
Ruangan bawah tanah.
Setelah berhasil membunuh semua anak buah Macam Putih, Daniel kini berdiri didepan pintu di ruangan bawah tanah, dan menurut informasi yang ia dapatkan dari Omega, di sanalah keluarga Handoko disekap.
Selain anggota keluarga Handoko, di dalam ruangan itu juga ada ketua kelompok White Tiger, atau yang dijuluki sebagai Macan Putih oleh anggota organisasi dunia bawah tanah lainnya.
Akan tetapi, dia tidak hanya sendirian saja di dalam sana, melainkan ada beberapa orang kepercayaannya atau yang biasa disebut sebagai tangan kanannya. Namun, sebanyak apapun mereka, tetap tidak akan membuat Daniel gentar.
Boom!
Pintu yang terbuat dari kayu itu langsung hancur karena dihantam oleh tinju Daniel, membuat orang-orang yang ada di dalamnya tersentak kaget, namun tidak dengan Macan Putih yang masih terlihat santai dan tenang.
Daniel melangkah memasuki ruangan, tatapan matanya langsung tertuju pada keluarga Handoko yang tengah di rantai, mereka semua berteriak sekeras mungkin untuk memperingatkan Daniel.
Namun sayangnya, suara mereka tidak bisa keluar, karena mulut mereka semua di tutupi dengan lakban hitam. Meski begitu, Daniel sudah bisa menebak apa yang ingin mereka katakan padanya.
"Jadi kau, yang membuat dua Tuan dari keluarga atas meminta bantuan-ku?" tanya Macan Putih.
"Kalau iya, memangnya kenapa?"
"Hahaha!" Macan Putih tertawa lantang, "Bunuh dia!"
Empat pria berbadan kekar yang berdiri disisi kanan dan kiri Macan Putih, kemudian bergerak maju dan langsung menyerang Daniel, namun setiap serangan yang mereka lancarkan selalu berhasil dihindari oleh Daniel.
Empat orang ini berbeda dengan bawahan Macan putih yang lainnya, kemampuan bertarung mereka jelas melebihi kemampuan orang biasa, karena setiap serangan yang mereka lakukan terarah dengan sangat baik.
Jika Daniel tidak memiliki kemampuan bela diri yang hebat, mungkin ia sudah lama tumbang melawan mereka, atau mungkin, ia akan langsung kalah hanya dengan melawan salah seorang dari mereka berempat.
"Lumayan juga kau bocah!" ujar salah seorang dari mereka, kemudian melayangkan tendangan pada Daniel.
Daniel mundur selangkah menghindari serangan tersebut, kemudian ia berputar seraya mengayunkan tendangan, tidak sama seperti serangan pria itu yang berhasil dihindari, serangan Daniel terlihat sangat cepat dan tidak bisa dihindari.
Akibatnya, pria itu terpental hingga menabrak dinding ruangan, bahkan beberapa giginya terlihat patah karena tendangan Daniel tepat mengenai pipinya. Meski begitu, pria tersebut masih belum kalah, ia berdiri dan melanjutkan serangannya.
"Aku tidak bisa berlama-lama di sini" gumam Daniel.
Daniel mempercepat pergerakannya, ia yang awalnya tidak terlalu banyak menyerang, sekarang malah melakukan serangan balasan secara bertubi-tubi, bahkan ia tidak memberikan kesempatan sedikitpun pada lawannya untuk melakukan serangan balasan.
Kekuatan yang dimiliki oleh Daniel jelas melebihi kekuatan keempat pria itu, karena hanya dengan satu serangan saja, ia berhasil membuat lawannya terpental, namun mereka memiliki ketahanan tubuh yang luar biasa, hingga cukup sulit bagi Daniel untuk menumbangkan mereka.
Disisi lain.
Macan putih yang masih mengawasi jalannya pertarungan, dapat menyadari ada yang berbeda dengan Daniel, ia bahkan bisa melihat dengan jelas perbedaan kekuatan mereka.
Saat ini, keadaan keempat bawahannya sudah tidak baik-baik saja, mereka sudah babak belur karena di hajar habis-habisan oleh Daniel, sedangkan Daniel sendiri, satu serangan-pun belum mendarat di tubuhnya.
Krak!
Suara tulang yang dipatahkan terdengar dengan jelas, setelah beberapa menit bertarung, Daniel akhirnya bisa menumbangkan salah satu dari mereka dengan mematahkan lehernya.
