The Heiress'S Love

The Heiress'S Love
Bab 21. Murderer act. 1



Di depan cermin kamar Sean, Natasha memandangi pantulan dirinya dengan kening berkerut. Ia terlihat aneh dengan baju yang dipakainya. Kaus dan celana itu milik Sean, ia terpaksa memakainya karena baju yang dipakainya basah semua. Ia tidak mengira masih terkena bullyan gadis-gadis di kampus setelah tidak terlihat berjalan bersama James. Namun ternyata pemikirannya itu salah, ia masih saja merasakan siksaan mereka yang iri terhadap kedekatannya dengan James.


Masih dengan wajah cemberut, Natasha menoleh ke arah pintu yang terbuka lebar. Sean yang berdiri di ambang pintu tampak tersenyum geli melihat penampilan Natasha. Pria itu berjalan mendekat dengan senyum semakin lebar.


“Kau imut sekali.” Kata Sean mencubit ke dua pipi Natasha gemas.


“Aku kelihatan jelek.” Sungut Natasha.


“Apa perlu aku belikan baju yang pas untukmu?” Tawar Sean.


“Tidak usah.” Tolak Natasha.


“Kau yakin?” Tanya Sean mengikuti Natasha yang duduk di atas ranjang.


Natasha mengangguk meyakinkan Sean,”kamarmu nyaman sekali.” Gumamnya merebahkan tubuh.


“Kau suka? Tinggal saja di sini.” Celetuk Sean.


“Daniel akan membunuhku jika tahu aku tinggal dengan seorang pria.” Kekeh Natasha.


“Tapi kau tinggal berdua dengan James bukan?” Kata Sean mengerutkan kening.


“Dia kakakku.” Sahut Natasha dengan wajah murung.


“Kakak seperti apa sampai membiarkan adiknya disiksa terus menerus oleh teman-temannya?” Decih Sean, “dia juga mengacuhkanmu saat di kampus seakan kalian tidak saling mengenal.”


“Aku tahu.” Kata Natasha lemah.


Sean dan Natasha hanyut dalam keheningan. Masing-masing sibuk dengan apa yang ada dipikirkan mereka. Natasha yang merasa bosan dengan keheningan panjang mereka, mulai terkantuk-kantuk. Ia merapatkan badannya pada Sean yang merebahkan tubuh tidak jauh darinya. Sean yang terusik menoleh ke arah Natasha yang tersenyum polos.


“Aku ngantuk.” Gumam Natasha.


“Tidurlah, nanti aku antar kau pulang.” Kata Sean mendekap Natasha yang bersembunyi di dada, “apa kau tidur selalu seperti ini?” Tanya Sean penasaran.


Natasha mengangguk, “Daniel selalu mendekapku kalau aku tidur.”


“Kau membuatku merasa cemburu.” Gerutu Sean, “jangan lakukan dengan pria lain, selain aku dan Daniel.”


“Kenapa?” Tanya Natasha menengadahkan kepala menatap Sean.


“Pokoknya tidak boleh.” Ucap Sean tegas.


Bibir Natasha mengerucut tidak puas dengan jawaban yang diberikan Sean. Ia kembali menyembunyikan wajahnya di dada pria itu. Sedetik, dua detik, tidak ada jawaban dari Natasha. Sean yang penasaran menunduk memperhatikan gadis itu. Natasha telah terlelap dalam dekapannya, begitu polos dan damai. Senyum Sean tersungging melihat Natasha yang tanpa ragu masuk dalam dekapannya dan tertidur di sana. Gadis yang selama ini hanya ia pandangi dari jauh, kini begitu dekat tanpa ada jarak yang memisahkan. Hanya James, satu-satunya penghalang di antara mereka. Dalam hal ini, Sean harus hati-hati menyingkirkan pria itu. Karena ia tahu, James tidak sebodoh Ivan yang mudah dijebak.


***


Malam itu ada yang istimewa di ruang bawah tanah rumah Sean. Tempat favorit pria itu sejauh ini. Sean sengaja mendesain ruang itu sangat mewah, bisa dibilang tempat itu paling mewah seantero rumahnya. Ia memang sengaja membangun ruangan itu khusus untuk bersenang-senang. Berbagai fasilitas hiburan ada di sana, mini bar, sebuah akuarium besar yang diisi ikan-ikan berwarna-warni, sofa dan sebuah ranjang yang empuk.


Ia selalu menganggap tempat itu adalah sebuah maha karya. Bukan. Bukan karena kemewahan yang sengaja ia rancang untuk menarik para gadis, tetapi apa yang dilakukannya di tempat itulah yang selalu ia banggakan. Sudah banyak gadis yang diajak Sean untuk bersenang-senang di tempat itu. Dari gadis panggilan yang ditemuinya di club malam, maupun teman-teman kuliahnya. Hanya saja para gadis yang ia ajak ke sana, tidak pernah lagi keluar dari ruang bawah tanah itu selamanya.


