The Heiress'S Love

The Heiress'S Love
BAB 3. Abduction. Act. 1



Arabella tengah memangku Robert untuk menyuapinya makan malam saat Romanov pulang dari kantor. Berbeda dengan Arabella yang baru memiliki Daniel yang menginjak umur sembilan tahun, Julia sudah memiliki tiga orang anak. Hanya berselang tiga tahun dari kelahiran Thomas, Julia melahirkan Robert dan sekarang Julia tengah disibukkan dengan anak ketiganya yang berumur dua tahun. Dan beberapa hari ini, Robert begitu dekat dengannya. Hampir setiap hari putra kedua Phillip itu berkunjung ke rumah bahkan terkadang menginap di sana seperti malam ini.


Romanov yang melihat kelakuan Robert hanya bisa menghela napas pasrah. Sudah berkali-kali ia menasehati anak itu untuk tidak sering menginap, tetapi tetap saja tidak diindahkan sama sekali. Justru semakin hari kelakuan anak itu semakin manja terhadap istrinya. Entah apa yang sebenarnya terjadi pada anak itu hingga terus-terusan menempel pada Bella, yang ia tahu, tidak ada masalah sedikitpun di rumah Phillip yang berimbas membuat Robert tidak betah di sana. Setidaknya Bella tidak terganggu sedikit pun dengan tingkah Robert, istrinya justru terlihat senang setiap menemaninya dan Daniel juga tidak keberatan dengan itu.


“Robert, kamu tidak kangen sama papa dan Mamamu?” Tanya Romanov begitu duduk di depan Bella.


Robert menggeleng cepat, “aku mau sama Mama Bella.”


“Nanti Papa mencarimu, Sayang,” kata Romanov sambil mengelus kepala Robert.


“Robert mau di sini sama Mama Bella… Robert sayang Mama Bella,” balas Robert memeluk Bella erat.


Romanov menggaruk-garuk kepalanya bingung. Anak itu sudah hampir tiga hari di rumahnya dan dengan cara apa pun dia membujuknya untuk pulang, Robert sama sekali tidak peduli. Bahkan saat Phillip dan Julia mencarinya, anak itu justru sembunyi di lemari.


“Mama Bella… Mama Bella…” panggil Robert menarik tangan Bella.


“Iya sayang, ada apa?” Tanya Bella.


“Nanti Robert tidur dengan Mama ya,” pinta Robert bergelayut manja.


“Boleh, Robert nanti tidur sama Mama dan Daddy” kata Bella.


“horee… tidur sama Mama…” sorak Robert girang.


“Ini anak, mengganggu saja” gerutu Romanov. Ia juga ingin tidur dengan istrinya tanpa gangguan makhluk kecil itu,tetapi sepertinya ia merelakan keinginannya itu tertunda.


Bella yang melihat wajah masam suaminya hanya tersenyum geli. Ia membiarkan Robert bermain dengan Daniel setelah selesai menyuapinya makan. Daniel tampak senang mendapat teman bermain selama Robert di sana meski itu artinya ia menjadi pengasuh Robert yang lebih muda dari dirinya.


“Kapan kita membuatkan Daniel seorang adik?” Tanya Romanov setengah berbisik di samping Bella.


Mendengar pertanyaan suaminya, wajah Bella merona. “Apa kamu benar-benar ingin punya anak lagi?” tanyanya balik.


“Tentu saja. Aku ingin punya lima orang anak” jawab Romanov semangat.


“Kau saja yang hamil!” kata Bella geram seraya mencubit perut suaminya.


“Satu lagi sayang, itu sudah cukup. Aku juga tidak ingin terjadi sesuatu padamu,” ujar Romanov yang mengetahui kondisi Bella yang mengalami kendala saat masa kehamilan. Dikecupnya kening Bella penuh kasih. “Kita bikin malam ini, Sayang.”


“Robert tidur dengan kita, Daddy” kata Bella mengingatkan.


“Arrghh!” erang Romanov frustasi. Sepertinya ia harus membawa Robert ke rumah Phillip segera atau rencananya membuatkan adik untuk Daniel akan terus tertunda.


