
Mereka sangat menikmati acara bulan madu itu. Rishie benar-benar memanjakan Rose, keromantisan pun mengiringi langkah mereka selama di Bali. Bahkan selama dua malam ini, ia tak membiarkan isterinya tidur nyenyak. Ia seakan tak puas untuk bercinta dengan sang isteri, kejahilan pun harus Rose terima setiap waktu. Tapi Rose tidak bisa menolak atau marah setiap suaminya mulai merajuk seperti anak kecil.
Pagi ini mereka sedang bersiap untuk kembali ke Meksiko. Sebenarnya Rishie masih menginginkan bukan madu mereka di perpanjang, tetapi sang isteri sudah meminta untuk pulang, dengan alasan Jessy sakit dan harus di rawat di rumah sakit. Dengan sangat terpaksa Rishie harus mengalah, ia langsung memesan tiket untuk penerbangan pagi ini secara online. Rose tersenyum manis pada sang suami saat permintaanya di kabulkan, sebuah kecupan pun mendarat di bibir Rishie.
"Terimakasih, Sayang," ucapnya sambil bergelanyut manja di lengan suaminya.
"Apa pun akan, aku lakukan untukmu, Sayang," jawab Rishie dan langsung menyambar bibir istetinya kembali.
"Satu ronde lagi sebelum jam penerbangan tiba, itu tidak masalah kan, Sayang," bisik Rishie di telinga Rose. Apa yang bisa Rose perbuat? Ia hanya mengangguk pasrah.
Pesawat pun akhirnya lepas landas dari Bandara Ngurahrai Bali, Indonesia menuju Benito Juàrez Meksiko. Mereka langsung menuju mobil setelah turun dari pesawat, karena sang supir pribadi telah siap di sana, Rose pun meminta agar langsung ke rumah sakit di mana Jessy di rawat. Rose sangat menyayanginya, baginya Jessy adalah keluarga.
Rose langsung turun dari mobil dan berlari masuk ke dalam saat mobil berhenti di parkiran rumah sakit. Ia kondar-mandir mencari keberadaan kamar Jessy. Senyumnya mengembang saat melihat kamar yang ia cari-cari di temukan. Rose mendorong pintu dengan sangat pelan, di lihatnya sang sahabat terbaring lemas di ranjang rumah sakit. Rose melangkah mendekati Jessy yang masih terlelap. Jhon yang menyadari kedatangan isteri sang bos pun lanhsung bangkit dari duduknya.
"Nyonya Rose!" uca Jhon yang kaget, karena yang ia tahu mereka sedang berbulan madu.
"Hai, Jhon, iya ini aku. Kenapa Jessy bisa masuk rumah sakit?" Rose duduk di samping ranjang Jessy.
"Aku kira, Anda sedang berbulan madu dengan bos. Kenapa ada di sini?"Jhon masih penasaran kenapa Rose ada di sini?.
"Itu karena ulahmu!" ucap Rishie dengan nada kecewa, yang baru saja masuk ke kamar Jessy.
"Apa! aku? salah apa aku bos?" jawab Jhon kebingungan.
"Masih bertanya? kenapa, kau memposting isterimu yang sedang sakit di akun media sosial! kau ini seorang pembisnis bukan aktor!" seru Rishie.
"Bisa diam tidak! kalian mengganggu istirahat Jessy!" ucap Rosenyang geram mendegar percakapan suami dan asistenya itu.
Keduanya langsung bungkam, dan duduk dengan manis di sofa. Jessy membuka matanya saat mendengar kegaduhan yang di ciptakan Rishie dan Jhon. Namun sosok yang ada di hadapanya membuat Jessy menotehkan senyum di bibirnya. Kedatangan Rose sangat membuat Jessy bahagia.
"Renata?" ucap Jessy lirih.
"Hei, kau bangun? apa mereka membuatmu mengganggu tidurmu?"ucap Rose sambil membelai puncak kepala Jessy.
Jessy hanya menggeleng, ia berusaha bangun untuk duduk, dengan sigal Jhon berlari dan membantunya. Rose pun meletakan bantal di belakang punggung Jessy, agar terasa nyaman. Jessy meraih tangan Rose dan menggenggamnya erat.