Malam ini akan ada hiburan yang telah lama tidak dirasakan Sean sejak dekat dengan Natasha. Ia membawa seorang gadis satu kampus yang dengan mudah dipikat di belakang Natasha. gadis itu kini berdiri di hadapannya dengan tatapan berbinar-binar. Sama persis seperti gadis-gadis yang sebelumnya pernah dibawa Sean ke ruang itu.


“Tempat ini sangat menakjubkan Sean. Aku sudah bisa membayangkan bagaimana kita akan bersenang-senang nanti.” Kata Sheryl, gadis yang dibawa Sean.


“Aku akan memuaskanmu sayang.” Ucap Sean meletakkan gelas Wine nya ke meja dan memberi isyarat pada Sheryl untuk mendekat.


Dengan langkah gemulai Sheryl mendekati Sean dan tanpa ragu naik ke pangkuan pria itu, “aku akan lebih memuaskanmu sayang.” Bisiknya manja. Tangannya menjelajahi dada Sean yang masih tertutup kemeja. “Aku yakin si nerd Natasha tidak pernah bisa memuaskanmu.”


“Jadi kenapa kau tidak mulai menanggalkan pakaianmu dan menari untukku.” Pinta Sean.


Dengan senyum menggoda, Sheryl berdiri di depan Sean. Perlahan-lahan ia membuka gaun yang dipakainya, tidak lupa ia meliuk-liukkan badan menari erotis. Seringai Sean mengembang melihat satu persatu kain yang menutupi tubuh Sheryl teronggok di bawah kaki gadis itu. Tubuh Sheryl yang putih mulus sangat menggoda untuk segera dinikmati. Sheryl menggoda Sean dengan meremas *********** dan memamerkan lekuk tubuhnya yang indah. Gadis mana yang tidak ingin menaklukkan pria dingin seperti Sean, dan Sheryl dengan naifnya menjatuhkan diri ke dalam perangkap pria itu hanya untuk mengangkat namanya semakin popular di kampus.


Sean berdiri, mendekati Sheryl. Tangannya dengan lembut menyentuh perut gadis itu, berjalan memutar, berhenti tepat di belakang Sheryl. Menekan Sheryl yang masih menari ke arahnya. “Puaskan aku Sheryl.”


“Aku milikmu malam ini Sean. Sentuh aku sepuasmu, biarkan aku berteriak menyebutkan namamu.” Desah Sheryl.


Sheryl yang masih terkejut dan menahan sakit di perut, tidak segera menyadari Sean berjongkok di depannya. Kesadarannya pulih setelah merasakan sakit di kepala karena Sean mencengkeram erat rambutnya yang tergerai.


“Apa yang kau lakukan Sean?”


Bukan jawaban yang di dapat Sheryl. Tanpa ampun Sean membenturkan kepalanya dengan keras di lantai.


“Aku penasaran, apa tangan ini yang kau gunakan untuk melukai kekasihku?” Kata Sean meraih tangan kanan Sheryl.


“Apa maksudmu?” Tanya Sheryl menangis.


“Kau menyiksa gadisku yang tidak bersalah di toilet kampus.” Jawab Sean santai, “tangan nakal ini harus diberi hukuman. Bukan begitu Sheryl?”


Belum sempat Sheryl membantah. Suara teriakan sudah meluncur terlebih dahulu. Ia bisa melihat jari manisnya menekuk dengan cara yang salah. Sekuat tenaga ia meronta berusaha melepaskan diri dari cengkeraman Sean, tapi pria itu terlalu kuat. Dan dengan seringai mengerikan, Sean menekuk jari Sheryl yang lainnya.


“Hentikan, ku mohon.” Pinta Sheryl dengan suara parau, “aku hanya disuruh.”


“Siapa orang bodoh yang menyuruhmu melukai gadisku?”


“Grace. Kekasih James. Dia tidak senang melihat Natasha dekat dengan James.” Jawab Sheryl sesenggukan.


“Jalang itu rupanya.” Sean mengangguk-angguk mengerti, “sepertinya tanganmu harus dibenarkan posisinya.” Lanjutnya tidak menghentikan siksaannya pada Sheryl. Ia memuntir tangan Sheryl kasar hingga menimbulkan suara bergemeretuk di sendi bahu dan lengkingan jeritan Sheryl yang menyayat.


“Ampuni aku.” Kata Sheryl memohon. Ia terkapar tak berdaya, tangannya yang patah langsung lunglai ke lantai begitu Sean melepasnya.


“Bukankah kau ingin memuaskan aku malam ini sayang. Aku sangat senang mendengar teriakanmu.” Ujar Sean yang sibuk memilin ke dua putting Sheryl, “berteriaklah lagi untukku sayang.”


Tanpa diminta pun, Sheryl akan melakukannya merasakan ke dua putingnya ditarik kencang Sean. Tubuhnya berkelojotan didera rasa sakit.


