
“Good morning James, apa kau merindukanku?”
Masih dengan terpaku, James memandang gadis di depannya seakan tidak percaya. “Grace.”
“Astaga. Aku sangat rindu padamu James.” Gadis yang dipanggil Grace itu langsung menghambur ke pelukan James, mengabaikan wajah terkejut pria itu.
“Kapan kau pulang ke Inggris?” Tanya James setelah berhasil mengatasi keterkejutannya.
“Baru kemarin dan langsung kesini begitu urusanku dengan ayah tiriku selesai. Aku akan tinggal bersamamu.” Kata Grace menunjukkan koper besar yang masih tertinggal di luar pintu.
“Tapi… ada apa dengan apartemenmu?” Tanya James kebingungan.
“Aku menjualnya agar bisa tinggal bersamamu.” Jawab Grace terkekeh.
Dulu, Grace adalah kekasih James sejak mereka berdua sama-sama menginjak semester empat. Namun dua tahun yang lalu, Grace pindah ke Finlandia untuk tinggal bersama ibunya yang tengah bermasalah dengan ayah tiri Grace. Sejak itu Grace meninggalkan James tanpa memberikan kabar apa-apa lagi.
Dan sekarang gadis itu tiba-tiba saja muncul di hadapannya, tersenyum dan memandang James persis seperti yang dilakukan gadis itu dulu. Ada sedikit rasa senang di hati James melihat Grace, tetapi sekarang keadaan berbeda. Sudah ada Natasha yang dimilikinya, ia tidak mungkin membagi hatinya dengan yang lain.
“James… siapa yang datang.” Suara Natasha dari arah belakang membuyarkan lamunan James. Ditolehnya Natasha yang menatapnya penuh tanda tanya.
“Natasha. Kenalkan, dia Grace…” Kata James memperkenalkan tamunya.
“Aku kekasih James. Well, kalau aku tidak pulang ke Finlandia mungkin kami sudah bertunangan sekarang.” Sahut Grace melanjutkan kata-kata James, “kamu Natasha. Adik James. Aku harap kau tidak merepotkan Jamesku dengan sikap manjamu ya. Mulai sekarang aku juga tinggal di sini, jadi kau harus terbiasa hidup mandiri.”
“Grace…” Erang James.
“Kenapa James. Bukankah kau dulu sering mengeluh dengan sikap manja Natasha, karena itu kan kau jarang pulang ke Rusia. Tapi sekarang kau tenang saja, aku akan mengajari Natasha untuk hidup mandiri.” Ucap Grace penuh percaya diri tanpa menghiraukan wajah Natasha yang telah memucat. “Sekarang bisakah kau membawakan koperku ke kamar James.”
“Biar aku saja.” Sela James, tetapi langkahnya tertahan oleh cekalan tangan Grace.
“Biarkan adikmu, dia harus diajari mandiri. Kau ingat. Lagi pula aku masih ingin bersamamu.” Kata Grace langsung menarik James masuk ke dalam, meninggalkan Natasha yang masih diam terpaku di tempatnya.
Akhirnya dengan susah payah, Natasha membawa koper besar itu ke kamar James. Ia benar-benar tidak menyangkan selama ini James memandangnya sebagai anak manja. Apa itu salah? Ayahnya selalu memenuhi segala permintaannya, begitu pun Daniel yang tidak segan-segan memberikan banyak limpahan kasih sayang bahkan saat ia tidak membutuhkan sesuatu Daniel akan membelikannya. Ya, ayah dan Daniel tidak hanya memberikan limpahan harta, tetapi juga kasih sayang yang cukup besar. Hanya James, hanya pria itu yang mengacuhkannya selama ini karena membenci sikap manjanya? Perkataan Grace tidak hanya menohok hatinya, Natasha seakan baru saja merasakan tamparan keras.
Setelah selesai meletakkan koper milik Grace dan menghapus jejak air mata, Natasha kembali turun ke dapur untuk sarapan. Namun lagi-lagi ia harus menelan pil pahit begitu melihat masakannya untuk sarapan bersama James hampir tandas di makan Grace yang duduk sambil tidak berhenti berceloteh di samping James.
