The Heiress'S Love

The Heiress'S Love
Bab 9. Revenge



Deting suara piano terdengar merdu mengalun diseluruh penjuru kastil. Siapa lagi jika bukan Nathan yang biasa memainkan grand piano di lantai empat kastil itu. Ia semakin mahir memainkan piano sekarang. Nathan tersenyum puas berhasil menyelesaikan Piano Trios milik Wolfgang Amerdeus Mozart. Suara tepukan tangan ia dengar dari arah pintu. Natasha berdiri disana dengan wajah senang.


“Kau berhasil menyelesaikannya dengan benar.” Teriak Natasha kegirangan menghambur ke arah Nathan. Tanpa permisi gadis cilik yang sebentar lagi berulang tahun usia ke-6 itu langsung naik ke pangkuan Nathan.


“Astaga Tasya, kau berat sekali.” Keluh Nathan yang merasakan pahanya ditindih Natasha yang langsung bermain-main dengan tuts piano sembarangan.


“Ayo Nathan, ajari Tasya main.” Rengek Natasha tidak mempedulikan keluhan kakaknya itu.


“Jangan banyak bergerak kalau ingin aku mengajarimu.” Gerutu Nathan melingkarkan tangan ke perut adiknya agar tidak jatuh.


Natasha akhirnya bisa sedikit tenang meski bibirnya mengerucut.


“Baik, perhatikan baik-baik.” Nathan langsung menekan tuts memainkan nada dasar untuk mengajari Natasha, “sekarang giliranmu.”


Natasha mengangguk semangat. Dengan jari-jarinya yang kecil ia meniru apa yang diajarkan Nathan namun jemarinya tidak bisa menekan tuts persis seperti yang diajarkan kakaknya, “Nathan.” Rengek Natasha kesulitan meraih tuts nada selanjutnya.


Hampir saja sebuah tawa lolos dari bibir Nathan melihat tangan Natasha yang tidak bisa mencapai tuts piano itu. Setelah berpikir sejenak ia mendapatkan solusi untuk itu, “begini caranya.” Katanya memainkan piano dengan dua telunjuk tangan.


“Ehem.” Natasha mulai menirukan lagi cara baru yang diajarkan Nathan.


“Tasya…” Tegur Nathan yang melihat adiknya memainkan tuts secara asal.


Natasha tercengir. Ia mulai belajar nada dasar yang diajarkan Nathan padanya. Setelah berkali-kali mencoba akhirnya ia berhasil melakukan dengan sempurna.


“Nathan, kenapa setiap nada memiliki warna yang berbeda?” Tanya Natasha menatap kakaknya penuh rasa ingin tahu.


Nathan yang mendengar pertanyaan aneh adiknya hanya bisa menelengkan kepala, “warna apa?”


“Lihatlah, do mengeluarkan warna kuning, re warna hijau, mi warna ungu…” Terang Natasha sambil memencet tuts piano.


“Aku juga tidak tahu.” Jawab Nathan menggaruk kepala bingung. Ia bahkan tidak melihat apa-apa selama bermain piano, “akan kutanyakan pada daddy nanti, okey.”


Natasha mengangguk, perhatiannya kembali pada piano. Sesekali jarinya menekan tuts dan tertawa girang. Sekali, dua kali, akhirnya Natasha bermain piano dengan teratur. Nathan yang mendengarkan cukup tercengang karena adiknya langsung bisa memainkan sebuah lagu tanpa bantuan partitur.


***


Menjelang akhir musim dingin, cuaca sudah mulai menghangat. Salju terlihat mulai meleleh secara perlahan. Hari ini adalah hari besar Natasha. Seperti biasa tiap tahunnya, mereka akan merayakan ulang tahun Natasha dan tahun ini Natasha genap berumur enam tahun.


Di dalam kastil, kesibukan sudah terlihat sejak pagi. Para pelayan menyiapkan hidangan untuk acara pesta, beberapa diantaranya mendekorasi hall utama tempat diadakan pesta. Romanov tidak mengundang banyak orang, hanya teman dan keluarga terdekat yang akan berkumpul diacara pesta putrinya. Semua itu karena Romanov ingin tetap menjaga kondisi tetap aman.


Menjelang malam satu persatu para tamu undangan telah memasuki hall kastil. Mereka mengucapkan selamat pada Natasha yang malam ini terlihat cantik dengan balutan gaun ala princess. Acara pun segera dimulai. Setelah acara tiup lilin dan potong kue, Natasha langsung berlarian di hall itu bersama teman-temannya tanpa mempedulikan teguran para orang tua. Anak-anak sangat bersuka cita bermain dengan balon dan terompet yang disediakan.


