THE BLACK ROSES

THE BLACK ROSES
Pengakuan yang mengejutkan.



Jhon sudah berhasil mengurus para perampok itu, ia juga sudah menemukan ponsel sang bos. Rishie sudah memutuskan untuk tinggal selama beberapa hari di rumah Rose, ia menyuruh Jhon mengurus perusahaan untuk sementara waktu, dan menyuruh Jhon mengirim beberapa anak buah untuk mengawal Rose saat pulang bekerja. Namun tak boleh sampai di ketahui oleh Rose.


Jhon pun melaksanakan tugas yang di beri bosnya, ia pun undur diri dan meninggalkan rumah Rose. Sedang Rishie memilih beristirahat di sana sambil memantau perusahaan dari sana, karena Jhon akan mengabarkan semua kepada bosnya.


***


Kafe.


Marvin menyambut karyawanya, yang tak lain adalah wanita yang diam-diam ia cintai. Rose, ya wanita itu adalah dia,wanita yang berhasil meluluhkan hati marvin, yang sudah membatu setelah kematian kekasihnya.


Cessy yang selama ini menaruh hati pada bosnya, hanya bisa pasrah, sebenarnya ia sangat kevewa karena lelaki yang ia suka malah menyukai wanita lain, yaitu Rose, sahabatnya. Namun ia percaya, Rose tak akan mau menerima cinta Marvin, karena ia tahu kalau Rose masih mencintai suaminya.


Dengan senyum menawanya Marvin menyapa Rose yang baru saja tiba di kafe, "Pagi, Rose."


"Pagi, bos," jawab Rose ramah.


"Oh..ya, apa malam ini kau ada acara?" tanya Marvin.


"Ada apa bos?" Rose malah balik bertanya.


"Tak ada, cuma kalau kau tak ada acara maukah makan malam denganku?" Marvin bertanya lagi.


Rose pun bingung harus menjawab apa? ia tak enak jika menolak ajakan bosnya itu, tapi ia ingat jika Rishie ada di rumahnya. "Aku harus bagaimana?" ucapnya dalam hati.


"Rose, apa kau mendengarku?" suara Marvin mengejutkan Rose yang sedang melamun.


"Oh..ya bos, boleh, tapi saya tidak bisa kemalaman. Bagaimana?" jelasnya pada Marvin.


"Baiklah, kau mau menerima ajakanku saja, itu sudah lebih dari cukup. Aku janji tak akan lama, setelah makan, ku akan mengantarmu pulang," jawaban Marvin membuat Rose lega.


"Terimakasih bos, kalau begitu saya kembali bekerja dulu bos," ucap Rose undur diri.


"Ya, selamat bekerja, dan sampai bertemu nanti malam Rose," Mavin meninggalkan Rose dengan senyum yang masih merekah di wajahnya.


Jam kerja Rose pun berakhir, kini saatnya ia memenuhi ajakan bos, untuk makan malam. Rose keluar dari kafe, dan Marvin pun sudah menunggunya di depan kafe, dengan bersender pada mobilnya. Marvin pun membukakan pintu mobilnya, dan mempersilahkan Rose untuk masuk.


Mobil pun melaju menuju sebuah resto, sesampainya di sana, Marvin mengajak Rose menuju meja yang sudah ia pesan sebelumnya. Acara makan malam pun berlangsung hening. Baik Rose maupun Marvin tak mengeluarkan suara, sampai akhirnya Marvin memberanikan diri bertanya pada Rose.


"Rose, apa kau tak keberatan jika kau pendamping ku?" ucap Marvin, yang langsung membuat Rose tersedak.


"Uhuk..uhuk.., bos, apa yang anda katakan? apa saya salah dengar?" tanya Rose.


"Tidak, kau tak salah dengar. Sebenarnya aku menyimpan rasa ini sudah lama, tapi..aku takut mengungkapkannya. Dan hari ini, aku mengungkapkanya padamu, jadi, apakah kau mau menerimaku?" sebuah pengakuan Marvin yang membuat Rose kaget.


"Apa? anda bercanda kan bos?" ucap Rose tak percaya.


"Tidak, aku serius. Jadi, apa jawabanmu?" tanya Marvin membuat Rose mematung.


"Bos, maaf, tapi..aku sudah bersuami," jawab Rose lirih.


"Aku tahu, dia Rishie Edward bukan?" ucap Marvin dengan santai.


