THE BLACK ROSES

THE BLACK ROSES
Lembaran baru.



Kini Rose berada di posisi yang sangat menguntungkan untuk Rishie. Senyum nakal pun Rishie pancarkan, sedang Rose hanya berusaha melepaskan diri dari dekapan suaminya. Namun Rishie tak mau membiarkan waktu berharga ini musnah begitu saja. Namun semuanya gagal karena Rose berhasil melepaskan diri, dengan cara menggelitik perut Rishie tanpa ampun. Dengan teroaksa Rishie pun melepas mangsanya.


"Cepat bangun!"


"Iya sayang .... ."


Rishie bangkit dari ranjangnya dan berjalan menuju kamar mandi. Setelah mandi ia keluar menuju ruang makan, yang sudah di penuhi masakan Rose. Rishie tentu sangat bahagia, hal seperti inilah yang ia rindukan dari istrinya. Dan saat seperti inilah yang sangat ia dambakan.


Bisa berkumpul dengan istri tercinta itu harapanya saat jauh dari Rose. Tanpa menunggu lama Rishie melahap semua masakan istrinya tanpa sisa. Semua makan ini memang sangat ia rindukan. Ya ... meskipun di rumahnya banyak sekali para koki, tetapi semenjak ia menikah, Rose lah yang selalu menyiapkan sarapanya.


Setelah sarapan mereka langsung meninggalkan bangunan itu. Rishie mengemudikan mobilnya menuju mansionya, dia tak berhenti tersenyum sepanjang perjalanan, matanya pun tak lepas dari istri tercintanya.


"Lihat ke depan," ucap Rose yang menyadari suaminya itu tak henti memandangnya.


"Aku melihat ke arah yang benar sayang," ledek Rishie.


"Tapi kau sedang mengemudi, akan bahaya jika kau tidak memperhatikan jalan," terang Rose.


"Baiklah, karena kau yang memintanya," meski terpaksa, ia menuruti perkataan istrinya.


Setelah menempuh sekitar tiga jam mobil pun sampai di mansion. Rishie segera keluar dan membukakan pintu mobil untuk Rose. Senyum Rose mengembang melihat bangunan megah di depanya. Bukan karena kemewahanya, tetapi ia mengingat semua kenanganya, meski baru benerapa bulan saja. Namun baginya bangunan itu lebih dari sebuah tempat tinggal, karena di sanalah letak kebahagiaan Rose.


Rishie menggandeng istrinya memasuki istananya. Dengan lantang ia memanggil semua pelayan agar berkumpul. Semua pelayan pun langsung berlari menuju pintu utama. Bagi mereka perintah Rishie adalah peraturan yang tak boleh di langgar.


"Baiklah ... sekarang kalian sudah berkumpul, lihatlah siapa yang datang," beritahu Rishie pada semua pelayan dengan senyum yang tergambar di wajahnya.


Semua pelayan kebingungan melihat perubahan sikap Tuan mereka, yang dalam beberapa bulan ini sudah seperti orang yang tak mempunyai kehidupan. Namun detik ini ia berubah, bahkan nampak bahagia. Mata mereka mengikututi arah tangan Rishie. Betapa terkejutnya saat mereka melihat sosok yang ada di balik pintu. Sosok yang bisa membuat suasana di mansion ini menjadi nyaman.


"Nyonya Rose!" ucap mereka bersamaan.


"Hai ... apa kabar kalian?" sapa Rose pada mereka yang masih tak memepercayai apa yang mereka lihat.


"Apa ini nyata?" ucap salah satu dari mereka.


"Ini nyata, aku sudah ada di sini," jawab Rose.


"Memangnya kenapa? apa suamiku merepotkan kalian," Rose menayakan sikap suaminya pada semua pelayan.


Namun mereka tak berani menjawab. Pandangan mereka langsung menuju lantai alias menunduk, tak ada yang berani menatap Rishie. Sedang Rose malah melotot kepada suaminya ia tahu pasti kelakuanya sangat merepotkan para pelayan di rumahnya selama ia tak ada di sana.


"Cepat katakan padaku, kalau tidak detik ini juga kalian aku pecat!" hardik Rose pada para pelayan, agar memberitahunya tentang sikap suaminya selama ia tak ada.


"Kalian masih tak mau bicara? baiklah aku hitung sampai tiga, satu ... dua ... ." baru sampai hitungan dua salah satu pelayan mengeluarkan suara, yang membuat Rose menghentikan hitunganya.


"Maaf Nyonya, saya tahu nasib saya pasti akan baik-baik saja jika berurusan dengan anda. Tuan ... maaf. Nyonya keadaan Tuan sangat kacau sejak kepergian anda."


"Dia juga sangat frustasi, semua yang kami lakukan hampir tak pernah ada yang benar di matanya. Dan setiap pelayan yang melakukan kesalahan pasti akan langsung di pecat."


"Lalu Tuan tak pernah makan Nyonya, setiap hari hanya minum-minuman keras saja. Dan setiap malam juga akan membawa para wanita malam."


" Meski pada ahirnya ia akan memaki semua wanita itu karena menyentuhnya.


Tuan juga akan langsung mengusir para wanita itu dengan sangat tidak sopan," jelas pelayan itu, yang lansung membuat Rose terdiam.


Dalam hatinya ia merasakan kepedihan suaminya. Kepedihan yang sama ia rasakan. Perpisahan itu memang bukan yang mereka inginkan. Sebuah jebakan lawan telah memaksa mereka memilih keputusan ini.


"Baiklah ... terimakasih atas penjelasanya. Sekarang kembalilah bekerja," Rose memerintahakan para pelayan kembali bekerja.


*****


Semua memang telah berubah. Dunia Rishie yang sempat meredup bahkan sudah menjadi gelap bersama perginya Rose beberapa waktu yang lalu. Kini kembali lagi cerah, sang mentari telah datang dan menyinari dunia Rishie kembali. Hadirnya Rose memberi semangat Rishie untuk kembali lagi ke dunianya. Untuk melanjutkan hidup dan memperbaiki hubunganya bisa lebih baik lagi.


***BERSAMBUNG.....


***Hai kawan TBR apa kabar? apakah ada yang merindukan ku?


Maaf ya para redersku (kalau ada😂😂😂) aku baru bisa up. jangan lupa kasih likenya.