
Sore menjelang malam, kedua makhluk itu masih menikmati nikmatnya surga dunia di balik selimut tebal. Mereka masih terus bergulat, seakan tak mau melepaskan diri.
Langit yang cerah kini berganti petang, menandakan hari pun sudah berganti malam, namun Rishie masih terus mengunci sang istri di bawahnya.
"Rishie, sudah hentikan, ini sudah malam," rengek Rose.
"Rishie, aku mohon," ucapbRose memelas.
"Aku belum puas," jawabnya santai, dan masih asyik bermain dengan kedua bukit Rose.
Rishie pun tak melepaskan Rose yang masih di kunci di bawahnya. Ia tak memperdulikan rengekan Rose.
"Rishie..ini sudah malam," ucap Rose memelas, meminta untuk di lepaskan.
"Bukanya lebih bagus, jika sudah malam, kita bisa bermain sepuasnya?" ucap Rishie menggoda Rose.
BUGH..
"Aww," teriak Rishie saat di pukul dengan bantal guling oleh Rose.
"Dasar, gila!" teriak Rose.
"Kauu, kenapa mengatai ku gila? bukanya apa yang ku katakan benar?" ucap Rishie, sambil mengusap kepalanya yang di serang oleh Rose.
"Kita bisa terlambat Rishie..ini sudah malam, dan acara resepsi kita di mulai pukul 20.00, lihat sekarang jam berapa?" jelas Rose.Rishie menengok jam di atas nakas, dan ahirnya dengan terpaksa Rishie melepaskan istrinya.
Rose segera berlari ke kamar mandi setelah Rishie melepaskanya. Selang beberapa menit, Rose keluar dari kamar mandi, ia pun sudah siap dengan dresnya. Ia terkejut karena Rishie pun sudah siap.
"Kau, sudah siap? mandi di mana?" tanya Rose penasaran.
"Di bawah, ayo nanti terlambat, " ucap Rishie berjalan keluar kamar.
Pasangan penganti baru itu sudah berada di mobil, untuk menuju hotel di mana resepsi akan di gelar.
*Hotel.
Sebuah gedung telah di sulap menjadi taman bunga oleh para EO yang sudah di bayar oleh Rishie. Para tamu undangan sudah mulai berdatangan, sedang sang pengantin baru saja tiba di hotel, mereka bergegas menuju kamar yang sudah di pesan Rishie.
Para perias pun sudah ada di sana, dengan cekatan mereka mulai merias Rose, di acara resepsi ini Rose mengenakan gaun pengantin rancangan disainer ternama. Rishie juga terlihat lebih gagah dengan tuxedo yang ia kenakan.
Tidak butuh waktu lama keduanya telah siap menuju tempat resepsi. Namun saat Rose berjalan ke arah pintu kamarnya ia terkejut, saat melihat sosok wanita yang ia kenal.
Rose menoleh ke arah Rishie, seakan meminta jawaban darinya, Melihat itu Rishie hanya tersenyum. Ia mendekati istrinya.
"Kenapa kau tak menyapa sahabat mu itu?" tanya Rishie pada Rose.
"Kau, membebaskanya?" tanya Rose.
Rishie hanya mengangguk, Rose pun tak kuasa menahan tangis, ia memeluk suaminya, ia tak menyangka tanpa sepengetahuanya Rishie telah membebaskan sahabatnya.
"Terimakasih, ini kado paling istimewa di hari pernikahan ku," ucap Rose terisak.
"Hmm, masih ada lagi, tapi besok baru akan kuntunjukan," ucap Rishie.
"Benarkah? apa?" tanya Rose penasaran.
"Kalau aku beri tahu bukan surprise lagi," jelas Rishie.
"Hei, kau mau terus memeluku? lihat sahabatnu, jadi obat nyamuk?" ledek Rishie.
Rose pun menengok Jessy yang masih berdiri di depan pintu, menyaksikan kedua pasang pengantin baru berpelukan. Rose ahirnya melepaskan pelukanya pada Rishie, ia lalu menghampiri Jessy.
"Jessy, aku merindukanmu?" ucap Rose memeluk Jessy.
"Aku juga merindukanmu Renata?" jawab Jessy.
"Untuk apa? kau memeluk suamimu, itu wajar Renata?" jawab Jessy .
"Ayo, kita bisa terlambat," potong Rishie.
"Ayo," jawab Rose dan Jessy bersamaan.
Mereka pun berjalan menuju tempat yang telah di persiapkan untuk resepsi malam ini.
Semua tamu sudah memenuhi tempat itu,dan sang MC pun mempersilahkan kedua pasangan pengantin baru untuk memasuki ruangan.
