THE BLACK ROSES

THE BLACK ROSES
Terbongkar.



Hai kawan TBR yang tercinta, maaf ya soal janjiku kemarin. Aku kemarin sakit😢 terpaksa harus istirahat jadi, ga bisa nepatin janjiku. Sekali lagi maaf. Terimakasih dan selamat membaca😊


Rose diam mematung, mendengar perkataan Rishie. Mulutnya tertutup rapat, ia bingung bahkan sangat bingung alasan apa yang hrus ia katakan pada Rishie. Ia lupa jika password ponsel Rishie hanya ia dan Rishie lah yang tahu.


Rishie yang sudah di penuhi rasa curiga, mendatangi Rose yang masih diam mematung tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Rishie semakin mendekat, dan kini ia sudah berada di belakang Rose.


"Katakan pada ku, Nona siap kau sebenarnya," ucap Rishie tepat di telinga Rose.


Rose tak menjawab pertanyaan Rishie. Ia hanya menundukaan kepalanya, berusaha menyembunyikan wajahnya darintatapan Rishie. Namun tatapan tajam Rishie masih tertuju pada Rose.


Rose makin mematung karena ulah Rihie. Bahkan kini tubuhnya gemetar karena setuhan bibir Rishie di telinganya, keringat dingin pun mulai meluncur bebas di sekujur tubuh Rose. Entah mengapa Rishie seperti sudah mengetahui siapa wanita di balik kacamata tebal itu.


Kecurigaanya semakin tinggi saat melihat wanita itu bisa membuka ponselnya, karena memang ia sengaja membuat password di ponselnya yang hanya di ketahui oleh dia dan istrinya.


Rose masih bungkam, mulutnya seakan di beri lem, ia sangat bingung harus bagaimana?. Rishie yang geram dengan kebungkaman Rose, ia pun mendekatinya lagi, dengan sedikit emosi, ia menarik jepitan yang menggulung rambut Rose. Seketika rambut Rose pun terurai, Rishie kemudian menarik Rose dalam pelukanya, sehingga membuat Rose tak bisa berkutik.


Dengan perlahan Rishie mengambil kacamata dari wajah Rose. Mata Rishie yang tajam itu, langsung tak berkedip. Mata itu, mata yang selalu membuatnya tenang, mata itu yang menghadirkan cinta yang sudah lama mati di hati Rishie.


Setelah melihat siapa wanita di balik kacamata tebal itu. sosok yang teramat ia rindukan, wanita yang membuatnya hidup dalam sebuah penyesalan ahir-ahir ini. Wanita itu adalah Rose atau Renata. Rishie pun tak bisa berkata apapun, bahagia, itulah yang Rishie rasakan.


Namun entah apa yang Rose rasakan saat ini, di sisi lain, ia sangat bahagia bisa bertemu dan menatap lelaki yang di rindukanya. Namun di sisi lain ia masih teringat perkataan Rishie. Rose sangat marah pada dirinya sendiri, entah sudah berapa kali hati kecilnya menghianatinya. Hati itu merasa sangat bahagia, namun ia tak mau menyadarinya.


"Renata," ucap Rishie lirih.


Namun bukannya menjawab, Rose berusaha melepaskan pelukan Rishie, ia malah lari dari ruangan itu. Rishie pun berusaha mengejar Rose. Marvin yang sedari tadi memperhatikan mereka berdua, mencoba mengejar mereka. Namun Cessy membeberi isyarat agar tak mengejar mereka.


"Apa maksudmu Cessy!" bentak Marvin.


"Maaf Bos, bukan maksud apa-apa, tapi ini adalah urusan sepasang suami istri, dan masalah rumah tangga mereka," terang Cessy pada Marvin.


"Tapi, kau lihat kan tadi,alangkah marahnya Rose pada Rishie?" ucap Marvin.


"Sekali lagi maaf Bos, jangan bilang kau..," Cessy belum sempat menyelesaikan perkataanya, karena Marvin memotongnya.


"Ya, aku adalah si pengirim bunga, yang tempo hari mengirimkan bunga untuk Rose," ucap Marvin memeberi tahu yang sebenarnya pada Cessy.


"Apa!" Cessy menutup mulutnya dengan kedua telapak tanganya, ia tak percaya dengan pengakuan Bosnya itu.


