
siang ...kawan TBR. Akhirnya aku bisa up juga😉😉.apakah ada ug merindukan Rose dan Rishie??
yuk di baca..
Setelah lelah dengan semua yang terjadi, Rishie merencanakan sebuah kejutan untuk Rose. Ia memesan dua tiket menuju Bali Indonesia, untuk menikmati bulan madu yang belum sempat mereka rasakan. Tanpa sepengetahuan sang isteri Rishie sudah menyiapkan semuanya sampai tempat mereka menginap.
Rose membuka matanya saat sang suami sudah mulai jahil padanya. "Bisa tidak, jangan menggangguku!" pinta Rose dengan wajah yang memelas.
"Bisa, tapi bangun dulu," Rishie malah ikut masuk ke dalam selimut tebal yang membungkus tubuh polos sang isteri.
"Rishie!" teriak Rose. Yang langsung bangun karena ulah sang suami.
Senyum Rishie melebar, melihat Rose terpaksa bangun. Dengan raut wajah yang di tekuk, Rose berjalan menuju kamar mandi dengan selimut yang masih membungkus tubuhnya. Rishie turun ke bawah menuju ruang makan, dia tak lupa memanggil beberapa juru masak di rumahnya.
"Pelayan ... !" panggilnya dengan suara lantang.
Mendengar sang Tuan besar memanggil, mereka segera menghadap."Ya, Tuan," jawab mereka dan berdiri di hadapan Tuan besar.
"Siapkan sarapan untuk kami!" Rishie kembali berjalan menuju kamar sang isteri.
Sebelum sang suami masuk, Rose lebih dulu keluar. Senyum Rishie mengembang melihat wanita yang ia cintai nampak begitu cantik bak bidadari yang turun dari khayangan. Ia merasa jika dia adalah lelaki yang amat sangat beruntung di muka bumi ini, karena bisa mendapatakan seorang isteri yang begitu sempurna di matanya. Meski pertemuan awal antara mereka sangatlah tidak baik. Namun, Rishie selalu berpikir positif, jika malam itu dia menolak tawaran Madam, mungkin saat ini bukanlah dia si pemilik wanita melainkan orang lain. Bahkan mungkin saat ini Rose masih bekerja di tempat tekutuk itu.
Rishie dan Rose memulai sarapan mereka setelah para pelayan menghidangkan masakan yang telah di buat. Selesai sarapan Rishie mengajak Rose bergegas ke Bandara, untuk menuju ke tempat bulan madu mereka. Rishie sengaja tidak memberitahu tempat tujuan yang akan mereka kunjungi. Di dalam pesawat, Rose duduk di samping sang suami tanpa banyak bertanya kemana mereka akan pergi.
Setelah menempuh perjalanan yang panjang, akhirnya mereka sampai di Bandara Ngurahrai Bali, Indonesia. Rishie mencoba membangunkan isterinya sepelan mungkin.nRose membuka matanya karena Rishie memberi tahu jika mereka telah sampai. Rose membelalakan matanya saat melihat pemandangan yang ada di depanya saat keluar dari pesawat. Pemandangan yang memang sudah sangat ia rindukan.
"Sayang, ini, Indonesia?" tanyanya girang.
"Ya, kau senang?"
"Sangat! terimakasih, sayang ...," ucap Rose sambil memeluk suaminya.
"Maaf, Tuan apa, Anda Rishie Edward?" tanya supir itu dalam bahasa Inggris.
"Ya, dia, Tuan Rishie Edward," jawab Rose dalam bahasa Indonesia.
"Wah, apa, Nyonya bisa bahasa Indonesia?" supir itu reflek bertanya karena heran seorang warga asing mahir menggunakan Bahasa Indonesia
"Ya, Nenek ku asli dari sini, tepatnya dari Jogja," terang Rose pada supir itu.
"Oh ... maaf, Nyonya silahkan, mobilnya ada di sana!" supir itu mengajak Rose dan Rishie menuju mobil.
Sepanjang perjalanan Rose terus saja berbincang dengan supir yang di sewa Rishie selama di Bali. Ia hanya menjadi pendengar yang sangat bodoh, karena tidak tahu sama sekali apa yang di bicarakan mereka. Rose menghentikan ocehanya saat tak sengaja melihat ekspresi suaminya yang terlihat tidak suka pada kedekatanya dengan supir itu.