***


Siang hari selanjutnya. Seperti biasa Bella dan Julia menjemput Daniel dan Thomas di sekolah mereka. Selama menunggu putra-putra mereka keluar dari kelas, Bella dan Julia mengobrol berdua di taman sekolah. Robert yang keluar lebih awal dengan manjanya bergelung di pangkuan Bella, mengacuhkan Mamanya sendiri yang duduk di sebelahnya. Anak itu sama sekali tidak terusik dengan suara cerewet Mamanya yang terus membujuk untuk duduk di pangkuan Julia.


“Aku heran dengan ini anak, kenapa tiba-tiba menempel terus denganmu?” dengus Julia kesal melihat anaknya sendiri mengabaikannya.


“Aku juga tidak tahu Julia, Robert senang sekali memelukku,” sahut Bella terkekeh sembari mengelus-elus kepala Robert penuh kasih.


Julia menatap Bella penuh selidik, ia baru menyadari kalau temannya itu sedikit berubah auranya. “Jangan-jangan kau hamil,” tebaknya.


Tangan Bella langsung berhenti mendengar perkataan Julia. “itu tidak mungkin, aku masih menjalani program penundaan anak,” sanggahnya.


“Mungkin saja kau kecolongan. Apa kau belum memeriksanya lagi?” Tanya Julia.


“Sebaiknya kita periksakan nanti, siapa tahu kau memang hamil. Aku rasa itu juga yang menjadi alasan Robert menempel terus padamu, kau hamil anak perempuan,” cerocos Julia sambil senyam senyum menggoda.


Kening Bella berkerut memikirkan perkataan Julia, jika hal itu benar ia akan sangat senang sekali. Tanpa disadarinya, Bella mengelus-elus perutnya sambil tersenyum. Inilah yang selalu ditunggu-tunggunya, hamil.


“Temani aku periksa ya nanti?” pinta Bella.


“Tentu, kita tunggu anak-anak dulu,” kata Julia dengan senang hati.


Mereka pun terus bercengkrama hingga lonceng sekolah berdentang tanda waktu pulang telah tiba.


***


Sepulang sekolah Bella dan Julia menuju rumah sakit dengan mobil berbeda. Julia bersama Daniel dan Thomas berada di mobil depan sedangkan Bella bersama Robert yang terus menempel tidak mau berpisah sedikit pun. Mereka masing-masing diantar sopir dan beberapa pengawal yang juga berada di mobil yang berbeda. Mobil-mobil itu berjalan membelah kota Palermo yang sedikit padat saat siang hari.


Tak ada satu pun di antara mereka yang menyadari ada bahaya yang mengintai sejak keluar dari pelataran sekolah. Bahkan para pengawal masih terlihat santai seperti biasanya, tak ada satu pun yang melihat gerak-gerik mencurigakan di sepanjang perjalanan mereka hingga sebuah mobil menghantam keras bagian depan mobil yang di gunakan Bella. Hantaman dari samping itu mengejutkan sang sopir yang berusaha membanting stir meski sudah terlambat.


Julia yang berada di mobil depan tidak menyadari bahaya yang mengancam sahabatnya maupun anaknya karena jarak mobil mereka terpaut jauh. Hanya para pengawal Bella yang segera memberikan pertolongan sesaat setelah terjadi tabrakan. Namun tabrakan itu hanyalah awal dari bencana yang sebenarnya. Beberapa saat setelah para pengawal itu keluar dari mobil, ada mobil lain yang mendekat dan langsung memborbardir mereka dengan senapan mesin.


Dengan wajah ketakutan, Bella yang masih di dalam mobil mendekap erat Robert seraya berteriak tertahan. Tangis Robert terdengar memilukan disela-sela suara desingan peluru. Bella memberanikan diri melihat situasi setelah suara peluru tidak terdengar lagi. Para pengawalnya sudah terkapar bersimbah darah di jalanan. Kini hanya tinggal sang sopir yang kondisinya tidak menguntungkan dngan badan terjepit antara stir mobil dan jok.