"Ya Cessy, maka dari itu aku tak mau Rose merasakan sakit lagi," terang Marvin.


Cessy masih tak percaya, namun kenyataanya itu semua benar. Ia pun terpaksa tersenyum kecut di hadapan Bosnya. Dalam hatinya ia merasa sedih, sebab dalam diam sebenarnya mengagumi Bosnya itu. Namun kini semua harus ia kubur dalam-dalam.


***


Rose pun tidak bisa berkutik di dalam pelukan Rishie, Ia hanya bisa menangis . Kesedihan yang ia tahan sejak malam itu, malam dimana ia harus merelakan di hina dan di usir oleh Rishie. Ia meluapkan semua itu di dalam pelukan suaminya. Rishie pun sama halnya dengan Rose, ia mendekap istrinya dengan sangat erat. Ia menyesali akan perlakuanya pada Rose malam itu. Meski ia sendiri masih ragu dengan apa yang ia lihat malam itu.


Setelah puas meluapkan seluruh isi hatinya, Rose berusaha melepaskan pelukan Rishie. Dengan sekuat tenaga ia melepaskanya, namun Rishie tak tinggal diam. Dia makin mempererat pelukanya, berusaha agar tak kehilngan Rose lagi.


"Kenapa Renata? kenapa kau berusaha lepas dariku?" tanya Rishie.


Rose tak menjawab, ia hanya menggelengkan kepalanya, ia juga masih berusaha melepaskan diri dari Rishie, tanpa menghiraukan segala ucapan Rishie.


"Renata, jawab aku!" hardik Rishie, yang sudah sangat geram.


"Apa kau bemar-benar sangat membenciku hah!" imbuhnya masih dengan amarahnya.


"Ya! aku masih sangat membencimu!" jawab Rose dengan berteriak.


"Kau sangat menyebalkan Tuan Rishie Edwad!" imbuh Rose tak kalah dengan Rishie.


"Kenapa kau begitu membenciku? bukannya kau yang bersalah!" ucap Rishie dengan nada yang masih sama.


"Ya, karena kau masih sama, menganggap ku bersalah," ucap Rose dengan air mata yang sudah membanjiri wajahnya.


Perlahan Rishie pun melepaskan pelukanya pada Rose. ia masih berfikir siapa yang berasalah dalam masalah ini?, hati kecilnya sangat mempercayai Rose namun egonya telah mengalahkan itu semua. Merasa Rishie melepaskan pelukanya, Rose lun langsung melepaskan diri dan pergi meminggalkan Rishie yang masih berdiri mematung.


Akhirnya Rose pun bebas, ia berlari ke pinggir jalan raya, dan mencari taksi. Setelah mendapat taksi ia langsung menuju rumahnya. Rishie terus menangis, dalam hatinya, lagi-lagi ia harus kehilangan jejak Rose.


Dari kejauhan Jhon dan Jessy melihat semua, mereka sangat menyayangkan sikap Rishie. Awalnya mereka berharap pertemuanya Rishie dan Rose akan berahir indah, namun entahlah, mereka malah berakhir menyedihkan, bahkan karena ke egoisan Rishie mereka harus kehilangan Rose lagi.


Di jalan Rose tak henti menangis, hatinya merasa senang saat bertemu dengan suaminya, namun hatinya juga bersedih karena harus mengulangi pertengkaran itu lagi.


Tanpa Rose sadari Jessy mengikutinya sampai ke rumah. Rose pun langsung masuk ke rumah. Sesampainya di sana Jessy langsung mengirimkan dimana lokasi rumah Rose.


***


Jhon melihat ada notif di ponselnya, ternyata itu dari Jessy yang berhasil mememukan alamat rumah Rose. Dengan segera ia menghampiri sang Bos yang masih duduk di tempat di mana ia tadi bertengkar dengan Rose.


"Maaf Tuan, apakah anda ingin mengetahui tempat tinggal Nyonya Rose?" ucap Jhon hati-hati, pada Bosnya.


Mendengar perkataan Jhon, Rishie langsung bangkit dari duduknya, ia begitu semangat, namun Jhon mberi tahu agar Bosnya itu tak terburu-buru. Jhon pun memberi tahu beberapa rencana agar Bosnya dan wanita yang ia cintai bisa bersatu kembali.


BERSAMBUNG.


Jangan lupa ya kawan budayakan tekan like sesudah membaca. 😊