Mobil melaju menuju Ubud, Kota yang terletak di bagian tengah Pulau Bali, tepatnya di Gianyar yang di kenal sebagai pusat tarian dan kerajinan tradisional. Hutan hujan dan terasering padi mengelilingi Kota Ubud di tambah Pura dn tempat pemujaan merupakan lanskap Bali yang paling terkenal. Ubud juga di kenal sebagai satu dari sepuluh destinasi wisata terbaik di Asia dan Dunia. Rose dan Rishie pun menikmati pemandangan selama perjalanan. Pemandangan yang menyegarkan, bukan bangunan gedung yang menjulang di tengah Kota, dan bisingnya suara mobil yang bergelut dengan kemacetan. Mereka di suguhi dengan pemandangan terasering yang begitu indah di pandang, suasana yang begitu asri membuat keduanya sedikit melepas semua penat setelah menghadapi James.
Rishie membooking salah satu home stay di sana. Ia sengaja memilih tempat itu, karena benar-benar ingin sejenak menjauh dari hingar bingar kota. Rishie menginginkan acara bulan madu yang tertunda itu, menghasilkan sesuatu yang amat sangat ia impikan. Selain itu, dia juga ingin memperkuat ikatan cinta mereka yang pernah merenggang karena ulah James dan Thomas. Ia terus memandangi sang isteri yang sedang sibuk.
"Apa, kau mau langsung jalan-jalan, Sayang? tanya Rihie yang sudah merebahkan tubuhnya di ranjang.
"Besok saja, aku mau istirahat dulu," jawab Rose sambil membereskan koper mereka. Hari ini mereka memutuskan untuk istirahat terlebih dahulu, dan akan menikmati keindahan Bali esok hari.
Sang Surya sudah menampakan diri di pagi yang cerah ini. Namun kedua pasang suami isteri itu masih setia dengan selimut mereka. Rose membuka matanya dan mengambil ponselnya di atas nakas, ia langsung membangunkan Rishie setelah melihat jam di ponselnya. Namun tidak di hiraukan olehnya, Rishie malah semakin mempererat pelukanya pada sang isteri. Rose pun berusaha agar suami jahilnya itu mau bangun. Setelah kurang lebih dua puluh menit, Rishie mau membuka matanya, senyum penuh makna pun ia torehkan di wajah tampanya. Rose yang melihatnya sudah sangat tahu arti senyuman itu. Mungkin semalam ia bisa terbebas dari suaminya, tapi ia yakin pagi ini ia tak akan selamat. Tangan jahilnya pun sudah bergerilya di balik gaun yang Rose kenakan.
Setelah puas bermain- main di bagian kesayanganya, Rishie bangun dan menggendong Rose menuju kamar mandi, ya, sekali lagi Rose hanya pasrah, sifat asli sang suami sudah mulai di perlihatkan. Di dalam sana Rishie benar-benar memanjakan sang isteri dengan sentuhan-sentuhan nakalnya, dan pagi mereka di awali dengan sarapan yang luar biasa. Rose mulai mengeringkan rambutnya, sedangkan Rishie membantunya dengan menyuapi isterinya.
Setelah siap keduanya di bantu supir yang merangkap sebagai pemandu wisata bergegas menuju lokasi wisata yang akan mereka kunjungi. Tawa dan canda mengiringi perjalanan mereka menjelajah lokasi wisata yang sangat memanjakan mata. Tak ketinggalan Rose mengambil beberapa foto, layaknya anak muda. Berbagai pose mereka lakukan, Rishie membuang sikap angkuhnya yang biasa ia tunjukan pada para karyawan dan anak buahnya. Di sini ia berubah menjadi lelaki yang romantis dan budak cinta Rose. Ia tak menolak setiap keinginan sang isteri, ia sudah seperti boneka yang Rose mainkan sesuka hati. Tapi ia akan berubah jika naluri lelakinya sudah menguasainya. Di saat itu, Rose lah yang akan menjadi boneka mainan Rishie.
Bersambung...