
Phillip mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan kamar VVIP Robert. Memperhatikan peralatan medis yang masih melekat di tubuh putranya. Helaan napas panjang kembali terdengar. Pikirannya terasa kalut sejak Romanov pergi begitu saja, ia berharap sahabatnya itu akan kembali dengan selamat. Saat Romanov pulang nanti, dia akan meminta maaf karena tidak bisa membantunya. Setidaknya Phillip sempat menyuruh Orlando adiknya untuk menyusul mereka meski sekarang belum terdengar kabar apa-apa.
Lamunannya buyar ketika mendengar keributan di luar bangsal. Segera ia melangkah keluar memeriksa apa yang terjadi. Julia tengah berusaha menenangkan anak pertamanya yang baru datang. Thomas menangis histeris di dalam pelukan istrinya. Phillip mendekati mereka dengan wajah gusar.
“Ada apa ini?” Tanya Phillip.
Julia menoleh dengan tatapan kesedihan yang dalam. “Rumah Romanov hancur.”
“Apa maksudmu?” Tanya Phillip sedikit terguncang mendengar jawaban istrinya.
“Saya dan Tuan Muda baru saja ke rumah Tuan Romanov untuk memeriksa keadaan Tuan Muda Daniel. Saat kami pergi, rumah itu tiba-tiba saja meledak,” terang sopir Thomas. Menggantikan Julia yang kini sibuk menenangkan Thomas.
“Siapa yang meledakkan rumah itu?” wajah Phillip terlihat semakin gusar.
“Saya tidak tahu Tuan.”
Phillip mengusap wajahnya kasar. “Lalu di mana Daniel, apa dia bersama kalian?”
“Tuan Muda Daniel berada di dalam rumah itu, Tuan.”
Bagai disambar petir, Phillip membelalakkan matanya tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Ia kemudian duduk, membenamkan kepalanya yang terasa berat di antara kedua tangannya. Hanya satu harapan terakhirnya. Berita dari Orlando. Dengan lesu ia meraih ponselnya untuk menghubungi adiknya itu.
“Bagaimana hasilnya?” Tanya Phillip begitu telepon tersambung dengan Orlando.
“Aku kehilangan jejak mereka Phillip. Sudah satu jam kami berusaha melacaknya, tapi tidak berhasil.”
Phillip menghela napas panjang. “Kalian kembalilah ke sini jika dalam satu jam ke depan masih belum bisa melacak Romanov.”
“Baik.”
Disimpannya kembali ponsel miliknya ke dalam saku, kemudian Phillip menghampiri Julia dan Thomas yang sekarang sudah tenang. Diusapnya kepala Thomas, baru kali ini Phillip melihat anak pertamanya itu menangis. Ia tahu Thomas dan Daniel memang tidak terpisahkan seperti dirinya dan Romanov sebelum… Phillip mengenyahkan pikiran buruknya, ia akan terus mencari kabar tentang Romanov. Pria itu kuat, akan sangat sulit bagi Braga untuk mengalahkan Romanov.
“Semua akan baik-baik saja Thomas.” Hibur Phillip.
“Tapi dad, Daniel ada di sana. Seharusnya aku mengajaknya pergi meski pun dia menolaknya, seharusnya aku tidak meninggalkannya sendirian,” isak Thomas.
“kita cari Daniel nanti, mungkin saja dia selamat.” Kata Phillip membenamkan putranya dalam pelukan.
***
Setelah malam tiba. Phillip mengumpulkan beberapa anak buah kepercayaannya untuk mempersiapkan rencana pindah ke Spanyol, tempat kelahiran Julia. Sudah tidak ada lagi yang bisa diharapkan di Italia mengingat keluarga yang dimilikinya telah hilang tanpa kabar. Mereka berencana akan pergi esok hari dan malam ini mereka akan mempersiapkan semuanya termasuk persiapan memindahkan Robert yang tak kunjung sadar.
“Apa ada kabar dari Romanov?” tanya Julia melihat suaminya memasuki kamar VVIP Robert.
“Tidak ada kabar sama sekali,” jawab Phillip lesu.
“Astaga bagaimana keadaan Bella saat ini,” ucap Julia cemas.
