The Alpha

The Alpha
Alisha di culik



"Jadi ini gadis yang sudah membuatmu tergila-gila?" seorang pria paruh baya menatap kearah gadis yang tengah pingsan di atas tempat tidur dengan kedua tangannya yang terikat.


"Ya, ayah" jawab pemuda yang tidak lain adalah David.


"Aku kira kecantikannya akan seperti bidadari, sehingga kau berani menggangguku hanya untuk mendapatkannya, tapi setelah melihatnya seperti ini, dia bahkan tidak pantas menjadi pembantu di rumah ku!" sahut pria paruh baya itu.


Dia adalah Robert Louis, ayah sekaligus kepala keluarga Louis yang ada di kota A ini. Sebenarnya ayah David bukan berasal dari negara ini, namun karena menikah dan telah lama menetap di negara ini, ayah David akhirnya memutuskan untuk pindah kewarganegaraan dan menetap di kota A.


Meski begitu, ia masih sering kembali ke negara asalnya untuk menjalankan bisnis yang ada di sana, sedangkan untuk bisnisnya yang ada di kota A ini, ia sepenuhnya menyerahkan semua urusan itu kepada asisten kepercayaannya, dan saat David siap nanti, maka dialah yang akan mengurus semua bisnis keluarga Louis, termasuk bisnis yang ada di negara asal ayahnya.


"A-aku tidak benar-benar mencintai ayah, yang aku inginkan darinya hanyalah tubuhnya saja, lalu aku berencana untuk membuat keluarganya tunduk padaku" ucap David.


"Keluarga? Memangnya dari keluarga mana gadis ini berasal?" tanya Robert, ayah David.


"Keluarga Handoko."


"Hahaha, apa yang kau harapkan dari keluarga kecil itu? Daripada kau mendekati gadis tidak berguna ini, lebih baik kau berusaha mendekati putri keluarga Wiliam"


"Keluarga Wiliam? Bukankah mereka adalah keluarga paling berpengaruh di negara ini?" tanya David.


"Benar, keluarga Wiliam adalah keluarga yang paling berpengaruh di Negara ini, dan jika kau berhasil menjadikan putri keluarga itu sebagai istrimu, maka kau tidak hanya akan menguasai seluruh warisan keluarga kita, tapi juga seluruh harta keluarga Wiliam" jawab Robert.


Sama halnya dengan keluarga Louis ataupun keluarga Handoko, keluarga Wiliam juga adalah keluarga yang sangat ternama di kalangan para pebisnis.


Tapi yang membedakannya adalah, keluarga Wiliam tidak hanya terkenal sebatas satu atau dua kota saja, tapi nama keluarga mereka sudah terkenal di seluruh Negeri ini. Dan bisa dikatakan bahwa kekayaan keluarga Wiliam ini sudah masuk ke peringkat lima Asia.


"Tapi mendekati keluarga Wiliam sangatlah sulit, Ayah" sahut David.


"Pikirkan caranya" ucap Robert, kemudian pergi meninggalkan anaknya.


"Hah" David menghela napas melihat kepergian ayahnya, ia sangat mengerti tujuan kenapa ayahnya ingin dia mendekati putri keluarga Wiliam, "Kenapa tidak sekalian minta aku untuk bunuh diri saja" gumam David.


Meskipun begitu, David sebenarnya juga memiliki keinginan yang sangat besar untuk memiliki putri keluarga Wiliam, dan jauh sebelum ia mengenal Alisha, dia sudah mencoba berbagai macam cara untuk mendekati putri keluarga Wiliam, tapi semua usahanya hanya sia-sia.


David pernah mencoba untuk berkenalan dengannya lewat media sosial, tapi sampai saat ini, pesan yang David kirim belum pernah di balas ataupun dibaca olehnya, ia juga pernah ingin mencoba berkenalan secara langsung, tapi malah dihadang oleh pengawalnya, bahkan ia hampir saja di hajar oleh mereka.


"Alisha, sebenarnya aku ingin menikmati dirimu sekarang juga, tapi rasanya tidak akan menyenangkan jika melakukannya saat kau sedang tidak sadar" gumam David, kemudian pergi meninggalkan ruangan tersebut.


***


Kediaman keluarga Handoko.


Tuan Handoko serta seluruh anggota keluarganya mulai mengkhawatirkan Alisha, terutama ibunya, karena sampai sekarang ia masih belum pulang ke rumah. Mereka sudah mencoba untuk menghubunginya, tapi nomornya malah tidak aktif.


"Ini pasti perbuatan pemuda sialan itu! Ya! Pasti dialah yang telah membawa Alisha kabur" ucap Dewi.


