The Alpha

The Alpha
Mengunjungi William Group



Satu Minggu kemudian.


Kabar mengenai musnahnya kelompok White Tiger menyebar dengan sangat luas, bahkan menjadi perbincangan hangat di kalangan para penduduk, juga kalangan pebisnis yang memang tidak suka dengan kelompok semacam ini.


Tapi, ada juga yang menyayangkan kejadian ini, terutama mereka yang memiliki hubungan bisnis atau kerjasama dengan Macan Putih, dan musnahnya kelompok ini menjadi sebuah kerugian bagi mereka.


Selain itu, kabar kehancuran White Tiger juga sudah menyebar di kalangan organisasi dunia bawah, dan hancurnya kelompok White Tiger merupakan sebuah pukulan besar untuk mereka, karena pelaku kehancuran itu masih menjadi misteri yang belum terpecahkan.


Para polisi sudah menyelidiki tempat kejadian, namun mereka tidak menemukan satupun bukti di tempat itu, selain mereka, anggota organisasi dunia bawah yang lainnya juga telah memeriksa tempat kejadian, namun hasilnya tetap saja nihil.


"Tidak ada rekaman kamera pengawas, tidak ada jejak ataupun sidik jadi yang ditinggalkan oleh pelaku, kejadian ini seolah dilakukan oleh hantu!"


"Pelaku sepertinya adalah pembunuh profesional, kalau tidak, dia pasti meninggalkan jejaknya di sana."


"Sehebat apapun pembunuh ini, mustahil dia tidak meninggalkan jejak!"


Beberapa penguasa dunia bawah tengah melakukan rapat untuk membahas kejadian itu, meski kejadian itu bisa menjadi keuntungan untuk mereka, namun disisi lain, kejadian itu juga bisa menjadi sebuah peringatan bagi mereka semua.


White Tiger, meski bukan kelompok yang sangat besar, namun kekuatan mereka sudah cukup terkenal di kalangan para penguasa, bahkan sang pemimpin sudah diakui oleh para penguasa besar di organisasi dunia bawah tanah.


Dan sekarang, kelompok itu telah dimusnahkan dan tidak ada yang mengetahui siapa pelakunya. Ada dua kemungkinan yang mungkin bersangkutan dengan masalah ini, yang pertama karena dendam, lalu yang kedua, pelaku ini memang ingin menjadi musuh organisasi dunia bawah tanah.


Yang menjadi masalah adalah, jika pelaku melakukan hal itu karena ingin memusnahkan organisasi dunia bawah tanah, artinya mereka memiliki musuh tersembunyi.


Dan jika itu benar, maka sudah menjadi tugas mereka untuk mengetahui dan mencaritahu seberapa besar kekuatan musuh mereka ini, jika tidak, maka mereka semua akan dimusnahkan satu-persatu olehnya.


"Hah" seseorang dari mereka menghela napas panjang, "Untuk saat ini, sebaiknya kita semua tetap waspada, dan tetap lakukan kegiatan seperti biasanya."


"Baik!" ujar yang lainnya.


"Fox, bagaimana dengan tugasmu?"


"Mendekati keluarga William bukanlah hal yang mudah, karena di atas mereka masih ada sosok misterius yang mereka sebut sebagai The Alpha" jelas seseorang bernama Fox.


"Setiap kali aku menemui mereka, mereka selalu menggunakan nama The Alpha untuk menolak kerjasama yang aku tawarkan" lanjutnya.


"Baiklah, aku ingin kalian mendatanginya sekali lagi, tapi dengan membawa sedikit ancaman. Aku ingin lihat seberapa lama mereka bisa bertahan."


"Baik!"


***


"Selamat pagi" sapa Daniel pada istrinya yang baru saja membuka mata.


Alisha tersenyum, kemudian melingkarkan tangannya di leher Daniel, "Kenapa kau selalu bangun lebih dulu dariku?"


"Entahlah, mungkin karena sudah terbiasa" jawab Daniel.


"Benarkah? Lalu bagaimana jika aku memaksamu untuk tidur lagi?"


Daniel mengerutkan dahi, ia semakin tidak mengerti dengan sikap istrinya yang semakin manja, namun ia sangat senang karena perubahan istrinya itu, bahkan ia ingin sikap istrinya tetap seperti itu selamanya.


"Aku tentu tidak keberatan, tapi hari ini aku harus menemui keluarga William dan rencananya, aku ingin mengajakmu" ucap Daniel.


"Ada urusan apa menemui mereka?"


"Alisha, apa kau lupa kalau aku memiliki bisnis dengan mereka?"