Hanya satu hal yang kurang dari kemeriahan pesta itu. Romanov dan Daniel tidak bisa datang tepat waktu karena masih dalam perjalanan dari kunjungan ke pabrik senjatanya di Siberia. Meski Natasha sempat berkali-kali menanyakan sang ayah, pada akhirnya gadis kecil itu bisa menikmati pesta berkat kedatangan teman-temannya.


Menjelang pukul Sembilan, para tamu yang membawa anaknya mulai berpamitan menyisakan para tamu yang merupakan kerabat dan teman dekat Romanov maupun Vladimir yang masih meneruskan perbincangan mereka.


Saat semua orang masih hanyut dalam pesta di dalam kastil. Para penjaga di gerbang kastil satu persatu meregang nyawa akibat serangan mendadak. Sepuluh mobil merangsek memasuki kastil, menembaki siapa saja yang terlihat disana.


Sisa tamu yang masih di dalam kastil mulai merasa was-was mendengar keributan tersebut. Saat mereka hendak melihat apa yang terjadi di luar, muncul beberapa orang dengan senjata laras berat memasuki tempat itu. Tanpa menunggu aba-aba, rentetan peluru kembali terdengar. Peluru-peluru itu meluncur bebas tanpa banyak hambatan, meski ada beberapa orang yang berusaha melawan namun akibat kalah jumlah mereka pun kalah.


Bella yang tengah membawa Natasha kembali ke kamar langsung ketakutan mendengar rentetan bunyi senapan. Ia membatalkan niatnya membawa Natasha kembali ke kamar. Ia langsung berlari membawa Natasha kabur untuk bersembunyi.


Sayangnya usaha Bella gagal setelah orang yang sangat ia takuti memergokinya berlari keluar kastil. Braga berhasil meringkusnya bersama Natasha dan menyeret mereka kembali ke ruang keluarga. Seringaian Braga terlihat menakutkan di mata Bella, ia memeluk erat Natasha berusaha melindungi putri kecilnya itu.


“Kita bertemu lagi Bella.” Braga mempersempit jarak diantara mereka, menyeringai senang melihat putri Romanov itu.


“Kumohon jangan sakiti anakku Braga.” Pinta Bella dengan suara bergetar.


“Menyakitinya? Aku lebih suka jika dia menjadi anakku.” Kata Braga mengusap wajah Natasha yang basah karena menangis ketakutan, “bagaimana jika dia memang anakku? Bukankah aku memberikan kenang-kenangan sebelum kau pergi.”


“Tidak! Tasya bukan anakmu. Dia anakku bersama Romanov!” Sergah Bella.


“Aku tidak percaya dengan kata-katamu.” Braga langsung merebut Natasha dari gendongan Bella, membuat Natasha berteriak ketakutan. Bella yang mencoba merebut anaknya kembali justru mendapat tamparan keras dari Braga hingga tubuhnya terhuyung ke samping.


Braga langsung memberi kode pada Vincent dan Sergio untuk menahan Bella, sedangkan dia menimang-nimang Natasha memberikan kecupan di pipi gadis kecil itu.


“Berhentilah menangis Sweety. Aku akan mengajakmu bermain.” Kata Braga menenangkan Natasha.


Setelah Natasha sedikit tenang, ia menyerahkannya pada Gilberto. Akan ada pertunjukan istimewa yang akan ia tunjukkan pada Natasha malam ini. Didekatinya Bella yang menangis dan memohon untuk tidak menyakiti anaknya.


“Kumohon lepaskan Natasha.” Pinta Bella sesenggukan.


“Dan apa yang akan kuperoleh sebagai gantinya?” Tanya Braga.


“Kau bisa membawaku.” Cicit Bella.


“Membawamu, aku sudah tidak berniat untuk membawamu. Aku menginginkan Natashamu Bella.” Kata Braga dengan wajah tenangnya.


Bella menggeleng lemah, “kumohon jangan membawanya. Dia tidak bersalah.”


Bella hanya membeku di tempat berdiri tanpa bisa berbuat apa-apa mendengar permintaan Braga. Ia lalu mengangguk lemah menyanggupinya. Seringai kembali muncul di bibir Braga.


Pria itu langsung melayangkan tamparan sekali lagi pada pipi Bella yang hanya sanggup mengerang dan menangis. Tak sampai disitu, Braga meraup rambutnya dan dengan kasar membenturkan kepalanya ke meja. Bella merasakan pandangannya berkunang-kunang, samar ia mendengar teriakan Natasha yang terputus karena mulut putri kecilnya dibekap.


