
Rahcel menekan kirim, pada ponselnya, gambar itu pun langsung melesat ke nomor yang di tuju. Rishie seharusnya sudah berada di Kanada, tapi kenyatanya ia masih ada di Mexico.
Dan mungkin nasib baik sedang ada di pihak James dan Rahcel. pesawat yang akan di tumpangi Rishie mengalami perubahan jadwal, yang seharusnya sudah berangkat tadi pagi, di undur malam ini.Untuk menunggu jadwal penerbanganya, Rishie memilih menginap di hotel dekat bandara. Malam ini Rishie yang sedang bersiap menuju bandara mendapatkan sebuah kiriman foto dari nomor tak di kenal. Ia langsung memeriksa isi foto itu.
Darah Rishie seakan mendidih, rahangbya mengeras, urat di tubuhnya pun menegang. Seluruh tubuhnya terasa kaku menahan amarahnya. Ia melihat sang istri berada di pelukan orang lain saat ia tak ada, sedang ia sangat mengenal siapa lelaki yang sedang mendekap istrinya. Ia melempar ponsel yang di miliknya entah kemana, dengan amarah yang memuncak Rishie bergegas menuju tempat yang di beri tahu si pengirim foto.
Ia melajukan mobil dengan kecepatan tinggi. Amarah kini menguasai dirinya, entah apa yang ada di pikiranya saat ini, ia tak pernah menyatakan cintanya pada Rose, namun ia merasa sangat marah dan kecewa saat Rose berada di pelukan lelaki lain.
***
Tak butuh waktu lama, Rishie pun sampai di hotel di mana Rose dan Thomas di jebak. Dengan penuh amarah Rishie melangkah menuju kamar istrinya berada. Dengan sekali tendangan pintu kamar itu pun terbuka. Namun si pemilik kamar masih tertidur pulas, dengan emosinya ia menarik Rose dari ranjang.
"Bangun!," ucap Rishie penuh emosi, dan menarik tangan Rose dari ranjang. sehingga Rose jatuh dari ranjang, sadar akan keadaanya Rose menarik selimut yang ada di ranjang tanpa melihat ada seseorang di ranjang itu.
"Agh, Rishie?," ucap Rose, sambil memegangi kepalanya yang terasa pusing.
"Kenapa? kau kaget, aku ada di sini!" teriak Rishie, dan membuat Thomas membuka matanya.
"Rishie, apa yang terjadi? kenapa kepalaku sakit?" Rose masih bingung.
"Hentikan Renata! jangan berpura - pura bodoh. Kenapa, kau kaget? karena aku bisa memergokimu dengan si brengsek itu!" terang Rishie dengan nada penuh amarah, sambil menunjuk Thomas.
Thomas yang baru saja sadar juga kebingungan. Ia bingung karena ada Renata dan Rishie di sana. Dan ia lebih bingung karena melihat Renata yang hanya mengenakan selimut untuk menutup tubuhnya. Sedang ia sendiri hanya mengenakan pakaian dalam saja.
Rose masih bertanya pada Rishie, apa yang terjadi padanya? dan kenapa ia bisa bersama Thomas?. Namun Rishie yang di kuasai amarah tak menjawab pertanyaan Rose. Ia masih diam namun hatinya sangat kecewa, melihat istrinya berada di pelukan lelaki lain.
"Kenapa kau lakukan ini Renata?" tanya Rishie menahan amarahnya. Rishie hanya memejamkan matanya, namun tanganya mengepal menahan agar amarahnya bisa di kendalikan.
"Rishie, apa yang aku lakukan? semua yang kau lihat ini salah, aku tak pernah melakukan apapun dengan Thomas," jelas Rose pada Rishie. Saat menyadari keadaanya dengan Thomas.
"huft, semua salah? ya, kau benar Renata, ini salah!" ucap Rishie yang mulai kehilangan kendali.
"Rishie, aku mohon dengarkan aku, percayalah, aku tak menghianatimu," ucap Rose memelas.
"Kau sudah menunjukan siapa dirimu sebenarnya, kau adalah wanita penghibur, dan sekarang kau kembali pada jati dirimu yang sebenarnya," ucap Rishie yang sudahbtak bisa menahan amarahnya.
PLAK!
Rose melayangkan sebuah tanparan pada Rishie. Ia memang sadar siapa dirinya, namun hatinya merasa sakit saat Rishie mengatakan itu. Rose merasa kecewa, karena sikap Rishie, yang tak bisa melihat mana yang asli dan mana yang jebakan.
"Aku memang seoarang wanita malam,, tapi ingat, itu bukan kemauanku!" tetiak Rose yang merasa sangat terhina akan perkataan Rishie.
"Hhh, apapun alasanya tetap saja, kau adalah wanita penghibur!" ucao Riahie membentak Rose.