Rishie berjalan dengan sang istri Rose yang menggandeng lengan suaminya, senyum pun tak henti mereka tebar ke semua tamu undangan.
Rose dan Rishie telah sampai di singah sana mereka untuk menyambut para tamu yang akan memberikan ucapan selamat pada mereka.
Lantunan lagu - lagu romantis pun mulai menemani para tamu. Berbagai hidangan juga sudah di siapkan untuk menyambut mereka. Semua acara berjalan dengan lancar, Rishie pun tak lupa memperkenalkan sang nyonya besar Rose Edward.
Jessy tersenyum lebar melihat kebahagiaan sahabatnya itu, seorang pelayan tiba - tiba tak sengaja memumpahkan minuman padanya.
"Maaf, nona akutak sengaja," ucap pelayan.
"Oh, tak apa," jawab Jessy.
Jessy pun meninggalkan kerumunan orang yang sedang menyaksikan kedua mempelai berdansa.Namun Jessy tak memperhatikan jalan sehingga ia menabrak seseorang.
"Maaf, aku tak sengaja tuan," ucap Jessy pada pria yang ia tabrak.
"Ya nona, tak apa,"jawabnya.
Namun mereka terkejut saat saling menatap satu sama lain. Jessy tak menyangka pria yang ia tabrak adalah Jhon, dan sebaliknya Jhon pun tak mengira wanita yang menabraknya adalah Catterin atau Jessy.
"Jhon," ucap Jessy lirih.
Jhon tak menjawab, Jessy pun menyadari perubahan sikap pria yang ada di hadapanya itu. Ianpun memutuskan meninggalkan Jhon,namun saat Jessy baru mau melangkah tiba - tiba ua dibkejutkan oleh sebuah benda yang jatuh ke hadapanya, dengan sigap ia menangkap benda itu, dan ternyata itu adalah buket bunga yang di lempar oleh Rose dan Rishie.
Sontak semua mata tertuju pada Jessy dan Jhon yang sedang memegang bukey bunga itu. Ya tanpa sengaja saat Jessy menangkap bunga itu ia sedikit oleng dan dengan sigap Jhon menangkap tubuh Jessy agar tak jatuh.
Sehingga posisi mereka saat ini menjadi pusat perhaian, apalagi mereka adalah orang yang beruntung mendapat buket bunga dari sang pengantin.
Setelah berdansa kedua pengantin ini harus melakukan prosesi wajib, yaitu ciuman di depan semua tamu undangan, mau tak mau Rose harus melakukanya, sebuah ciuman mesra dan lembut Rishie berikan untuk sang istri, semua tamu pun bersorak bertepuk tangan. dan di ahir acara mereka melemparkan buket bunga ke arah tamu.
Alangkah terkejutnya Rose saat melihat siapa orang yang beruntung mendapatkan bunga itu, Jessy sahabatnya lah yang beruntung, namun Rose tambah di kejutkan saat melihat siapa pria yang ada di samping Jessy.
Jhon asisten suaminya, bahkan posisi mereka membuat Rose dan Rishie tersenyum lebar.
"Aku tahu kau dan wanita itu ada sesuatu Jhon," ucap Rishie dalam hati.
Rishie memang sudah curiga saat melihat ekspresi sahabat istrinya malam itu,saat Jhon di bawa pulang dalam keadaan mabuk di mansion. Namun ia tak mau pusing soal itu.
Ahirnya acarapun selesai, Rishie mengajak Rose ke kamar hotel yang sudah ia siapkan.
Di lain tempat, Jessy dan Jhon sekarang di dalam satu mobil, ya Jhon di perintahkan Rishie mengantar sahabat istrinya. Hening tak ada percakapan di antara keduanya, Jessyntetus menundukan wajahnya, ia tak berani memandang Jhon, ia sangat tahukalau Jhon maaih marah padanya.
"Apa kau tak lelah terus menunduk!" bentak Jhon, yang merasa geram melihat sikap Jessy.
Jessy masih tak mau menatap Jhon, ia masih menunduk, tiba - tiba ia di kejutkan saat Jhon mengangkat dagunya, ia menatap mata yang selama tiga tahun ia ridukan.
Tatapan yang selalu membuatnya tenang, dan saat ini tatapan itu masih sama meski Jhon masih marah padanya,tapi kehangatan tatapan itu masih bisa ia rasakan. Tanpa di duga Jhonmendekatkan wajahnya dan..
CUP
BERSAMBUNG...
Hai...kawan, aku ucapkan buat kalian yang masih mau membaca tulisanku ini. Dan jangan lupa ya tingglkan jejak kalian dengan memberi like