
Hai kawan TBR, maaf ya aku baru bisa up. Aku seneng bnt melihat komen kalian yg menantikan cerita ini up. setelah kemarin aku merasa down, karena takut ceritaku tak ada yg minat membacanya. Tapi setelah melihat komen kalian itu adalah suntikan semangat untuk ku. Insya allah akan ku usahakan up tiap hari. Dan jangan lupa mampir juga ya, ke ceritaku The Sweetest Mistake, di dunia orange ( WP ) ya, dukung aku kasih vote dan komenya.Terimakasih.
See you and Happy reading.😍😘😘
~~ Back to Story ~~
Semilir angin malam menerpa tubuh Rose. Dengan langkah yang tak tentu arah Rose berjalan menyusuri jalan. Jalanan yang begitu sepi tak ia pedulikan, pandanganya kosong, bahkan bagi Rose yang ada di depanya hanyalah kegelapan yang ia lihat.
Hatinya begitu hancur mengingat semua perkataaan Rishie. Ia sangat membenci lelaki itu, namun hatinya tak mau sejalan dengan fikiranya. Hatinya menolak membenci Rishie. Sebuah rasa rasa yang tak pernah ia sadari telah mengusai hatinya, sehingga mengalahkan rasa sakit hatiny akan perkataaan Rishie.
Rose menghentikan langkahnya, ia teringat akan sesuatu. Ia langsung mengambil ponsel di dalam tasnya. Ia mencari sebuah kotak yang hatus ia hubungi secepatnya.
"Hallo," suara wanita di sebrang telfon.
"Hallo Jessy," ucap Rose.
"Renata, di mana kau? aku baru saja mendengar semuanya. aku yakin ini adalah jebakan, karena merekka telah menipuku agar kau sendirian di pesta itu?" terang Jessy.
"Ya, tapi semua sudah terjadi, dan aku sudah meninggalkan rumah," ucap Rose lirih.
"Apa!!" teriak Jessy di sebrang sana.
"Sudahlah Jessy, semua sudah terjadi, lagi pula kita tak mempunyai bukti. Jadi sudahlah, oh ya Jessy, untuk sementara waktu, kau urus semua urusan kantor. Aku percayakan semua padamu," pinta Rose pada Jessy.
"Tapi kau ada di mana? aku sangat mencemaskanmu," ucap Jessy sedih.
"Aku baik - baik saja? dan aku ada di suatu tempat. Kau janji padaku jangan mencariku! aku akan kembali di saat yang tepat, kau mengerti!" jelas Rose.
"Ya baiklah, jaga dirimu, dan hubungi kami jika ada sesuatu," ucap Jessy.
"Ya, sampai jumpa Jessy?" ucap Rose menutup percakapan mereka.
***
Mansion.
Keadaan Mansion sangat berantakan, sepeninggal Rose, Rishie marah besar. Ia membanting semuanyang ada di depanya, memaki semuanpelayan di rumahnya. Ia terus marah - marah tak jelas. Semua pelayan pun kebingungan, tentang apa yang baru saja terjadi.
Sang Nyonya pergi meninggalkan rumah dan sang Tuan marah besar. Dalam hati mereka bertanya ada apa sebenarnya? apa yang terjadi di antara kedua majikanya?. Mereka tak pernah melihat Tuan besar mereka seperti ini. Meski mereka baru bekerja dengan Rishie, mereka selalu di perlakukan dengan baik oleh Tuanya.Namun hari ini mereka baru saja melihat sisi lain sang Tuan besar.
Di ruang kerjanya Rishie hanya termenung, tanpa terasa sebulir air mengalir dari sudut matanya. Entah kenapa perasaanya begitu amat sakit, penghianatan ini bukanlah yang pertama baginya, namun rasa sakit itu membuay Rishie terpuruk.
Penghianatan istri pertamanya berahir tragis, ia memilih melenyapkan mereka. Namun saat melihat Rose dan Thomas berada dalam kamar yang sama, ia lebih memilih meninggalkan mereka. Rishie memilih pulang ke Mansion, berharap mengurangi rasa sakitnya.
Ia memilih berdiam di kamar, kamar yang penuh akan kenangan mereka. Tanpa ia duga Rose kembali ke kamar, saat itu Rishie langsung meninggalkan Rose, ia menghindar agar amarahnya bisa di kemdalikan.
Hati Rishie hancur saat melihat kepergian Rose dari rumahnya. Melihat wanita yang selam lebih dari dua tahun mengisi hatinya, dan beberapa bulan ini selalu menemaninya. Ia ingin sekali mencegah kepergian istrinya, namun egonya mengalahkan rasa yang mulai tumbuh di dalam hatinya.
