
Karena penasaran dengan apa yang sedang terjadi di keluarganya, Alisha akhirnya memutuskan untuk pulang ke rumah kakeknya saat itu juga, tapi karena mobil yang dibawa oleh sepupunya hanya bisa untuk dua orang saja, mereka hanya bisa ke sana dengan menggunakan taksi.
Saat dalam perjalanan menuju ke rumah Tuan Handoko, Daniel mengirimkan pesan kepada Heru agar dia tidak menjemput mereka, ia juga mengatakan untuk tidak menunggu mereka berdua, karena kemungkinan mereka tidak akan pulang malam ini, apalagi jika masalah yang tengah menimpa keluarga Handoko adalah masalah yang besar, sudah pasti mereka akan tinggal di sana selama beberapa hari.
"Omega, apa kau sudah mendapatkan informasi yang aku inginkan?" tanya Daniel dalam hatinya.
"Sudah Tuan, aku sudah berhasil menemukan tempat tinggal dan juga markas Macan Putih" jawab Omega.
Semalam, saat Daniel menyerang tempat Tiger, ia memerintahkan Omega untuk mencari informasi mengenai siapa saja yang ada di belakang Tiger, dan berkat bantuan Omega, Daniel berhasil mengetahui jika Tiger merupakan kaki tangan seorang yang cukup berkuasa di dunia bawah tanah di kota A ini.
Lalu, untuk mencegah sesuatu yang tidak diinginkan terjadi, Daniel kemudian memerintahkan Omega untuk mencarikan informasi lengkap mengenai sosok Macan Putih, namun karena semalam ia langsung tidur setelah kembali dari tempat Tiger, jadi dia tidak sempat untuk menanyakan informasi itu pada Omega.
"Bagus, aku ingin mengetahui semuanya" ucap Daniel.
"Baik, Tuan!" jawab Omega.
Setelah itu, berbagai macam ingatan mengenai sosok Macan Putih muncul di benak Daniel, mulai dari tempat ia tinggal, dimana markas White Tiger berada, bahkan sampai jumlah anak buah yang dimiliki oleh Macan Putih, semuanya tergambar dengan jelas dalam ingatan Daniel.
"Omega, aku ingin semua bukti kejahatan Macan Putih, dan semuanya harus rekaman video, apa kau bisa melakukannya?" tanya Daniel.
"Tentu saja Tuan" jawab Omega, setelah hampir lima menit berlalu, Omega melanjutkan perkataannya, "Tuan, semua bukti kejahatan Macan Putih sudah tersimpan di penyimpanan sistem."
"Terima kasih" sahut Daniel.
***
Setelah menempuh perjalanan dengan taksi selama lima belas menit, Daniel dan Alisha akhirnya sampai di rumah Tuan Handoko, namun kedatangan mereka tidak disambut dengan baik oleh Dewi, karena menurutnya, sumber masalah yang sekarang menimpa keluarga mereka adalah Daniel.
"Alisha, Daniel, selamat datang" ucap Tuan Handoko.
"Aku kira kau sudah lupa jalan pulang, Alisha" sahut Dewi.
"Ibu, apa yang ibu katakan? Apakah ibu benar-benar tidak ingin melihatku lagi?" tanya Alisha.
"Kalian lihat itu, bahkan putriku pun sudah berani berbicara dengan kasar pada ibu yang melahirkannya" ucap Dewi, kemudian mengalihkan pandangannya pada Daniel, "Kau! Kenapa kau masih berani menginjakkan kaki di rumah ini? Apa kau masih belum puas menghancurkan keluarga kami?"
Daniel mengerutkan alisnya ketika mendengar perkataan ibu mertuanya itu, ia benar-benar bingung dan tidak mengerti kenapa ia selalu saja disalahkan atas kesalahan yang tidak pernah dia lakukan. Meskipun begitu, Daniel tetap memilih untuk diam, karena bagaimanapun juga, Dewi adalah ibu dari istrinya.
"Kenapa kau diam saja? Jawab pertanyaan ku! Apa kau masih belum puas melihat keluarga kami hancur berantakan? Pertama Alisha, sekarang masalah ini, kau benar-benar pembawa sial!"