“Ah aku lupa. Aku ingin kenang-kenangan darimu.” Sean beranjak meninggalkan Sheryl, memberikan penangguhan hukuman sejenak. Ia mengambil belati di salah satu laci nakas. Sambil memamerkan tajamnya belati di tangan, ia berbalik menghampiri Sheryl yang berusaha melarikan diri. Sean langsung menginjak dada Sheryl agar telentang di lantai lagi, membiarkan gadis itu pucat pasi melihat belati yang kini berada di depan wajah.


“Bolehkah aku bertanya? Sudah berapa banyak pria yang mencicipi putingmu ini?” Tanya Sean kembali menjepit daging kecil itu dengan jarinya.


“Aku tidak tahu.” Jawab Sheryl dengan tangis berderai.


“Baiklah, aku rasa cukup banyak. Sekarang putingmu akan senang, tugasnya melayani pria berakhir.”


Dalam satu kali sayatan daging kecil itu sudah terpisah dari tempatnya, menyusul yang satunya. Tubuh Sheryl menegang merasakan sakit luar biasa di puncak payudara yang biasanya mendapatkan jilatan kenikmatan. Gadis itu nyaris pingsan, tapi Sean membangunkannya dengan kasar.


“Kita belum selesai bicth.” Dengkus Sean, “sial darahnya tidak mau berhenti. Kau bisa mati terlalu cepat kalau seperti ini.” Gerutunya merogoh korek api di saku kantong. Setelah api menyala, ia mendekatkan di payudara Sheryl agar darah berhenti keluar.


“Hentikan… hentikan…” Racau Sheryl semakin lemah.


“Aku belum menghukum kakimu yang kau buat untuk berjalan menghampiri gadisku.” Desis Sean beralih di antara ke dua kaki jenjang Sheryl.


“Aku minta maaf, aku menyesal.” Isak Sheryl tidak tahan lagi dengan sakit yang mendera tubuh.


“Percayalah, aku sudah memaafkamu. Tapi kakimu membuatku ingin melakukan sesuatu terhadapnya.” Sean mengusap paha kaki Sheryl bersamaan, “pilihlah. Aku memijat ke dua kakimu bersamaan atau satu persatu?”


Sheryl menggeleng menolak. Ia tahu, apapun pilihannya. Sean tidak mungkin hanya sekedar memijat biasa. Yang dia inginkan hanya keluar dari ruangan terkutuk itu.


“Satu persatu agar kau bisa menikmatinya, aku rasa itu ide yang bagus.” Sean mengangkat salah satu kaki Sheryl, mengusapnya perlahan seakan menikmati kemulusan kaki gadis itu. Setelah puas, ia menekuk betisnya ke depan. Suara gemeretuk kembali terdengar bersamaan dengan lengkingan suara Sheryl yang menyayat hati. Sean melakukan sekali lagi pada kaki Sheryl yang satunya hingga membuat suara gadis itu menghilang. Ke dua kaki Sheryl terkulai dengan posisi yang aneh, sang pemiliknya kini hanya bisa diam tak bergerak dengan nafas putus-putus berharap penderitaannya segera berakhir.


“Kau mati terlalu cepat.” Gerutu  Sean, “aku masih ingin mengajakmu melihat kucing peliharaanku makan.” Lanjutnya meraih tangan Sheryl yang masih normal dan menyeret tubuh gadis itu melintasi ruangan. Membuka pintu di ujung tempat itu yang langsung menuju sebuah kandang besar.


“Aku punya kucing kecil dan sekarang adalah waktu makan malamnya. Kau pasti suka melihat bagaimana kucingku makan.” Kekeh Sean menoleh pada Sheryl yang menatapnya penuh rasa takut. “Kau akan mendapatkan kursi terdepan untuk melihatnya makan nanti.”


Sean membuka pintu kandang dan menyeret tubuh Sheryl masuk. Ia lalu meninggalkan Sheryl di sana begitu saja, “apa aku tadi sudah mengatakan hidangan utama kucingku malam ini? Kau sayang. Kenyangkan perut kucing kesayanganku.”


Tawa menggelegar pria itu terdengar memenuhi setiap sudut ruangan. Sedangkan Sheryl yang terkapar tidak berdaya berusaha memohon meski yang keluar dari mulutnya hanya rintihan. Aura putus asa semakin menyergap hatinya saat melihat bayangan hewan besar berjalan mendekat ke arahnya dari sudut mata. Tangisnya pecah menyadari hewan itu adalah harimau Siberia yang kelaparan. Ia sudah tidak memiliki harapan hidup begitu merasakan daging kakinya terkoyak. Sebelum napas terakhir berhembus keluar, pemandangan yang dilihat Sheryl adalah usus dari perutnya menjuntai di mulut hewan karnivora itu.


Di luar kandang, Sean menatap puas dengan apa yang dikerjakan peliharaannya itu. Tubuh Sheryl kini nyaris tak bersisa. Hanya menyisakan tulang, belulang yang tidak bisa ditelan yang berserakan di dalam kandang.


Bersambung...