Rishie sangat menyesali atas kebodohanya, yang membuatbia harus menerima perpisahan ini. Ia bahkan tak mampu membendung air matanya. Ini pertama kali ia merasakanya, bahkan saat penghianatan istri pertamanya tak pernah sesakit seperti sekarang.
"Renata, aku memang kecewa, tapi, kenapa hatiku ingin kau ada di sini, aku ingin kau kembali," ucap Rishie lirih.
***
Setelah menutup panggilnya dengan Jessy, Rose melanjutkan perjalananya yang tak mempunyai arah. Ia hanya mengikuti keman kakinya melangkah. mencari tempat untuk ia tinggal. Dengan uang sisa ia bekerja sebagai wanita malam, Rose dapat menyewa sebuah rumah kecil untuk dia tinggal. Ia pun mencoba melupakan apa yang di alaminya hari ini.
***
Jessy dan Jhon mencoba mencari keberadaan Rose, namun tak menemukanya. Mereka pun pergi ke mansion Rishie. Memastikan keadaanya, Jessy dan Jhon sangat terkejut saat sampai di mansion.Semua barang berserakan, dan semua pelayan berdiri di depan pintu.
"Ada apa ini?" tanya Jessy dan Jhon, oada para pelayan.
"Kami juga bingung, yang kami tahu Nyonya pergi dan Tuan marah besar," jawab mereka.
Jessy menoleh pada Jhon, seakan memberi isyarat agar Jhon mecari Rishie dan menenangkanya. Dengan segers Jhon masuk ke dalam mencari keberadaan sang Tuan besar. Ia sangat kaget, Rishie yang ia kenal dengan kebengisanya, kini terpuruk hanya karena seorang wanita.
Aroma alkohol memenuhi ruangan itu, bahkan ada bekas darah yang mengering di telapak tanganya. Jhon sangat oba melihat kondisi Bos yang ia anggap sebagai saudaranya itu. Jhon mengingat saat penghianatan istri pertama Rishie, keadanya tak separah ini. Rishie malah tanpa belas kasih melenyapkan mereka saat itu juga.
Namun tidak dengan sekarang, rasa cintanya pada Rose begitu besar, hingga membuatnya terpuruk. Jhon mencoba mengangkat tubuh Rishie yang tergeletak di lantai, dengan susah payah ia membawa Bosnya itu masuk ke kamar utama. Jhon mengganti pakaian Rishie yang sudah basah karena alkohol yang tumpah, dan mengobati luka yang ada di tangan Rishie.
"Hei,,Jhon, katakan padanya, kenapa dia meninggalkan ku?" ucap Rishie.
"Ya Tuan, nanti akan ku tanyakan, istirahatlah ini sudah malam," jawab Jhon menenangkan Rishie.
"Kenapa dia sangat bodoh Jhon, aku bilang pergi, dia pergi juga, kenapa dia tak memohon atau membujuk ku," Rishie berbicara sambil meneteskan air matanya.
"Tuan, tenanglah, akan ku tanyakan semua pada Nyonya Rose, qku akan mencarinya sampai ketemu," Sekali lagi Jhon berysaha menenangkan Rishie.
Ahirnya Rishie menutup matanya dan menuju ke alam mimpinya. Jhon pun keluar dari kamar Rishie, setelah melihat Bos besarnya tenang. Jessy yang sedang menunggu Jhon di ruang tamu,langsung berdiri saat Jhon menuruni tangga.
"Bagaimana keadaanya?" tanya Jessy cemas.
"Ia sudah tertidur, tapi kita harus bisa menemukan Rose," ucap Jhon frustasi.
"Hmm, kita akan berusaha mencarinya," hawab Jessy.
Jessy dan Jhon pun memutuskan menginap di Mansion Rishie. Mereka takut akan terjadi sesuatu yang membahayakan pada Rishie.
***
Di tempat lain Rose sedang membersihkan rumah kecil yang ia sewa. Untuk sementara ia hanya membersihkn kamar saja, yang akan ia tempati untuk tidur. Ia juga membersihkan badan di kamar mandi, setelah selesai, ia langsung merebahkan tubuhya di ranjang kecil di rumah itu.
Rose menatap foto pernikahanya dengan Rishie, tak terasa air matanya mulai membasahi pipinya. Ia mengingat semua kenangan manis, dan perkataan Rishie tadi, namun ia tak mengerti kenapa ia tak bisa membenci Rishie. Justru ia malah merindukan sosok Rishie di sampingnya.
"Rishie, aku merindukanmu, tapi kenapa kau tak mau mempercayai ku?" Rose mengusap air matanya dan mulai memejamkan mata memasuki alam mimpinya.
BERSAMBUNG.