"Cukup Dewi! Jika kau masih menyalahkan saja Daniel, maka jangan salahkan aku jika bersikap tegas padamu!" sahut Tuan Handoko.
"Cihh, teruslah membela bajingan pembawa sial ini!" gumamnya.
Setelah suasana sedikit tenang, Tuan Handoko kemudian mengajak mereka semua untuk mengobrol di ruang tamu, karena selain lebih nyaman mengobrol di sana, mereka juga tidak mungkin membicarakan masalah keluarga dengan cara berdiri seperti sekarang ini.
"Kakek, proyek mana yang kakek maksud?" tanya Alisha.
"Baru-baru ini kakek bekerjasama dengan salah seorang penguasa pertambangan minyak di kota J, pada awalnya, kerjasama ini berjalan dengan lancar dan tidak ada masalah apapun, tapi setelah beberapa Minggu, kami baru mengetahui jika orang itu hanya memanfaatkan keluarga kita saja" jawab Tuan Handoko.
"Lalu, berapa banyak kerugian kita?" tanya Alisha.
"Lima puluh miliar."
Alisha dan Daniel nampak sangat kaget ketika mendengar jumlah kerugian tersebut, walaupun keluarga Handoko adalah salah satu keluarga terkaya di kota A ini, tapi lima puluh miliar bukanlah jumlah yang sedikit, bahkan, jumlah kerugian itu lebih besar daripada pendapatan mereka selama satu tahun.
"Kakek, kenapa kakek bisa sangat ceroboh seperti ini? Seingat ku, kakek adalah orang yang sangat berhati-hati dalam memilih rekan bisnis" ucap Alisha.
"Hah" Tuan Handoko menghela napas panjang, "Kakek juga tidak mengira jika akhirnya akan jadi seperti ini, sekarang, para investor sudah mengetahui mengenai masalah ini, dan mereka meminta kakek untuk mengembalikan uang mereka" ucapnya.
"Apa? Darimana kita bisa mendapatkan uang sebanyak itu?"
"Tanyakan pada suamimu itu, kami semua sudah menyumbang harta kami untuk membantu kakek, hanya dia saja yang masih belum memberikan apapun!" sahut Dewi.
"Apa ibu bermaksud merendahkan Daniel?"
"Memangnya kenapa? Bukankah pria tidak berguna ini memang pantas untuk direndahkan?"
Saat Alisha dan ibunya tengah berdebat, ponsel Tuan Handoko tiba-tiba saja berdering dan hal itu membuat semua orang mengarahkan pandangan mereka pada Tuan Handoko, sementara Tuan Handoko sendiri, ia bergegas melihat ponselnya untuk mengetahui siapa yang mengirimkan pesan padanya.
"I-ini..."
"Ada apa ayah? Siapa yang mengirimkan pesan?" tanya Burhan.
"Ini adalah pesan dari bank, seseorang telah mentransfer uang sejumlah sembilan miliar kedalam rekeningku" jawab Tuan Handoko, kemudian menunjukkan pesan yang tertera di layar ponselnya kepada mereka semua.
"Apa?" semua orang sangat kaget mendengar perkataan Tuan Handoko.
"Ayah, coba lihat lagi pesan itu, mungkin saja ada informasi mengenai siapa yang mengirimkan uang pada ayah" ucap Dani.
Tuan Handoko mengangguk pelan, kemudian membaca ulang pesan tersebut, tapi anehnya, dia tidak menemukan informasi apapun mengenai pengirim, dan dalam pesan itu hanya tertera nomor rekening pengirim serta sebuah nama yang sedikit aneh menurutnya.
"Ini benar-benar aneh, tidak ada informasi apapun mengenai si pengirim, dan hanya ada nama The Alpha saja yang tertera di sini" ucap Tuan Handoko.
"The Alpha? Siapa sebenarnya orang ini dan bagaimana dia bisa mengetahui bahwa keluarga kita sedang membutuhkan uang?"
Pada titik ini, baik Tuan Handoko ataupun seluruh anggota keluarganya, memiliki satu pertanyaan yang sama di dalam benak mereka yaitu, siapa The Alpha itu sebenarnya? Namun, diantara mereka semua, hanya ada satu orang saja yang masih terlihat tenang dan santai seperti biasa, dan dia adalah Daniel.