
Bella merasakan tubuhnya terayun-ayun, membuatnya terasa sedikit pusing dan mual. Ia tidak tahu sekarang berada dimana. Matanya ditutup rapat, mulutnya disumpal, tangannya terikat hanya kakinya yang bebas berayun mengikuti irama orang yang memanggulnya. Benaknya telah dipenuhi hal mengerikan yang sebentar lagi akan terjadi padanya. Ia hanya berharap tidak lagi berurusan dengan Braga.
Sentakan kasar berhasil membuat Bella menjerit tertahan merasakan tubuhnya mendarat dengan keras di atas kasur. Ia sedikit beringsut menjauhi suara tawa yang keluar dari pria-pria yang tadi membawanya. Kengerian seketika melingkupi dirinya. Ia berusaha menenangkan dirinya agar tubuhnya berhenti menggigil. Ia langsung terkesiap merasakan sentuhan tangan di kakinya yang bergerak keatas. Bella berusaha memberontak namun usahanya sia-sia karena ia tidak bisa bergerak bebas.
“Lama kita tidak bertemu, Sweety. Kau masih terlihat seksi meski sudah punya anak.”
Seketika tubuhnya membeku mendengar suara berat dan dalam yang sangat di kenal Bella meski sudah sangat lama tidak mendengarnya. Tubuhnya semakin menggigil di dera rasa putus asa. Saat penutup matanya di buka pun, hal itu tidak membantu mengurangi rasa ngerinya. Ia kembali beringsut menjauhi pria di depannya dengan susah payah.
“Apa kau merindukanku Sweety?” Tanya pria yang kini hanya berjarak sejengkal dari atas tubuhnya.
Bella menggeleng kuat, air matanya sudah membanjiri pipinya. Wajah setenang samudra itu tidak akan lagi mengecohnya. Cukup sudah ia menjadi budak kebejatan pria itu.
“Apa liburan yang kuberikan belum cukup?”
Hembusan napas Braga menerpa leher Bella, membuat sekujur tubuh gadis itu meremang ketakutan. Isakan tangis Bella semakin terdengar nyaring meski mulutnya masih tersumpal.
“Aku merindukan ini Sayang.” Braga mulai mencecapi kulit leher Bella perlahan, tetapi semakin lama semakin kasar disertai gigitan yang membuat Bella meronta-ronta kesakitan.
“Berteriaklah untukku, Sweety.”
Bella berteriak nyaring begitu lakban yang sedari awal membungkam mulutnya ditarik kasar oleh Braga. Ia sadar teriakannya justru memicu kegilaan Braga, tetapi terror yang telah lama belajar ia lupakan kini ada di depan matanya. Dan kini ia berada dalam posisi yang tidak berdaya.
“Ya… Sweety, berteriaklah seperti itu,” desah Braga langsung memagut bibir Bella kasar, beberapa kali bibir itu ia gigit hingga darah segar mengalir dari sela-sela ciuman. Hasratnya semakin memuncak melihat Bella meronta kesakitan.
Ia beralih turun, mengoyak gaun yang melekat di tubuh Bella secara kasar. Tak dia pedulikan permohonan Bella untuk melepaskannya. Teriakan Bella membuatnya gila, hasratnya melayang tinggi saat gadis itu merintih kesakitan. Candu terbaik yang pernah ia miliki, candunya yang telah lancang melarikan diri darinya.
Braga menjauhkan tubuhnya dari tubuh Bella yang tergolek lemah, kemarahan menyelusup diantara hasratnya. Ia melayangkan tangannya berkali-kali menampari pipi Bella hingga pipi yang awalnya putih mulus kini lebam-lebam. Tak puas, ia mengikat tangan dan kaki Bella pada sisi-sisi ranjang. Dan mulailah penyiksaan terhadap Bella sepanjang malam. Setiap Bella hampir pingsan, Braga akan membangunkan dengan berbagai cara. Hingga pagi menjelang, terlalu lelah dan sakit disekujur tubuh, Bella akhirnya pingsan.
***
Saat Bella sadar, ia merasakan sekujur tubuhnya terasa luluh lantak. Ia bisa melihat bilur-bilur kebiruan hampir di seluruh permukaan tubuhnya yang tak tertutupi sehelai kain. Kaki dan tangannya sudah lepas dari ikatan namun ia tidak mampu beranjak dari tempat tidur. Karena tidak tahan merasakan sekujur tubuhnya yang terasa sangat sakit, Bella kembali pingsan.
Guncangan kasar ditubuhnya berhasil membangunkan Bella. Dengan susah payah ia membuka matanya yang terasa sangat berat. Braga sudah duduk disampingnya saat ia berhasil membuka mata. Senyum menawan pria itu terukir di bibirnya seakan tidak pernah terjadi sesuatu sebelumnya.
“bangunlah Sweety, kau harus makan” kata Braga lembut.
Ragu-ragu Bella bangun dari tidurnya, ia menarik selimut yang telah melorot ditepian kasur untuk menutupi ketelanjangannya. Namun Braga dengan segera menyingkirkan selimut itu dari tubuh Bella.