Phillip mengusap punggung Julia. “Romanov pasti menemukannya.”
“Semoga saja. Aku mencemaskan Bella dengan bayinya,” gumam Julia.
“Bayi?” kening Phillip berkerut.
“Bella hamil, kami baru akan memeriksakan ke dokter kemarin saat mereka menculiknya,” terang Julia.
Phillip mengusap wajahnya kasar. Tahu betul bagaimana kejamnya Braga memperlakukan wanita, ia berharap Bella kuat menghadapinya untuk sementara waktu.
Setelah keheningan cukup lama, Phillip kembali membuka suara. “besok kita pindah ke Spanyol. Tidak aman bagi kita tetap di sini. Braga pasti akan membalas dendam.”
“Bagaimana dengan Romanov dan lainnya?” tanya Julia gusar.
“Aku yakin mereka akan berada di tempat yang aman,” kata Phillip meyakinkan istrinya.
***
Pagi menjelang dengan cepat. Semua sudah siap untuk pindah. Phillip menyiapkan dokter dan perawat khusus Robert. Satu persatu mereka mulai menaiki pesawat pribadi yang sengaja disiapkan untuk perjalanan mereka. Hanya segelintir anak buah Phillip yang bertahan di Palermo, orang-orang yang sengaja ditugaskan Phillip untuk mencari kabar Romanov.
Tak sampai setengah hari mereka telah sampai di Valencia, Spanyol. Keluarga Julia telah menanti kedatangan mereka. Dengan cekatan Robert segera dipindahkan. Kali ini putra kedua Phillip tidak lagi ditempatkan di rumah sakit melainkan di palazzo kediaman Ortis. Rumah yang akan menjadi tempat tinggal mereka selanjutnya.
Peter dan Jeremy yang merupakan sepupu Julia menyambut rombongan Phillip langsung. Tidak ketinggalan anak-anak mereka yang seumuran dengan Robert. Mereka terlihat senang dengan kedatangan keluarga dari Italia. Namun terselip rasa sedih melihat keadaan Robert yang belum menunjukkan kemajuan. Keluarga Julia memang sudah mendengar apa yang terjadi di Palermo karena itulah mereka begitu senang saat Phiilip mengatakan akan pindah ke Valencia.
Saat semua orang dewasa berkumpul di ruang keluarga. Alan dan Rafael yang merupakan putra Peter Sander dan Jeremy Wendler menemani Robert disebuah kamar yang sudah disulap sedemikian rupa menjadi tempat perawatan.
“Bodoh, dia itu sedang koma,” dengus Alan menjitak kepala Rafael.
“Alasan. Dia itu hanya malas saja,” kata Rafael tidak terima.
“Kau ini,” decak Alan.
“Apa dia tidak ingin melihat kita, biasanya setiap ke sini Robert bermain dengan kita kan?” keluh Rafael sambil mencubit-cubit pipi Robert.
“Jangan mengganggunya, biarkan dia istirahat,” tegur Alan menyingkirkan tangan Rafael.
“Apa Robert tidak bosan tidur terus.” gumam Rafael yang kini menumpukan kepalanya pada tangan menatap Robert lekat-lekat.
“Kalau kau terus saja cerewet seperti itu, mungkin saja dia bangun,” sahut Alan mulai jengah.
“Ah ide bagus!” Rafael menjentikkan jarinya mendengar saran Alan sedangkan Alan hanya bisa menggeleng pelan.
Belum sempat Rafael melancarkan aksinya. Jemari Robert terlihat bergerak-gerak diiringi lirihan kecil. Membuat Rafael dan Alan saling menatap bingung. Sedetik kemudian Alan berlari keluar kamar mencari ayahnya. Sedangkan Rafael justru mendekati Robert dengan cengiran khasnya.
“Hai pemalas, cepat bangun. Ayo kita main,” Kata Rafael tersenyum lebar.
Robert yang baru saja membuka matanya mengerjap-ngerjapkan pelupuk matanya untuk menyesuaikan dengan cahaya disekitarnya. Dipandanginya seorang bocah yang berada sangat dekat dengannya.
“Kau ini siapa?” tanya Robert lirih.
