The Heiress'S Love

The Heiress'S Love
Bab 25. She’s Gone



Dengan langkah terhuyung-huyung, James memunguti pakaiannya di lantai sebelum menuju kamar mandi. Matahari telah bersinar terik di luar sana, meninggalkan hawa panas yang menyelimuti udara. James mengguyur seluruh tubuhnya di bawah air dingin untuk menghilangkan peluh. Barulah setelah merasa lebih segar, ia kembali ke kamar sembari mengenakan pakaiannya.


Di atas ranjang, James melihat Grace masih bergelung manja tanpa peduli cuaca sudah terik. Tak acuh James meninggalkan Grace keluar kamar. Sejak gadis itu kembali, James sama sekali tidak berpikir akan tertarik lagi dengannya. Namun entah mengapa ia menghabiskan waktu cukup lama berada di ranjang bersama Grace hingga nyaris membuatnya lupa waktu. Sesuatu mendorong gairahnya untuk terus menjamah Grace tanpa henti. Ia hanya berharap Natasha tidak menyadari perbuatannya itu meski sangat mustahil hal itu terjadi.


Debaran jantung James berpacu cepat saat memutar knop pintu kamar Natasha. Entah alasan apa yang akan dibuatnya nanti untuk meyakinkan Natasha bahwa apa yang dilakukannya dengan Grace bukan karena saling mencintai. James mendesah lega saat melihat kamar Natasha telah kosong, tetapi juga merasa bersalah karenanya. Dengan lunglai, James berjalan meninggalkan rumah. Meninggalkan Grace begitu saja tanpa sepatah kata. Ia hanya ingin sendiri untuk menjernihkan pikiran.


Sepanjang hari, James menghabiskan waktunya di tempat latihan milik Dark Devil. Menyibukkan diri berlatih fisik untuk menyingkirkan kekacauan yang terjadi di dalam pikirannya. Sebagai anggota Dark Devil sebenarnya ia memiliki tugas yang diberikan atasannya, tetapi sejak Natasha tinggal bersamanya, James memiliki waktu yang sedikit bebas untuk menjalankan pekerjaannya. Atasannya yang masih saudara dekat Romanov, lebih menekankan tugas James sebagai pengawal Natasha dibandingkan pekerjaan lainnya. Meski begitu, tidak mudah bagi James untuk menjaga Natasha terutama saat perasaan lebih menguasai hatinya dibandingkan akalnya. Ia cenderung mengekang Natasha lebih karena sifat cemburunya dibandingkan dengan mementingkan keselamatan gadis itu sendiri.


Baru menjelang tengah malam, James kembali ke rumah. Meski Grace menyambutnya hangat, James tetap bersikap dingin. Ia mengabaikan Grace yang membuntutinya berjalan menuju kamar Natasha. Apapun yang diharapkan James dalam hatinya, sirna begitu saja ketika melihat kamar itu kosong. Sama persis seperti saat ia membukanya tadi pagi. Tidak ada tanda-tanda kehadiran Natasha di sana, bahkan barang-barang Natasha masih tertata rapi tak tersentuh.


“Adikmu itu sejak pagi tidak terlihat, mungkin masih bersenang-senang dengan temannya,” celoteh Grace melihat kegusaran James.


“Diamlah.” James menarik ponsel dari dalam saku celana, mencoba menghubungi Natasha. Namun berkali-kali ia mencoba menghubungi ponsel Natasha, selalu tersambung dengan operator.


Tanpa mempedulikan perkataan Grace lagi, James keluar menuju mobilnya. Rasa cemas bercampur marah bergumul menjadi satu. Ia telah memperingatkan Natasha untuk tidak bergaul dengan Sean, tapi perkataannya sama sekali tidak digubris. Sekali ia lengah, gadis itu kembali dekat dengan Sean. Dengan kecepatan tinggi, James melaju menuju rumah Sean untuk membawa pulang ke rumah.


Sesampainya di rumah Sean, tanpa pikir panjang James langsung menggedor pintu berkali-kali hingga si pemilik rumah keluar. Sean terlihat terkejut melihat kedatangannya. “Di mana Natasha?”


“Dia tidak ada di sini,” jawab Sean ketus.


“Jangan coba-coba menyembunyikannya dariku.” James berusaha menerjang masuk rumah, tetapi Sean lebih cekatan menghalanginya.