Bella langsung beringsut menjauhi pintu mobil melihat beberapa orang dengan senjata api mendekat ke arah mobil. Satu tembakan melesat mengenai kening sopirnya bahkan sebelum pria itu sempat membidikkan pistolnya kearah orang-orang tidak dikenal itu. Gemetaran Bella mencoba meraih handle pintu mobil disisi lain untuk meloloskan diri. Ia berusaha menenangkan Robert selagi ia membuka pintu. Tetapi belum sempat ia keluar dari mobil, pintu di belakangnya terbuka lebar disusul tubuhnya yang diseret paksa keluar. Bella berteriak histeris memanggil Robert yang mendapat perlakuan sama seperti dirinya. Putra Phillip itu tak luput mendapat perlakuan kasar pria-pria itu.


“Hentikan! Jangan sakiti putraku. Apa yang sebenarnya kalian inginkan?!” teriak Bella histeris meronta dari orang yang mencengkeram bahunya dengan keras.


“Kami hanya ingin menjemputmu Sweety,” kata salah satu pria itu.


Mendengar panggilan itu, seluruh tubuh Bella langsung meremang. Hanya satu orang yang biasa memanggilnya seperti itu dulu dan orang itu satu-satunya orang yang tidak ingin ia jumpai lagi seumur hidupnya. “Si…siapa kalian?” tanyanya sarat putus asa.


“Oh ayolah, kekasihmu yang kau campakkan itu ingin kami membawamu kembali. Dia bilang liburanmu sudah berakhir,” kata pria itu lagi yang samar Bella ingat adalah Vincent, adik Braga.


“Tidak… lepaskan aku,” ronta Bella. Namun cekalan pria itu terlalu kuat.


Pria itu dan anak buahnya tertawa terbahak-bahak melihat usaha Bella yang jelas sia-sia.


“Mama…Mama… lepaskan, aku ingin bersama Mama,” rengekan Robert berhasil menarik kembali kesadaran Bella, tak hanya nyawanya yang kini terancam. Namun nyawa anak Phillip juga.


“Lepaskan dia… jangan sakiti Robert!” teriak Bella melihat pria yang menangkap Robert memukulinya, karena tidak senang mendengar rengekan Robert.


“Sayang sekali anak kamu laki-laki, Braga pasti senang kalau anakmu perempuan,” cibir Vincent.


Bella menangis sesenggukan melihat Robert yang meringis kesakitan di atas aspal. Bibirnya mengeluarkan darah akibat tamparan yang terlalu keras. “Aku mohon jangan sakiti dia. Aku akan melakukan apa saja, tapi lepaskan putraku.”


“Kau ikut bersama kami, Sweety,” kata Vincent menyeret paksa Bella. “habisi bocah itu!” perintahnya yang sontak membuat Bella yang sudah pasrah, memberontak sekuat tenaganya untuk mencegah anak buah Vincent melukai Robert.


Pria yang sejak tadi berada di sisi Robert langsung memukuli Robert yang sudah tidak berdaya, hingga bocah itu tersungkur diatas aspal menjerit kesakitan setiap pukulan mendarat di tubuh kecil itu. Tak puas dengan itu, pria itu mengangkat Robert dan membenturkannya ke badan mobil.


“Hentikan, kalian semua bangsat… jangan sakiti dia!” teriak Bella meraung-raung. Ia benar-benar di luar kendali apalagi melihat tubuh kecil itu ambruk, dengan darah tidak berhenti mengucur di kening, telinga dan juga hidung Robert.


Dengan cepat Vincent membius Bella sebelum gadis itu lepas. Tubuh Bella yang letih ditambah pengaruh bius yang diberikan Vincent, perlahan merosot. Sebelum kegelapan menyelimutinya, ia melihat jemari Robert yang bergerak lemah mencoba meminta pertolongan darinya. Dalam hati ia mengutuk kelemahan dirinya yang tidak bisa melindungi orang-orang yang disayanginya.


“Robert maafkan Mama sayang, semoga Tuhan memberikan perlindungan padamu.” Doa Bella.


Vincent segera membawa Bella pergi dari tempat itu, membiarkan mayat-mayat itu tetap disana. Ia harus bergerak cepat sebelum Romanov menyadari Bella diculik. Dia tersenyum puas berhasil menyelesaikan pekerjaannya yang pasti, Braga akan memberinya imbalan besar atas kerjanya kali ini.