
“Aku tidak bisa mencintaimu…”
Ucapan James seperti sambaran petir bagi Natasha. Tubuhnya semakin lunglai dengan tangis yang tidak bisa ia kendalikan. Semakin banyak potongan puzzle di dalam pikiran yang tidak bisa ia rangkai. Semakin banyak pula pertanyaan yang menumpuk tentang mengapa James begitu membencinya.
Usapan hangat tangan James membuat Natasha tersadar pria itu sudah berada di hadapannya. Hati Natasha semakin perih saat James berusaha menghapus air matanya yang tidak berhenti keluar.
“Aku tidak bisa mencintaimu sebagai adikku, Natasha.” Ucap James lirih, “karena aku terlanjur mencintaimu sebagai seorang perempuan.”
“Maksudmu…”
“Aku mencintaimu layaknya seorang laki-laki yang mencintai perempuan.” Terang James.
“Tapi kau kakakku James.” Ucap Natasha masih tidak mengerti.
James menggeleng pelan, “kita tidak sedarah Tasya. Aku hanya kakak angkatmu.”
“Benarkah?” Tanya Natasha terkejut.
“Iya, daddy mengadopsiku saat masih di Italia.” Jawab James.
Jadi itulah kenapa tidak ada kemiripan James dengan mereka terutama rambut pirang pria itu yang tidak dimiliki oleh siapapun dikeluarganya. Pikir Natasha. “kau bersikap seperti membenciku dan memarahiku setiap waktu.”
“Aku cemburu setiap melihatmu bersama pria lain, tetapi aku tidak punya keberanian untuk mendekatimu.”
“Kenapa?”
“Karena status kita. Aku tidak ingin mengecewakan daddy, tapi juga tidak bisa mengenyahkan perasaanku padamu.” James mempersempit jarak mereka dan mendekap erat Natasha, “maafkan aku Tasya.”
Setelah Natasha tenang dan mereka sarapan bersama, James membantu Natasha untuk membersihkan sisa-sisa kekacauan pesta semalam. Beruntung bagi James karena Natasha tidak mempermasalahkan salah satu patung pajangannya pecah berantakan setelah menjadi korban sasaran tembaknya semalam.
Akhirnya satu persatu kejanggalan yang terjadi saat pesta semalam terkuat saat James menemukan beberapa barang bukti yang masih tertinggal di apartemen itu. Salah satunya pembungkus obat bius yang tertinggal di tumpukan sampah di dapur, obat yang membuat Natasha tidak sadarkan diri hingga hampir diperkosa temannya sendiri. Semua bukti yang terkumpul oleh James disimpan rapi tanpa sepengetahuan Natasha.
Saat malam datang. James yang sengaja menginap di apartemen Natasha memberanikan diri masuk ke kamar gadis itu. Dilihat adiknya itu belum memejamkan mata meski malam kian larut. Ia pun mendekat melihat Natasha tidak terganggu akan kehadirannya.
“Kau belum tidur?” Tanya James sembari merebahkan tubuh di samping Natasha.
Natasha menggeleng, “tidak bisa tidur.”
“Kemarilah.” Kata James meminta Natasha merapat. “Apa yang biasanya Daniel lakukan agar kau bisa tidur?”
“Memelukku dan menyanyikan lullaby sampai aku tertidur.” Jawab Natasha.
“Baiklah.” Ucap James memeluk Natasha.
“Lullabynya?” Tanya Natasha malu-malu.
“Aku ingin memberikan sesuatu padamu lebih dulu. Sebagai hadiah ulang tahun.” Kata James merogoh kantung untuk mengambil sebuah kotak kecil yang sudah sejak lama ia simpan. “Bukalah.” Pintanya setelah memberikan kotak itu pada Natasha. James terlihat senang mendapati Natasha begitu takjub begitu membuka isi kotak itu.
“Ini untukku?” Tanya Natasha tidak percaya sambil memandangi kalung yang tengah ditimang-timangnya.
“Tentu saja itu untukmu.” Ucap James.
“Terima kasih James.” Kata Natasha langsung memberikan ciuman di pipi James dan kembali memandangi kalung bertulis Queen di tangannya.
“You will always be my Queen, Tasya.”
***
Di tengah malam pekat yang diimbangi dengan hingar bingar suara manusia diantara dentuman musik yang terdengar keras mengisi seluruh penjuru club. Seseorang dengan nafas terengah-engah mencoba semakin merapatkan diri ke dinding yang berada di belakangnya. Pria itu tidak mungkin berteriak meminta bantuan sedangkan kebisingan di luar sana mengalahkan suaranya yang sudah putus, lelah berteriak.
“Shit.” Pria itu mengumpat pelan. Ia sedang tidak ingin terluka malam ini ditambah ia tidak mau lagi merasakan pukulan orang yang semakin mendekat ke arahnya. Sudah cukup satu kali ia dihajar pria itu.
