
Setelah menghabisi Macam Putih dan seluruh bawahannya, Daniel kemudian meminta Omega untuk menghilangkan jejak keluarga Handoko di sana, karena ia tidak ingin keluarga Handoko terlibat dalam masalah ini.
Mengenai dirinya, Daniel tidak terlalu menghiraukannya, karena berkat kemampuan khusus miliknya, jejak yang ia tinggalkan saat melakukan pembunuhan akan menghilang dengan sendirinya, seperti sidik jari ataupun yang lainnya.
Lalu mengenai rekaman kamera pengawas yang ada di sana, Daniel juga tidak terlalu menghiraukannya, karena Omega sudah mengurus semuanya jauh sebelum mereka datang dan menghancurkan geng White Tiger.
"Bagaimana, Omega?"
"Semuanya sudah selesai, Tuan!"
"Bagus! Kalau begitu aku bisa kembali dengan tenang" ucap Daniel, kemudian menghampiri mobilnya.
"Omega, apa ada misi khusus untukku?"
"Saat ini belum ada, Tuan!"
Daniel menghela napas panjang, "Baiklah, kalau begitu aku akan fokus membangun perusahaan bersama keluarga William."
***
Meski kakek dan ayahnya sudah mengatakan jika keadaan suaminya baik-baik saja, namun Alisha tidak bisa untuk tidak mengkhawatirkan keadaan suaminya itu, karena sampai saat ini, Daniel masih belum kembali.
"Alisha, sebaiknya kau masuk saja, biar kakek yang menunggunya di sini" ucap Tuan Handoko.
Alisha menggeleng pelan, "Tidak kakek, aku tidak bisa tenang sebelum dia kembali."
"Jangan terlalu khawatir, suamimu itu bukan orang biasa."
"Aku tahu kakek, aku sudah tahu semua hal tentangnya, tapi aku tidak bisa tenang sebelum dia kembali!"
"Jadi, Daniel sudah mengatakan semuanya padamu?"
Alisha mengangguk, "Dia sudah menjelaskan semuanya, termasuk identitasnya yang merupakan..." Alisha segera menghentikan ucapannya, karena hampir saja ia membocorkan identitas suaminya.
"Kau tenang saja, selain dirimu, kakek juga mengetahui siapa dia sebenarnya" sahut Tuan Handoko.
Tidak lama berselang, sebuah mobil sport hitam masuk ke halaman rumah Tuan Handoko, kemudian berhenti tepat didepan rumah megah tersebut.
Alisha yang sudah mengetahui siapa pemilik mobil itu, bergegas menghampirinya, kemudian melompat kedalam pelukan suaminya yang baru saja keluar dari mobil.
"Kau baik-baik saja? Apa ada yang terluka?"
Daniel tersenyum lembut, kemudian membelai pipi istrinya, "Aku baik-baik saja" ucapnya.
"Syukurlah, aku benar-benar takut jika kau terluka."
"Mereka belum bisa melukai suamimu ini" sahut Daniel.
Setelah itu, Tuan Handoko mengajak keduanya untuk masuk ke rumah, kedatangan Daniel disambut dengan sangat baik oleh keluarga Handoko, tidak sama seperti saat pertamakali ia datang ke sana.
"Daniel, apa semuanya sudah selesai?" tanya Johan.
Daniel mengangguk, "Ayah tenang saja, semuanya sudah aku selesaikan dengan baik dan aku jamin, keluarga Handoko tidak akan terlibat apapun."
Semua orang nampak menghela napas lega setelah mendengar penjelasan Daniel, karena bagaimanapun juga, mereka sangat takut jika sampai terlibat dalam masalah ini.
Namun, tidak sama seperti yang lainnya yang nampak sudah menerima kehadiran Daniel, Dewi justru masih saja sangat membencinya, bahkan ia berharap agar Daniel tidak akan pernah kembali lagi.
"Hebat juga kau bisa kembali dengan selamat!" ujar Dewi.
"Dewi, apa maksud ucapan-mu itu!?"
"Bukan apa-apa, hanya tidak menyangka saja jika dirinya bisa kembali dengan selamat" jawabnya, kemudian meninggalkan mereka semua.
"Daniel, ayah harap kau tidak memasukkan perkataan ibumu barusan kedalam hati."
"Tentu ayah, aku dapat memakluminya."
"Yasudah, sebaiknya kita istirahat sekarang, terutama kau, Daniel. Kakek yakin kau sangat kelelahan" ucap Tuan Handoko.
"Maaf kakek, tapi aku dan Alisha ingin kembali ke rumah kami" sahut Daniel.
"Memangnya kalian punya rumah?"
"Maksudnya rumah teman, kakek. Saat ini, kami berdua tinggal di rumah teman Daniel" jawab Alisha.
Alisha tentu masih mengingat janji yang ia ucapkan dengan Daniel semalam, walaupun kakeknya sudah mengetahui tentang identitas suaminya itu, namun Alisha tetap tidak ingin kakeknya mengetahui jika suaminya adalah seorang miliarder.
