
Jessy pun berlalu ke toilet untuk memenersihkan bajunya. Sementara Thomas terus tersenyum kepada Rose. Rose yang menyadarinya pun segera bangkit dari kursinya, ia tak mau hanya berdua saja dengan Thomas, namun sebelum Rose meninggalkan meja, Thomas lebih dulu menarik tangan Rose.
"Apa sudah tak ada lagi kesempatan Renata?" tanya Thomas penuh harapan.
"Maaf Thomas, kita bukan yang dulu. Sekarang aku telah bersuami, dan tolong panggil aku Rose, Renata sudah mati."
"Dan harus kau ingat hubungan kita adalah masa lalu," imbuh Rose, sambil melepaskan genggaman tangan Thomas.
"Apa yang membuatmu sangat mencintainya? bukankah dulu hanya aku yang kau cinta?" ucap Thomas dengan nada yang sedikit meninggi.
"Kalau kau tanya apa yang membuat aku sangat mencintainya?"
"Jawabanya adalah dia pahlawanku. Dan dia selalu menepati janjinya, tidak sepertimu," imbuh Rose kesal.
Thomas pun bangit dati kursinya, ia menatap Rose tajam. Dan tanpa sengaja ia menarik syal yang Rose kenakan. Mata Thomas membulat, melihat sebuah pemandangan yang telah di buat Rishie.
"Baiklah nyonya Rose Edward, aku menghargai statusmu sekarang. Tapi, aku tak akan pernah menyerah, untuk menunggumu," jelasnya sambil berlalu pergi.
Thomas pun pergi meninggalkan kafe tersebut. Rose yang tadinya ingin pergi langsung duduk kembali. Ia menatap pemandangan di luar jendela kafe tersebut, ia masih mengingat semua kenangan manis bersama Thomas. Sesekali ia juga tersenyum kecil mengingat masa itu. Namun semua kenangan itu musnah, ketika Rose mengingat apa yang telah di lakukan Thomas dan Rahcel. Lamunan Rose pun buyar, ketika Jessy datang.
"Hei, kemana si Thomas?" tanya Jessy. Yang nencari keberadaan Thomas.
"Pergi," jawab Rose singkat. Sambil memainkan ponselnya.
Jessy duduk di depan Rose, ia meneruskan menghabiskan makanan yang tadi ia tinggal. Rose masih terdiam, Jessy pun menjadi curiga? karena melihat raut wajah Rose yang berubah.
"Ada apa?" tanya Jessy pada Rose.
"Tak, ada," jawab Rose, masih malas berbicara.
"Dia membuatmu marah?" tanya Jessy lagi.
"Hmm, ternyata dia masih sama, dan belum menyerah. Meski aku telah menikah," terang Rose.
"Cintanya memang besar, tapi, kenapa ia harus menghianatimu?" Jessy kembali bertanya.
"Entahlah, sudahlah, ayo kita kembali ke kantor," ajak Rose sambil bangkit dati kursinya.
"Tunggu sebentar lagi, Renata, aku belum menghabiskan makananku," rengek Jessy.
Rose pun menuruti perkataan Jessy. Mereka masih asyik duduk di kafe itu. Jessy tersenyum sendiri membuat Rose curiga padanya. Jessy terus mengamati sebuah benda yang melingkar di jari manisnya. Jessy pun menatap Rose.
"Renata, apa kau tahu?" tanya Jessy pada Rose.
"Apa."
"Jhon telah melamarku," ucap Jessy malu - malu.
"Benarkah? wah, selamat Jessy, aku ikut senang," ucap Rose gembira.
Tanpa mereka sadarindari kejauhan Rahcel sedang memperhatikan mereka, bahkan sejak di kafe tadi. Rahcel juga melihat adegan saat Thomas mengungkapkan isi hatinya pada Rose. Rahcel pun tak tinggal diam, dia segera menghubungi James. Dan memberintahukan bahwa rencana yang mereka buat, harus di laksanakan.
"Hallo Mr James, mungkin sekarang waktu yang tepat," ucap Rahcel pada James di telefon.
"Baiklah Nona Rahcel, akan ku buat rencana sematang mungkin?" jawab James, di sebrang sana.
Rahcel pun menutup panggilanya dan pergi dari tempat itu. Ia melajukan mobilnya, Rahcel terus tersenyum, membayangkan akan kehancuran Rose untuk yang ke dua kalinya. Ia sungguh sangat berambisi menghancurkan Rose hanya karena sebuah rasa iri. Lelakinyang sangat ia cintai malah mencintai wanita lain, yang tak lain adalah Renata yang kini merubah nama menjadi Rose.
Rahcel pun sampai di kantor Thomas, ia mengikuti semua instruksi James. Ia harus bisa membujuk Thomas agar mau datang ke jamuan makan malam yang di adakan James, besok malam. Dan Rahcel ingin cepat menghancurkan Rose, jadi ia memutar otak agar Thomas mau hadir dalam acara itu. Karena rencana James di mulai dari acara ini. James ingin menjebak Rose dan Thomas, supaya Rose dapat berpisah dengan Rishie.
James juga sangat ingin menghancurkan wanita yang pernah ia hancurkan dulu. Ia tak mau jika semua yang ia miliki, akan di ambil lagi oleh Rose. Ia juga sangat marah pada Rishie, karena beberapa waktu lalu, perusahaanya yang berada di luar negeri di buat bangkrut seketika, oleh Rishie. Itu semua yang membuat James sangat bersemangat memulai rencanya.