"Dewi! Jaga ucapan mu, Daniel tidak mungkin melakukan perbuatan seburuk itu!" ujar Tuan Handoko.


"Aku setuju dengan ayah, rasanya tidak mungkin Daniel melakukan hal itu" sahut Johan, ayah Alisha.


"Kenapa kalian malah membelanya? Saat ini putriku entah ada dimana, dan mungkin saja dia sedang dalam bahaya, tapi kalian! Kalian masih saja membela pemuda sialan itu!"


"Baiklah, aku akan mencari Daniel dan akan menanyakannya secara langsung" ucap Tuan Handoko, kemudian pergi meninggalkan mereka, lalu diikuti oleh kedua anak laki-lakinya dan juga ayah Alisha.


Meski begitu, Tuan Handoko tetap mengingatkan anak-anaknya agar bertanya pada Daniel secara baik-baik, dan melarang mereka menggunakan kekerasan. Selain itu, ia juga meminta siapapun yang pertama menemukannya nanti, maka harus memberikan kabar kepada yang lain terlebih dahulu.


"Ayah, jika keadaannya memang mendesak, maka kami terpaksa harus menggunakan kekerasan" ucap Dani, anak kedua Tuan Handoko.


"Yang dikatakan kak Dani memang benar, jika terpaksa harus menggunakan kekerasan, maka itulah yang akan kami lakukan" sahut Burhan, anak ketiga Tuan Handoko.


"Tidak, aku tidak mengizinkan kalian menggunakan kekerasan, karena kalian bukanlah tandingan Daniel" ucap Tuan Handoko.


Dani, Burhan dan Johan mengerutkan alisnya ketika mendengar perkataan ayah mereka, "Ayah, sepertinya ayah terlalu memenang rendah kami semua" sahut Burhan yang nampak kesal.


"Hah" Tuan Handoko menghela napas panjang, "Aku tidak bermaksud begitu, tapi memang itulah kenyataannya, sekalipun kalian melawannya bersama sepuluh pengawal, kalian tetap tidak akan bisa mengalahkannya."


"Heh" Dani mendengus kesal, "Aku justru semakin penasaran dengan bocah ini" ucapnya.


***


Beberapa jam telah berlalu sejak Tuan Handoko dan anak-anaknya mencari Daniel, namun sampai sekarang, mereka berempat masih belum berhasil menemukan keberadaan Daniel, padahal, mereka sudah mencarinya hampir ke seluruh penjuru kota, tapi masih belum membuahkan hasil apapun.


"Daniel, jika saja aku bisa bersikap tegas pada putriku, mungkin semua ini tidak akan pernah terjadi" gumam Tuan Handoko.


Tidak lama kemudian, pengawal Tuan Handoko yang tiba-tiba saja menghentikan mobil mereka di pinggir pantai, "Tuan, bukankah itu Tuan Muda Daniel?"


Tuan Handoko sontak mengarahkan pandangannya ke arah yang ditunjuk oleh pengawalnya, dan benar saja, pemuda yang tengah berdiri memandangi lautan lepas itu tidak lain adalah Daniel.


"Kau benar!" jawab Tuan Handoko, lalu turun dari mobil dan langsung menghampiri Daniel, begitu juga dengan para pengawalnya.


"Daniel!" sapa Tuan Handoko.


Daniel menoleh ke arah sumber suara yang memanggil namanya, "Tuan Handoko? Ada apa?" tanya Daniel.


"Apa kau bersama Alisha?"


Daniel menggelengkan kepalanya, "Dalam beberapa hari ini aku belum bertemu dengannya, memangnya ada apa?"


"Hah" Tuan Handoko menghela napas panjang, kemudian menceritakan apa yang tengah terjadi saat ini.


"Apa? Alisha belum pulang sampai sekarang?"


Tuan Handoko mengangguk pelan, "Benar, kami sudah mencoba untuk menghubunginya, tapi tidak bisa."


"Bagaimana dengan teman-temannya? Apa kalian sudah menghubungi mereka?" tanya Daniel.


"Sudah, kami sudah menghubungi semua teman Alisha dan mereka semua memberikan jawaban yang sama."


"Gawat! Jangan-jangan dia diculik"


"Itulah yang kami takutkan, sebenarnya kami ingin melaporkan masalah ini pada kepolisian, tapi karena belum sampai 24 jam, mereka tidak akan mungkin mau menangani kasus ini."


"Baiklah, aku akan mencarinya!" ujar Daniel, kemudian pergi meninggalkan Tuan Handoko dan para pengawalnya.