Braga menendang perut Bella yang tengah terduduk di lantai membuat wanita itu terjungkal, merintih kesakitan. Darah kental keluar dari mulut saat terbatuk. Sekali lagi sebuah tendangan mendarat di perut yang semakin membuat darah keluar banyak.


“Kau membuatku bergairah dengan wajah seperti itu.” Braga menarik paksa rambut Bella, memaksa wanita itu untuk berdiri sebelum menghempaskan ke arah sofa panjang.


Susah payah Bella menjauhi Braga, ia tahu betul apa yang akan dilakukan pria itu dan ia tidak sanggup jika putrinya melihat kebiadaban pria itu, “jangan lakukan itu di depan putriku.”


Braga tidak menggubris ucapan Bella, ia semakin mendekat dan membisikkan sesuatu pada Bella hingga wanita itu tercengang ngeri. Sedetik kemudian gaun atas Bella telah terkoyak menampilkan payudara yang langsung dilahap Braga dengan kasar. Bella mencoba memberontak sekuat tenaga tapi itu sama sekali tidak berpengaruh pada Braga. Hatinya semakin tercabik-cabik merasakan penutup bagian intinya di bawah sana terlepas dengan kasar.


“Perhatikan putrimu untuk terakhir kalinya.” Ucap Braga mencekik Bella, memaksanya menatap Natasha yang tidak berhenti menangis meski suaranya teredam oleh tangan Gilberto, “dan inilah terakhir kali kau mendapatkan kenikmatan.”


Mata Bella langsung melotot merasakan sakit di pangkal ke dua paha. Braga menghunjamnya dengan kasar, setelah beberapa menit pria itu membalikkan posisi hingga Bella berada di pangkuan. Masih dengan tetap memaksa bagian bawah mereka beradu dengan kasar.


“Karena ini kenangan terakhirmu sebelum membusuk di neraka, aku akan melipatkan kenikmatan yang kau peroleh.” Kata Braga menyeringai.


Bella yang sudah lemah semakin ketakutan melihat Vincent dan Sergio ikut mendekat. Ia berusaha meronta sekuat tenaga saat Vincent tepat berada di belakangnya. Lolongan memilukan terdengar menggema di ruangan itu saat Vincent berhasil memporak-porandakan bagian lain di bawah sana. Bella merasa tubuhnya remuk redam mendapat tiga gempuran sekaligus di depan dan belakang.


Meski siksaan ketiga orang itu tidak berlangsung lama, tubuh Bella langsung merosot lunglai di lantai begitu pria-pria itu melepasnya. Namun itu bukan akhir dari siksaan. Ia bisa melihat dari ekor mata enam anak buah Braga lainnya mendekat. Ia benar-benar mati rasa diserang enam pria sekaligus yang menggilirnya tiada henti. Belum lagi Vincent yang kembali bergabung menikmati tubuhnya yang sudah seperti boneka tidak bernyawa.


Braga benar-benar puas menikmati pemandangan di depannya. Telah lama ia merencanakan ini. di pangkuan, Natasha dengan tatapan kosong memperhatikan ibunya yang tengah melayani anak buahnya. Ia sudah lama mengincar putri kecil Romanov yang mungkin saja itu adalah putrinya mengingat umur Natasha yang terhitung tepat sejak ia membawa Bella terakhir kali. Dengan Natasha di tangannya, ia bisa menghancurkan Romanov dengan cara yang paling mengenaskan.


Dengan Natasha dalam pangkuan, Braga mudah membisikkan kata-kata untuk mempengaruhi pikiran Natasha yang kosong akibat syok. Ia terus membisikkan kata kebencian pada gadis itu, mengatakan betapa tidak layaknya Bella menjadi seorang ibu dan Romanov sebagai ayah. Dan satu-satunya orang yang layak menjaga Natasha adalah dia yang melindungi dari berbagai ancaman di luar sana.


Setelah anak buahnya selesai menggarap Bella, Braga membawa Natasha mendekat ke arah ibunya. Diperlihatkan darah yang mengalir di pangkal paha Bella dan bibir yang sudah mengering. Mengatakan betapa menjijikkan sikap Bella yang telah mau melayani banyak pria.


Braga kemudian mendekati Bella, memaksa wanita itu untuk duduk. Napas Bella tersengal-sengal dibuatnya.


“Ucapkan selamat tinggal pada putri kecilmu.” Bisik Braga di telinga Bella.


Bella kembali menangis, “jangan bawa putriku.”


Braga tersenyum miring, ia lalu menempelkan pisau lipat di leher Bela. Dalam sekali tarikan, pisau itu mengoyak kulit leher Bella hingga memutus aliran darah. Bella hanya sanggup terbelalak sebelum menghembuskan napas terakhir.


