THE BLACK ROSES

THE BLACK ROSES
Lamaran.



Maaf ya kawan TBR yang sudah meninggu ( kalau ada sih hehehe) aku baru bisa up. selamt membaca.


------------------------------------------------------------


Dan mereka saling berhadapan, Rishie bahkan sudah mendekatkan wajahnya dengan wajah Rose. Namun tak di sangka Rose menutup mulutnya dengan kedua tanganya, saat Rishie hemdak mendaratkan bibirnya di bibir Rose. Tentu itu membuat Rishie bingung, istrinya menolak berciuman denganya, ia hanya diam melihat kelakuan istrinya.


"Kenapa?" tanya Rishie yang penasaran.


"Hmm..kita sudah lama berpisah, jadi


secara agama kita sudah bukan lagi suami istri. Jadi..aku tidak mau di cium olehmu," jawab Rose masih menutup mulutnya.


"Baiklah, akan segera aku urus," jawab Rishie sambil berlalu pergi ke kamar.


Rose lalu juga masuk ke kamarnya untuk mengambil bantal dan selimut. Namun saat ia mengambil bantal di samping Rishie, lenganya di di tahan dan di tarik? Sehingga posisinya kini berada di atas Rishie.


Ia pun tak berbuat apa-apa, karena semua akan sia-sia. Ia hanya memandang wajah suaminya saja, berharap bisa di lepaskan. Namum semua tak sesuai dengan isi pikiran Rishie. Rishie malah membaringkan Rose di sampingnya, lalu ia memeluknya dari belakang.


"Tidurlah, aku tak akam macam -macam. Aku hanya merindukanmu saja, aku tak aka melakuka hal yang tak kau inginkan sayang," ucapan Rishie membuat Rose tenang.


Rose mulai memejamkan matanya, ia mulai masuk ke dunia mimpimya. Melihat Rose sudah terlelap, dengan perlahan Rishie bangun dari ranjang. Dan segera meraih ponselnya untuk mengubungi Jhon.


"Ya bos."


"Urus semuanya malam ini, aku mau besok pagi semuanya sudah beres, kau mengerti?" perintah Rishie pada Jhon.


"Baik bos, akan saya urus semua, dan saya akan memastika semua berjalan sesuai rencana," jawab Jhon


KLEK, TUT TUT TUT.


Rishie mematikan ponselnya dan kembali ke ranjangnya. Ia lalu memeluk istrinya lagi dan mulai memejamkan matanya. Ia pun menyusul Rose yang sudah terlebih dahulu masuk ke dunia mimpinya.


***


02.00.


Rishie terbangun saat ponselnya berdering, ia lalu melihat chat dari Jhon, yang memberi tahu jika mobil sudah ada di depan rumah Rose. Dengan perlahan Rishie menggendong tubuh Rose menuju mobil. Rose di dudukan di bangku depan mobil, Rishie juga sudah memasang sabuk pengaman Rose.


Setelah siap, Rishie melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


Ia melaju menembus dinginnya malam menuju ke suatu tempat. Di mana ia akan mengutarakan semua isi hatinya pada sang istri. Ia sengaja merencanakan ini, karena ia takut di dahului oleh orang lain. Ia takut akan kehilangan kesempatan, seperti tadi ia melihat cinta yang begitu besar di mata Marvin.


Rishie tak mau ada seseorang yang memiliki istrinya. Ia sudah dua kali kecolongan, Thomas dan Marvin adalah sainganya. Ia takut kedua manusia itu mendahuluinya merebut hati Rose. Maka ia langsung menghubungi Jhon memepersiapkan semuanya.


Ia sengaja memilih tempat yang lain daripada yang lain. Ia tak memilih kafe, resto atau tempat yang mewah. Karena ia tahu Rose tak menyukai itu, ia memilih tempat yang ia jamin, Rose akan menyukainya.


Mobil mereka pun sampai di sebuah bukit. Dengan hati-hati Rishie membangunkan Rose, karena jam sudah menunjukan waktu yang tepat untuk menyaksika sang mentari yang akan menampakan diri. Rose membuka matanya perlahan, ia terkejut saat melihat sekeliling. Ia sudah berada di mobil, bukan di kamarnya.


Ia lalu melihat Rishie sudah membuka pintu mobil, dan mengulurkan tanganya.