"Kalau aku begitu hina di matamu,, kenapa kau memungutku dari tempat itu hah!" Rose sudah kehilangan kendali. Ia berteriak pada Rishie dengan air mata yang mulai membanjiri wajahnya.
"Kau sangat tahu alasanku memungutmu, dan aku menyesal," ucap Rishie.
"Rishie! kau memang sama dengan mereka semua! kalian para lelaki memang brengsek!" teriak Rose sambil menangis.
Rose masih duduk di lantai, ia seakan tak mempunyai tenaga untuk berdiri. Hatinya hancur, mendengar semua perkataan Lelaki yang ia fikir tak sama dengan lelaki lain. Namun kenyataanya mereka sama. Rose masih menagis tersedu, ia terus berfikir kenapa ia bisa berada di kamar itu bersamaThomas.
Entah apa nama rasa yang ia rasakan? namun bagi Rose, Rishie adalah segalanya. Ia tak pernah melihat kemarahan Rishie seperti hari ini, bahkan Rishie telah mengusir Rose dari kediamanya.
Thomas bangkit dari ranjangnya, dan mengambil jubah mandi di kamar mandi. Lalu ia memberanikan diri mendekati Rose, ia takut jika Rose akan marah, namun ia sangat iba melihat keadaan Rose.
"Renata, bangunlah," ucap Thomas membujuk Rose.
"Thomas, katakan padaku, kenapa semua ini bisa terjadi?" ucap Rose masih menangis.
"Aku juga tak tahu, yang aku ingat semalam aku di beri minum oleh Rahcel."
"Ya, Rahcel, aku yakin dia ada hubunganya!" ucap Thomas.
"Ya, kau benar Thomas, semalam juga ada yang memberiku minuman, dan setelah aku meminumnya, aku tak ingat apapun," jelas Rise mengingat apa yang terjadi semalam.
"Dan aku fikir, Rahcel tak mungkin melakukanya sendiri," ucap Thomas.
"Iya, pasti James ada di belakangnya," ucap Rose penuh keyakinan.
Thomas pun membantu Rose berdiri, Rose pun berlalu ke kamar mandi. Sedang Thomas menelfon asistenya, untuk membelikan baju untuk Rose dan segera mengirimnya ke hotel, di mana ia dan Rose berada.
Tak lama Rose pun keluar dengan berpakaian lengkap, pakaian yang ia kenakan adalah pemberian Thomas. Thomas duduk di sofa, begitu juga Rose, mereka masih membahas kenapa mereka bisa ada di sana dalam keadaan seperti itu.
"Kau sudah baikan?" tanya Thomas.
"Hmm," jawab Rose singkat.
"Kau mau pulang kemana Renata?" Thomas memberanikan diri untuk bertanya pada Rose.
"Tentu ke rumah suamiku," jawab Rose dengan senyum palsunya.
Rose pun memutuskan pulang ke Mansion, sesampainya di sana ia langsung ke atas, menuju kamarnya. Namun ia sangat kaget saat membuka pintu kamar, Rishie sudah ada di dalam. Rose pun melangkahkan kakinya untuk masuk, ia masih berharap Rishie berubah fikiran untuk mengusirnya. Namun itu hanyalah khayalan Rose, nyatanya Rishie pergi dari kamar setelah meliha Rose masuk.
Hati Rose sangat pedih, melihat orang yang paling dekat denganya, bahkan orang yang paling ia percaya mengabaikanya, bahkan sudah mengusirnya. Air mata Rose seakan tak mau berhenti, dengan tertatih Rose berjalan ke lemari. Ia mengambil sebuah tas yang sudang usang, tas itu adalah tas yang berisi semua pakaian Rose sebelum masuk ke klub.
Ia memandangi kamar itu, kamar yang sudah tak ia tempati lagi. Kamar yang berisi kenanganya dengan Rishie, Rose hanya bisa menangis, mengingat semua kenangan manis itu. Ia pun melangkah pergi meninggalkan kamar dan semua kenangan itu. Tak ada yang Rose bawa dari kamar itu hanya sebuah foto pernikahan sebagai kenangan.
Bahkan Rose tak membawa baju dan sebagainya yang Rishie berikan, termasuk uang. Rose hanya membawa pakaianya dulu, ia juga menghapus make up di wajahnyan, mengikat sembarang rambutnya, dan memakai celana jeans dan kaos biasa. Dia membuang semua karakter Rose yang penuh ke anggunan dan kemewahan.
BERSAMBUNG..
**Hai..kawan..jumpa lagi nih😁. jangan lupa ya kasih vote and komen kalian, dan aku ucapkan banyak terimakasih untuk kalian yang masih setia membaca tulisanku dan bersedia memberi vote.
Oh..ya aku lg nulis lagi nih kawan. Tapi di lapak sebelah. Yang kenal dunia oranye mampir ya. The Sweetest Mistake itu judul tulisanku.
Thank you, see you and happy reading😉😘**