Seolah terbangun secara paksa, Natasha menjerit histeris melihat ibunya meregang nyawa di depan mata. Ia meraung memanggil ibunya yang terkapar di lantai dengan mata terbuka lebar. Darah segar masih mengalir di leher Bella hingga menggenangi lantai. Sebagian darah itu terciprat ke wajah Natasha saat Braga menggorok leher Bella tadi. Senyum puas terukir di wajah Braga melihat adegan mengenaskan itu.


***+


Jantung Nathan tidak berhenti berdegup kencang, disampingnya James terlihat sama pucat. Hanya satu yang mereka pikirkan saat ini. Keselamatan Natasha. Saat mendengar rentetan peluru mereka berdua lari bersembunyi di lantai empat. Nathan sempat melihat orang-orang yang menyerang berhasil menangkap Bella dan Natasha. Ia ingat betul siapa pria yang menyeret mama angkatnya itu. Orang itu adalah mimpi buruk mereka.


Setelah berjalan mengendap-endap menghindari anak buah Braga yang menyatroni satu persatu ruangan dan beberapa mengangkat peti-peti yang tersimpan di ruang bawah kastil Vladimir. Nathan dan James mencoba mencari dimana Natasha berada.


Teriakan histeris Natasha yang nyaring menjadi satu-satunya penanda dimana mereka menyekap adiknya. Nathan terlihat frustasi memikirkan nasib adiknya tercinta. Dari celah pintu yang terbuka, ia bisa melihat hanya ada Braga dan Vincent yang masih ada di dalam ruangan itu bersama Natasha. Jantungnya mencelus melihat mama angkatnya telah tewas bersimbah darah di depan Natasha.


“Apa yang harus kita lakukan?” Bisik James.


“Aku akan menyerang mereka, kau bawa Natasha lari dan bersembunyi.” Ucap Nathan memegang erat tongkat bisbol ditangan.


“Bagaimana denganmu nanti?” Tanya James khawatir.


“Apapun yang terjadi padaku jangan berbalik menolongku. Bawalah Natasha ke tempat yang aman, jaga dia untukku.” Pinta Nathan, “dan tolong berikan kado yang belum sempat ku berikan padanya.”


“Aku… aku…” James tidak sanggup berkata-kata seakan ini adalah perpisahan diantara mereka.


“Lakukan persis seperti apa yang ku lakukan. Setelah mendengar aba-aba dariku, bawa pergi Natasha.” Sela Nathan.


Tanpa menunggu jawaban James, Nathan masuk dan langsung memukuli Vincent dan Braga membabi buta.


“James, cepat!” Teriak Nathan melihat ada kesempatan.


James langsung masuk dan menggendong Natasha.


“Lari…!” Teriak Nathan lagi, ia masih berusaha menghalangi Vincent dan Braga.


Meski sempat ragu, James akhirnya melarikan diri sambil menggendong Natasha meninggalkan Nathan yang masih berjibaku sendirian dengan dua orang iblis di dalam sana. Belum jauh ia berlari, ia mendengar letusan senjata api dari tempat yang baru saja ia tinggalkan. James menoleh kebelakang, melihat tubuh Nathan roboh diambang pintu dengan darah mengucur deras dari dadanya.


Niatnya kembali, urung melihat bayangan ke dua orang itu keluar dari ruangan. James langsung berlari menyelamatkan diri menuju tempat persembunyian. Ia membawa Natasha ke taman belakang kastil dan bersembunyi di bawah jembatan tua yang sudah tidak terpakai.


Ia mencoba menenangkan Natasha yang masih menangis. Setengah panic, James mendekap Natasha, “jangan menangis Tasya, aku akan melindungimu.” Bisiknya lirih.


James memutar otaknya agar tangis Natasha berhenti mengingat masih ada yang mengejar mereka. Akhirnya ia mendendangkan lagu yang biasa dinyanyikan mama Bella maupun Nathan saat menemani Natasha tidur. Perlahan Natasha mulai tenang dan berhenti menangis saat ia mendengar derap langkah mulai mendekati tempat persembunyian mereka.


Di peluknya semakin erat Natasha. Detik-detik berlalu terasa lambat. Saat derap langkah meninggalkan tempat itu, James menghela napas lega. Ditatapnya Natasha yang pucat telah memejamkan mata. Ditenggelamkan wajah Natasha ke dalam cerukan lehernya. Udara yang dingin membuat James semakin lama semakin mengantuk belum lagi rasa penat yang menggelayuti tubuh. Perlahan matanya ikut terkatup. Dieratkan pelukan pada Natasha, James pun akhirnya ikut tertidur di sana.


Bersambung...