
Malam semakin larut dan suasana semakin sunyi, karena hampir semua insan di kota A ini sudah menghentikan aktivitas mereka dan mulai terlelap dalam tidurnya.
Hanya tersisa sedikit orang yang masih sibuk dengan aktivitasnya, bahkan jalanan sudah sangat sepi dan hanya ada beberapa mobil yang melintasi jalanan kota.
Di dalam kamar hotel termewah di kota A.
Jantung Daniel berdetak dengan kencang saat matanya tertuju pada Alisha yang kini berada didepannya, perlahan namun pasti, Daniel melangkahkan kakinya mendekati Alisha yang tengah tertunduk malu.
Daniel menyentuh dagu Alisha dan kemudian mengangkat wajahnya perlahan agar ia bisa melihatnya, meski cahaya di kamar tidak terlalu terang, namun Daniel masih dapat melihat rona merah di kedua pipi istrinya itu.
"Kau takut?"
Alisha menggeleng pelan, "Aku malu" ucapnya pelan.
Perkataan istrinya itu membuat seulas senyum terukir dibibir Daniel, kemudian tanpa peringatan apapun, ia langsung mengecup bibir Alisha, "Kenapa harus malu, aku ini suamimu" ucapnya.
"Aku tahu, tapi..."
"Kau belum siap?" Daniel memotong perkataan istrinya.
Alisha menggelengkan kepala, "Jika aku belum siap, aku tidak akan mau ikut denganmu."
"Benarkah? Kalau begitu, tidak usah malu pada suamimu sendiri" sahut Daniel.
Alisha membuka mulutnya untuk menyahuti perkataan Daniel, namun ia terlambat, karena sebelum perkataannya sempat terucap, Daniel telah lebih dulu mendaratkan kecupan di bibirnya, yang kemudian berakhir dengan ciuman hangat.
"Kau sangat cantik, apalagi saat malu-malu seperti ini" ucap Daniel, kemudian menggendong istrinya itu dan membawanya ke ranjang.
Pada akhirnya, pergulatan panas-pun terjadi antara keduanya dan kini, Daniel akhirnya berhasil memetik buah manis dari kesabarannya selama ini, karena sekarang, ia sudah memiliki Alisha sepenuhnya.
***
"Apa kau tidak bahagia?" tanya Daniel setelah pergulatan panas itu selesai, namun hanya di jawab dengan gelengan kepala oleh istrinya itu.
"Lalu kenapa kau menangis?"
"Aku bahagia."
"Benarkah?"
Alisha mengangguk, "Aku bahagia karena kakek telah menjodohkan-ku denganmu, aku bahagia karena bisa menjadi istrimu."
"Tapi..."
"Tapi?"
Alisha diam sejenak, kemudian menghela napas panjang, "Daniel, siapa kau sebenarnya?"
Daniel tersenyum kemudian mengecup dahi Alisha dengan lembut, "Aku sudah berjanji padamu dan sekarang aku akan mengatakan semuanya padamu, tapi sebelum itu, berjanjilah untuk tidak mengatakannya pada orang lain termasuk keluargamu."
"Aku berjanji" sahut Alisha.
Kemudian, Daniel menjelaskan siapa dirinya kepada Alisha, mulai dari dirinya yang pernah menjadi bagian dari pasukan khusus di negara asing, kemudian mengenai investasi yang ia lakukan di perusahaan William Group.
Akan tetapi, Daniel tidak menjelaskan jika dirinya memiliki sistem, karena jika dia menjelaskan hal itu, belum tentu juga Alisha akan percaya padanya, atau lebih tepatnya, Alisha tidak akan mungkin percaya akan hal itu.
Oleh karenanya, Daniel bertekad untuk menjadikan sistem sebagai satu-satunya rahasia yang tidak akan pernah ia ungkapkan pada siapapun, termasuk pada istrinya sendiri.
Dalam penjelasannya, Daniel mengatakan jika dirinya selalu menggunakan uangnya untuk berinvestasi, awalnya memang sangat sulit, karena saat itu, uangnya sangatlah sedikit.
Tapi, setelah menabung selama beberapa tahun, Daniel akhirnya berhasil berinvestasi pada salah satu perusahaan kecil, kemudian hasil investasinya itu ia investasikan lagi ke perusahaan yang lebih besar, yaitu perusahaan William Group.
"Jadi, kau seorang tentara?"
