
Rishie masih menggemgam tangan wanita yang amat sangat ia cintai. Ia sudah sangat menanti saat-saat ini, di mana ia dapat mengungkapkan semua isi hatinya dan dapat memperbaiki hubunganya dengan sang istri agar lebih baik lagi.
Mobil mereka kini telah sampai di depan sebuah bangunan yang sederhana. Namun terlihat begitu nyaman, Jhon memang sengaja memilih tempat ini seperti perintah sang Bos. Rishie tahu jika Rose sebenarnya tak menyukai kemewahan. Sehingga ia memeriintahkan agar Jhon menyiapkan tempat yang sesederhana mungkin untuk pernikahannya.
Di sana Jhon dan Jessy sudah siap dengan semua persiapan pernikahan mereka. Dengan senyum lebar Rose berlari ke arah Jessy, sahabat yang sudah sangat ia rindukan, "Jessy," teriak Rose dari kejauhan.
"Renata..." teriak Jessy juga.
Mereka saling berpelukan meluapkan rasa rindu yang sudah di pendam selama beberapa bulan ini. Tangis bahagia pun mengisi pertemuan mereka, Rose memeluk erat Jessy, begitu juga Jessy. Jessy lalu menghapus air mata yang membasahi wajah sahabatnya itu.
"Jangan menangis, cantik mu hilang," ucap Jessy menghibur Rose.
"Kau juga menangis?" jawab Rose sambil menghapus air mata Jessy.
Rose dan Jessy lalu tertawa, menertawakan kekonyolan di antara mereka. Rishie dan Jhon pun ikut tertawa melihat para wanitanya. Rishie sangat bahagia bisa melihat tawa itu lagi di wajah istrinya. Tawa yang memudar sejak malam itu, tawa yang tak pernah ia lihat selama beberapa bulan ini. Namun ia bersyukur Tuhan masih mengijinkanya untuk melihat tawa itu lagi.
"Hei...apa kalian mau terus seperti ini?" ucap Rishie yang membuat Jessy dan Rose menghentikan obrolannya.
"Iya sayang..." jawab Rose manja.
"Ayo masuk," ajak Jessy pada Rose.
"Ayo," jawab Rose.
Mereka berempat pun memasuki bangunan tersebut. Di dalam sana sudah ada beberapa orang yang Jhon datangkan untuk menikahkan Rishie dan Rose untuk kedua kalinya. Walaupun Jhon dan Jessy tak paham akan peraturan yang ada dalam keyakinan yang Rose dan Rishie anut sekarang. Namun mereka telah mempersiapkan semuanya agar pernikahan kedua bosnya berjalan dengan lancar.
Rose pun di bawa Jessy masuk ke kamar, untuk sedikit merias Rose meski sederhana. Sedang Rishie memsuki kamrblain untuk membersihkan diri danmengganti pakaianya. Tak lama keduanya pun kini sudah keluar dari kamar masing-masing. Rishie menatap Rose dengan seksama, matanya tak berkedip saat melihat wajah cantik wanitanya yg sudah di make up secantik itu, meski dengan riasan yang sederhana.
Rose pun sama menatap lelaki yang semalam baru saja melamarnya, terlihat begitu gagah dengan jasnya. Wajah tampanya bertambah dengan sebuag senyuman yang terukir di wajahnya. Meskipun ini adalah pernikahan kedua. Namun rasa canggung masih ada diantar mereka, di pernikahan pertama memang tak ada yang spesial bagi Rose dan Rishie. Karena pernikahan itu tak dilandasi rasa cinta, melainkan rasa saling membutuhkan satu sama lain. Namun tidak untuk pernikahan kedua ini, jantung mereka bahkan berdetak lebih kencang, karena rasa bahagia.
Rasa cinta pun kini melandasi hubungan ini. Kini Rishie dan Rose telah duduk di depan penghulu, dengan hati-hati Rishie mengucapkan ijab qobul dengan lancar. Senyum pun mengembang di wajah mereka ketika Rishie telah menyelesaikan ijab qobul. Dan kini mereka telah sah kembali sebagai suami istri. Rose mencium tangan suaminya dan Rishie pun mencium kening sang istri.
"Mana ciumanya?" tanya salah seorang anak buah Rishie yang keceplosan.