“Natasha. Kemarilah, kita sarapan dulu.” Panggil James melihat Natasha terdiam di ambang pintu.
Natasha melirik sekilas piring James yang masih penuh dengan masakannya, tapi selera makannya sudah hilang. “Aku sudah terlambat kuliah.” Tolaknya langsung berbalik pergi.
“Aku akan mengantarmu.” Kata James beranjak dari duduknya.
“Aku bisa sendiri.” Sahut Natasha tanpa menoleh.
Tubuh James langsung lunglai, sadar betul apa yang dirasakan Natasha saat ini. Baru sekejap mereka menghabiskan waktu bersama, tetapi dalam sekejap mereka terpisah seakan ada jurang tak kasat mata yang membentang di antara mereka. James tidak pernah membayangkan ini akan terjadi saat ia telah hidup bahagia bersama Natasha.
***
Sudah beberapa hari Grace tinggal bersama di rumah James. Keadaan di sana semakin membuat Natasha tidak nyaman. Bukan hanya geraknya yang terbatas, tapi juga sering mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan dari Grace terlebih jika James tidak ada di rumah belum lagi ditambah dengan sakit hatinya melihat setiap malam James dan Grace tidur di kamar yang sama. Meski pun beberapa kali James mengatakan tidak akan terjadi apa-apa saat bersama Grace dan akan secepatnya meminta gadis itu pindah, tetap saja Natasha yang paling tersakiti saat ini.
Dalam kesendirian, Natasha duduk menanti James disebuah taman kecil didekat kampus. Pria itu sudah berjanji akan menjemputnya walau pun James belum juga muncul meski sekarang sudah lebih dari setengah jam dari waktu yang dijanjikan. Sesekali Natasha terlihat menoleh memeriksa jalanan di taman mencari-cari keberadaan James dan berkali-kali pula Natasha menelan kecewa karena belum melihat pria itu datang.
Lelah, bosan dan kecewa. Itulah yang dirasakan Natasha saat ini. Ia tidak bisa berbuat apa-apa selain menunggu hingga James datang, sedangkan sudah berkali-kali ia mencoba menghubungi James, tetapi ponsel pria itu tidak aktif.
Saat mengedarkan pandangan ke sekeliling, Natasha melihat sesuatu tanpa sengaja. Kaleng kosong yang menggelinding di terpa angin terlihat mengeluarkan berbagai macam warna cerah. Dengan terheran-heran, ia menatap tanpa kedip kaleng itu. Namun warna-warni yang sempat ia lihat langsung hilang begitu kaleng itu berhenti. Didorong rasa penasaran, ia pun beranjak menghampiri kaleng itu. Hati-hati ia menggelindingkannya kembali.
Dia tidak sedang berhalusinasi sekarang saat melihat warna-warni itu kembali muncul. Seperti mendapatkan mainan baru, Natasha kembali menggelindingkan kaleng itu berulang-ulang hingga seseorang yang tiba-tiba muncul di hadapannya menghentikan kaleng itu dengan kaki.
“Hai, bisakah kau kembalikan kalengku.” Pinta Natasha mendongakkan kepala dengan wajah memohon.
“Ini?” Tanya pria itu memainkan kaleng di bawah kakinya.
Natasha mengangguk cepat dengan tatapan penuh harap. Pria itu bukannya memberikan kaleng itu seperti yang diharapkan Natasha, tetapi justru menginjaknya hingga penyok.
“Kau merusak warna kalengku.” Sembur Natasha kesal.
Pria itu tergelak melihat Natasha yang kesal setengah mati. Mengabaikan pria yang tidak dikenalnya itu, Natasha mengalihkan perhatiannya pada ayunan taman yang berderit terkena hembusan angin. Ayunan itu pun mengeluarkan warna-warni setiap berderit membuat Natasha tanpa sadar berjalan menghampirinya.
Perhatian Natasha terhadap ayunan itu kembali teralihkan oleh bunyi ketukan nyaring dari arah belakang. Pria yang tadi mengusiknya, ternyata masih berada di sana. Memukul-mukul besi papan bermain dengan kayu. Warna yang dikeluarkan dari pukulan-pukulan pria itu lebih indah karena lebih berirama.