Daniel mengangguk pelan, "Tapi bukan di negara ini" jawabnya.
"Sebenarnya ini rahasia, tapi karena kau adalah istriku, jadi aku percaya kau tidak akan mengatakannya pada orang lain."
"Pasukan khusus yang aku maksud bernama Skuadron Alpha, dan aku adalah pemimpinnya, mereka menyebutku The Alpha."
Ya! Daniel bukan hanya sekedar anggota pasukan khusus yang bernama Skuadron Alpha, tapi dia adalah pemimpin dari Skuadron Alpha itu sendiri, dan oleh karena itu, anggotanya memberikan sebuah julukan padanya, yaitu The Alpha.
"The Alpha, jadi yang mengirimkan uang pada kakek itu kau?"
Daniel kembali menganggukkan kepala, "Aku tidak ingin orang lain mengetahui identitas ku, jadi aku sengaja menggunakan kode nama-ku saat menjadi komandan Skuadron Alpha dulu."
"Lalu, berapa banyak saham yang kau miliki di William Group?"
"Entahlah, aku sendiri tidak tahu, tapi menurut Tuan William, aku sudah menjadi pemegang saham terbesar di semua perusaan mereka."
"Apa!?"
Alisha benar-benar kaget mendengar perkataan Daniel, bahkan ia sampai bangkit dari tempat tidur karena tidak bisa percaya dengan apa yang baru saja ia dengar dari suaminya itu.
Mungkin sulit bagi Alisha untuk percaya, tapi melihat ekspresi Daniel yang sangat meyakinkan, ia tidak punya alasan untuk tidak percaya, apalagi saat mengingat semua hal yang telah Daniel berikan padanya.
Mulai dari membeli handphone bermerek mahal, kartu hitam yang tidak bisa dimiliki oleh sembarangan orang, sampai mobil sport edisi terbatas yang harganya mencapai puluhan miliar.
Alisha memijit pangkal hidungnya, mengetahui semua ini membuat kepalanya terasa sedikit pusing, tapi ia bahagia karena sudah mengetahui semua hal tentang suaminya itu.
"Kau baik-baik saja?"
Alisha mengangguk pelan, "Tapi kenapa baru sekarang kau mengatakannya padaku?"
"Aku tidak ingin kau memilihku hanya karena harta belaka, aku ingin kau memilihku karena hatimu, karena kau mau menerimaku apa adanya aku."
"Selain itu, ketika kita baru menikah, aku sempat ragu padamu, tapi sekarang, aku sudah sangat yakin kalau kau benar-benar mencintaiku."
"Maafkan aku, Daniel. Pernikahan kita terjadi begitu cepat, jadi aku masih butuh waktu untuk menerima mu, maaf telah membuatmu..."
"Sudahlah, yang penting, sekarang kau sudah menerimaku, bukankah begitu?"
Alisha mengangguk, "Aku sudah menerimamu sebelum kau mengatakan siapa dirimu sebenarnya" jawabnya, kemudian merebahkan kepalanya di dada bidang Daniel.
***
Esoknya.
Selesai sarapan, Daniel langsung membawa Alisha meninggalkan hotel, karena sejak semalam, mertuanya sudah sibuk menanyakan keberadaan mereka melalui pesan singkat, bahkan sudah tidak terhitung berapa banyak panggilan suara dari ibu mertuanya yang tidak terjawab.
"Langsung kembali ke rumah atau ke rumah kakek?"
"Sebaiknya kita ke rumah kakek, takutnya ibu semakin khawatir."
"Baiklah! Tapi setelah itu, aku ingin kita kembali ke rumah kita sendiri."
"Rumah kita? Memangnya kita punya rumah?"
Daniel terkekeh pelan mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Alisha, apalagi saat melihat ekspresi bingung di wajahnya, membuat Daniel sangat ingin memangsanya saat itu juga. Tapi itu tidak mungkin, karena sekarang mereka berada di jalan raya.
"Alisha, aku sudah mengatakan semuanya padamu, jadi apa kau pikir aku masih membutuhkan bantuan seorang teman?"
"Jadi, rumah itu..."
"Benar! Itu rumah kita" ujar Daniel.
"Syukurlah, aku sempat takut jika temanmu itu kembali dan meminta rumahnya."
"Alisha, di kota dan negara ini, hanya kau satu-satunya teman yang aku miliki."