***
Kantor.
Mansion.
Rishie sedang menyiapakan beberapa baju ke dalam koper. Rose yang memerhatikan suaminya sedari tadi nampak kebingungan, sebab ia tidak mengetahui rencana kepergian sang suami meski untuk mengurus bisnisnya.
"Kau mau kemana sayang," ucap Rose, mendekati Rishie.
"Ada urusan bisnis, mungkin dua hari aku di sana," jawab Rishie yang masih sibuk membereskan kopernya.
"Oh, kau mau berangkat kapan sayang?" tanya Rose.
"Ya, kenapa?" ledek Rishie.
"Kau akan merindukanku, kan?" imbuh Rishie, menggoda istrinya.
"Aku tak akan merindukanmu!" jawab Rose kesal.
"Baiklah, aku akan pergi besok, dan aku akan sangat merindukanmu sayang," ucap Rishie sambil mengecup bibir manis sang istri.
Ia lalu menggendong Rose dan membaringkanya di ranjang kesayangannya. Dengan perlahan ia melepas semua kain yang menempel pada tubuh sang istri, ia pun mulai menjelajahi petualanganya di di surga dunia. Rishie menelusuri setiap tempat kesayanganya tanpa terlewat satu pun. Ia juga memanjakan Rose dengan setiap sentuhanya, sedang Rose hanya menikmati setiap sentuhan itu.
Tak pelru waktu lama Rishie pun menyatukan dirinya dengan sang istri, ia membenamkan pedang miliknya di tempatnya. Mereka pun larut dalam gairah penuh cinta. Malam ini mereka menyatu, dan tak pernah mereka sadari jika esok hari akan ada sebuah kejutan yang akan menanti mereka.
Pagi pun tiba Rose sudah bersiap pergi ke kantor, sedang Rishie sudah siap dengan kopernya. Rishie berpamitan pada Rose, tak lupa ia mengecup kening dan bibir sang istri seperti biasa. Rose mengantarkan suaminya sampai ke depan Mansion, ia terus berdiri sampai mobil yang mengantar sang suami tak terlihat lagi.
Setelah Rishie pergi Rose bersiap ke kantor, dengan di antar supir pribadinya.
Sesampainya di kantor, Rose seperti biasa menyapa semua karyawanya dan langsung menuju ruanganya. Di sana Jessy sudah berada di ruangan Rose.
"Pagi Bos," sapa Jessy.
"Pagi Jessy," jawab Rose.
"Oh ya, kau tak lupa kan malam ini kita ada acara?" tanya Jessy mengingatkan.
"Tidak, aku ingat," jawab Rose sambil mengecek laporan karyawanya.
Rose dan Jessy pun mulai mengerjakan semua yang harus ia kerjakan. Mereka terus bekerja sampai tak terasa waktu pun berlalu dengan cepat. Mereka pun bersiap untuk pulang, dan mempersiapkan acara malam ini.
***
Hotel.
Semua tamu undangan sudah tiba di hotel itu, hidangan pun sudah di siapkan untuk menyambut semua tamu. James memang sudah mempersiapkan semua dengan sangat detile, ia ingin semua rencananya sukses. Sebab itu ia membuat acara malam ini sesempurna mungkin agar Rose atau Thomas mencurigainya.
Rose tiba di dampingi Jessy sang asisten, mereka masuk ke hotel tersebut dengan menggunakan undangan yang di beri James. Mereka ahirnya sudah berada di dalam menikmati jamuan makan malam yang di buat James. Acara pun berjalan lancar. Dari jauh James dan Rahcel tersenyum puas, karena mangsanya telah masuk ke jebakan yang mereka buat.
"Nona, sekarang giliranmu beraksi," ucap James pada Rahcel.
"Serahkan semua padaku, Mr," jawab Rahcel.
Rahcel pun berjalan ke arah bar, ia terlihat memasukan sesuatu je dalam minuman. Rahcel pun mendatangi Thomas yang sedang menemui koleganya. Ia pun memberikan minuman tadi kepada Thomas, ia juga memastikan minuman itu di minum Thomas. Sedang Rose yang sedang menikmati jamuan di datangi pelayan yang memberiakan minuman, Rose pun meminum minuman itu.
Ia tak mengetahui bahwa minuman itu sudah di campur sesuatu pelayan yang di bayar oleh James. Sedang Jessy sudah di singkirkan oleh Rahcel dengan cara mengirim pesan, memberitahukan bahwa Jhon mengalami kecelakaan. Jessy pun segera pergi meniggalkan tempat itu tanpa memberitahukan alasan ia pergi pada Rose. Ia tak mau Rose cemas.
Rose dan Thomas pun tak sadarkan diri, obat yang di campur pada minuman mereka sudah bereaksi. Dengan sigap anak buah James membawa mereka ke sebuah kamar hotel yang sudah di siapkan oleh Rahcel.
Rahcel dan James segera memasuki kamar tersebut, mereka pun melucuti pakaian Rose dan Thomas, mereka memposisikan keduanya seperti seseorang yang habis bercinta, Rahcel dan James pun terseyim menyerigai. Dengan ligai Rahcel mengambil gambar kedua manusia yang terjebak dalam perangkapanya, dan dengan penuh semangat ia mengirimkan gambar tersebut pada seseorang.
BERSAMBUNG.
Hai kawan, maaf baru bisa up. Dan tak lupa aku ucapkan banyak terimakasih bagi kalian yang masih bersedia membaca coretanku ini. Jangan lupa ya kasih vote nya😉