"Kenapa kalian pulang? bukannya kalian sedang berbulan madu?" tanya Jessy lirih.
"Kami bisa pergi lagi, Jes,tapi keadaanmu lebih penting."
"Pasti Jhon yang membuat kalian harus pulang secepatnya?"
"Tidak, sudahlah ... jangan bahas kenapa aku pulang dari bulan maduku, istirahatlah."
"Oh ya, kau sakit apa?" tanya Rose penasaran.
"Tapi apa?" Rose terlihat makin penasaran.
"Aku ... aku hamil Renata," jawab Jessy dengan senyum manisnya.
"Apa, kau hamil? wah ... selamat Jessy, aku akan segera menjadi aunty hahahaha ... ," Rose nampak begitu bahagia mendengar kabar kehamilan Jessy.
"Terimakasih, Renata, aku sangat bahagia," ucap Jessy yangeneteakan air mata kebahagiaannya.
Ia menginggat semua masalah uang menimpanya beberapa tahun yang lalu. Di mana ia di hadapkan dengan dua pilihan yang membuatnya harus memilih terjun ke jurang kegelapan. Sampai Tuhan mempertemukannya dengan Renata, dan tak pernah ia bayangkan jika ia bisa terbebas dari kegelapan itu. Pertemuannya dengan Jhon sang kekasih juga tak pernah ia bayangkan, semua tersa nyata dan membuat Jessy terus bersyukur dengan segala yang terjadi di hidupnya. Ia belajar banyak dari apa yang ia alami. Jika akan ada cahaya setelah kegelapan, akan ada bahagia setelah kesedihan.
"Kenapa kau menangis," ucap Rose, yang menghapus air mata Jessy.
"Aku bahagia," jawab Jessy.
"Jangan lagi mengingat masa lalu kalau itu membuatmu bersedih, cukup jadiakan semua itu sebagai pelajaran. Pandanglah ke depan, jangan menengok ke belakang, bukankah itu yang selalu kau bilang?"
"Ya, aku sangat beruntung memilikimu Renata," ucap Jessy sambil memeluk Rose.
"Aku juga beruntung memilikimu," ucap Rose dan membalas pelukan sahabatnya itu.
Rishie dan Jhon hanya terdiam melihat Rose dan Jessy berpelukan, dan saling melepas semua kesedihan mereka di masa lalu. Suasana kamar Jessy lun menjadi ramai dengan kedatangan Riahie dan Rose. Sesekali mereka saling melempar candaan yang membuat mereka tertawa, meski tak begitu keras. Karena mereka tahu, dimana mereka berada.
****
Rose membaringkan tubuhnya di ranjang kamarnya, sedang Rishie masih sibuk dengan laptop di depannya. Karena baru saja ia mendapat laporan tentang pergerakan James yang harus di waspadai oleh Rishie. Rose tak mempermasalhkan kesibukan suaminya, ia memilih membersihkan diri ke kamar mandi.
Selesai dengan ritual mandinya, Rose membuatkan secangkir kopi kesukaan sang suami. Rishie tersenyum menghirup aroama kopi yang ada di depannya. Rose sengaja meletakan kopi tepat di hadapan Rishie.
"Ada masalah apa?" tanya Rose sambil menatap layar laptop di depan suaminya.
"James, dia berulah lagi," jawab Rishie malas.
"Apa yang dia perbuat?" Rose semakin pensaran.
"Dia mengirim mata-mata ke perusahaanku, dia ingin menyerang tanpa aku ketahui. Tapi dia lupa kalau seorang Rishie Edward bukanlsh orang bodoh," ucap Rishie menyerigai.
"Dia memang bodoh, dia lupa siapa lawan yang di hadapinya," imbuh Rose tak kalah menyerigai.
James memang lupa siapa Rishie? meski kadang-kadang James selalu selangkah di depan mereka. Namun selalu saja berhasil di gagalkan oleh Rishie. Perang di antara keduanya yang tak terlihat oleh semua orang, itu akan terus berkobar selama belum ada yang terkalahkan. Rishie ingin segera membalas semua perbuatan James kepada Rose di masa lalu, dan mengembalikan semua harta milik Rose yang telah direbut paksa oleh James, Ayah tiri Rose.
Bersambung.....