Rose pun meraih tangan Rishie, ia keluar dari mobil, ia memeluk dirinya sendiri karena merasa kedinginan. Dengan sigap Rishie melepas jaket yang ia pakai, ia lupa membawa jaket Rose. Rishie memakaikan jaketnya pada Rose.


Rose berjalan di samping Rishie yang menuntunya naik ke atas bukit.


Di sana terbentang pemandangan alam yang begitu indah, apalagi saat sinar mentari mulai menyinarinya, senyum Rose mulai tergambar menyaksikan pemandangan yang terpampang di depanya. Seumur hidup ini adalah pengalamannya yang peryama menyaksikan sunrise.


"Kau suka?" suara Rishie mengejutkan Rose.


"Iya, aku suka, terimakasih mengajak ku ke sini. Ini adalah pengalaman ku yang pertama," ucapnya dengan girang.


"Kenapa kau berlutut?" tanya Rose dengan polos.


"Renata Aquilera, Will you marry me?"


"Apa? Kau..bercanda kan Rishie? Bukanya kita sudah menikah?" Jawab Rose yang keget dengan lamaran Rishie.


"Aku serius, dulu aku tak melamarmu, dan kau bilang dalam agama, kita sudah bukan suami istri. Jadi aku ingin melamarmu, menjadikanmu istri dan Ibu bagi anak-anak ku kelak, apakah kau mau menerimaku menjadi suamimu lagi?" Rishie mencurahkan semua isi hatinya.


Rose belum menjawab lamaran Rishie, ia malah meneteskan air mata. Ia tak menyangka Rishie akan melakukan semua ini. Ia lalu menganggukan kepalnya sebagai jawaban lamaran Rishie.


"Apa maksud mu sayang? Apa kau menerimaku?" tanya Riahie yang penasaran akan jawaban Rose.


"Ya, aku mau menerimamu," jawab Rose singkat.


"Benarkah? Terimakasih sayang," ucap Rishie penuh kegembiraan.


Ia lalu memasangkan cincin di jari manis Rose.


"I love you," ucap Rishie tepat di telinga Rose. Setelah memasangkan cincin.


"Love you too," jawab Rose lirih.


Rishie pun mencium kening Rose, dan memeluknya. Ia merasa sangat bahagia bahkan amat sangat bahagia, sampai ia tak bisa menggambarkan betapa ia sangat bahagia.


"Jadi apa sekarang aku boleh menciumu?" pertanyaan konyol yang di lontarkan Rishie, namun membuat Rose tersenyum.


"Hanya cium!" jawab Rose tegas.


"Ok. Tak masalah, kita akan melakuka yg lain setelah kita sah menikah lagi," jawab Rishie santai.


Ia pun melakukan apa yang ia inginkan sedari semalam. Ia melumat lembut bibir istrinya, menyalurkan semua rasa cinta yang ia miliki. Rose hanya pasrah, ia mencoba membalas ciuman sang suami.


Dalam benaknya ia tak pernah berpikir jika Rishie akan melakukan semua ini. Namun ia merasa sangat bahagia karena Tuhan masih menyayanginya, dan masih mengijinkanya bersatu kembali bersama sang suami.


Pagi itu menjadi awal yang membahagiakan bagi mereka, senyum pun tergambar jelas di wajah keduanya. Perpisahan yang menguras air mata dan emosi itu telah sirna. Kini hanya cinta yang ada di hati mereka.


Rishie pun mengambil ponselnya, untuk menghubungi Jhon. Ia ingin semuanya segera selesai.


"Jhon apa sudah beres?" tanya Rishie.


"Ya sudah bos, semuanya sudah beres," jawab Jhon.


"Baiklah, kami akan ke sana," ucap Rishie sambil memeluk Rose.


"Baik bos, hati-hati di jalan. Dan selamat bos," ucap Jhon yang membuat Rishie tersenyum.


"Terimakasih Jhon,ini berkat bantuan mu," jawab Rishie.


"Ini sudah tugas saya bos,kebahagiaan anada adalah kebahagiaan saya."


Rishie pun menutup panggilanya dengan Jhon. Ia lalu mengajak Rose untuk kembali ke mobil. Untuk menuju tempat di mana ia akan menikahi Rose kembali.


BERSAMBUNG.


Jangan lupa ya kawan budayakan tekan jepolnya setelah membaca. Terimakasih..😘😘😘