“Sudah kukatakan dia tidak di sini,” kata Sean meninggi.


“Dia belum pulang sampai sekarang, dan satu-satunya pria yang bertanggung jawab dengan itu hanya kau!” tuduh James.


Kedua mata Sean langsung menggelap mendengar perkataan James. Ia ingat Natasha memiliki tiket ke Spanyol dan seharusnya James lah yang menemani gadis itu sekarang. “Akan kubantu kau mengingat apa yang telah kau janjikan padanya.”


Tanpa membuang waktu, Sean langsung memukul wajah James. Pria itu terhuyung mundur karena tidak siap dengan serangan mendadak itu.


“Apa kau telah ingat apa yang telah kau janjikan pada Natasha hari ini?!” bentak Sean sebelum James sempat membalas.


“Aku tidak menjanjikan apa-apa padanya!” James mengusap pipinya yang memar.


Sekali lagi Sean memukul James. Kali ini tidak hanya sekali, tetapi ia melakukannya bertubi-tubi membuat James limbung, tersungkur di lantai.


“Kau menjanjikan liburan ke Spanyol, brengsek!!!”


James tercenung mendengar perkataan Sean. Tiket liburan festival La Tomatina yang ia berikan sebagai kado ulang tahun Natasha, acara festival itu adalah hari ini. “Dia tidak mungkin ke sana sendirian.” James menggeleng mencoba menyangkal.


“Lalu di mana dia?” tanya Sean tajam.


Mulut James terkunci rapat, tak tahu harus menjawab apa. Jika Natasha berada di tempat Daniel, ia pasti sudah mendapatkan kabar dari pria itu. Namun sampai detik ini tidak ada kabar dari Daniel. Masih dengan tatapan linglung, James beranjak menuju mobil. Satu-satunya cara memastikan keberadaan Natasha adalah tiket yang telah diberikannya beberapa waktu yang lalu.


Sepeninggal James, pintu rumah satu-satunya tempat yang bisa dijadikan sasaran kekesalan Sean. Suara berdebam keras terdengar menggaung diseluruh penjuru rumah. Seharusnya ia sudah bisa menebak ini semua. James benar-benar tidak bisa dipercaya, pria itu telah mendorong Natasha terlalu jauh. Sekarang gadis itu berada jauh di Spanyol tanpa seorang pun yang mendampingi.


“Siapkan pesawat!” perintah Sean begitu tersambung dengan orang kepercayaannya.


Dengan langkah lebar, Sean mengambil kunci mobil. Ia harus menemukan Natasha terlebih dahulu sebelum James mendapatkannya kembali. Keadaan lengang di tengah malam memudahkan Sean mencapai bandara lebih cepat. Ia bisa melihat pesawat pribadinya baru saja keluar hanggar saat ia sampai di sana.


“Siapkan perjalanan ke Spanyol,” perintah Sean begitu seorang pria paruh baya berjalan mendekat.


“Ke Spanyol, Tuan Muda?” ulang pria itu ingin memastikan.


“Lakukan secepat mungkin dan perintahkan orang-orangmu di sana untuk menyisir setiap daerah di Bunol untuk mencari Natasha,” lanjut Sean.


“Natasha Romanov, apa anda yakin?” pria itu terlihat gusar.


“Apa kata-kataku kurang jelas hah!”


“Maaf Tuan Muda, menyingkirkan Squires bukanlah perkara sulit. Namun berurusan dengan Romanov…”


“Tutup saja mulutmu itu, Mark. Lakukan apa yang kuperintah. Romanov adalah urusanku.”


****


Di kamar Natasha yang masih sunyi, James mengobrak-abrik mencari tiket perjalanan ke Valencia. Ia akhirnya menemukan salah satu tiket tersimpan rapi di dalam laci belajar Natasha, sedangkan satu yang lainnya tidak ketemu. Beralih ke lemari, James memeriksa pakaian dan koper Natasha. Beberapa pakaian tidak terlihat lengkap dengan kopernya.


James meremas rambutnya frustasi. Ia tidak mengira Natasha akan senekat itu dengan pergi seorang diri tanpa pengawalan. Belum lagi ponsel Natasha yang tidak bisa dihubungi sama sekali sampai sekarang. Tanpa berpikir panjang, James menelepon Jason untuk meminta bantuan. Hanya pria itu satu-satunya harapan James yang bisa membantu tanpa mencecarnya terlebih dahulu.