Alisha diam sejenak sembari memikirkan sesuatu, "Benar juga, aku sampai lupa dengan hal itu."


"Yasudah, sebaiknya kau mandi sekarang karena kita harus berangkat sebentar lagi."


"Tidak mau!"


"Tidak mau? Lalu apa yang kau mau, istriku? Apa kau ingin suamimu ini yang memandikan-mu?"


Setelah Alisha selesai mandi dan berganti pakaian, keduanya kemudian turun ke bawah untuk sarapan bersama para pelayan. Saat menyantap sarapannya, Daniel meminta Heru ikut dengan mereka, karena Daniel ingin Heru menjadi asisten pribadinya.


"Tuan Muda, apakah aku pantas untuk posisi ini?"


Heru bukannya mau menolak, justru ia sangat senang karena bisa menjadi asisten pribadi Daniel, namun ia sadar jika dirinya tidak pantas untuk pekerjaan itu, apalagi usianya kini sudah tidak muda lagi.


"Aku sudah memilihmu, itu artinya kau pantas mendapatkannya!" jawab Daniel.


"Tuan..."


"Heru, turuti saja keinginan Daniel, aku yakin dia sudah memikirkan semuanya sebelum mengambil keputusannya" sahut Alisha.


"Baik, Nona!"


Selesai sarapan, mereka bertiga kemudian berangkat menuju ke perusahaan William Group, dan karena Heru juga ikut bersama mereka, Daniel-pun hanya bisa menggunakan mobil yang satunya lagi, karena tidak mungkin mereka berangkat dengan mobil sportnya itu.


"Heru, sebenarnya aku sudah menyerahkan semuanya pada keluarga William, tapi bagaimanapun juga, aku ingin kau mengawasi pekerjaan mereka nantinya."


"Baik, Tuan Muda. Tapi, bukankah hal itu akan merusak citra Tuan Muda? Maksudku..."


"Kau tenang saja, aku sudah memikirkan semuanya."


***


Setengah jam kemudian, mereka akhirnya sampai di perusahaan keluarga William, kedatangan mereka tentunya disambut secara langsung oleh Tuan William serta anak dan cucunya, namun tatapan mereka kini terarah pada Alisha yang tengah menggandeng tangan Daniel.


"Dia istriku, namanya Alisha."


"Selamat datang, Nona Alisha" sapa Tuan William.


Disisi lain.


Sepasang mata nampak tengah menatap lekat pada wajah Alisha, meski terlihat berbeda, namun entah kenapa pemilik sepasang mata itu seperti mengenali Alisha, hanya saja, ia tidak berani mengeluarkan suara, karena di sana ada seseorang yang tidak bisa ia singgung.


"Gilang? Kau Gilang, kan?" tanya Alisha yang baru menyadari keberadaan satu-satunya cucu laki-laki Tuan William.


"Be-benar, ini aku" jawab Gilang canggung.


"Kau kenal?" tanya Daniel.


"Tidak hanya kenal, dia adalah teman baikku saat kami di sekolah dulu. Tapi dia tiba-tiba menghilang setelah kami lulus" jawab Alisha.


"Benarkah?"


Sementara itu, Tuan William malah nampak gelisah, ia tidak menyangka jika cucunya ternyata mengenal istri Tuannya. Masalahnya adalah, mereka berdua terlihat dekat, dan hal itu bisa saja memancing kemarahan Daniel.


"Tu-tuan Muda, bagaimana kalau kita bicara di dalam?"


Daniel hanya mengangguk kemudian mengikuti melangkah masuk kedalam gedung perusahaan tersebut, namun setelah melewati pintu, Alisha tiba-tiba saja menghentikan langkahnya.


"Daniel, boleh aku bicara dengan Gilang sebentar?"


Daniel tersenyum saat menoleh pada istrinya selama beberapa saat, kemudian ia mengarahkan pandangannya pada Gilang yang tengah tertunduk, sikap pemuda itu jelas menunjukkan rasa takut pada sosok Daniel.


"Baiklah" jawab Daniel datar.


"Terima kasih!" ujar Alisha, kemudian mendaratkan kecupan di pipi suaminya itu, setelahnya, ia menarik tangan Gilang dan membawanya pergi dari sana.


Suasana tiba-tiba saja menjadi hening dan canggung. Tidak, lebih tepatnya, mereka semua sedang ketakutan, khususnya Tuan William.


"Tuan Muda, mohon ampuni cucu-ku, dia masih muda, dan aku yakin..." Tuan William tidak sempat menyelesaikan kalimatnya, karena Daniel telah lebih dulu memotong ucapannya.


"Tidak apa-apa, dia adalah teman baik istriku, jadi aku dapat memakluminya"