THE BLACK ROSES

THE BLACK ROSES
Lukisan Cinta



Ke esokan harinya, Rahcel pergi ke sebuah tempat. Ia terlihat sedang menunggu seseorang di sebuah kafe. dan tak lama datanglah seorang lelaki memasuki kafe dan berjalan ke arah Rahcel.


"Hallo Mr James," sapa Rahcel pada lelaki itu.


"Hallo Nona Rahcel, apa kabarmu?" sapanya kembali dan bertanya pada Rahcel.


"Kemarin sangat baik, namun sekarang berubah menjadi jelek, karena kedatanganya," jawab Rahcel malas.


"Benar nona, aku juga sama. Aku sangat bahagia ternyata kau masih mengingatku, dan kau datang pas, di saat seperti ini," terang James.


"Tentu, bukankah tujuan kita sama? menyingkirkan wanita itu," ucap Rahcel.


"Ya, aku susah payah mengurungnya di tempat itu, tapi dia bisa bebas begitu saja. Aku juga bingung kenapa dia bisa menikah dengan Rishie?" ucap James yang masih berfikir.


"Aku mau menawarkan kerja sama denganmu Mr James," ucap Rahcel.


"Apa?"


"Kita buat Renata berpisah dulu dengan Rishie, dengan itu kita akan mudah menyingkirkan dia," jelas Rahcel sedang menerangkan rencananya.


"Kau cerdas nona, kita akan memisahkan mereka tapi, kau harus merelakan kekasihmu menjadi umpan. Apa kau setuju?" ucap James.


"Tenang saja Mr James, jangankan satu orang sepeeti Thomas, seribu orang sepertinya akan aku relakan!" ucap Rahcel penuh kemarahan.


"Baiklah nona kita sepakat, dan biarkan saja dulu Thomas mendekati Renata. Itu akan semakin mempermudah kita menyingkirkan dia," James tersenyum membayangkan akan kehancuran Renata untuk kedua kalinya.


Rahcel pun sama, ia menganggukan kepala tanda ia setuju akan rencana James. Ia juga membayangkan, apa yang akan Renata alami dan rasakan dengan rencana mereka. James dan Rahcel meninggalkan kafe tersebut, mereka sangat yakin, bahwa rencana yang sudah di susun matang ini akan membuahkan hasil yang memuaskan.


Waktu pun terus berjalan, Thomas yang sudah mengetahui akan rahasia mantan kekasihnya itu seakan tak takut pada ancaman Rishie. Dia malah mengibarkan bendera perang kepada Rishie, ia sengaja menjalin kerja sama dengan perusahaan yang Rose pimpin. Ia sengaja menanam saham di sana, itu semua di lakukan Thomas hanya sebagai alasan agar bisa terus bertemu dengan Rose.


Rose pun merasa ada yang tak beres dengan sikap Thomas. Ia menceritakan semuanya pada Rishie suaminya. Kali ini Rishie tak meladeninya dengan emosi,ia mengijinkan Rose menjalin kerja sama dengan Thomas, selagi lelaki itu tak melanggar area yang sudah Rishie beri tahu. Yaitu tak boleh menemui istrinya di luar pekerjaan, dan hanya boleh menemui istrinya di kantor.


Thomas yang sudah di butakan cinta pun menyetujui semua syarat yang di berikan Rishie. Baginya itubtaka masalah, asal bisa bertemu dan melihat mantan kekasihnya, itu sudah cukup baginya. Tadinya Rose menolak permintaan Thomas untuk bekerja sama dengan perusahaanya, namun ia mengikuti semua apa yang di katakan suaminya.


Pagi Thomas pun datang ke perusahaan Rose, ia sengaja membuat jadwal meeting sepagi ini. Itu karena ia sudah sangat merindukan Rose setelah satu minggu ia pergi mengurus bisnisnya di luar negeri. Rose yang mendapat pesan dari Jessy pun sangat terkejut. Pagi ini ia bahkan tak sarapan karena bangun kesiangan, akibat melayani sang suami yangbtak pernah puas melakukanya.


Rishie pun hanya tersenyum melihat kemarahan Rose, yang sedang mengumpat memaki suaminya itu.Dengan segera ia memasuki kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Sepuluh menit cukup untuknya menyelesaikan ritual mandinya. Rishie pun bangkit dari ranjang dan memasuki kamar mandi setelah melihat istrinya keluar.