“Aku ini Rafael. Masak kau tidak ingat?!” decak Rafael kesal.
Robert menggeleng pelan. Jangankan nama bocah itu, rasa-rasanya ia sendiri tidak ingat siapa namanya. Belum sempat ia menanyakan tentang tempat atau pun dirinya, dari arah pintu terlihat beberapa orang dewasa masuk. Salah satunya adalah seorang pria berpakaian dokter yang langsung memeriksa keadaan Robert.
Setelah dokter selesai memeriksa, Julia langsung berhambur memeluk putranya. Menghujaninya dengan ciuman diwajah Robert. “Akhirnya kau sadar sayang,” ucapnya dengan setitik air mata kebahagiaan disudut matanya.
Berbeda dengan Julia dan siapapun yang ada di sana menatap Robert penuh bahagia, anak itu justru terlihat linglung.
“Nyonya siapa?” tanya Robert takut-takut. “Aku di mana dan… siapa aku?”
Pertanyaan Robert yang bertubi-tubi langsung menyusutkan senyum Julia, ia menoleh pada dokter yang masih berdiri di sana. “Apa yang terjadi dengan putraku?”
Dokter itu kembali mendekati Robert, memeriksanya sekali lagi dan memberikan beberapa pertanyaan mendasar. “Sepertinya putra nyonya mengalami amnesia akibat benturan keras.”
“Apa dia akan baik-baik saja?” sahut Phillip yang tidak kalah cemas.
“Tuan muda akan baik-baik saja. Ingatannya akan kembali pulih hanya saja semua itu jangan dipaksakan karena kemungkinan akan membuat Tuan muda sakit kepala,” terang dokter itu.
Phillip menghela napas panjang mendengar penjelasan sang dokter. “Terima kasih dokter.”
Setelah merasa tidak dibutuhkan lagi, dokter itu keluar meninggalkan keluarga Marquizze didalam kamar.
“Sayang, aku ini mamamu dan dia daddymu,” kata Julia mengelus puncak kepala Robert.
Robert mengangguk memahami perkataan mamanya. Ia pun tersenyum senang setelah itu.
“Aku rasa, biarkan Robert melupakan semuanya,” kata Phillip disambut anggukan Julia.
Ya… mereka memilih agar Robert melupakan semuanya, karena mereka sudah tidak akan bisa lagi menemukan keberadaan Romanov setelah kabar terakhir yang didapat dari Italia menyebutkan tak ada yang selamat dari keluarga Romanov. Semua telah hilang, ditelan kekejaman Braga.
***
Di tempat lain, perbatasan Eropa-Rusia.
Romanov mendekap istrinya erat. Kondisinya masih sedikit lemah, tetapi mau tidak mau Romanov harus membawanya pergi secepat mungkin keluar dari Italia. Beruntung aliansi yang dimiliki Jason mau menampung mereka sementara waktu.
Dilayangkannya pandangan keluar jendela, awan putih tampak menggantung di bawah pesawat mereka menutupi pemandangan ke darat. Ia mengingat kebersamaannya dengan Phillip yang harus berakhir dengan cara menyakitkan. Ia sengaja membuat kabar bahwa dia dan keluarganya telah mati agar Phillip tidak lagi mencarinya. Perseteruannya dengan Braga belum berakhir, pria itu mungkin saja akan menyerang Phillip jika mengetahui mereka masih berhubungan. Dan dengan cara ini, ia harus pergi tanpa melibatkan Phillip dalam kehidupannya lagi.
Romanov mengalihkan pandangannya pada Daniel yang terlelap di kursi penumpang bersama ke dua saudara yang baru saja dia angkat. Nathan dan James. Setidaknya kehadiran kedua bocah itu bisa menggantikan Thomas untuk menemani kesepian Daniel. Namun itu tidak akan lama, karena sebentar lagi Daniel akan memiliki adik. Diusapnya perut istrinya dan mengecup puncak kepala Bella.
“Aku mencintaimu Bella. Bertahanlah, sebentar lagi keluarga kecil bahagia yang kita impikan akan segera terwujud,” bisik Romanov lirih.
Bella mengangguk bahagia. “Aku mencintaimu Romanov. Selamanya hanya dirimu.”
Bersambung...