THE BLACK ROSES

THE BLACK ROSES
Mulai menyadari



Hallo...up lg nih, semaangat aku demi kalian kawan TBR, tanpa kalian apalah..aku.


Terimakasih, see you and Happy reading.😍😍😘😘


 


~~ ~~ Back to srory ~~~~


 


Rishie kini ada di sebuah taman yang indah dan banyak bunga di sana, senyumnya merekah saat melihat wanita yang mulai melumpuhkanya dengan cinta. Renata atau Rose, wanita itu sedang menikmati pemndangan di sana, Rishie pun melangkah mendekat.


Di pelukanya wanita itu dari belakang, Rishie menempelkkan dagunya di sela leher jenjang sang istri. Namun tiba - tiba Rose melepaskan pelukan suaminya, ia berlari menjauhinya. Rishie yang kebingungan segera mengejar istrinya namun ia tak bisa menemukanya. Ia terus mencari dan memanggil nama istrinya, berharap bisa menemukanya.


"Renata!" teriak Rishie saat membuka matanya.


Ia tesadar kalau semua yang ia alami tadi hanyalah sebuah mimpi. Rishie juga sadar kalau ia baru saja merindukan Rose. Ia berharap saat membuka matanya yang pertama kali dia lihat adalah Rose, seperti biasanya dengan senyum maninya Rose selalu membangunkan Rishie.


Rishie hanya bisa memaki dirinya saat mengingat kejadian itu, kenapa ia tak mau mempercayai Rose. Sekarang hanya penyesalan yang ia rasakan.


***


Sementara James dan Rahcel sedang merayakan keberhasilan mereka. Rasa bahagia terpancar dari wajah mereka. James sangat puas dengan rencananya, yang berhasil memisahkan Rishie dan Rose. Dengan itu ia tak perlu takut Rose akan mengambil semua harta miliknya, yang di dapat dari Ayah Rose.


Rahcel pun sama, meski ia harus siap jika Thomas meninggalkanya, namun ia sangat puas melihat Rose terpuruk dan di tendang dari keluarga Edward. Baginya menghancurkan Rose adalah tujuan hidupnya saat ini, ia tak lagi memperdulikan perasaanya pada Thomas.


Ia hanya ingin melihat Rose memderita. jadi tak masalah jika Rahcel harus mengorbankan cintanya. Dia akan berhenti mengganggu Rose jika ia melihat hidup wanita yang selalu ia anggap lawanya itu benar - benar menderita.


***


Puebla adalah salah satu kota terbesar ke - 4 di Meksiko. Dan kota itu tak jauh dari Mexico city, hanya perlu waktu dua jam saja untuk sampai di sana. Puebla juga sangat kental dengan arsitektur kolonial Spanyol.


Rose pun mulai menata hidup barunya di sana. Ia mulai mencari pekerjaan untuk menyambung hidup. Akhirnya bekerja di sebuah kafe menjadi pilihanya. Rose pun menjalaninya dengan senang hati, ia menutup semua akses yang berhubungan dengan Rishie dan yang lainya. Ia masih memakai nama Rose tapi tanpa embel - embel Edward.


waktupun berjalan dengan cepat. Tak terasa enam bulan sudah Rose hidup menjauh dari suaminya, bahkan ia tak tahu bagaimana nasib pernikahanya dengan Rishie saat ini. Ia hanya fokus bekerja, tanpa tujuan hidup.


Baginya semua yang ia jalani sangat hampa. Tak ada semangat baginya, hanya saja ia tak mau terus terpuruk. Rose selalu berfikir positif, jika Tuhan masih menginginkan mereka bersatu, pasti akan ada jalan untuknya dan Rishie bersatu. Namun jika Tuhan telah mentakdirkanya berpisah dengan Rishie, Rose akan memerimanya.


****


Sementara Rose mulai menata hidupnya kembali, tidak dengan Rishie. Ia malah berubah, perpisahanya dengan Rose membuat ia sangat terpuruk. Semangat hidupnya seakan sirna. Setiap hari ia hanya bekerja seperti biasa, namun sepulang dari kantor ia akan menghabiskan harinya dengan mabuk - mabukan di klub.


Dia juga akan membawa para wanita malam ke rumah. Semua pelayan hanya iba melihat keadaan sang Tuan mereka. Mereka berharap semua akan cepat berahir, mereka selalu berdoa semoga Nyonya besar akan kembali dan membuat suasana di rumah ini kembali seperti dahulu.


"Pergi!" teriak Rishie pada wanita yang ia bawa ke rumahnya.


"Ada apanTuan? apa salah kami?" tanya mereka yang bingung perubahan sikap Rishie.


"Pergi, aku bilang! kalian hanya boleh menemaniku, bukan menyentuhku, tapi kalian melupakanya!" bentak Rishie pda mereka.


"Maaf Tuan, kami lupa," ucap mereka memelas.


"Cepat pergi! aku tak mau melihat kalian lagi!" teriak Rishie mengusir mereka.


Rishie memang selalu membawa para wanita ke rumahnya, namun ia tak pernah mengijinkan mereka menyentuhnya. Ia hanya membutuhkan mereka untuk menemani minum, ia tak pernah mau di sentuh wanita kecuali Rose istrinya.


BERSAMBUNG.