“Kenapa berhenti?” Protes Natasha melihat pria itu tidak lagi memukul-mukulkan kayu.
“Memangnya kenapa?” Pria itu berbalik bertanya dan menatap Natasha geli.
“Aku ingin melihat warnanya lagi.” Kata Natasha.
“Maksudmu mendengarkan nadanya?” Pria itu membenarkan perkataan Natasha. Ia kembali mengetuk-ngetukkan kayu lebih lambat dari sebelumnya sambil memperhatikan reaksi Natasha.
“Kau lihat itu? Warnanya sangat indah, tapi redup karena kau memukulnya tidak sekeras tadi.” Terang Natasha.
Kembali pria itu tergelak mendengar perkataan Natasha, “tidak ada warna di sana, yang ada hanya nada yang indah.”
“Kau pikir aku sedang berhalusinasi.” Ucap Natasha kesal.
“Tidak. Aku berpikir kau seorang Sinesthetiker.” Kata pria itu.
“Untuk orang berkapasitas otak lebih, kau sangat payah dalam perbendaharaan kata.” Cibir pria itu tergelak, “Sinesthetiker, orang yang mengidap kelainan Synesthesia.”
“Apa itu berbahaya?” Natasha mendekati pria itu, tertarik dengan apa yang baru saja ia dapatkan.
“Aku Sean.” Ucap pria itu mengulurkan tangan, mengabaikan pertanyaan Natasha.
“Natasha.” Balas Natasha.
“Aku tahu.” Kata sean singkat, “ayo, ikut aku.”
Sean langsung menyeret Natasha keluar dari taman itu. Ia mengajaknya berkeliling banyak tempat yang banyak dikunjungi musisi jalanan. Meski awalnya Natasha terlihat keberatan, akhirnya gadis itu bersuka ria menikmati keindahan warna dalam hidupnya yang baru saja didapatkannya. Dalam sekejap Natasha melupakan janjinya untuk menunggu James menjemput. Pria yang baru saja dikenalnya itu telah berbuat banyak untuk menunjukkan apa yang selama ini tidak ia sadari.
“Warnanya begitu indah, mereka terlihat terang.” Seru Natasha setiap mendengar alunan nada indah yang dinyanyikan para musisi jalanan.
Atau, “astaga. Orang itu merusak warnanya.” Gerutu Natasha setiap mendengar musisi jalanan yang memainkan alat musiknya secara asal.
Kalau saja orang yang tidak memahami apa yang terjadi dengan Natasha, mungkin gadis itu dikira baru saja menggunakan obat-obatan terlarang hingga membuatnya berhalusinasi. Namun tidak halnya dengan Sean yang memang sudah sejak lama memperhatikan Natasha, dan kejadian di taman tadi hanya sebuah kebetulan yang membuatnya bisa berkenalan dengan gadis itu.
“Kau suka dengan hari ini?” Tanya Sean saat mereka menghangatkan badan disebuah café. Hari memang sudah beranjak malam saat mereka menyadari waktu yang telah dilewati.
“Ya, aku senang sekali. Selama ini aku tidak menyadari keberadaan warna-warni dalam hidupku.” Jawab Natasha antusias.
“Mungkin saja kau sudah memilikinya sejak dulu, hanya saja pernah menghilang dan baru sekarang synesthesiamu muncul lagi.” Kata Sean mengira-ngira.
Natasha terdiam mengingat-ingat masa kecilnya. Dulu ia sangat menyukai lagu terlebih permainan piano Nathan yang selalu membuatnya ceria karena setiap dentingan tuts piano yang dimainkan Nathan memiliki warna yang indah.
“Aku ingat sekarang. Sewaktu aku kecil, aku sangat senang mendengarkan kakakku bermain piano. Warna musik yang dimainkannya terlihat menakjubkan bagiku.” Ucap Natasha.
“Lalu kenapa kau bisa kehilangan warna itu selama ini?” Tanya Sean penasaran.