“kau lebih cantik jika tidak memakai apa-apa Sweety” ucap Braga.
Walau sangat ingin memprotes, Bella memilih untuk diam. Ia tahu tabiat Braga yang tidak ingin dibantah dan saat ini mengikuti keinginannya adalah hal yang bijaksana karena bisa saja ia akan mengalami siksaan lebih sadis dari yang ia terima semalam. Tanpa berbicara apa-apa, Bella menyuapkan makanan ke dalam mulutnya meski terasa sangat sulit ditelan. Tubuhnya yang telanjang dengan mudah dijadikan bulan-bulanan Braga. Saat ini harga dirinya telah terjun bebas ke dasar jurang. Dan malam ini pun dilalui Bella penuh penderitaan, hanya saja tidak seberat malam kemarin.
***
Bella memandangi luar jendela dengan mata kosong. Entah sudah berapa hari ia menjadi tawanan Braga, orientasinya terhadap waktu telah hilang. Ia juga tidak mengenali tempat itu, ia tidak berada di mansion Braga dulu melainkan di suatu tempat yang sangat asing baginya.
Saat tengah tenggelam dalam lamunannya, Bella mendengar suara kunci pintu dibuka. Ia bergeming sedikitpun dari tempatnya atau hanya sekedar menoleh. Hanya ada dua orang yang biasa masuk ke kamar itu, Braga dan seorang pelayan yang menatapnya penuh cemooh setiap kali mengantarkan makanan ke sana. Sentuhan tangan kekar di balik jubah mandi yang menutupi tubuhnya membuat Bella terkesiap. Pria itu sudah kembali, pria yang sama sekali tidak ingin ia temui.
“Kau tidak akan mungkin bisa keluar dari sini, Sweety,” kata Braga. “Kita tidak lagi di Palermo sekarang, kita di Tuscany.”
Mata Bella membulat penuh mendengar perkataan Braga. Ia berada sangat jauh dari rumah, dengan pedih ia mengubur harapannya untuk keluar dari sana dan kembali ke rumahnya yang hangat.
“Renggangkan kakimu, Sweety,” perintah Braga.
Dalam sekejap Bella merasakan sesuatu kembali mengganjal di antara pangkal pahanya, tubuhnya terdorong ke depan hingga menyentuh kaca jendela.
“Anak buahku akan sangat senang mendapat pemandangan seperti ini pelacurku,” kata Braga menjambak rambut Bella. “Aku sudah membuatmu hidup layaknya seorang putri raja, tapi apa balasanmu hah!” ucapnya membenturkan kepala Bella ke kaca. “Kau melarikan diri dan hidup dengan bajingan itu!”
Bella kembali terisak mendapat pelecehan dari Braga, di luar anak buah Braga yang melintas terlihat meliriknya dengan senyuman mengejek membuat hatinya terasa disayat-sayat.
“Lihat?! Anak buahku tidak sabar untuk mencicipimu, Sweety.”
Dengan lemah Bella menggeleng sedih, ia tidak ingin menjadi pemuas mereka. Ia lebih memilih mati dibandingkan menjadi budak **** para pria biadab itu. Tubuhnya langsung merosot saat Braga telah menuntaskan hasratnya. Dia masih sesenggukan saat pria itu mencengkeram dagunya dan memaksanya untuk menatap Braga.
“Bunuh saja aku, kumohon,” pinta Bella memegangi kaki Braga.
“Tentu saja, setelah kami puas menikmati tubuhmu!” decih Braga langsung meninggalkan tempat itu.
Sekali lagi, Bella hanya bisa menangis terisak meratapi nasibnya yang buruk. Pria itu benar-benar telah menganggapnya tak lebih dari seorang pelacur karena dulu segila apa pun Braga, pria itu tidak pernah mengijinkan seorang pun menyentuhnya berbeda dengan yang Bella hadapi sekarang. Bella terus berpikir bagaimana cara untuk keluar dari tempat itu. Dan dia mendapatkan tiket keluar hanya saja ia harus bersabar menunggu hingga esok hari.
***
Dengan berjalan mengendap-endap, Bella menyusuri koridor bangunan itu hati-hati. Ia berhasil membekuk pelayan yang mengantarkan makanan tadi sekaligus menyita baju perempuan itu untuk menutupi tubuhnya yang telanjang. Ia masih berusaha mencari pintu keluar, tempat itu sangat luas, jauh lebih luas dari yang dibayangkannya. Secercah harapan muncul melihat sebuah pintu terpampang diujung koridor, ia berharap itu pintu keluar yang aman untuk dilewatinya.
Setelah berhasil keluar dengan selamat, Bella berjalan secepat mungkin ke luar gerbang. Sesekali ia bersembunyi dari penjaga yang berkeliling mengawasi seputaran tempat itu. Belum sampai separuh perjalanan, Bella melihat kepanikkan para penjaga. Jantungnya berdegup keras, Braga pasti sudah mengetahui ia berhasil keluar dari kamar hingga mengerahkan para penjaga untuk mencarinya. Bulir-bulir keringat membanjiri tubuhnya. Ia terus merapalkan doa agar bisa keluar dari tempat itu. Namun doanya menguap begitu saja saat mendengar salah satu penjaga meneriakinya.
