THE BLACK ROSES

THE BLACK ROSES
Tak mau berpisah.



Rishie mendekati Rose yang mematung di depan kamar mandi. Ini seperti mimpi baginya, bisa bersama dengan istri tercintanya sungguh hal yang amat sangat ia nantikan. Ia bahkan berharap jika semua ini ta akan berakhir, ia ingin bisa bersama selamanya dengan Rose.


"Kau kenapa?" ucap Rishie saat sudah berada di depan Rose.


"Aku kira kau sudah pergi," jawab Rose lirih. Sambil menundukan wajahnya.


"Mana bisa aku pergi, setelah Tuhan memberiku kesempatan untuk bertemu denganmu," ucap Rishie dengan menyeka air mata Rose.


Rose makin menundukan wajahnya, mendengar ucapan Rishie. Sebelumnya ia tak merasa seperti ini, bahkan biasanya dia lah yang sering menggoda suaminya itu. Tapi kini rasanya berbeda bagi Rose. Selama beberapa bulan ini mereka harus tinggal terpisah, karena sebuah jebakan yang di lakukan oleh James dan Rahcel.


Mungkin karena sudah sedikit lama berpisah membuat mereka sedikit canggung. Namun bagi Rishie, ini adalah ujian untuk cinta mereka. Dan kini ia berjanji tak akan langsung mengambil sebuah keputusan tanpa mencari tahu kebenaranya.


"Kenapa? sampai kapan kau.akan menundukan wajamu?"tanya Rishie.


Mendengar ucapan Rishie membuatnya berani mengangkat wajahnya, ia memberanikan menatap Rishie. Senyum pun mengembang di wajah Rishie, karena melihat Rose mau memandangnya. Sakit di sekujur tubuhnya seakan pergi entah kemana, Rishie pun mendekat ke arah Rose.


"Maaf, atas semua ucapan ku malam itu," ucap Rishie sambil meraih ke dua tangan Rose.


"Apa kau sudah percaya, jika malam itu aku dan Thomas hanya di jebak?" tanya Rose pada Rishie.


Rishie yang tak mau menghancurkan moment ini pun mengangguk, ia tak mau menyianyiakan ksempatan yang Tuhan berikan. Ia menyingkirkan segala pemikiran negatif tentang malam itu. Ia hanya ingin kesempatan ini menjadi jemnatan agar ia dan istrinya bisa kbali bersama.


"Aku percaya, maukah kau memaafkan ku?" ucap Rishie, masih mengenggam kedua tangan Rose.


"Akan ku coba?" jawab Rose.


"Dan aku akan menunggu," ucap Rishie, yang mulai nakal, dengan mendekatkan wajahnya ke arah Rose. Dan sebuah kecupan lembut pun mendarat di bibir Rose.


Sebuah kecupan sayang yang sudah sangat di nanti keduanya. Kecupan yang tadinya biasa saja, kini menjadi sedikit panas. Rose yang membalas kecupan suaminya itu, membuat sang suami semakin meluapkan kerinduanya melalui kecupan itu.


Rishie baru melepaskan kecupanya, saat melihat Rose sudah kehabisan nafas. ia mengusap bibir manis sang istri yang sedikit bengkak karena ulahnya. Rose kembali menunduk, ia merasa malu karena, baru saja ia membalas kecupan Rishie. Sungguh ia mengakui dalam hatinya bahwa ia sangat merindukan suaminya itu.


Rishie tersenyum kecil melihat Rose tertunduk. Inilah yang membuatnya merindukan sosok Rose. Wanita yang dapat membuatnya merasa tenang, dan nyaman.


"Aku lapar, kau mau membuatkan ku sesuatu? untuk mengganjal perutku?" tanya Rishie, memecah kecanggungan mereka.


"Boleh, mau aku buatkan apa?" jawab Rose.


"Apa saja," aku sangat lapar.


"Baiklah, kau tunggu saja di sini, aku akan memasak dulu.


"Hmm, jangan lama, aku sudah sangat lapar, jangan sampai aku melahapmu sayang," ucap Rishie meledek Rose.


Sebelum menyajikan makananya itu, Rose terlebih dulu mencuci peralatan masaknya. Rishie yang sudah sangat lapar itu langsung pergi ke dapur. Melihat Rose sedang mencuci peralatan masaknya, ide jail pun memenuhi otaknya. Diam-diam, ia mendekati Rose dan memeluknya dati belakang.