“Kakakku tidak lagi memainkan piano. Dia lebih senang menghabiskan waktu untuk berlatih bela diri dan juga menembak.” Jawab Natasha.
“Mungkin karena itu synesthesia hilang.”
“Tapi darimana kau bisa tahu aku seorang Sinesthetiker?”
“Tebakan beruntung. Aku memperhatikanmu tadi saat bermain dengan kaleng kosong.” Jawab Sean terkekeh.
“Kau berhutang satu kaleng padaku.” Gerutu Natasha mengingat nasib kaleng tadi.
“Aku akan menggantinya yang lebih bagus nanti.” Kata Sean.
“Kau janji.” Natasha memajukan jari kelingkingnya.
“Janji.” Sahut Sean menyambut jari kelingking Natasha dan menautkannya pada jari kelingkingnya sendiri. Mereka pun saling bertukar pandang dan tersenyum.
“Aku harus pulang. Kakakku pasti marah besar kalau tahu aku pulang terlalu malam.” Kata Natasha tersadar bahwa kini malam semakin larut.
“Akan aku antar kau pulang.”
***
Benar saja, saat mobil Sean terparkir di depan rumah mereka berpapasan dengan mobil James yang berjalan dari lain arah. Dari dalam mobil, Natasha bisa melihat dengan jelas kemarahan pria itu. Bahkan saat Sean keluar menemaninya turun, James hanya menatap dingin teman barunya itu dan menyuruh Natasha untuk segera masuk rumah. Percikan kemarahan James semakin membara saat dengan lancangnya Sean mencium pipi Natasha di depan pria itu sebelum mereka berpisah.
“Dari mana saja kamu? Aku mencarimu di taman, tapi kau sudah menghilang.” Kata James tajam setelah mereka masuk rumah.
“Aku pergi bermain dengan Sean.” Jawab Natasha lirih.
“Bukankah aku menyuruhmu menunggu di taman.” Bentak James.
“Aku sudah menunggumu di sana lebih dari satu jam, tapi kau tidak juga datang.” Kata Natasha membela diri.
“Kenapa tidak meneleponku?”
“Sudah kulakukan, semuanya tersambung dalam mailbox.” Erang Natasha, “aku lelah, James.” Lanjutnya sebelum pria itu melontarkan pertanyaan lain yang akan membawa mereka ke pertengkaran lagi seperti biasanya.
James menghela napas lelah. Diikutinya langkah Natasha memasuki kamar gadis itu. Sejak kedatangan Grace, ia merasa Natasha semakin menjauh menghindarinya. Itulah yang membuat James cemas, apalagi melihat pria lain dengan terang-terangan mendekati Natasha tepat di hadapannya. Ingin rasanya ia menghajar pria itu tadi.
“Aku tahu kau tidak nyaman dengan kedatangan Grace. Tapi ku mohon bertahanlah sebentar lagi. Aku sudah meminta Grace untuk mencari tempat tinggal baru, dia pun sudah menyanggupinya. Grace sudah menerima hubungan kami dulu tidak mungkin bisa terulang. Kumohon bersabarlah.” Pinta James memeluk Natasha erat.
“Aku tidak ingin ikut campur dalam masalah itu.” Ucap Natasha lirih.
“Tasya…” Erang James frustasi, dihelanya napas dalam-dalam untuk meredakan kekalutannya. “Aku punya dua tiket pesawat ke Spanyol. Akan ada festival La Tomatina akhir bulan ini, kita ke sana untuk liburan. Bagaimana?” Lanjutnya mengingat dua tiket yang beberapa waktu lalu sengaja ia pesan untuk liburan yang direncanakan jauh hari sebelumnya.
“Tapi kita tidak ada jadwal libur kuliah.” Kata Natasha heran.
“Kita bolos beberapa hari. Hanya ada aku dan kamu.” Ucap James penuh harap.
Cukup lama Natasha terdiam menimbang-nimbang tawaran James hingga akhirnya ia mengangguk setuju.
“Aku mencintaimu Natasha.” Dengan penuh kebahagiaan, James memagut bibir Natasha dan menciumnya dalam dan penuh gairah.
Bersambung...