“Sudah kukatakan, aku dijebak. Bukan aku pelakunya.” Ucap Ivan panik.
“Tapi kau yang berusaha memperkosa Natasha.” Kata James berang.
“Aku dalam pengaruh obat saat itu dan bukan aku yang meracuni minuman Natasha.” Terang Ivan.
“Apa bisa aku percaya dengan anak seorang raja sabu dari Spanyol, sepertimu?!” Cibir James.
Susah payah Ivan menelan ludahnya. Terkejut pria di depannya itu mengetahui latar belakang kehidupannya.
“Kau pikir aku tidak tahu apa-apa tentang dirimu? Asal kau tahu, semua teman Natasha tidak luput dari pengawasanku termasuk kau.” Kata James.
“Siapa kau sebenarnya?” Tanya Ivan ketakutan.
Sambil memamerkan senyum sinisnya, James mengeluarkan kalung tanda keanggotaannya sebagai pembunuh bayaran di Dark Devil membuat Ivan lagi-lagi mengumpat.
“Aku berani sumpah bukan aku yang melakukannya. Aku hanya mengundang teman-teman sekelas karena mereka yang mendesak. Tidak ada obat-obatan yang ku bawa ke sana.” Kata Ivan mencoba menjelaskan.
“Baiklah, kali ini aku akan percaya dengan kata-katamu. Namun kalau aku menemukan bukti yang kuat bahwa kau pelakunya, aku tidak akan segan-segan membunuhmu.” Ancam James, “dan jangan dekati Natasha lagi apa pun alasanmu. Kau hanya akan membahayakan nyawanya.”
Sepeninggal James, tubuh Ivan semakin lunglai. Ia sama sekali tidak berniat melukai sedikit pun Natasha karena ia mencintai gadis itu hingga rela mengubur identitas aslinya untuk melindungi Natasha, tetapi kini Ivan harus rela melepaskan gadis itu karena ia sadar bahaya yang mengancam keselamatan Natasha jika ia terus berada di samping Natasha.
Seandainya ia lebih kuat atau bisa terlepas dari lingkaran keluarga mafia, mungkin ia tidak harus kehilangan Natasha dengan cara menyakitkan seperti ini. Sialnya, ia sadar diri akan status yang melekat sejak lahir dan Natasha terlalu baik jika harus bersanding dengannya yang berasal dari lingkungan lingkaran hitam dunia.
Ivan masih duduk terpekur tak bergeming sedikitpun bahkan saat anak buahnya yang lain berdatangan membantu teman-temannya yang cidera akibat amukan James beberapa saat yang lalu. Jadi inikah akhir ceritanya bersama Natasha? Ia pergi tanpa mengucapkan sepatah kata dan melupakan janjinya yang akan berada disamping gadis itu untuk selamanya?
***
Sepulang kuliah, Natasha menghabiskan waktu duduk merenung di depan tv. Ia semakin tidak berminat untuk masuk kuliah. Regina sudah pindah, siang tadi ia juga harus melepas kepergian Ivan yang mendadak berubah sikap terhadapnya. Ivan yang biasanya berkata lemah lembut terhadapnya, hari ini justru mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan hati.
Sekarang ia tidak lagi memiliki teman dekat saat berada di kampus. Tidak. Dari dulu pun ia selalu sendirian, tidak ada seorang pun yang mau berteman dengan gadis aneh seperti dia.
“Kau sudah pulang?” Tegur James yang baru saja memasuki apartemen.
Natasha menoleh ke arah James dan mengangguk, “aku ingin pulang ke Rusia saja.” Ucapnya sendu.
“Kenapa?” Tanya James heran.
“Tidak ada yang mau berteman dengan gadis aneh sepertiku di sini.” Jawab Natasha.
“Kau tidak aneh Natasha, tapi kau istimewa.” Hibur James.
“Apa artinya istimewa kalau aku tidak ada yang mau berteman denganku. Justru aku menganggapnya aneh.”
“Tenanglah, masih ada aku yang menemanimu di sini.” Kata James memeluk Natasha.
Natasha menenggelamkan diri dalam pelukan James, menikmati kehangatan tubuh pria itu. Inilah yang selalu dirindukannya. Rasanya sudah sangat lama James tidak pernah memeluk Natasha, melingkupi gadis itu dengan kehangatan dan juga aroma maskulin.
“James.”
Natasha menengadahkan kepala agar bisa menatap kakaknya itu. Kata-kata yang telah berada di ujung lidah mendadak tertelan kembali saat tatapan mereka bersatu. Entah siapa yang memulai terlebih dahulu, tanpa sadar bibir mereka telah berpagutan. Rasanya sangat berbeda saat Natasha berciuman dengan Daniel. Saat melakukannya dengan James, Natasha merasakan getaran aneh dalam dada yang membuat seluruh tubuhnya ikut bergelenyar.
“I love you, Natasha.”
Bersambung...