
“Aku masih marah.”
Perkataan Natasha yang terdengar sayup-sayup dari luar kamar, berhasil membuat James yang tengah melintas menghentikan langkahnya. Dengan hati-hati ia melihat keadaan di dalam kamar melalui celah pintu yang tidak tertutup rapat. Ia melihat Natasha tengah melakukan video call dengan Daniel, hal yang sering dilakukan Natasha sejak kakaknya itu pindah ke New Castle.
“Aku akan mengunjungimu saat akhir pekan Tasya, lagi pula masih ada kakakmu yang lain bersamamu.” Kata Daniel.
“Dia jarang di rumah. Aku kesepian Daniel.” Rajuk Natasha mengerucutkan bibir.
“Kau bisa bilang padanya kalau kamu kesepian. Mungkin dengan begitu dia mau meluangkan waktu untukmu.” Saran Daniel.
Natasha menumpukan kepalanya pada tangan kiri merengut kesal, posisinya yang tengah tengkurap di kasur membuatnya tidak menyadari keberadaan James yang mengawasinya di ambang pintu.
“Daniel… Kenapa Nathan berubah? Dia sekarang menjauhiku.” Ucap Natasha sedih.
Daniel tampak menghela nafas panjang, “dia hanya sibuk Tasya. Kuliahnya hampir selesai, dia pasti kerepotan mengurus tugas-tugas kuliahnya.”
Di luar kamar, James pelan-pelan merapatkan kembali pintu kamar Natasha. Ia lalu bersandar di dinding dengan mata terpejam. Sampai detik ini rasanya masih sama, rasa sakit itu menyusup di relung hati.
“Aku ingin Nathan yang dulu.” Gumam Natasha.
“Bersabarlah…” Kata Daniel, “bagaimana kalau kamu tidur, ini sudah larut malam?”
“Nyanyikan lagu spesial.” Pinta Natasha.
“Baiklah.”
Daniel pun mulai menyanyikan lagu lullaby untuk Natasha.
Tili Tili bom,
Zakroy glaza skoree,
kto-to hodit za oknom I stuchitsya v dveri.
Tili Tili bom,
krichit nochnaya ptitsa,
on ezhe probralsya v dom k tem,
komu ne spitsya.
On idet,
On uzhe
Blisko.
Tili Tili bom,
Ty slyishish, kto-to ryadom?
pritailsya za uglom I pronzaet vzglyadom.
Tili Tili bom,
vse skroet noch nemaya,
za toboy kradetsya on I vot-vot poymaet.
On idet
On uzhe
Blisko
“Aku rindu nyanyian Nathan.” Bisik Natasha sebelum jatuh terlelap tidur.
James yang masih berada di luar ikut menyenandungkan lullaby meski terdengar lirih. Bukan dia yang selama ini diinginkan Natasha tapi orang lain, ia hanya akan selalu menjadi bayangan orang tersebut.
***
Natasha berjalan mengikuti Regina dengan wajah murung. Mereka kini tengah berada di hiruk pikuk keramaian bandara internasional London. Baru beberapa hari yang lalu Daniel meninggalkannya ke New Castle sekarang Regina pun ikut meninggalkannya. Regina memang akan berangkat ke Amerika. Bukan untuk kunjungan liburan melainkan untuk pindah kuliah.
“Haruskah kau pindah ke Amerika?” Rajuk Natasha.
“Sayangnya iya. Kau tahu kan, keluargaku semua pindah kesana.” Kata Regina dengan wajah penyesalan.
“Kau menyebalkan sekali, kenapa tidak tetap di sini saja?” Gerutu Natasha.
“Kau tahulah papaku seperti apa. Papa tidak mau aku jauh-jauh dari keluarga.” Kata Regina menggenggam tangan Natasha, “aku pasti akan merindukanmu.”
“Aku pasti bakal tambah kesepian.” Ucap Natasha.
“Tenang, masih ada Ivan.” Kata Regina menoleh ke arah pria yang sejak tadi mengikuti langkah mereka.
“Tuh kan, Ivan bisa kau andalkan.” Sahut Regina.
Natasha menatap Ivan tersenyum malu. Mungkin hanya Ivan satu-satunya pria yang dekat dengan Natasha dan terang-terangan memberikan perhatian manis pada gadis itu.
“Kalian manis sekali.” Ucap Regina melihat Natasha menjadi salah tingkah.
Wajah Natasha semakin memerah mendengar ledekan Regina, sedangkan Ivan memandanginya sambil tersenyum hangat.
“Kau akan ke London lagi kan saat liburan?” Tanya Natasha mengalihkan pembicaraan.
“Tentu saja. Aku akan mengunjungimu nanti.” Jawab Regina.
“Aku akan menunggu kedatanganmu.” Ucap Natasha.
Mereka pun saling berpeluka sebelum berpisah karena pesawat yang akan mengantar Regina menuju Amerika akan segera lepas landas. Dengan berat hati, Regina meninggalkan Natasha dan Ivan. Kedua sahabat baiknya selama kuliah di London.
