
Baik Tuan Handoko ataupun anak dan juga menantunya, mereka sama-sama bingung dan tidak bisa memahami situasi yang tengah terjadi saat ini, pasalnya, tidak seorangpun dari mereka yang mengetahui darimana Daniel mendapatkan uang sebanyak itu, bahkan Tuan Handoko yang sangat mengenalnya juga tidak mengetahuinya.
Meski begitu, mereka tetap senang karena akhirnya mengetahui siapa yang telah membantu mereka, walaupun mereka masih bingung darimana Daniel mendapatkan uang itu dan kenapa ia menyembunyikan identitasnya, tapi setidaknya mereka tahu bahwa Daniel adalah orang yang sangat peduli dengan keluarga mereka.
Sebenarnya Daniel bisa saja cuek dan tidak peduli dengan masalah tersebut, apalagi dengan identitasnya yang tidak diketahui, pastinya akan sangat mudah baginya untuk berpura-pura tidak dapat membantu, tapi yang ia lakukan justru sebaliknya, ia memang berpura-pura tidak bisa membantu, padahal ia sudah mengulurkan tangan secara diam-diam.
"Kalian berempat, aku ingin kalian menyembunyikan hal ini, jangan sampai orang lain mengetahuinya termasuk Alisha" ucap Tuan Handoko.
"Kenapa harus disembunyikan ayah?"
"Daniel sendiri yang ingin identitasnya disembunyikan, dan mengenai Alisha, mungkin Daniel akan mengatakan kebenaran tentang dirinya secara langsung" jawab Tuan Handoko.
"Baiklah, kalau begitu kami akan tutup mulut" sahut Johan, kemudian diikuti oleh anggukan yang lainnya.
Ditempat lain.
Setelah mengetahui bahwa putrinya belum pernah disentuh oleh Daniel, Dewi kemudian memutuskan untuk menyusun rencana agar putrinya itu berpisah dengan Daniel, dan saat ini, dia tengah berada di salah satu cafe di kota A untuk bertemu dengan seorang tuan Muda dari keluarga Wijaya.
Sama halnya dengan keluarga Handoko, keluarga Wijaya juga merupakan keluarga ternama di kota A ini, namun posisi keluarga Wijaya ini berada di atas keluarga Handoko dan satu tingkat di bawah keluarga Louis, dengan kata lain, keluarga Wijaya adalah keluarga terkaya nomor dua di kota A ini.
Setelah menunggu cukup lama, orang yang dinantikan kedatangannya oleh Dewi akhirnya tiba di sana, dia adalah seorang pemuda yang sangat tampan dan terlihat begitu berwibawa, namun dibalik wibawa yang ia tunjukkan itu, tersimpan sesuatu yang sangat mengerikan.
"Tuan Muda Wijaya, selamat datang" sapa Dewi.
"Nyonya Handoko, kenapa Anda ingin menemui ku?" tanya Angga Wijaya, dia adalah pemuda yang tidak suka berbasa-basi.
Kemudian, Dewi menceritakan maksudnya yang ingin menjodohkan anaknya dengan pemuda tersebut, ia juga mengatakan kejujuran tentang status Alisha yang sudah menikah dan tentunya, ia tidak lupa mengatakan jika anaknya itu belum pernah disentuh sama sekali oleh suaminya.
"Nyonya Handoko, apa Anda bermaksud untuk memberikan barang bekas padaku?" tanya Angga, ia sedikit kesal setelah mengetahui maksud Dewi.
Dewi buru-buru menggelengkan kepalanya, "Ti-tidak, sama sekali bukan begitu, Tuan Muda. Aku bisa menjamin jika putriku itu masih perawan" ucapnya, kemudian menunjukkan foto Alisha padan Angga.
Pada awalnya, Angga memang kesal ketika mendengar penjelasan Dewi, namun setelah melihat foto gadis cantik yang ia tunjukkan, kekesalannya itu langsung menghilang begitu saja, bahkan sekarang ia malah tertarik untuk mendapatkan putri Dewi Handoko tersebut.
"Putri Anda sangat cantik, Nyonya. Lalu, apa rencana Anda?" tanya Angga.
"Terima kasih Tuan Muda" jawab Dewi, kemudian menjelaskan rencananya pada Angga.
Dewi bermaksud untuk menggunakan identitas orang misterius yang telah membantu mereka untuk mendekatkan Angga dengan putrinya, dengan kata lain, ia meminta Angga untuk mengaku sebagai The Alpha, yaitu seseorang yang telah mengirimkan uang sebanyak sembilan miliar kepada Tuan Handoko.
"Hahaha, aku tidak menyangka jika Nyonya Handoko memiliki sifat licik seperti ini, tapi itu tidak masalah, karena aku suka dengan orang-orang yang licik" ucap Angga.
"Tapi, kenapa Anda ingin aku menikahi putri Anda?"
