penghormatan terakhir. Romanov hanya bisa menatap kosong peti istrinya saat perlahan diturunkan ke liang lahat. Hanya ada Daniel yang menemani menyaksikan pemakaman Bella. Putri kecilnya masih dirawat intensif di tempat yang dirahasiakan, sedangkan James masih menjalani penanganan medis untuk memulihkan tubuh setelah terkena hipotermia ringan. Di depan makam Bella, Romanov berjanji akan menghabisi nyawa Braga dengan tangannya sendiri.


***


Terdengar raungan ketakutan dari salah satu bangsal rumah sakit. Ini sudah terjadi selama sepekan dan selalu berasal dari tempat yang sama. Satu-satunya yang bisa menghentikan teriakan itu adalah dokter yang memberikan obat penenang setiap pasien istimewa itu sadar dan mulai berteriak.


“Kita tidak bisa membiarkan ini terus terjadi Romanov.” Kata Jason berdiri di depan Romanov yang tertunduk kalut, “kau harus memindahkannya segera.”


“Tasya tidak gila!!!” bentak Romanov.


“Natasha memang tidak gila, tapi dia depresi. Dia membutuhkan penanganan khusus di tempat lain.” Pinta Jason yang mulai khawatir dengan kemajuan kesehatan Natasha pasca tragedy itu.


Romanov meremas rambutnya frustasi. Ia tidak mengira putri kecilnya akan terguncang hebat. Ia ingin tahu apa yang dilakukan Braga pada Natasha saat itu hingga putrinya tidak berhenti menangis histeris dan berteriak ketakutan setiap membuka mata.


“Lakukan untuk Natasha, itu yang terbaik.” Bujuk Jason.


“Siapkan segala keperluan untuk Natasha, siapkan psikiater terbaik di seluruh dunia.” Pinta Romanov akhirnya. Ia tidak bisa melihat Tasya tersiksa lebih lama meski itu berarti mereka harus berpisah entah berapa lama.


“Terus awasi Natasha jangan sampai lengah sedikitpun.” Perintah Romanov sebelum beranjak menuju bangsal Natasha untuk melihat keadaannya.


Malam itu juga Natasha dipindahkan ke sebuah tempat rahasia untuk menjalani terapi mental setelah mengalami goncangan hebat pasca pembantaian dan pembunuhan ibunya di depan mata kepalanya sendiri. Hanya segelintir orang yang tahu kemana Natasha dipindahkan. Sedangkan informasi yang disebarkan pada masyarakat, Romanov menyatakan tidak ada yang selamat saat terjadi penyerangan. Istri dan putri kecilnya serta dua anak angkatnya ikut menjadi korban dalam serangan tersebut.


Setelah konferensi pers yang diadakan secara mendadak di halaman kastil. Romanov menutup diri hingga berbulan-bulan lamanya. Hanyut dalam kesedihan yang mendalam. Kastil yang dulu dipenuhi keceriaan kini menjadi tempat yang sunyi senyap. Tidak ada lagi keceriaan dan kehangatan setiap memasuki tempat itu, hanya akan ada kemuraman yang menyapa siapa saja yang masuk kesana.


Bersambung...