“Kau mau pergi?” tanya Grace terlihat gusar.


“Aku harus mencari Natasha,” jawab James dingin.


“Untuk apa mencarinya? Adikmu itu benar-benar tidak tahu diri, suka sekali bersenang-senang di luar sana sampai lupa waktu.”


“Tutup mulutmu, Grace. Dia tidak akan pergi jika bukan kau penyebabnya!” bentak James.


“Aku? Memangnya apa yang aku lakukan?” Grace menatap James tidak terima.


“Apa yang kau campurkan dalam minumanku Grace?”


“Aku tidak mencampurkan apa-apa ke dalam minumanmu.”


“Oh ya?! Kau sama sekali tidak bisa dipercaya!!!”


“Kita sudah biasa melakukannya sejak dulu, sebelu adik sialanmu datang. Lalu kenapa kau mempertanyakan apa yang terjadi sekarang?!” kata Grace tidak terima.


“Karena aku tidak lagi tertarik padamu sejak kau kembali. Dua hari ini aku tidak merasa seperti diriku, kalau kau tidak berbuat curang. Aku tidak akan pernah melakukannya denganmu lagi!” Napas James terlihat memburu dengan tatapan tajam mengujam Grace. “Mulai sekarang keluar dari rumahku dan jangan pernah menemuiku lagi!!!”


****


Valencia, Spanyol


Pria itu memeluk erat Natasha, membiarkan gadis itu menangis di dadanya. Barulah setelah Natasha merasa lebih baik, ia mengurai pelukan. Gadis itu terlihat sangat berantakan, rambut dan pakaian yang kusut, mata sembab di wajahnya yang pucat serta darah yang mengalir di pinggang menambah tingkat kecemasannya meningkat. Apapun yang baru saja terjadi pastilah sangat buruk.


“Apa yang kau lakukan di sini, dan apa yang terjadi padamu?”


“Aku…”


Ivan kembali merengkuh Natasha dalam pelukan, ia mengedarkan pandangan kesekeliling mereka. Tidak aman terus berada di sana. Mungkin saja seseorang masih mengincar Natasha. “Sebaiknya kubawa kau ke rumahku. Di sana lebih aman.


Hati-hati Ivan memapah Natasha masuk ke mobil. Ia sempat memeriksa luka Natasha yang ternyata sudah diperban. Namun sepertinya luka di balik perban itu membuka hingga darahnya mengucur keluar. Setelah memastikan luka Natasha tidak begitu parah, ia menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju rumah.


Perjalanan kembali ke rumah lebih singkat dari biasanya, Ivan langsung menyuruh anak buahnya untuk meningkatkan penjagaan di sekitar mansion. Ia tidak ingin mengambil resiko, mengingat Natasha bersamanya dan orang-orang yang mencelakai Natasha mungkin masih mengincar gadis itu. Ia membopong Natasha menuju kamarnya, melihat betapa pucatnya Natasha saat ini.


“Siapa yang melakukan ini padamu?” tanya Ivan sedikit terkejut saat memeriksa luka Natasha berasal dari tembakan.


Natasha menggeleng lemah, “aku tidak mengenal mereka.”


“Tahan sebentar, ini mungkin sedikit terasa sakit,” pinta Ivan yang telah menyiapkan kotak P3K. hati-hati ia membersihkan luka Natasha dan mengobatinya. Untunglah darah yang keluar tidak terlalu banyak, yang diperlukan Natasha hanyalah istirahat setelah ia menutup luka itu.


“Apa yang mereka lakukan padamu?” Ivan kembali bertanya setelah selesai dengan luka Natasha.


“Mereka menculikku saat di festival kemarin dan membawaku kesebuah rumah. Salah satu diantara mereka mengatakan kenal Daddy, dulu mereka berteman. Lalu dia mengatakan aku anak kandung pria itu.” Natasha menceritakan semua yang baru dialaminya pada Ivan dengan tangis yang berderai.


“Siapa?”


“Braga.”


Jawaban Natasha bagaikan petir di siang hari bagi Ivan. Ia hanya mampu menatap Natasha gusar tanpa bisa berkata apa-apa.


Bersambung...