"Sebenarnya, aku tidak menyukai menantuku yang sekarang ini, karena selain identitasnya yang tidak jelas, dia juga tidak berguna sama sekali, bahkan saat keluarga kami tertimpa masalah, dia tidak melakukan apapun" jawab Dewi.
"Baiklah, kalau begitu aku setuju untuk menjalankan rencana Anda ini, dan jika Anda benar-benar bisa membuat putri Anda menjadi milikku, maka akan ada hadiah untuk Anda" sahut Angga, kemudian pergi meninggalkan Dewi.
Waktu kian berlalu, matahari yang menyinari seluruh daratan di Negeri ini juga telah tenggelam dan digantikan oleh sang rembulan yang menghiasi gelapnya langit malam bersama bintang-bintang.
Suasana di rumah Tuan Handoko sudah semakin ramai, para tamu undangan juga sudah mulai berdatangan, baik dari kalangan para pebisnis ataupun kerabat Tuan Handoko sendiri, bahkan, teman-teman dekat Tuan Handoko juga sudah datang semuanya.
Sementara semua orang tengah sibuk melayani para tamu, Dewi malah tidak menampakkan dirinya, karena pada saat ini, ia masih berada diluar rumah dan tengah menanti kedatangan seseorang, yaitu Tuan Muda dari keluarga Wijaya.
"Ibu, kenapa ibu masih di sini?" tanya Daniel.
"Bukan urusanmu dan pergilah dari hadapanku sekarang juga!" jawab Alisha.
Daniel hanya bisa menghela napas panjang, kemudian ia pergi meninggalkan ibu mertuanya itu tanpa mengatakan apapun lagi.
Di dalam rumah.
Karena semua tamu yang diundang sudah datang, Tuan Handoko kemudian memulai acara tersebut, dan sebelum melakukan acara potong kue dan pemberian kado, ia lebih dulu menyampaikan beberapa hal kepada seluruh tamu yang ada di sana.
"Pertama, aku ucapkan terima kasih kepada kalian semua karena masih mau datang memenuhi undangan ku, padahal kalian semua tentu sudah tahu bagaimana kondisi keluargaku sekarang ini" ucapnya.
"Kemudian, aku ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya, kepada The Alpha, yaitu sosok misterius yang telah mambantu kami" lanjutnya, sembari mengarahkan pandangannya pada Daniel, kemudian ia melanjutkan ucapannya, "Tapi sangat disayangkan, orang baik sepertinya tidak dapat hadir ditengah-tengah kita sekarang."
"Kenapa kakek menatapku? Apa jangan-jangan dia sudah mengetahuinya?" gumam Daniel.
Pada saat yang bersamaan, dari arah pintu masuk terdengar suara Dewi, "Ayah, orang yang sangat ingin ayah temui sudah datang!"
Perkataan Dewi barusan sontak membuat semua tamu mengarahkan pandangannya ke arah Dewi, begitu juga dengan Tuan Handoko yang sangat penasaran pada orang yang dimaksud oleh Dewi, karena ia merasa sedang tidak menunggu kedatangan seseorang, apalagi sangat ingin menemui orang tersebut.
Tidak lama kemudian, dari pintu muncul seorang pemuda dengan setelan jas yang sangat rapi, dia adalah Angga Wijaya yang baru saja tiba, "Selamat malam semuanya, maaf kedatanganku agak terlambat" ucapnya.
"Kenapa pemuda sombong ini bisa datang, apa kalian mengundangnya?" tanya Tuan Handoko.
"Kami tidak pernah mengundangnya ayah, atau jangan-jangan kak Dewi yang mengundangnya?"
"Ayah, aku ingin mengatakan sesuatu yang sangat penting pada ayah" ucap Dewi.
"Benarkah? Memangnya apa yang ingin kau sampaikan?" tanya Tuan Handoko.
"Tuan Muda Wijaya adalah The Alpha, dia adalah orang yang telah membantu keluarga kita" jawab Dewi.
Perkataan Dewi sontak membuat semua orang terkejut, terutama Tuan Handoko serta anak dan menantu laki-laki, pasalnya, mereka tidak menyangka jika Dewi akan melakukan sesuatu seperti ini, padahal, mereka berlima sudah mengetahui siapa The Alpha yang sebenarnya.
Sama halnya dengan Tuan Handoko, Daniel juga sama kagetnya dengan mereka. Padahal, dialah yang sudah memberikan bantuan, tapi malah orang lain yang mendapatkan nama, meski begitu, Daniel tidak terlalu menghiraukannya, justru yang ia pikirkan sekarang adalah maksud tersembunyi ibu mertuanya itu.
Beda lagi dengan para tamu lainnya, mereka justru mengira bahwa perkataan Dewi adalah yang sebenarnya, bahkan mereka tidak menyangka jika Tuan Muda keluarga Wijaya adalah sosok misterius yang telah membantu keluarga Handoko, termasuk Alisha yang juga tidak menyangka akan hal itu.