Tiga pria yang masih tersisa nampak sangat marah, namun dalam dirinya, ada rasa takut yang tidak bisa mereka jelaskan. Bagaimana tidak, setelah bertarung cukup lama, Daniel masih terlihat baik-baik saja.
"Majulah!" ujar Daniel.
Tiga bawahan Macan Putih yang tersisa nampak ragu, mereka mulai tidak yakin apakah mampu mengalahkan Daniel atau tidak.
"Bunuh dia apapun caranya!" ujar Macan Putih.
Salah seorang dari mereka menjauhi tempat pertarungan, kemudian mengambil tiga bilah pedang yang tersimpan di belakang tempat duduk Macan Putih.
Setelah menyerahkan dua pedang kepada kedua temannya, mereka bertiga kemudian maju dan menyerang Daniel untuk yang kesekian kalinya.
Walaupun ketiga lawannya menggunakan senjata, Daniel tidak terlihat gentar sedikitpun, alih-alih mundur atau melarikan diri, ia justru maju dan menyerang ketiga lawannya itu.
Krak!
Slash!
Daniel mematahkan tangan salah seorang dari mereka, kemudian meraih pedangnya dan langsung membunuhnya saat itu juga, lalu ia bergerak dengan cepat mendekati kedua lawannya yang tersisa.
Slash!
Slash!
Daniel menghela napas panjang, kemudian menghampiri Macan Putih yang masih duduk di kursinya, "Ada permintaan terakhir?" tanya Daniel.
"Bagaimana kalau kau menjadi bawahan-ku!?"
Slash!
Arkhhh!
Daniel memotong salah satu tangan Macan Putih, "Menghindari serangan itu saja kau tidak bisa, bagaimana mungkin kau bisa menjadi atasanku!?"
"Ka-kau..."
Slash!
"Inilah akibatnya jika kau main-main denganku" ucap Daniel setelah memenggal kepala Macan Putih.
Tuan Handoko dan seluruh anggota keluarganya yang ada di sana, bergidik ngeri ketika melihat perbuatan Daniel yang sangat kejam, bahkan mereka tidak pernah menyangka jika Daniel adalah orang yang sangat kejam.
"Kalian baik-baik saja?" tanya Daniel setelah melepaskan rantai yang membelenggu tubuh mereka.
"Terima kasih, Daniel. Kami baik-baik saja" jawab Tuan Handoko.
"Maafkan aku, jika saja aku tidak meninggalkan hotel semalam, mungkin semua ini tidak akan terjadi."
"Sudahlah, semua ini bukan kesalahanmu, justru kami-lah yang seharusnya berterima kasih padamu, jika tidak ada kau, entah bagaimana nasib kami semua" sahut Johan.
"Tapi, bagaimana dengan mereka? Polisi pasti tidak akan tinggal diam."
"Tenang saja paman, aku akan mengurus semuanya dan aku jamin, keluarga Handoko tidak akan terlibat apapun."
"Andi, hubungi para pengawal, minta mereka menjemput kita di sini."
"Baik kak!"
Andi mematuhi perintah Daniel tanpa keraguan sedikitpun, biasanya anak itu tidak menyukai Daniel, tapi setelah melihat kejadian barusan, entah mengapa dia sangat mengagumi sosok Daniel.
Sama halnya dengan Andi, Bagas juga menunjukkan kekagumannya pada Daniel, padahal, dialah yang selama ini menghasut kakaknya untuk tidak berhubungan baik dengan Daniel, tapi sekarang, sepertinya dia ingin mengikuti Daniel.
***
Dewi dan Alisha menangis bahagia melihat keluarga mereka kembali dengan selamat, namun hanya Tuan Handoko dan yang lainnya saja yang kembali, sedangkan Daniel, masih belum terlihat.
"Ayah, kakek, dimana Daniel?"
"Alisha! Kenapa kau masih saja memikirkan bajingan itu!? Apa kau lupa, dialah yang menyebabkan..."
Plak!
"Cukup! Aku sudah muak dengan omong kosong-mu!" ujar Tuan Handoko setelah mendaratkan tamparan di pipi anaknya itu.
"Ayah, apa maksudnya ini?"
"Dewi, seharusnya kau berterima kasih pada Daniel. Jika bukan karena dirinya, kami semua tidak akan pernah kembali ke rumah ini!" ujar Johan.
"Ayah, memangnya Daniel dimana?"
"Alisha, kau tenang saja, Daniel masih ada urusan, jadi dia tidak bisa kembali bersama kami."
"Tapi bagaimana keadaannya kakek?"
"Dia baik-baik saja."