Semua orang pun menengok ke arah sumber suara, beberapa anak buah Rishie yang lain saling menatap tajam ke arah temanya yang keceplosan. Namun tidak dengan Rishie, ia malah tersenyum mendengar ucapan anak buahnya.
"Jadi kau ingin lihat kami berciuman ya?" tanya Rishie sambil tertawa kecil.
"Kenapa minta maaf? kau tak salah?" ucap Rishie memecah ketegangan.
"Cuma, dalam keyakinan istriku, itu tak biasa di lakukan di depan umum. Jadi apa kau sudah mengerti?" imbuh Rishie.
"Ya bos, saya minta maaf," anak buah Rishie meminta maaf.
Acara pun selesai, semua orang sudah meningglkan tempat itu. Jhon dan Jessy pun berpamitan pada bos mereka. Tadinya mereka masih ingin di sana. Namun Rishie melarangnya, dan menyuruh Jhon mempersiapkan pesta untuk kedatangan sang istri. Jhon mengangguk, dan berpamitan pada bos besarnya.
****
Malam pun tiba, kini Rose Rishie sudah berada di dalam kamar. namun kecanggungan masih teras di antara mereka, entahlah mengapa mereka tak bisa menghilangkan rasa itu. Rishie yang biasnya langsung menyerang Rose kini hanya duduk di pinggiran ranjang menatap istrinya yang sedang berganti pakaian.
Rose yang merasa di perhatikan hanya tersenyum kecil pada suaminya. Ia berjalan ke arah ranjang dan duduk di sebrang suaminya. Hening, itu yang menemani malam ke berapa mereka, namun ini semua seakan ini adalah malam pertama mereka.
Rishie mencoba mendekati wanita yang kini telah sah kembali menjadi istrinya. Dia sekarang sudah berada di depan istrinya, dengan perlahan ia duduk di samping istri tercintanya. Rose hanya bisa menarik nafasnya dalam-dalam, untuk membuang rasa canggung di dirinya. Ia pun mulai berani menatap sang suami yang kini sudah berada di sampingnya. Pandangan mereka pun bertemu dalam sebuah gairah cinta yang sekian lama telah terpisah.
Rose menggambarkan sebuah senyum di wajah cantiknya, membuat sang suami menikmati indahnya ciptaan Tuhan yang di berikan pada istrinya. Dengan perlahan Rishie melumat lembut bibir sang istri. Memberikan kehangatan untuk Rose. Mencurahkan segala rasa cinta yang ia miliki untuk istrinya lewat ciuman itu.
Dan setelah melewati perjalanan mencurahlan segala isi hati melalui ciuman itu, kini mereka telah menyatu dalam indahnya cinta yang Tuhan anugerahkan pada sepasang suami istri ini. Rasa bahagia menyertai mereka yang kini tengah berada di dalam surga dunia. Dan entah sudah berapa kali mereka berada dal posisi ini. Namun ini adalah yang pertama kali mereka bersatu dalam ikatan dan rasa yang sama.
Malam itu adalah malam penuh cinta yang tak akan pernah mereka lupakan. Dan malam itu adalah malam terindah yang tak akan pernah mereka lupakan. Karena malam itu akan menjadi saksi cinta mereka. Cinta memang tak pernah memberi tahu kapan ia akan datang dan kapan ia akan pergi. Namun bagi Rose dan Rishie ini adalah malam terindah mereka karena Tuhan telah mempersembahkan Cinta untuk mereka.
***
Rose sudah rapi dengan pakaian santainya. Ia juga sudah memasak beberapa makanan kesukaan suaminya. sementara Rishie masih begitu lelap di balik selimut tebal yang membungkusnya di ranjang. Rose hanya tersenyum melihat sang suami masih tak mau membuka mata, "Sayang...bangunlah, ini sudah siang?" ucap Rose sambil memyibak korden di jendela kamarnya.
"Hmmm....nanti ya sayang, aku masih nagntuk. kamu tahu sendiri, semalam kita begadang sampai pagi. Jadi aku mohon bangunkan aku nanti saja," jawab Rishie makin menarik selimutnya.
"Hei...tidak boleh! ini sudah siang, bangun!" teriak Rose sambil berkacak pinggang.
"Akh....sebentar lagi."
"Tidak boleh! cepat bangun!" teriak Rose sambil menarik lengan Riahie.Rose yang tak siap pun terjatuh yepat di hadapan Rishie.
BERSMBUNG..