Rose kebingungan mencari pakaian yang bisa menutupi lukisan yang Rishie buat hampir di seluah lehernya. Ahirnya ia pun menemukan ide, menutupnya dengan syal. Itulah cara terahir yang ia temukan. Rishie terus tersenyum melihat istrinya jengkel karena ulah nya semalam.


"Kenapa?" tanya Rishie meledek sangb istri.


"Masih bisa bertanya!" jawab Rose ketus.


"Memang ada apa?" ucap Riahie pura - pura tqk mengerti.


"Dasar kau! memang tak lihat ini!" teriak Rose sambil menujuk lehernya yang penuh dengan lukisan yang di buat suaminya.


"Hahaha, ok, ok, sayang maaf, itu hanya sebagai tanda jika kau sudah ada yang memiliki," jawabnya santai.


"Pakai ini saja," ucap Rishie sambil mengambil syal yang tadi Rose ambil dari lemari.


"Hmm," jawab Rose cemberut. Namun Rishie malah jail, ia malah mencium istrinya. Alhasil Rose tambah marah, dandananya berantakan, ia harus merapikanya kembali sedang waktu sudah mulai siang.


Mereka ahirnya pergi ke kantor masing - masing. Rose tiba di kantornya, semua karyawan menyapa dan memberi hormat padanya, Rose pun membalas menyapa mereka dengan senyum manisnya. Itulah yang sangat di sukai para karyawan di sana, sosok Bos yang tak sombong, baik hati dan dan selalu menghargai semua karyawanya.


Rose langsung memasuki ruanganya, di sana Jessy sudah menunggunya, Jessy tersenyum melihat Bos besar datang. Ia sedikit bertanya dalam hati, kenapa Rose memakai Syal, sedang cuaca hari ini sangat panas. Ia tak mengira alasan Rise memakai syal karena ulah Rishie.


"Pagi Bos," sapa Jessy pada Rose.


"Pagi Jessy, apa Thomas sudah datang?" tanya Rose.


"Belum, tadi dia bilang sedang di perjalanan," jawab Jessy.


"Oh, syukurlah, aku kira sudah telat," ucap Rose sambil memgelua dadanya.


"Harusnya memang kau telat, tapi aku kan sangat perhatian padamu, jadi tadi aku undur acaranya. Aku bilang pada tuan Thomas kalau kau belum datang," jelas Jessy sambil mengecek semua berkas yang akan di bawa ke meeting.


"Hah! benarkah? terimakasih Jessy,tak salah kau jadi asistenku," ucap Rose sambil tersenyum pada sahabatnya itu.


"Ya, dan aku juga memanfaatkan cintanya padamu, hehehe," gurau Jessy.


"Kau, gila tapi, tak apa asal jangan berlebihan kau mengerti," Rose berbicara tegas seperti Bos.


"Siap Bos!" jawab Jessy tegas layaknya sang anak buah yang patuh pada Bosnya.


Setelah semua beres, jam pun menunjukan waktu yang sudah di tentukan. Rose dan Jessy pun bergegas menuju tempat di mana Thomas sudah menunggunya.Terlihat Thomas sudah menunggu mereka di sebuah kafe, entah mengapa ia malah memilih kafe untuk membahas bisnis.


"Pagi tuan Thomas," sapa Jessy saat sampai di meja tempat Thomas duduk.


"Pagi nona Jessy, nyonya Edward?" sapanya kembali.


"Pagi," jawab Rose singkat, dan duduk di hadapan Thomas. Jessy pun mengikuti Bosnya duduk .


Mereka langsung memulai pembahasan bisnis mereka. Setelah kurang lebih satu jam, ahirnya semua sudah beres. Thomas pun memberi tanda pada para pelayan yang sudah ia bayar untuk melakuakan semua yang sudah ia perintahkan. Seorang pelayan tiba -tiba datang membawa sebuah minuman namun pelayan itu sengaja menumpahkan minuman ke arah Jessy.


"Aww," teriak Jessy yang kaget tersiram minuman yang di bawa pelayan.


"Maaf nyonya," ucap prlayan itu.


"Ya, maaf nyonya aku ke belakang dulu," pamit, Jessy.


Jessy pun berlalu, Thomas tersenyum penuh arti.


BERAMNUNG..


Hai kawan..maaf baru bisa up..dan tetimakasih yang masi setia menunggu The Black Roses up. aku jg berterimakasih buat kalian yang telah menekan like. see you😘😘😘