Setelah pesawat yang ditumpangi Regina lepas landas, Ivan mengajak Natasha untuk pulang. Tapi saat melihat wajah murung Natasha, Ivan menjadi tidak tega. Akhirnya ia mengajak Natasha untuk jalan-jalan terlebih dahulu keliling kota untuk menghibur gadis itu.
Banyak tempat yang mereka singgahi hingga tidak terasa waktu sudah larut malam saat mereka berada di London Eye. Dari puncak London Eye, mereka bisa melihat gemerlap kota London dimalam hari sekaligus kerlip lampu yang terpantul dari aliran sungai Thames di bawahnya.
“Apa kamu pernah kesini sebelumnya?” Tanya Ivan merapatkan pelukannya pada Natasha yang terlihat kedinginan.
“Belum pernah. Daniel jarang sekali memiliki waktu untuk liburan sedangkan Regina biasa mengajak jalan-jalan untuk berbelanja.” Jawab Natasha.
Diam-diam Natasha menyukai Ivan. Pria hangat yang selalu ada untuk mengusir kesepiannya saat malam hari meski hanya melalui pesan singkat atau pun video call.
“Kakakmu benar-benar pekerja keras ya, tidak heran jika Daniel bisa sukses diusia muda.” Kata Ivan.
“Iya tapi itu membuatku kesepian karena jarang bertemu.” Keluh Natasha.
“Jangan khawatir, aku akan menemanimu.” Kata Ivan memandangi Natasha.
“Kau tidak akan pergi seperti Daniel atau pun Regina kan?” Tanya Natasha cemas.
“Tidak. Aku akan selalu disampingmu.” Jawab Ivan meyakinkan Natasha, gadis manis yang telah mencuri hatinya.
Senyum Natasha pun mengembang mendengar pernyataan Ivan, begitu pun Ivan yang tersenyum melihat kebahagiaan yang terpancar dari ke dua bola mata Natasha. Ivan mengusap lembut pipi Natasha dan memberikan kecupan hangat di kening gadis itu.
***
Hampir sebagian besar lampu di mansion sudah mati saat Natasha memasuki rumah mewah itu. Ia sangat senang berkeliling kota dengan Ivan hingga lupa waktu. Itu lebih baik dari pada pulang ke rumah hanya menemukan kehampaan dan kesepian yang selalu menyergapnya.
Tanpa berpikiran buruk, Natasha melintasi hall utama untuk naik ke lantai dua di mana kamarnya berada. Namun langkahnya langsung berhenti saat mendapati kakaknya, James, duduk di anak tangga paling bawah seolah sedang menunggu dia pulang.
“Dari mana saja kau?” Tanya James dingin.
Sorot mata James yang tajam dan tidak bersahabat membuat Natasha mengencangkan cengkeraman tangan pada tas selempangnya.
“Mengantar Regina ke bandara.” Jawab Natasha lirih.
“Memangnya jam berapa pesawatnya berangkat hingga kau pulang selarut ini?!” Kata James tajam.
“Aku keliling kota terlebih dahulu dengan Ivan.” Terang Natasha menundukkan kepala tidak berani menatap kakaknya itu.
“Kau ini seorang gadis, seharusnya tahu batasan waktu main.” Marah James.
“Tapi… aku kesepian.” Kata Natasha berusaha membela diri.
“Berapa banyak lagi orang yang kau butuhkan di sini hah!!!”
“Aku tidak butuh pelayan. Aku merindukanmu Nathan, aku merindukan kebersamaan kita dulu.” Ucap Natasha dengan air mata mulai berjatuhan.
Di depannya, James terlihat membeku mendengar ucapan Natasha. Terlihat jelas sorot matanya dilingkupi rasa kecewa dan kesakita.
“Nathan… Nathan… Nathan…” Gumam James menggelengkan kepala, “Nathan sudah mati Natasha. Aku James… James!!!” Bentak James membuat Natasha terjengit kaget.
Gadis itu terhuyung ke belakang beberapa langkah dengan masih menatap James bingung dan juga takut.
“Tapi kau…” Natasha tidak sanggup meneruskan kata-katanya.
Ia berlari melewati James yang terlihat frustasi. Sepanjang langkahnya menuju kamar, perkataan James terus saja terngiang bagaikan kaset rusak.
Nathan sudah mati.
Kata-kata itu terus mendobrak alam bawah sadar Natasha. Gadis itu menyandarkan tubuh di pintu begitu ia menutup pintu kamarnya.
Bagaiman Nathan mati?
Pertanyaan itu kemudian muncul di kepala Natasha hingga sekelebat kenangan buruk menghampirinya. Ia berusaha mengingat dan merangkai kembali ingatannya masa lalu namun semakin ia berusaha melakukannya, rasa sakit yang bercokol di kepalanya semakin menyiksa. Hal terakhir yang diingat Natasha adalah rasa dingin di tubuh setelah luruh di lantai kamar.
Bersambung...