Jika ibu atau keluarganya yang lain mengetahui tentang kekayaan Daniel, maka mereka akan melakukan segala cara untuk mendapatkan bagian dari kekayaan suaminya itu, khususnya ibunya sendiri.
Selama ini, Alisha bukannya tidak mengetahui bagaimana sifat asli ibunya itu, hanya saja, ia lebih memilih untuk diam, karena bagaimanapun juga, Dewi adalah ibunya sendiri, ibu yang telah mengandung dan melahirkannya.
Tapi, kali ini ia tidak akan diam seperti sebelumnya, karena masalah ini menyangkut suaminya. Jika ibunya mengetahui kebenarannya, maka dia akan melakukan segala cara untuk mendapatkan bagian dari harta Daniel.
Dan sebagai seorang istri, tentu sudah menjadi kewajiban bagi Alisha untuk menjaga suaminya, terutama menjaga suaminya dari orang-orang materialistis, walaupun orang itu adalah ibunya sendiri.
"Daripada kalian menumpang, bagaimana kalau kalian tinggal di rumah kakek yang satunya lagi?"
"Kakek, kami ingin memulai semuanya dengan usaha kami sendiri, jadi aku mohon, berhentilah memberikan bantuan pada kami" jawab Alisha.
Tuan Handoko hanya bisa menghela napas panjang, walaupun dirinya sangat ingin membantu, namun tidak mungkin ia memaksakan kehendaknya itu, apalagi dia sudah tidak memiliki kewajiban apapun terhadap cucunya itu.
"Yasudah, tapi kalau kalian membutuhkan bantuan, jangan segan-segan untuk memintanya dari kakek."
Alisha dan Daniel mengangguk bersamaan, lalu setelah berpamitan, keduanya kemudian kembali ke rumah mereka yang ada di kawasan Great Mountain Villa.
"Terima kasih" ucap Daniel setelah mereka meninggalkan kediaman Handoko.
"Untuk?"
"Untuk tetap menjaga rahasia-ku" jawab Daniel.
"Tidak perlu berterimakasih, lagipula, sudah sepatutnya aku merahasiakan semua itu."
"Maksudmu?"
"Ibu..."
"Memangnya ibu kenapa?"
"Aku tidak ingin ibu mengetahui siapa kau sebenarnya" jawab Alisha.
"Kau yakin? Maksudku, aku tidak keberatan jika kau mengatakan semuanya pada ibu, karena bagaimanapun juga, ibu tetaplah ibumu."
"Aku tahu itu, tapi aku sudah menjadi istrimu dan ibu tidak lagi berhak atas kehidupanku, karena hidupku sekarang sudah menjadi tanggung jawab-mu sepenuhnya."
Daniel menunjukkan senyuman terbaiknya, ia benar-benar tidak menyangka jika Alisha akan mengatakan hal seperti itu. Padahal, Daniel sempat berpikir jika Alisha akan sulit untuk tidak bergantung pada kedua orang tuanya.
"Kau tenang saja, selama aku masih hidup, aku akan menjalankan kewajiban-ku sebagai suamimu dengan baik" sahut Daniel.
"Begitupun denganku."
"Lalu, bagaimana dengan masalah kakek? Apa mereka sudah menemukan jalan keluarnya?"
"Sayangnya belum, kakek masih kekurangan dana sebanyak lima belas miliar."
"Yasudah, kalau begitu kau transfer saja uangnya ke rekening kakek."
"Memangnya, kau punya uang sebanyak itu?"
"Alisha, suamimu ini adalah seorang miliarder, jangankan lima belas miliar, seratus miliar-pun, aku masih memilikinya."
Dahi Alisha berkerut ketika mendengar perkataan Daniel, dan entah kenapa dalam dirinya ada rasa penasaran yang sangat besar, penasaran mengenai jumlah uang yang dimiliki oleh suaminya saat ini.
"Daniel, boleh aku..."
"Tentu saja, istriku. Karena uangku adalah uangmu juga" ujar Daniel yang mengetahui maksud istrinya itu.
"Jadi?"
"Lebih baik kau memeriksanya sendiri, jika aku mengatakannya, aku takut kau tidak akan percaya" jawab Daniel, kemudian menyerahkan ponselnya pada Alisha.
Dengan sedikit ragu, Alisha membuka aplikasi mobile banking di ponsel suaminya itu, namun ia terhenti karena tidak mengetahui sandinya.
"Masih sama, tanggal lahir-mu" ucap Daniel.
Alisha mengangguk, kemudian memasukkan tanggal, bulan dan dua angka terakhir pada tahun lahirnya untuk membuka aplikasi tersebut, setelah terbuka, Alisha nampak menahan napas saat melihat jumlah saldo milik suaminya.
"Se-sebanyak ini?"
Daniel menoleh sesaat pada Alisha, ia menanggapi pertanyaan istrinya itu dengan senyuman dan sedikit anggukan kepala.