"Karena aku tahu, jika kalian telah berpisah lama, ya meski kalian belum resmi berpisah. Waktu itu, aku melihatmu dan dia bertengkar, dan kau sampai meninggalkanya sendiri. Jadi aku siap menunggumu Rose."


"Maaf bos, saya harus kembali," ucap Rose sambil meninggalkan meja mereka.


"Rose..tunggu!" teriak Marvin sambil mengejar Rose.


Namun Rose tak mendengarkanya, ia terus berjalan meninggalkan resto itu, tapi Marvin tak mau kalah, ia juga terus mengejar Rose. Dan akhirnya Marvin pun bisa menghentikan langkah Rose. Ia meraih lengan Rose, sehingga membuat Rose berhenti.


"Aku minta maaf, jika perkataanku membuatmu marah, aku akan mengantarkanmu, ini sudah malam. Dan jangan menolak!" ucapnya, yang membuat Rose menurut. Marvin pun mengantarkan Rose pulang le rumahnya.


***


Rumah Rose.


Rishie yang mendapat kabar anak buahnya, kalau Rose pergi dengan bosnya itu, membuatnya gelisah. Ia takut, jika bosnya itu dapat membuat Rose jauh darinya. Dia terus mondar-mandir sambil menunggu kepulangan Rose, tak lama ia mendengar suara mobil berhenti di depan rumah. Ia pun segera menghampiri mobil itu, jantungnya sudah berdetak tak karuan, sampai darahnya pun seakan mendidih.


Rose pun keluar dari mobil tersebut, dan tanpa ia sadari Rishie, sudah berada di depanya, "Maaf sayang, aku pulang terlambat," ucapan Rose yang membuat Rishie mematung. Bahkan ia lebih kaget saat Rose mencium bibirnya, meski hanya sebentar.


"Ya sayang, siapa dia? aku seperti tak asing dengan wajahnya?" ucap Rishie saat melihat wajah Marvin.


"Dia bosku, Tuan Marvin, tadi kami makan malam sebentar, dan dia mengantarkan ku. Karena sudah malam jadi aku memerima tawaranya, tak apa kan sayang?" tanya Rose manja pada Rishie.


"Tak apa, oh..ya Tuan Marvin, perkenalkan saya Rishie, suami Rose. Dan terimakasih, anda sudah mengantarkan istri saya," ucap Rishie ramah pada Marvin.


"Ya, Tuan Rishie, itu sudah menjadi tugas saya, memastikan keselamatan semua karyawan, kalau begitu saya permisi," Marvin pun berpamitan.


Melihat Marvin pergi, Rose pun mengejarnya, "Bos," panggil Rose, yang membuat Marvin menghentikan langkahnya.


"Ya," jawabnya.


"Itu jawabanku, maaf, aku masih mencintainya, dan kami akan memperbaiki semuanya, anda pantas mendapatkan pasangan yang lebih baik dari saya bos," ucap Rose lirih.


"Ya, aku doakan agar hubungan kalia akan membaik, dan langgeng."


"Terimakasih."


Marvin pun meninggalkan rumah Rose dengan hati yang hancur, rasa yang ia pendam selam ini harus berakhir begitu saja. Ia teringat kata-kata Cessy, kalau memang tak seharusnya ia masuk ke dalam hubungan mereka. Ia sadar ia salah, namun perasaanya sangat kecewa.


Rishie langsung bisa menebak apa yang terjadi di antara Rose dan Marvin. Dengan melihat semua tingkah laku Rose yang sangat mengejutkanya. Rishie lalu menghampiri Rose, dan mengajaknya masuk ke dalam rumah.


Rose pun masuk ke rumah bersama Rishie, sekarang ia bingung, apa yang akan dia katakan pada Risie? tentang kelakuanya tadi, yang tiba-tiba berubah agresif. Ia sangat malu memandang wajah suaminya itu. Rishie yang melihat itu, langsung mempunyai ide, untuk mengerjai Rose. Pelahan ia mendekati istrinya itu, dan memeluknya dari belakang, ia pun mulai menciumi tengkuk Rose.


Mendapat perlakuan seperti itu, membuat Rose, kaget. Ia berusaha melepaskan diri, namun tenaganya tak sebanding dengan Rishie. Rencana awal, hanya mengerjai, namun Rishie berubah haluan. Saat mencium aroma tubuh Rose yang sangat ia rindukan, ia pun mulai nakal, ia membalikan tubuh Rose hingga berhadapan denganya dan..


BERSAMBUNG.


Jangan lupa kawan, tekan jempolnya setelah selesai membaca ya? 😊 terimakasih 😘😘😘