The Alpha

The Alpha
Anggota pasukan khusus



Keesokan harinya.


Suasana di rumah Tuan Handoko nampak lebih ramai dari sebelumnya, karena saat ini orang-orang tengah melakukan persiapan untuk mengadakan pesta ulang tahun Tuan Handoko, semua orang sibuk melakukan pekerjaan mereka masing-masing, terutama Daniel yang diperintahkan oleh ibunya untuk membantu para pelayan.


Sementara yang lainnya tengah sibuk melakukan tugas mereka masing-masing, Tuan Handoko beserta menantu serta anak laki-lakinya tengah mengobrol di ruang kerjanya, mereka berlima masih membahas masalah keluarga mereka yang harus segera diselesaikan, karena para investor sudah mulai mendesak agar Tuan Handoko mengembalikan uang mereka.


"Ayah, apa sudah ada informasi mengenai The Alpha?" tanya Dani.


Tuan Handoko menggelengkan kepalanya, "Aku sudah memerintahkan orang-orang kita untuk melacak keberadaannya dengan menggunakan nomor rekeningnya, tapi anehnya, mereka mengatakan bahwa nomor rekening itu tidak bisa dilacak."


"Ini benar-benar sulit dipercaya, jika dia tidak ingin kita mengetahui keberadaannya, lalu kenapa dia mau membantu kita dan apa alasannya?"


"Itulah yang harus kita cari tahu" jawab Tuan Handoko.


Saat mereka tengah mengobrol, salah satu bawahan Tuan Handoko tiba-tiba saja menghubunginya, ia mengatakan bahwa nomor rekening yang sama pernah melakukan transaksi di salah satu mall di kota A ini, dan kemungkinan besar orang itu adalah orang yang telah mengirim uang kepada Tuan Handoko.


Kabar yang di berikan oleh bawahannya itu sontak membuat Tuan Handoko dan yang lainnya senang, karena mereka telah berhasil menemukan petunjuk mengenai keberadaan The Alpha ini, walaupun mereka belum mengetahui dengan pasti dimana ia berada, tapi informasi itu sudah sangat membantu mereka.


"Baiklah, sekarang aku ingin kalian mendatangi mall itu" ucap Tuan Handoko.


"Baik ayah!" jawab kedua anak dan menantunya serempak.


Setelah itu, mereka berempat langsung pergi menuju ke mall yang dimaksud, setibanya di sana, mereka langsung berpencar menuju ke beberapa toko yang disebutkan oleh bawahan Tuan Handoko, dan salah satunya adalah toko ponsel yang pernah dikunjungi oleh Daniel dan Alisha.


"Selamat datang Tuan, ada yang bisa saya bantu?" tanya pelayan toko dengan ramah.


"Apa aku boleh melihat riwayat transaksi di toko ini?" tanya Johan.


Pelayan itu mengerutkan alisnya, "Maaf Tuan, tapi Anda tidak bisa melakukan itu" jawabnya dengan sopan.


"Hubungi manajer mu, katakan Johan sedang menunggunya di sini" sahut Johan.


Karena tidak ingin mendapatkan masalah, pelayan itu kemudian menghubungi manajernya, "Baik, Tuan."


Tidak lama kemudian, manajer toko ponsel itu akhirnya datang dan langsung menyapa Johan, ia juga menanyakan apa alasan Johan ingin melihat riwayat transaksi di tokonya, dan Johan pun menceritakan masalah yang tengah menimpa keluarganya, serta orang misterius yang telah membantu mereka.


"Baiklah, karena kau adalah temanku, maka aku akan membantumu" ucap manajer toko, kemudian menunjukkan riwayat transaksi kepada Johan.


Setelah mencari selama lima menit, Johan akhirnya menemukan nomor rekening yang sama dengan nomor rekening orang yang mengirim uang kepada Tuan Handoko, "Ini dia, nomor ini sama dengan nomor orang misterius itu" ucap Johan.


"Apa kau yakin?"


"Iya, aku sangat yakin" jawab Johan, lalu mengeluarkan ponselnya dan mencoba mencocokkan kedua nomor tersebut, dan hasilnya benar-benar sama.


"Kedua nomor ini benar-benar sama" lanjutnya, kemudian mengalihkan pandangannya pada pelayan toko, "Apa kau ingat siapa pemilik nomor rekening ini?"


Pelayan toko kemudian memperhatikan nomor yang ditunjukkan oleh Johan, setelah beberapa saat berpikir, ia akhirnya bisa mengingat siapa pemilik nomor rekening tersebut, "Iya, aku mengingatnya, dua hari yang lalu ada sepasang suami-istri datang membeli ponsel, dan jika aku tidak salah ingat, dia menggunakan kartu hitam."


"Apa kau mengingat wajahnya?" tanya Johan.


"Mereka orangnya!" sahut pelayan toko saat melihat rekaman yang menunjukkan Daniel dan Alisha.