Luntang pukang Bella lari dari para penjaga yang mengejarnya. Dengan nafas tersengal, ia lari menghindari para penjaga. Harapannya kian menipis saat ia mulai terjepit diantara tembok-tembok yang menjulang tinggi membatasi tempatnya dengan dunia luar. Ketakutan dan putus asa, Bella merapatkan tubuhnya ditembok seraya memohon pada para penjaga itu agar melepaskannya tetapi tak seorang pun yang mendengarkan permintaannya.
Salah satu penjaga itu mendekat dan langsung mencekalnya. Susah payah Bella memberontak, tenaganya yang sudah terkuras tidak ada bandingannya dengan tenaga pria itu ditambah tamparan keras yang ia terima berhasil membuatnya melemah. Ia hanya bisa pasrah ketika para pengawal itu menyeretnya kembali ke bangunan yang sudah ditinggalkannya. Tubuhnya terhempas kasar ke lantai begitu mereka sampai di depan Braga yang menatapnya tajam.
Braga berjalan mendekati Bella yang terduduk di lantai. Amarahnya meluap mengetahui sekali lagi perempuan itu mencoba melarikan diri darinya. “Kau benar-benar pelacur tidak tahu diuntung!” murkanya melayangkan tamparan pada Bella.
Darah segar mengalir dari sudut bibir Bella, membuatnya meringis kesakitan. “Aku mohon, bebaskan aku Braga. Aku sudah memiliki anak yang masih kecil,” ratapnya.
“Melepaskanmu? Jangan pernah bermimpi Sweety, kau adalah budakku, selamanya kau akan di sini. Tenanglah, suami dan anakmu kupastikan akan mati. Akan kuseret mereka di depanmu, akan kubuat mereka melihat bagaimana pelacur sepertimu melayaniku sebelum mengirimnya ke neraka.” Desis Braga penuh ancaman.
“Jangan… jangan lakukan itu,” pinta Bella memohon.
“Bawa dia ke penjara bawah tanah!” perintah Braga tanpa mempedulikan ucapan Bella.
Meskipun tubuhnya sudah lemah, Bella berusaha meronta untuk dilepaskan seraya memohon pada Braga untuk tidak menyakiti keluarganya.
***
Sekali lagi tubuh Bella merasakan sakit menghantam lantai. Kali ini ia membiarkan tubuhnya tetap bersentuhan dengan lantai yang dingin dan kotor. Air matanya sudah tak ada yang bisa keluar lagi, ia telah putus asa menghadapi nasibnya. Tanpa mempedulikan sekitarnya, ia bergelung dengan nafas yang tersengal kelelahan.
“Nyonya, apa nyonya baik-baik saja?”
Suara nyaring menyadarkan Bella dari keterpurukannya, ditolehnya asal suara itu. Di hadapannya terlihat seorang bocah tengah menatapnya cemas. Bella menggeleng lemah menjawab pertanyaan bocah itu.
“Mari kubantu,” kata bocah itu membantu Bella untuk bangun. “Minumlah,” lanjutnya menyodorkan cawan berisi air.
Bella menerimanya dan langsung meminumnya hingga kandas. Dipandanginya bocah laki-laki itu dengan seksama. Keadaannya sangat memprihatinkan, membuatnya bertanya-tanya apa yang terjadi dengan bocah itu hingga ada disini.
“Terima kasih,” ucap Bella mengembalikan cawan itu. “Siapa namamu?”
“Nathan nyonya dan itu temanku, James,” tunjuk bocah itu ke sudut ruangan.
Bella mengikuti arah yang ditunjukkan Nathan dan melihat seorang bocah berambut pirang tengah meringkuk. “Ada apa dengan temanmu?”
“Dia demam,” gumam Nathan.
Walau dengan tertatih, Bella mendekati James yang menggigil kedinginan. Suhu tubuhnya sangat tinggi dan terdengar racauan dari bibir bocah kecil itu. Ia merasa iba dengan kondisi dua bocah itu, hati-hati ia mengangkat tubuh James dan membawanya dalam pangkuannya. Ia mencoba menenangkan bocah itu yang terus bergumam memanggil Mamanya.
“Apa yang terjadi dengan kalian?” Tanya Bella.
“Orang tua kami dibunuh oleh Braga karena tidak bisa melunasi hutang dan dia membawa kami ke sini untuk menjadi pekerja kasar,” cerita Nathan.
“Lalu, kenapa kalian dipenjara?”
“Kami berusaha melarikan diri,” jawab Nathan kelu.
Bella mengulurkan tangannya pada Nathan dan menyuruhnya duduk di sampingnya dengan bersandar pada dinding yang dingin. Ia memeluk Nathan, membiarkan bocah malang itu bersandar pada tubuhnya. Tatapannya kosong, memikirkan nasibnya yang tidak lebih baik dari kedua bocah itu. Harapan untuk bisa keluar dari tempat itu rasanya sudah sirna. Bella memejamkan matanya, menangis dalam hati merindukan suami dan anaknya.
Bersambung…