"Kenapa lama sayang?" tanya Rishie, dengan berbisik di telinga Rose. Yang sontak membuat Rose salah tingkah.


"Aku sudah bilang jangan terlalu lama, apa kau ingin aku melahapmu?" pertanyan gila yang Rishie ucapkan, membuat Rose membelakakan matanya.


Dengan cepat Rose membereskan kegiatanya. Ia tahu jika Rihie sudah berkata, pasti akan di lakukanya. Ia belum siap jika apa yang di ucapkan Rishie benar-benar di lakukan. Rose sudah menata makanan di meja makan yang ukuranya seperempat dari ukuran meja makan di rumah Rishie. Peralatan makan yangbia gunakan juga jauh berbeda dengan yang biasa Rishie gunakan di kediamanya. Namun itu tak menjadi masalah untuk Rishie, yang terpenting baginya adalah bisa bersama dengan istri tercintanya.


Rishie memakan semua masakan yang Rose masak, ia tak menyisakan sedikit pun, ia memakan seperti orang yang sedang kelaparan, dan sudah berhari-hari tak makan.


"Emm..enak sekali, aku sangat merindukan rasa makanan ini sayang," ucapnya sambil menyunyah makanan yang memenuhi mulutnya.


"Benarkah? memang para chef di rumahmu tak bisa memasak ini?" ucap Rose sambil tersenyum melihat kelakuan Rishie yang seperti anak kecil.


"Ya, tak ada yang bisa memasak masakan seenak ini, dan hanya istriku saja yang dapat memasaknya," ucapnya lagi.


Rose makin gemas melihat Rishie, yang tak menghentikan memasukan makanan ke dalam mulutnya yang sudah penuh dengan makanan. Dalam hati Rose sangat bahagia, bisa bersanding dengan suaminya lagi. Ia mengira semua akan berakhir setelah kejadian malam itu, namun Tuhan masih menginginkan mereka tuk kembali bersama.


Rasa sakit karena ucapan Rishie malam itu, seperti musnah begitu saja. Kini yang ada dalam hatinya hanya bahagia, bisa bersama dengan suaminya lagi. Ia bahkan berharap jika hari ini jangan cepat berlalu, ia takut setelah hari ini, Rishie akan meninggalkanya lagi. Jujur dalam hatinya ia tak mau berpisah kembali dengan suaminya, dan itu pun yang Rishie inginkan juga. Ia berharap hari ini dan seterusnya ia akan selalu bersama dengan istri tercintanya.


Rishie pun sudah menyelesaikan sarapanya, ia lalu membantu Rise mencuci piring. Setelah semua beres, Rose berpamitan pergi ke kafe untuk bekerja. Sebenarnya Rishie tak ingin Rose bekerja, tapi ia tak mau membuat suasana ini berubah. Jadi dengan terpaksa ia mengijinkan Rose pergi bekerja.


Setelah Rose pergi, ia segera menghubungi Jhon, untuk datang ke rumah Rose. Tak lama setelah perintah Rishie di turunkan, sang asisten pun sampai di rumah milik Rose.


"Pagi bos," sapa Jhon pada bos besarnya.


"Pagi Jhon," jawab Rishie dengan senyum lebarnya.


"Maaf bos, soal semalam, saya melakukan kesalahan," terang Jhon meminta maaf, atas kesalahanya.


"Sudahlah..jangan bahas itu. Aku malah sangat senang, meski tibuhku sakit, tapi aku bisa berada di sini," jelas Rishie, masih dengan senyum lebarnya.


"Apa, yang membuat bos seperti ini?, apa yang dilakukan Nyonya Rose?" ucapnya dalam hati, ia juga berpikir apa yang di lakukan sang Nyonya, sehingga bosnya kembali jinak.


Namun ia sangat bahagia melihat keadaan bosnya yang sudah kembali tersenyum, bahkan ia sudah mau makan. Karena selama beberapa bulan ini ia jarang makan, ia hanya makan saat benar-benar sangat lapar. Setiap hari hanya di isi dengan minuman. Namun pagi ini ia melihat sosok bosnya kembali ceria.


BERSAMBUNG.


Jangan lupa ya kawan, budayakan tekan jempolnya setelah membaca. Terimakasih.😘😘