Johan mengerutkan alisnya ketika mendengar perkataan pelayan toko tersebut, pasalnya, dua orang yang ada dalam rekaman itu adalah anak dan juga menantunya, "Apa kau yakin merekalah orangnya?" tanya Johan.


"Aku berani bersumpah atas nama orang tuaku, Tuan."


Johan mengetahui bahwa pelayan itu mengatakan yang sejujurnya, tapi masalahnya adalah, sangat sulit baginya untuk percaya bahwa yang telah membantu keluarga mereka adalah Daniel, pasalnya, ia sendiri tahu jika Daniel bukanlah orang yang berasal dari keluarga berada.


"Baiklah, terima kasih atas bantuannya, suatu saat nanti, aku akan membalas kebaikan kalian ini" sahut Johan, kemudian pergi meninggalkan toko ponsel tersebut.


Di tempat parkir.


"Bagaimana?" tanya Johan kepada adik iparnya.


"Kami berhasil menemukan pemilik nomor itu, tapi..." Burhan tidak langsung menyelesaikan ucapannya.


"Baiklah, kita harus segera kembali untuk membahas hal ini dengan ayah" sahut Johan, kemudian mereka semua kembali ke rumah Tuan Handoko.


Setibanya di rumah, mereka berempat langsung menuju ke ruangan kerja Tuan Handoko, karena dia masih berada di sana untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan. Pada awalnya, mereka berniat untuk mengajak Daniel, namun Burhan menolak, karena yang akan memutuskan hal itu nanti adalah ayah mereka.


"Bagaimana? Apa kalian berhasil menemukan siapa The Alpha sebenarnya?" tanya Tuan Handoko.


Mereka berempat mengangguk pelan, lalu Johan sebagai yang dituakan mewakili mereka untuk berbicara, "Ayah, The Alpha adalah Daniel"


"Apa?" Tuan Handoko benar-benar kaget mendengar perkataan menantunya itu.


"Apa kalian yakin?"


"Ayah kami sudah memastikannya di beberapa toko di mall tersebut, dan menurut riwayat transaksi serta rekaman cctv yang ada di sana, pemilik nomor rekening itu adalah Daniel" jawab Johan.


"Ayah, siapa Daniel sebenarnya? Kenapa dia bisa memiliki uang sebanyak itu? Bukankah sebelumnya ayah mengatakan bahwa Daniel bukanlah orang yang berada?" tanya Dani.


"Hah" Tuan Handoko menghela napas panjang, "aku sendiri tidak tahu siapa dia sebenarnya, aku hanya mengetahui bahwa dia adalah seorang anggota pasukan khusus" jawab Tuan Handoko, kemudian menceritakan kejadian satu tahun yang lalu.


Satu tahun yang lalu, Tuan Handoko pernah mengalami satu kejadian yang hampir saja merenggut nyawanya, kejadian ini ia alami saat melakukan perjalanan bisnis ke negara K. Pada saat itu, mobil Tuan Handoko dan rekan bisnisnya dicegat oleh beberapa orang yang merupakan anak buah dari mafia ternama di Negera tersebut.


Beruntung mereka diselamatkan oleh seorang pemuda yang mengaku sebagai anggota pasukan khusus. Pada awalnya, Tuan Handoko dan rekan bisnisnya tidak yakin jika mereka akan selamat, pasalnya, pemuda itu hanya datang seorang diri tanpa membawa teman-temannya, akan tetapi apa yang mereka pikirkan ternyata salah, karena pemuda itu nyatanya mampu membawa mereka kembali dengan selamat.


Bahkan, Tuan Handoko dan rekan bisnisnya tidak menyangka jika pemuda itu mampu mengalahkan puluhan bawahan mafia itu seorang diri, dengan mengandalkan keahlian bertarungnya yang luar biasa, ia membabat habis seluruh kelompok mafia tersebut hanya dalam semalam, dan kejadian itu disaksikan secara langsung oleh Tuan Handoko.


"Kejadian itulah yang membuat aku memutuskan untuk menikahkan Daniel dan Alisha, karena dengan identitasnya, aku sangat yakin dia mampu menjaga Alisha dengan baik" ucap Tuan Handoko menyelesaikan ceritanya.


"Pantas saja ayah sangat bersikeras ingin menikahkan dia dan Alisha, ternyata pilihan ayah memanglah yang terbaik" sahut Johan, ia sekarang benar-benar bahagia karena memiliki seorang menantu yang luar biasa.


"Lalu, darimana dia mendapat uang sebanyak itu? Maksudku, gajinya selama menjadi pasukan khusus tidak mungkin sampai sebanyak itu" ucap Burhan.


Tuan Handoko menggelengkan kepalanya, "Daniel dibesarkan di kamp pelatihan pasukan khusus, dia menjadi bagian dari pasukan itu hanya karena ingin membalas budi mereka yang telah membesarkannya, dengan kata lain, dia sama sekali tidak digaji."